Anak Sholeh, Harapan Masa Depan
Apa sebenarnya yang kita harapkan pada anak-anak kita, di masa depan ? Apakah kita berharap anak-anak menjadi orang hebat dengan titel yang panjang atau catatan prestasi yang mengagumkan ? Sungguh, semua itu tak lagi kita butuhkan saat malaikat maut menjemput kita. Rasa kagum manusia tak lagi indah untuk dikenang, jika kosong dari kebaikan. Kesholihan anak- anak kitalah yang semestinya menjadi harapan utama. Bukankah Nabi saw pernah bersabda :”Apabila anak Adam telah mati, maka putuslah segala amal perbuatannya, kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Tidak ada gunanya doa seorang anak untuk kita apabila pada diri mereka tidak ada kesholihan. Benar, sholih dulu baru berdoa.
Anak Sholih
Anak merupakan perhiasan dunia yang akan menyenangkan hati orang tua. Sebagaimana firman Alloh SWT : ”Harta dan anak-anak itu sebagai perhiasan hidup di dunia.” (QS. Al-Kahfi : 46) Dan juga firman-Nya : ”Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami (agar) istri dan anak cucu kami sebagai penyejuk pandangan mata.” (QS. Al-Furqaan : 74).
Kesenangan dan kepuasan atas kehadiran anak ini dirasakan di dunia (semasa hidup orang tua). Hanya saja perlu diperhatikan bahwa posisi ini bisa diperankan anak selama fitrah kemanusiaannya — seperti kasih sayang antara orang tua terhadap anak dan sebaliknya–terpelihara.
Dan bila fitrah ini tertutupi oleh pemikiran yang sesat, yang bertolak belakang dengan ajaran Islam, maka anak akan lebih nampak sebagai fitnah bagi orang tuanya atau bahkan sampah di masyarakat ketimbang sebagai perhiasan dunia. Na’udzubillahi min dzalika. Oleh karena itu, agar anak menjadi sholih, orang tua harus mendidiknya dengan Islam. Dan dengan pendidikan Islam ini pulalah fitrah kemanusiaannya akan terpelihara.
Beberapa hal yang nampak pada anak sholih, diantaranya :
1. Ketaqwaan
Taqwa adalah sikap yang konsisten untuk menjalankan seluruh perintah Alloh SWT diantaranya berbakti pada orang tuanya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Hal ini dapat terwujud bila tertanam pada diri anak keinginan untuk meraih keridhoan Alloh. Bila Alloh ridho, maka seluruh makhluk di seluruh alam semesta ini juga akan ridho. Dan bila Alloh benci, maka benci pulalah seluruh makhluk-Nya. Sabda Rosul SAW : Apabila Alloh membenci seorang hamba, maka Alloh akan memanggil Jibril dan berfirman, ”Sesungguhnya Aku membenci si Fulan”. Kemudian Jibrilpun membencinya dan menyeru kepada penghuni langit. Kemudian merekapun membencinya dan setelah itu kebencian baginya akan diletakkan di bumi. (HR. Muslim).
2. Cerdas
Cerdas merupakan kemampuan untuk memikirkan dan memutuskan segala solusi permasalahan hidup dengan tepat dan cepat berdasarkan Islam. Seorang anak yang cerdas mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Lebih kuat dalam memperhatikan dan lebih cepat memahami sesuatu dibandingkan dengan yang lainnya.
b. Lebih cepat belajar, menerima pemikiran dan informasi.
c. Pendapatnya lebih banyak dipakai untuk memecahkan masalah.
d. Lebih mampu menciptakan sesuatu, merancang rencana dan cara untuk mencapai tujuan.
e. Mempunyai pandangan lebih jauh akan akibat perbuatan dan pemikirannya.
f. Lebih cepat beradaptasi dengan situasi yang baru atau darurat.
g. Ulet dan percaya diri.
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk cerdas. Dengan kecerdasan ini, umat Islam dapat memimpin dunia sehingga terwujud rahmat bagi seluruh alam. Sejarah telah mencatat kecerdasan yang dimiliki anak-anak Muslim, diantaranya :
Ø Rosulullah SAW menawarkan kepada anak pamannya yang bernama Ali bin Abi Thalib untuk masuk Islam, kemudian Ali berkata kepadanya, ”Aku akan berkonsultasi kepada Ayahku.” Umurnya saat itu baru tujuh tahun, selang beberapa jam Ali datang lagi kepada Rosul untuk mengumumkan keislamannya dan mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan Nabi SAW, kemudian Nabi bertanya kepadanya, ”Apakah kamu sudah berkonsultasi kepada ayahmu wahai Ali? Kemudian Ali menjawab dengan penuh percaya diri, ”Apakah ketika Alloh hendak menciptakanku berkonsultasi terlebih dahulu kepada ayahku”. Nabi menjawab, ”Demi Alloh, tidak”. Ali berkata lagi, ”Kalau begitu tidak perlu lagi bagiku untuk berkonsultasi kepada ayahku untuk beribadah kepada yang telah menciptakanku”.
Ø Al-Ashma’i berkata, Aku berkata kepada seorang anak kecil dari bangsa Arab, ”Apakah kamu akan merasa senang dengan memiliki seratus ribu dirham tapi kamu bodoh?” Anak itu menjawab, ”Demi Alloh tidak”. ”Memangnya kenapa?” Lanjut al-Ashma’i. Anak itu menjawab, ”Aku takut semua itu akan membuatku jahat, maka seluruh hartaku akan habis sedang yang tersisa hanya kebodohanku”.
3. Peduli
Peduli atau empati adalah sikap yang diperintahkan Islam. Sikap individualis jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Wujud sikap peduli, diantaranya dengan peduli kesulitan orang lain, suka membantu serta meringankan beban orang lain. Tidak membiarkan orang lain melakukan kesalahan, juga termasuk rasa peduli yang dianjurkan. Firman Alloh : ” … dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”. (QS. Al-Maidah : 2)
Selain tiga hal tersebut, tubuh yang sehat akan sangat menunjang keunggulan anak sholih. Sehatnya tubuh akan diperoleh dengan memakan makanan yang halal dan baik, menjaga kebersihan, cukup istirahat, dan banyak gerak.
Sedini Mungkin
Mewujudkan anak sholih harus dilakukan sedini mungkin. Karena pada usia dini, anak memiliki potensi fitrah, bisa diarahkan menjadi apa saja terserah kepada orang tuanya. Pentingnya pendidikan berkualitas untuk anak usia dini dibuktikan pula dengan adanya penelitian-penelitian tentang perkembangan kemampuan anak usia dini yang menakjubkan. Wajar bila masa ini disebut masa emas.
Para peneliti membuktikan bahwa 50 % kemampuan belajar manusia ditentukan dalam empat tahun pertumbuhannya. Sedangkan 30 % lainnya dibentuk sebelum usia delapan tahun. Tony Buzan, ahli psikologi dari Inggris, mengatakan bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan benar-benar brilian. Kemampuan daya serap bahasa anak bahkan jauh melampaui seorang doktor di bidang apapun.
Periode ini adalah tahun-tahun yang berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan psikomotorik, kognitif maupun sosialnya. Perkembangan yang diperoleh di masa ini akan berpengaruh terhadap masa dewasanya. Oleh karena itu stimulan dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.
Dengan memperhatikan potensi anak yang besar dan keterbatasan kemampuan untuk memahami konsep dan persepsi, pendidikan yang bisa kita berikan kepada mereka masih seputar hal-hal yang dapat dikerjakan dan diindera. Seperti pembiasaan berakhlak mulia, bertutur kata sopan, membangun kerja sama dengan teman, mengenal Tuhan dengan mengamati hal-hal di sekitarnya, memupuk ketaatan dengan menjalankan ibadah dsb. Usia dini merupakan tahapan yang tepat untuk mengenalkan hakikat Tuhan dan nilai-nilai kebenaran.
Butuh Ibu Tangguh
Ibu adalah sosok yang sangat dekat dan yang pertama kali berinteraksi dengan anak, bahkan sejak anak dalam kandungan ibu sudah mulai mempengaruhi fisik dan mentalnya. Dan ketika anak lahir, ibu pula yang menggoreskan warna dalam lembar-lembar putihnya untuk pertama kali. Sudah semestinya, ibu yang paling tepat untuk melaksanakan tugas pendidikan pada masa emas ini.
Perilaku ibu adalah kesan pertama yang ditangkap anak. Apabila seorang ibu memiliki kepribadian yang agung dan ketakwaan yang tinggi, maka kesan pertama yang masuk ke dalam benak anak adalah kesan yang baik. Kesan awal yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak.
Salah satu upaya ibu adalah dengan ikhlas mencurahkan pikiran, dana dan waktu untuk melakukan yang terbaik. Kitalah yang paling paham apakah upaya kita telah maksimal atau belum. Dan upaya inilah yang akan menjadi bentuk tanggung jawab kita di hadapan Alloh. Wallohu a’lam.



Komentar Saudara !