Home » Nuansa Qolbu

Mengambil Jeda dari Kesibukan Dunia

18 December 2008 No Comment

Wajah mereka lama sekali dibasuh airmata, wajah mereka lama sekali ditundukkan oleh kekhusyukan, mempertaruhkan jiwa di padang mahsyar. Mereka akhirnya beroleh keselamatan.
Banyak wajah pada hari itu berseri-seri.Wajah yang telah rela merunduk letih dan menikmati munajat, wajah yang terbiasa sujud dan tidak pernah merasa bosan. (Imam Ibnu Jauzi)

Saudaraku,
Hidup adalah sebuah perjalanan yang ujungnya adalah kematian. Saat ini, kita sudah berada pada “kilometer” kesekian dalam menempuh perjalanan hidup. Dan tinggal menunggu beberapa saat lagi kita sampai. Begitulah sunnah kehidupan. Tak ada yang perlu ditakuti bagi yang sudah mengisi hidupnya dengan ketaatan dan kebaikan.
Di perjalanan ini, ada banyak yang kita peroleh. Ada banyak rangkaian motivasi dan pelajaran yang membuat kita bersemangat menjalani hidup sekaligus kita berkesiapan menjemput kematian. Namun ada pula duri-duri dan perusak lainnya yang membuat kita buta dalam memaknai hidup. Merasa lelah tapi sia-sia. Usia terus berjalan menuju kematian, namun jiwa seakan berjalan di tempat, enggan beranjak, sibuk memburu pernak-pernik dunia. Terlena tanpa disadari.
Mari kita tengok aktivitas-akivitas rutin yang telah kita isikan kedalam hidup kita.
Saat malam tiba, sebagian besar kita sudah beranjak dari aktivitas dunia. Bagi kita malam adalah rehat untuk kita melepas penat. Menenangkan fikiran setelah satu hari bergulat dalam rutinitas kerja. Kelelahan fisik dan psikis membuat kita tertidur pulas, terbawa ke alam mimpi.
Esok hari, kita sudah bertemu kembali dengan siang. Kita mengulang rutinitas kita. Menatap penuh semangat tantangan-tantangan kerja yang akan kita hadapi, walau suatu saat tantangan itu berubah menjadi beban yang menyesakkan pikiran. Tenaga dikuras habis-habisan untuk target-target pekerjaan.
Kita berjumpa dan bergaul dengan banyak orang. Berbicara dan bercanda tanpa ada batas. Bertemu dengan orang yang memuji kita sehingga kita menjadi senang, bangga bahkan ujub. Tak sedikit pula kita juga bertemu dengan orang-orang yang tidak menyenangkan sehingga memancing kita untuk menyakitinya, membicarakan kejelekan-kejelekannya, iri dan dengki padanya. Semua semata-mata karena perspektif ambisi dunia. Sholat lima waktu yang dilakukan sudah sangat sering tercemari urusan-urusan pekerjaan. Kepala menunduk tapi jauh dari khusyuk.
Begitulah yang kita lakukan sehari-hari. Lantas, kapan kiranya kita terlintas pikiran, hendak menatap akhirat dengan lebih leluasa, dengan sebenar-benarnya tatapan mata hati. Kapan kita mempertanyakan dengan jujur kedudukan diri dihadapan Alloh subhanahu wa ta’ala?, berapa banyak bekal yang kita bawa untuk kehidupan setelah dunia ini?. Saudaraku, ada saatnya kita mengambil jeda dari kesibukan dunia.
Ikan yang biasa hidup di air keruh, dia tak merasakan bahwa tempat yang ditinggalinya sesungguhnya kotor. Hanya orang-orang yang diluarnya yang mampu membaca bahwa air itu sudah keruh. Kita yang tak pernah mengambil jarak dari dunia, dalam banyak keadaan kita merasa sudah mampu, sudah baik, sudah takwa. Orang yang terlibat dalam rutinitas dia tak pernah punya gambaran yang jelas tentang yang sudah dilakukan, tentang lintasan hati dan kekotoran niatnya, tentang kemurnian prestasi-prestasi hidupnya, tentang yang sudah dilakukan untuk kehidupan setelah matinya.
Maka saat malam hari. Saat aktivitas kehidupan terdiam. Tak seharusnya kita mengisinya hanya dengan tidur sepuas-puasnya. Membiarkan alpa dan kelalaian yang dilakukan dalam keseharian bertumpuk begitu saja, tanpa dimuhasabahi. Siang tak merasakan ketentraman dekat dengan Alloh karena sibuk, malampun, lalai mengingat Alloh karena sudah mendengkur dipembaringan. Katakan, Kapan kita punya waktu untuk datang, bisa bermesra, bermunajat, merendah diri pada dzat Yang Mencipta dan Mengatur kehidupan kita?
Karenanya, adakalanya jiwa diajak mengambil jeda untuk melihat perjalanan hidup seutuhnya.
Pada malam hari, disepertiga malam terakhir, adalah kesempatan kita untuk menengok diri. Saat sebagian manusia tertidur pulas, kita bangkit membersihkan jiwa dengan wudhu. Berdiri mendekat pada Alloh, menjauh dari angan-angan dunia. memuhasabahi setiap langkah-langkah yang sudah kita lalui.
Dalam tahajjjud ibarat kita sedang terbang ke langit jauh dan melihat dunia lebih jelas, membaca realitas dan kapasitas dunia sesungguhnya. Dalam bangun malam (qiyamullail) kita dapat dengan jelas melihat setiap sisi kehidupan kita. “privat” dengan Alloh dalam memaknai harta, jabatan, anak, orangtua. Atau merenungi ujian, nikmat, kesempitan, kelapangan atau pula meng-istighfari maksiat dan kekotoran niat kita. Tak mengapa jika kemudian kita menetes air mata sebab sadar atas segala kekeliruan. Ya, tak mengapa saudaraku. Karena dalam qiyamullail kita tak dibiarkan sedih tanpa ada jawaban. Saksikan duhai saudaraku, tak bergembirakah engkau jika Tuhanmu sendiri yang datang padamu menjawab segala keluh kesahmu :
Tuhan kita setiap malam turun ke langit bumi pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, “siapa yang berdoa pada-Ku maka Aku kabulkan do’anya, Siapa yang memohon kepada-Ku maka Aku berikan permohonannya, Siapa yang memohon ampun kepada-Ku kemudian Aku ampuni” (HR. Bukhori dan Muslim)
Tahajjud adalah pengingat. Tahajjud akan mencatatkan kita sebagai orang yang terhindar dari kelalaian hati. Rosululloh bersabda, “barangsiapa ber-qiyam dengan membaca sepuluh ayat, ia tidak akan di catat sebagai orang yang lalai. Barangsiapa ber-qiyam dengan membaca seratus ayat, ia akan di catat sebagai orang yang taat. Dan barang siapa ber-qiyam dengan membaca seribu ayat, ia dicatat sebagai  orang yang memiliki harta banyak (HR Abu Daud dan Ibnu Huzaimah).
Sepuluh ayat jangan dikira banyak, kita membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas itu saja sudah 15 ayat.
Maka tak heran kalau banyak pelaku perjalanan malam (qiyamullail) sering kita dengar mereka sampai berderai-derai air mata, merintih-rintih. Mari kita mendengar cerita seorang istri seorang raja tentang kegigihan qiyamullail suaminya, Umar Bin Abdul Azis. Fatimah, istri umar bin Abdul Azis mengatakan: “Ketika masuk ke dalam rumah, Umar selalu menjatuhkan dirinya ke dalam sholatnya. Ia terus menerus menangis dan berdoa sampai ia mengantuk, kemudian bangun dan mengerjakannya lagi seperti itu sepanjang malam” (As-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’).
Jangan mengukur dengan diri sendiri lalu mengatakan betapa kasihan Umar bin Abdul Azis, dia telah menyusahkan diri sendiri. Fisiknya boleh terlihat letih, tapi Umar telah menikmati kelezatan munajatnya dengan Alloh dan ia kelak akan mendapatkan balasannya di Surga.
Saudaraku, walau tak segigih dan sepanjang Umar Bin Abdul Azis dalam sholat malam, setidaknya jangan sampai kita tercatat sebagai orang yang lalai karena enggan menjumpai Alloh ketika Alloh sudah menyediakan waktu-Nya disepertiga malam untuk kita. Wallohu A’lam bisshowab

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.