Kumandang Adzan yg Menggetarkan
Bila Alloh memberi hidayah pada makhluk-Nya, tak ada satu pun yang bisa menghalanginya. Banyak jalan agar manusia menemui kebenaran, menjadi muslim. Ada yang melalui mimpi, ada yang karena terkesima mendengan bacaan Al Qur’an dan banyak lagi cara lainnya.
Ketika itu, tepatnya tahun 1985, di sebuah pagi yang senyap, sayup-sayup saya mendengar suara azan yang dilantunkan dari musholla, yang kira-kira berjarak 300 meter dari rumah saya di Batu, Malang. Tak seperti hari-hari sebelumnya, seketika hati saya berdebar, berdetak kencang, bergemetar, seolah ada yang nyetrum. Saya simak betul azan itu, dan entah kenapa, hati saya tiba-tiba merasa tenang, damai dan tenteram. Sungguh tak pernah saya setentram ini sebelumnya.
Sungguh, saya seperti ingin segera tiba waktu dhuhur agar saya bisa mendengarkan suara azan lagi. Benar juga, dhuhur tiba, saya dengarkan lagi azan itu, dan kembali hati saya tenang, damai dan tenteram. Begitu juga ketika masuk waktu ashar, maghrib dan seterusnya. Ada apa ini ?
Sejak itu saya punya niat yang kuat untuk masuk Islam. Sebulan lamanya niat itu saya pendam. Terus terang saya takut benar bila bilang orang tua. Sebab mama saya Kristen dan papa Konghucu. Saudara-saudara saya yang lain kristen fanatik, bahkan ada yang jadi pendeta. Bila saya utarakan niat itu, saya membayangkan nanti pasti akan dihajar habis, sebagaimana pernah kejadian anak Tionghoa masuk Islam dipukuli bahkan diusir dari rumah orang tuanya.
Namun niat saya sudah bulat. Sesudah berdoa secara Kristen, saya kuatkan menghadap mama papa. Saya hanya yakin, kalau ini benar-benar hidayah Alloh pasti tak bisa dicegah dan pasti dimudahkan jalannya. Benar juga, alhamdulillah, ketika ijin papa mama, mereka justru mendukung. Papa bilang ia tak memaksa anak-anaknya harus Konghucu, Kristen, Islam atau apa, terserah. Yang penting dijalani sungguh-sungguh. Papa bilang, kalau jadi Islam, Islam yang benar. Jangan Islam KTP, sebab papa tahu sendiri banyak orang Islam tapi tak sholat, waktunya Romadhon tak puasa. Kebetulan suasana keluarga saya memang beragam. Saya adalah anak ke-10 dari 11 bersaudara. Agama saudara saya gado-gado. Ada yang Kristen, dan ada yang Budha.
Dibimbing guru ngaji kampung di musholla itu, suatu sore saya lalu ikrar masuk Islam. Saya juga langsung belajar Qur’an. Yang saya dalami pertama adalah bagaimana bisa membaca Qur’an dengan baik. Susah memang, sesah mengucapkan huruf r saja sulit, lidah ini jadi pelat. Bersyukur berkat kesabaran guru ngaji tadi, akhirnya saya bisa. Teman-teman saya di kampung juga sering mengejek. hAwas ada orang sipit ngaji, ada singkek ngaji,h begitu ejek mereka waktu itu. Bagi saya itu tak masalah, dan saya pun terus belajar dan belajar. Hingga kemudian, hingga sekarang banyak guru ngaji yang membimbing saya. Di antaranya Ust. Wajib, Ust. Sumantri, Ust H. Supardi, Ust. H. Fauzi Nasir yang hafidz Al Quran di Batu Malang, lalu Bashori Alwi Singosari, Ust Zulhilmi Ampel. Berkat beliau-beliau itu pula saya jadi qori’.
Salah satu ustadz yang sangat berkesan adalah Ust. Fauzi Nasir yang mendirikan pondok Hifdzul Qurfan. Setelah kenal beliau, setiap hari sehabis subuh saya mengikuti taklim Qurfan, sehari seayat, dan 3 tahun kemudian saya lulus. Itu saya lakukan sambil sekolah di SMP Emanuel. Ust. Fauzi lalu meminta saya mengamalkan ilmu saya, dan saya pun memberi pelajaran privat Qur’an pada warga sekitar. Ada 2 musholla yang waktu itu jadi binaan saya.
Saya lalu bertemu seorang habib, yang lalu mengajak saya masuk ke MAN (madrasah aliyah). Waktu tes petugasnya kaget, karena tak percaya dengan ijasah Emanuel kok saya lancar ngaji. Alhamdulillah saya juga sempat mondok 3 tahun di Gontor. Berkat pertemuan dengan Leoni Fatimah (Putri Wong Kang Fu) saya bisa masuk IAIN Sunan Ampel, lulus 2002. Sambi kuliah saya diminta memimpin madrasah diniyah di Sepanjang. Bersyukur pula saya bisa menyelesaikan S-2 di kampus yang sama.
Kini, saya dipercaya Masjid Muhammad Cheng Hoo, sekaligus menjadi imam rowatib, memimpin zikir dan doa bersama di sana. Alhamdulillah, alhamdulillah… . Sebuah jalan kemudahan yang seolah melancarkan hidayah Alloh sebelumnya.
Bersyukur pula, setelah keIslaman saya, dua saudara saya yang lain juga masuk Islam. Katanya, ia melihat keseharian saya dalam beragama, hingga ia tertarik juga pindah Islam. Hanya, yang jadi beban pikiran saya sampai sekarang adalah papa saya. Papa saya yang bijaksana itu, yang memberi kebebasan saya hingga mudah masuk Islam, hingga sekarang belum juga mendapat hidayah masuk Islam. Saya sudah mencoba mengajak dan mengajarinya. Kalimat syahadat dan bahkan surat Al Fatihah pun beliau hafal. Sehari-hari papa saya mengobati orang lain, dan ketika akan memulai praktek pengobatan ia bahkan melafalkan bismillah. Namun ya tetap saja papa belum Islam.
Ini yang menjadi beban saya hingga sekarang. Karena jasa-jasanya saya ingin benar mengajaknya memeluk Islam. Saya takut ia mendapat siksa Alloh kelak karena tidak berkeyakinan dengan benar. Makanya, seusai memimpin doa atau zikir bersama, saya selalu meminta para jamaah juga turut mendoakan agar papa saya diberi hidayah dan dibukakan pintu hatinya untuk menerima Islam sebagai agamanya. Berjuang bersama saya, agar kelak bisa bertemu di surga-Nya… . (*)
Oleh : Ahmad Hariyono Ong (Ong Kiem Shui)
Imam Rowatib Masjid Cheng Hoo
kerennnnnnnn, mantap
terima kasih atas masukkanya bapak purwono.
doakan kami (Nurul hayat) bisa istiqomah. amin
Salut buat NURUL HAYAT yang sudah on-line, gampang untuk dibuka dan dibaca dimana saja. Insya Allah, media dakwah yang hebat.
Waslm wr wb.
Purwono
# Silaturrahim
# Cermin
# Menu Utama
# Keberkahan Finansial
# Konsultasi
# Bagi-Bagi
# Cahaya Islam
# Doa
# Cerpen Anak
# Cermin, Yuk Belajar Bersama Nuri
# Buku Pilihan
# Buat Nanda
# Generasi Emas
# Rehat
# Sakinah
# Wanita
# Kisah Hikmah
# Hikmah Muallaf
# Nuansa Qolbu
# Fitrah
# Iqro'
# Fadhilah Amal
Random Image
Berita Terbaru
Komentar Terbaru
Polls
Agenda Kegiatan
Memisahkan Hati dari materi»
Tersenyumlah»
Buat Hidup Yang Bersahaja»
Merepotkan Orang Sampai Tua»
Katagori Penerima Nikmat»
Perampok kebahagiaan»
Moment Mengasah Kecintaan Kepada Rasulullah»
Musim Hujan»
Bangkitlah Ketika Difitnah»
Hati yang bercahaya»
Mengelola Hutang Agar Tidak Buntung»
Liburan Kok Ngutang»
Mahalnya Harga Sebuah Gengsi»
POS PENGELUARAN UNTUK BERBAGI»
Investasi Emas untuk Menjaga Kekayaan»