Home » Nuansa Qolbu

Senyum Allah dan Rosul-Nya

1 December 2008 One Comment

Dalam kitab Al-lu’lu’ wal marjan (kumpulan hadist shohih Bukhori Muslim) diceritakan , kelak ada satu orang yang paling terakhir keluar dari Neraka dan termasuk Ahli Sorga. Orang tersebut keluar dengan merangkak-rangkak.
Lantas Alloh berfirman kepadanya, “Masuklah ke Surga”. Dengan wajah sangat gembira, ia mempercepat langkahnya menuju Surga. Ingin segera ia sampai ke Surga, takut ada perubahan keputusan setelahnya. Namun, tiba-tiba ia berhenti dan ragu menghantui. Sebagai orang terakhir, jangan-jangan ia bakal kehabisan jatah tempat di Surga. Surga sudah full order, pikirnya.
Maka si manusia kembali dan berkata, “ya Tuhan saya dapatkan Surga telah penuh”. Maka diperintahkan kepadanya lagi, “pergilah masuk Surga”. Karena takzim, iapun bergegas. Entah apa yang ia pikirkan tentang Surga, masih terbayang olehnya pasti tak ada kapling untuknya. Bidadaripun mungkin ia sudah tak kebagian jatah. Ah, celaka. Maka ia pergi lagi dan ingin memastikan kepada Alloh dengan pura-pura berkata, “Ya Tuhan, saya dapatkan Surga sudah penuh”. Kemudian diperintahkan kepadanya, “pergilah masuk Surga, maka di sana untukmu seluas dunia dan sepuluh kalinya”. Alloh tersenyum melihat kepolosannya. Dan manusia itu masih kurang percaya lantas berkata lagi “Ya Robbi, Engkau mengejek dan menertawakan aku, sedang Engkau adalah Raja yang Berkuasa”.
“Sungguh, kata Ibnu Mas’ud, aku telah melihat Rosululloh SAW tertawa ketika menerangkan hadist ini sehingga terlihat gigi gerahamnya” (HR. Bukhori Muslim)
Kisah tersebut membuat kita tersenyum, bahkan tertawa geli sebagaimana nabi. Ada-ada saja ulah manusia, tidak di dunia tidak di akhirat. Begitulah, dalam suasana yang menegangkan sekelas perhitungan akhirat, masih ada celah untuk menghadirkan senyuman.
Kita semua tahu peristiwa itu adalah peristiwa akbar. Urusan-urusan waktu itu adalah berkaitan nasib sangat buruk dan nasib sangat beruntung. Saat hari perhitungan, tak satupun dari miliaran manusia yang berkata-kata. Semuanya diam penuh hina kecuali diizinkan Alloh SWT untuk berbicara. Pada sesi penimbangan amal yang tak bisa dibuat main-main, hukum berlaku tegas. Namun, untuk sebuah berita gembira, ada kemasan yang dibuat berbeda ternyata. Dan orang yang masuk terakhir ke surga itu merasakannya.
Manusia terakhir itu sudah tak bisa menghitung berapa ratus kali dirinya, kepalanya, tangannya, atau apapun dari setiap ruas tubuhnya hancur-nyambung setiap harinya saat di Neraka. Maka jiwanya yang baru entas dari kepedihan perlu mendapatkan hiburan. Dan Alloh punya cara sendiri untuk itu. Keraguan si manusia berulang-ulang tak terlalu dijawab dengan keterangan detail, Iapun bingung, dan ia tampak begitu lucu dengan kebingungannya itu.
“Engkau menertawakan aku ya Robbi”, kata si manusia dihadapan Alloh. Menunjukkan betapa saat itu keakraban terjalin begitu karib, walau si manusia tak menghilangkan ketundukan. Kemurkaan sudah hilang, kesalahan sudah dimaafkan, yang ada kemudian adalah kemurahan dan kasih sayang.
Apa yang kita pelajari? Sebentar. Ada tambahan lagi. Waktu menceritakan itu Rosululoh tersenyum hingga gerahamnya kelihatan. Semoga sholawat dan salam tercurah kepada beliau. Betapa Rosululloh ternyata orang yang sangat wibawa tapi memiki sifat humoris.
Barangkali, Nabi SAW menceritakan kisah tersebut untuk menghibur diri beliau sendiri dan para sahabat yang mendengarkannya. Saat itu, betapa perjuangan para sahabat untuk menegakkan agama Islam begitu berat. Nyawa setiap saat menjadi taruhan. Di hadapan kafir Qurais yang besar permusuhannya, perang menjadi sebuah keniscayaan. Atas semua itu, bukankah secara manusiawi mereka merasakan keletihan dan kelelahan?.
Kata orang sekarang, Nabi SAW menunjukkan kecerdasan emosi. Beliau tahu kondisi psikis sahabat, dan beliau bercerita sesuatu yang membuat para sahabat terhibur.
Ada yang bisa kita tarik hikmah dari kisah ini. Seberat apapun permasalahan, ada celah dimana kita masih bisa menghadirkan senyuman. Pada diri kita atau pada orang-orang terdekat kita. Memberikan senyum kepada mereka adalah kebaikan. Membuat mereka tersenyum juga adalah kebaikan.
Seberat apapun keadaan yang kita alami, sebaiknya tak menghilangkan senyum. Bukankah tak ada apa-apanya bila kita mau membandingkan antara beratnya ujian yang kita alami dengan ujian Rosululloh. Sa’ad bin Abi Waqash pernah bertanya kepada Nabi SAW perihal orang yang terberat ujian hidupnya, “Wahai Rosululloh, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (iman)-nya. Kalau imannya kokoh, maka berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya.(HR.Tirmidzi).
Senyum kita akan berlangsung sempurna bila kita bisa memaknai alasan kegembiraan kita. Yaitu, kita bisa memastikan bahwa kita sedang berada dalam kebaikan ukhrowi. Kebaikan yang diukur dari pandangan Alloh. Sebagaimana orang yang terakhir masuk Surga itu, Alloh bersedia melayani dengan canda karena ia sedang berada dalam kebaikan, mau masuk Surga. Nabi SAW juga bercerita penuh canda dan para sahabat tersenyum ceria karena terasa bagi mereka hari-harinya telah dihabiskan untuk ketaatan kepada-Nya. Dan kita bisa seperti itu ketika kita mengikuti jalan hidup mereka. Konsisten di jalan kebaikan kemudian mensyukurinya.
Bahkan pada keadaan sulit sekalipun, seseorang bisa menyungging senyum secara sempurna. Sebab ia melihat ujian itu justru mengantarnya pada kebaikan. Yaitu bisa melihat ujian tak lebih sebagai penghapus dosa dan jalan menuju Surga, “Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.” (QS. At-Tirmidzi) .
Sebaliknya, senyum kita adalah senyum nista bila pemantiknya adalah kemaksiatan saja. Canda kita menjadi canda tak tahu diri, ketika dosa dan hawa nafsu yang sedang dituruti.
Contohnya, banyak yang tak peduli bahwa laki-laki yang pura-pura menjadi perempuan itu dilaknat oleh Alloh ta’ala. Di tivi mereka menghibur dan melucu, sayangnya, jutaan pemirsanya ikut menyemangati mereka dengan tepuk tangan dan banyak tawa. “(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan percandaan..” (QS. Al-A’raff : 51).
Astaghfirullohal’Adziim, Tidak, Alloh dan Rosul-Nya tidak akan pernah “senyum” kepada mereka yang bersekongkol dalam canda model begini.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.

One Comment »

  • lulu wal marjan said:

    ass,,wr,wb
    salam kenal buat semua saudara q di tanah air,,,,,,