Home » Cerpen Anak

Ingat, Lagi Puasa Loh …

18 December 2008 No Comment

Sinar rembulan menembus celah jendela, menciptakan satu garis tipis berwarna orange di atas meja belajar Nia. Angin sejuk diam-diam menyentuh lembut pori-pori kulitnya yang kuning langsat. Sayup-sayup terdengar alunan ayat-ayat suci Al Qur’an dikumandangkan dari berbagai penjuru.  Malam ini adalah malam Ramadhan. Malam yang penuh kedamaian.
Tubuh mungil Nia meringkuk di atas ranjang, berselimut kain beludru berwarna pink. Warna yang senada dengan ranjangnya yang berhias kubah istana di sudut-sudutnya. Nia menggeliat pelan, menarik ujung selimutnya yang sedikit tersingkap. Hatinya berdebar-debar tak karuan, pikirannya gelisah memikirkan hari esok. Rasa tak sabar untuk bisa segera berpuasa membuatnya sulit untuk memejamkan mata. Maklum ini puasa pertamanya. Sebelumnya Nia hanya puasa setengah hari dan ikut-ikutan saja. Tapi Ramadhan ini ia telah bertekad untuk berpuasa dengan bersungguh-sungguh. Nia kembali mengingat-ingat, hal-hal apa saja yang bisa membatalkan puasa. Ia tidak mau puasanya kali ini gagal atau sia-sia. Jangan sampai ia hanya akan mendapat imbalan lapar dan haus nanti.
“Sahur…sahur…”, suara anak-anak berteriak sambil memainkan berbagai alat dapur mengagetkan Nia yang tengah tertidur.
“Sahur…sahur…”, suara itu saling bersahut-sahutan menyemarakkan suasana sahur malam ini.
Nia duduk di tepi ranjang sambil menggosok-gosok matanya. Berusaha mengusir kantuk yang mendera. Sesaat kemudian ia bangkit dan mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi. Kini Nia merasa lebih segar setelah mencuci kedua tangan dan membasuh muka dengan air. Nia pun bergegas menuju meja makan. Disana telah ada Ayah, Bunda dan kakaknya Farah. Dengan semangat Nia pun turut makan sahur.
“Sayang kalau belum kuat jangan terlalu di paksakan ya. Nia puasa setengah hari saja dulu”, kata Bunda seraya menyodorkan gelas berisi susu hangat.
“Insya Alloh Nia kuat kok Bunda”, jawab Nia penuh keyakinan.
“Ayah percaya, anak Ayah pasti bisa”, kata Ayah sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Nia. Nia pun meringis mengiyakan.
Setelah makan sahur selesai. Nia beserta Ayah, Bunda dan kakaknya membaca niat berpuasa bersama-sama.
“Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-I fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lilaahi ta’aalaa.”
Kemudian mereka berkumpul di ruang keluarga, menonton khutbah di televisi seraya menunggu waktu sholat shubuh.
“Ayah punya sesuatu loh untuk Nia. Karena ini pengalaman puasa pertama kali, Nia pasti masih suka lupa kalau sedang berpuasa. Jadi Ayah siapkan sesuatu yang bisa selalu mengingatkan Nia.”kata Ayah sambil menyematkan sebuah pin berwarna kuning dengan gambar dan huruf berwarna pink. Mata Nia berbinar-binar melihat hadiah yang diperolehnya. Pin itu bergambar tanda seru yang besar dan terdapat tulisan INGAT di bawahnya. Serta kalimat “lagi puasa loh…”, melingkar di sekelilingnya.
“terima kasih Ayah”, kata Nia seraya memeluk Ayahnya erat-erat. Tak lama kemudian suara adzan terdengar dari kejauhan. Mereka pun bergegas melaksanakan sholat shubuh berjamaah.
Matahari bersinar terang, dikelilingi awan kelabu. Burung-burung terbang di langit. Nia yang menghabiskan waktu dengan membaca buku di teras tiba-tiba perhatiannya beralih pada dua orang wanita yang tengah bercakap-cakap di taman. Mereka adalah Bik Imah dan Mbak Ijah, sepertinya seru sekali ngobrolnya. Nia menutup bukunya dan mendekati mereka.
“ternyata begitu ya Bik, saya gak yangka kalo si anu itu pst..pst.”, kata Mbak Ijah sambil tangannya meremas ujung sapu.
“saya juga baru dengar dari pembantu sebelah..”, jawab Bik Imah menimpali
“Hayo…lagi ngerumpi ya..”, seru Nia tiba-tiba
“INGAT!!lagi puasa loh”, katanya lagi sambil menunjukkan pin yang ia kenakan
“Ehm..Ah…non Nia, bikin kaget saja”, kata Bik Imah gugup
“Iya non ini, siapa yang lagi ngerumpi. Lah wong kita cuma lagi tukar informasi kok non”, kata Mbak Ijah cengar-cengir
“tukar info tentang aib orang maksudnya mbak. Itu sih namanya menggunjing. Ntar puasanya gak dapat pahala loh”, kata Nia sambil ngeloyor. Bik Imah dan Mbak Ijah pun jadi salah tingkah.
“iya kita kan lagi puasa Bik. Aduh…gosong nanti pahalanya.”kata Mbak Ijah panik.
“Astaghfirulloh…iya bener nih. Sekarang kita lanjutkan saja pekerjaan kita”, kata Bik Imah sambil bergegas menuju dapur.
Nia baru selesai sholat ashar berjamaah dengan Bunda saat hidungnya terusik dengan bau harum masakan. Benar-benar menggelitik selera makannya. Buru-buru ia menutup hidungnya.
“INGAT!! kan lagi puasa”, pikirnya. Nia pun bergegas melangkah ke teras dan duduk di ayunan sambil menatap orang berlalu-lalang. Tiba-tiba terdengar suara kakaknya yang mengomel-ngomel sediri. Rupanya di jalan tadi ada yang tidak sengaja menyipratinya dengan air genangan.
“Dasar jalan gak lihat-lihat. Kotor nih pakaianku jadinya”, seru Kak Farah sambil mengibas-ngibaskan ujung bajunya.
Nia pun berlari menghadang kakaknya di depan pintu.
“Eits…sabar Kak, sabar. INGAT!! lagi puasa loh”, katanya polos sambil nyengir menunjukkan pinnya.
“Astaghfirulloh…”, seru Kak Farah seraya menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Kini wajahnya berangsur-angsur melembut
“iya..iya..makasi adikku…”, kata Kak Farah seraya mengelus-elus kepala Nia
“gitu dong…”, seru Nia,sambil mempersilakan kakaknya lewat.
Bunda yang seharian ini memperhatikan gerak-gerik putri bungsunya itu pun tersenyum simpul. Badan Nia mungkin memang sedikit lemas, tapi semangatnya berpuasa mengalahkan orang dewasa. Pikir Bunda dalam hati. Bunda bersyukur di karuniai anak-anak yang sholihah.
Jarum jam menunjukkan pukul lima lebih seperempat. Nia berbaring di sofa, ketika terdengar Ayah mengucapkan salam.
“gimana kabar perjuangan putri Ayah hari ini?”, kata Ayah seraya mengelus rambut Nia.
“Insya Alloh..”, jawab Nia tegas. Bibir Ayah mengembang sambil mengacungkan jempolnya. Kemudian berlalu.
Nia meraba pinnya. Diam-diam ia tersenyum, sambil mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding.
“sebentar lagi”, pikirnya.
Sejenak ia tertegun merenungi sekelilingnya. Ia bersyukur dikaruniai keluarga yang berkecukupan. Ia tak dapat membayangkan bagaimana jutaan anak lain yang tak seberuntung dirinya. Kalau hari ini badannya lemas sebab menahan lapar dan haus karena puasa. Lalu bagaimana dengan mereka yang harus bergelut dengan kelaparan dan keterbatasan. Sungguh apa yang di rasakan Nia hari ini tidak sebanding dengan apa yang mereka rasakan.
Sebersit kekuatan kembali muncul dalam diri Nia. Perlahan ia bangkit menuju meja makan untuk membantu menyiapkan hidangan berbuka. Dan ketika suara adzan maghrib dikumandangkan, secercah kehangatan menjalari jiwanya. Begitu damai dan menyenangkan rasanya. Seteguk air mineral yang diminumnya untuk membatalkan puasa seakan mampu menghapus dahaga dan lapar yang ia rasakan seharian ini. Diam-diam dalam hati Nia bersyukur “Alhamdulillah, terima kasih ya Alloh Engkau izinkan hamba untuk bertemu dengan bulan Ramadhan tahun ini.”
Rintik hujan mengiringi langkah-langkah menuju masjid. Seorang gadis kecil berjalan dengan ceria disamping Bundanya. Matanya berbinar, hatinya berbunga-bunga. Besok bila Tuhan mengijinkan ia akan berpuasa lagi. Niatnya dalam hati, seraya meraba pin warna kuning kesayangannya.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.