Home » Nuansa Qolbu

Manisnya Iman

24 October 2008 One Comment

Pernahkah kita bertanya pada diri kita, mengapa kita masih belum merasakan manisnya iman?. Kalaupun sudah hanya sedikit. Padahal rasa-rasanya segala kewajiban ibadah sudah kita lakukan. Karena tak kunjung merasakan, terkadang pikiran terjerumus pada membanding-bandingkan dengan orang lain yang rendah kadar ibadahnya, tapi mereka seperti nyaman menjalani hidup dengan kekayaannya. Sehingga akhirnya, naudzubillah, ada hati yang mulai ragu dengan buah iman yang katanya menghadirkan ketenangan.
Diantara kita banyak yang sudah merasa melakukan amal dan merasa sudah beriman tapi hasil yang diingin-inginkan, yaitu ketenangan hidup, seperti belum jua muncul. Manisnya iman belum terasakan. Mengapa demikian, mungkin saja karena tahapan yang kita jalani belum selesai. Ibarat membuat sebuah roti, kita baru mengumpulkan tepung, air, dan kuning telornya saja. Kita belum membumbuinya sehingga rasanya masih hambar.
Sholat, puasa, atau bersedekah dan  perbuatan-perbuatan lain yang kita lakukan itu belum akan menghadirkan manisnya iman dan bisa menjadi rutinitas kering apabila kita belum membingkainya secara jelas dengan prinsip hidup yang kita tancapkan di hati. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dengan jelas memberikan 3 prinsip yang harus kita pegang jika kita ingin merasakan manisnya iman, “Ada tiga hal yang siapa saja di dalamnya tentu akan merasakan manisnya iman: (1) apabila Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain, (2) mencintai seseorang hanya karena Alloh, (3) dan benci kepada kekafiran laksana ia benci untuk dicampakkan kepada neraka. (H.R. Bukhari).”
Orang yang meletakkan cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya diatas cinta kepada yang lain akan menemukan sumber kebahagiaan hakiki yang Rosululloh sebut dengan “manisnya iman”. Mencintai Alloh daripada yang lain berarti telah mengesampingkan warna-warni hidup yang sekilas terlihat indah tapi rentan menyakiti. Bukankah kita tahu, segala yang ada di dunia ini adalah fana, sementara. Dan orang yang mencintai apa yang ada di dunia ini secara berlebihan maka ia akan mengalami rasa sakit dalam dirinya ketika kehilangan yang ia cintai. Saat itu, ibadah dan amalnya sekalipun takkan sanggup mengobati rasa sakitnya. Kecuali jika sejak awal, setiap bangun dan tidurnya, yang ada di hatinya hanya kecintaan pada Alloh semata.
Sayangnya, pernyataan “Alloh dan Rosul-Nya lebih dicintai daripada yang lain” kebanyakan hanya nyangkut di ujung lisan saja. Padahal pernyataan itu bukan untuk dicerita-ceritakan. Alloh lebih dicintai dari yang lain adalah komitmen hidup. Ia adalah ikrar hati. Dan selanjutnya, hanya Alloh saja yang tahu bagaimana ketenangan hidup itu tercurahkan pada hamba-Nya yang mencintai-Nya. ”Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin … (QS. Al-Fath : 4)

Harus Ada Bukti
Suatu saat dengarlah seruan adzan yang berkumandang, kemudian lihatlah diri kita. Siapa yang lebih kita cintai, Alloh yang memanggil dalam seruan adzan itu atau pekerjaan yang menurut kita sedikit lagi akan selesai, eman kalau ditinggalkan. Kemudian bila ada waktu senggang atau harta lapang, lihat lagi diri kita. Mendatangi Alloh yang kita cintai lewat amal-amal kebaikan, atau kita habiskan waktu senggang dan harta lapang kita dengan urusan-urusan dunia yang justru melemahkan iman.
Memang, jika kita menunda-nunda sholat, tidak bersedekah kecuali dengan sedikit uang, meninggalkan amal-amal sunnah, bukan berarti kita orang tak beriman alias kafir. Bukan begitu. Tapi dengan perilaku yang demikian, sepertinya sulit untuk kita bisa segera memetik manisnya iman. Yang ada pada jiwa justru kelelahan. Merasa sudah memberi banyak ternyata yang diperoleh hanya sedikit.
Akhirnya, karena tak dilatih setiap waktu dengan amal perbuatan yang menunjukkan komitmen “lebih mencintai Alloh dan Rosul-Nya”, dambaan menikmati manisnya imanpun belum juga terasakan oleh kita. Tak salah jika iman yang kita miliki adalah keimanan yang rasanya hambar. Tak berasa sama sekali.
Alloh lebih dicintai dari yang lain adalah sebuah kondisi ruhaniah. Ia menjadi bumbu yang akan memaniskan iman. Ia akan tumbuh subur ketika disirami terus menerus dengan bukti amal perbuatan. Ia harus mengisi setiap helaan nafas dan gerak langkah kita. Sehingga ketika berhadapan dengan kesempatan antara ibadah dan berbuat sia-sia, kita mantap menentukan pilihan seraya berucap di dalam hati,“Alloh dan Rosul-Nya lebih aku cintai”. Pun kala bertemu dengan rayuan maksiat, kita menjauh karena sekali lagi ada sesuatu yang tak dapat kita bohongi, “Alloh dan Rosul-Nya lebih aku cintai”. Dan ketika berhadapan dengan suatu keadaan yang meminta sebuah pengorbanan, entah itu berupa harta yang hilang atau perpisahan dengan sosok yang kita cintai, kita akan serahkan dengan penuh ridho…karena sekali lagi hati terlanjur mencintai Alloh di atas kecintaan pada yang lainnya. “Hasbunalloh wa ni’mal wakiil..cukup bagiku Alloh..”

Mencinta Karena Alloh
Kemantaban hati “cinta karena Alloh” ini adalah tali penyambung tambahan menuju manisnya iman. Ia menjadi tepat pada suatu keadaan yang memang dibutuhkan.
Sebagai contoh, ketika secara manusiawi kita membenci seorang yang suka membuat kerusakan dan bermaksiat, maka menghadirkan “cinta pada mereka karena Alloh” adalah bahan bakar yang mampu memhidupkan api dakwah amar ma’ruf  nahi munkar. Dengannya kita sanggup menghapus sikap egois, dan  mau mengajak mereka dengan sabar dan lemah lembut untuk kembali pada jalan Alloh. Mencintai karena Alloh-lah, yang membuat agama ini sampai pada kita. Tetesan keringat, air mata bahkan darah adalah bukti Rosululloh, para sahabat dan pengikut sesudahnya mencintai kita karena Alloh.
Pada keadaan lain misalnya, ketika sudah kita tanamkan cinta kepada Alloh di atas segalanya, bukan berarti kita tak boleh mencintai orang-orang terdekat kita. Kita tetap akan mencurahkan cinta kepada anak, istri atau suami karena cinta kita kepada Alloh. Sehingga ketika kecintaan kita pada mereka karena Alloh, mereka tak kan menjadi fitnah yang menjauhkan kita dari Alloh. Justru, anak dan istri menjadi ladang kebaikan yang mendekatkan kita kepada-Nya.
Cinta karena Alloh adalah pintu untuk merasakan manisnya iman. Sebab cinta karena Alloh akan menghapuskan penyakit-penyakit hati yang selama ini menjadi sumber ketidaktentraman hidup. Penyakit hati seperti benci, marah, dengki, dan iri akan lenyap ketika tatapan kita kepada saudara kita adalah tatapan cinta karena Alloh.
Saudaraku,
Prinsip pertama itu, yakni Alloh dan Rosul-Nya lebih dicintai dari yang lain, gunakanlah untuk membentengi diri dari jurang dosa ketika perhiasan-perhiasan dunia mulai menjadi fitnah bagi kita. Sedang mencintai karena Alloh, adalah suatu pengkondisian hati untuk menghadirkan pada diri kita pribadi yang rahmatan lil alamin, menjadi manusia bermanfaat, menjadi manusia penyayang. Kedua-duanya menjadi amat sempurna ketika bisa dipadukan. Dan pada prinsip yang ketiga, membenci kekafiran (maksiat) sebagaimana ketakutan pada api neraka, tinggal sesering mungkin kita membayangkan dan menakut-nakuti diri dengan siksa neraka ketika datang ajakan kemaksiatan. Dan InsyaAlloh itu akan lebih mudah ketika prinsip pertama dan yang kedua sudah tertanam di hati kita. Wallohu A’lam bisshowab

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.

One Comment »

  • tyas said:

    Subhanallah,,,semoga kita termasuk didalamnya, orang-orang yang merasakan manisnya iman