Home » Cerpen Anak

Yang Maha Tahu

24 December 2008 No Comment

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.”batin Nisa lega. Ia melirik jarum jam, waktu ulangan masih tersisa limabelas menit. Masih ada waktu untuk mengoreksi jawabannya, pikir Nisa tenang. Namun,
“Gedubraak…” sebuah buku tulis meluncur tanpa permisi dari lacinya. Buku tulis bersampul pink itu terjatuh tepat menindih kakinya. Nisa meringis ngeri (bukan nyeri karena sakit, tapi karena takut), sebab itu adalah buku tulis mata pelajaran yang tengah di ujikan. Hatinya berdetak lebih cepat, ketika tangannya bertabrakan dengan tangan Bu Iffa yang lebih dulu meraih buku tulis itu. Wajah Nisa sejenak pucat pasi, ia takut gurunya akan salah paham. Keringat dingin menjalari dahinya perlahan, memandang Bu Iffa yang tengah membaca buku itu. Dengan tegas beliau mengambil jawaban Nisa, menatap Nisa sejenak dan menggeleng pelan sebelum pergi meninggalkan Nisa yang termangu.
Sebenarnya ia tak perlu panik, toh memang ia tidak berbuat curang. Namun tatapan seisi kelas seolah menghakimi atas perbuatan yang tak pernah di lakukannya, hal itu sungguh menusuk perasaannya. Nisa menatap Aisy, sahabat dekatnya. Berharap Aisy percaya padanya, bahwa itu adalah kejadian buku terjatuh biasa. Hal yang wajar terjadi karena ia tak sempat memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan tepat. Namun yang didapat adalah tatapan ragu dan tak percaya, seketika hatinya terasa kelu. Padahal di dalam tasnya terdapat banyak buku, namun kenapa harus buku bersampul pink itu yang terjatuh, pikirnya sedih.
“Nisa, temui Ibu di kantor sekarang!”suara Bu Iffa lantang berbarengan dengan bunyi bel istirahat.
Semua mata mengarah padanya, saat ia bangkit dan melangkah menuju pintu. Nisa berusaha menenangkan diri, dia terus berdoa pada Tuhan smoga ia di jauhkan dari fitnah. Ia mohon kekuatan untuk menjelaskan yang terjadi, karena hanya Tuhan yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu jantungnya terus berdetak dengan kencang, dan semakin kencang ketika sampai di depan kantor guru. Nisa berhenti sejenak di ambang pintu, ia meremas-remas ujung kerudung putihnya. Di dalam ruangan terdapat beberapa guru yang sedang bercengkerama, sebagian tengah sibuk mempersiapkan materi dan di ujung ruangan nampak Bu Iffa yang tengah mengoreksi hasil ulangan. Setelah berhasil menenangkan diri, Nisa melangkah dengan pasti.
“Assalammualaikum”serunya seraya mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam..”jawaban dari dalam ruangan hampir bersamaan. Meski merasa berhasil menenangkan diri tak ayal Nisa tetap merasa ciut juga nyalinya, ketika tatapan semua orang mengarah padanya.
“apa mereka mengetahui apa yang terjadi”pikir Nisa mulai gundah, ia segera menepis pikiran-pikiran negatif di kepalanya. Kini ia sampai di depan meja Bu Iffa yang tengah menatapnya tegas.
“duduklah!”seru Bu Iffa seraya merapikan kertas-kertas jawaban yang berserakan di atas meja. Kertas-kertas itu dijadikan satu dan di masukkan ke dalam map berwarna hijau lumut, kemudian di taruh di dalam laci. Kini di atas meja hanya terdapat sebuah buku tulis bersampul pink dan selembar jawaban bertulis namanya. Nisa menghela nafas perlahan. Ia menatap Bu Iffa dengan tenang.
“sebelumnya Ibu sampaikan, bahwa sebenarnya selama ini Ibu bangga akan prestasi yang telah di raih Nisa. Ibu yakin Nisa adalah anak yang pintar dan baik. Ibu percaya kalau Nisa tidak akan berbuat curang.”terang Bu Iffa dengan lemah lembut, sambil menatap Nisa lekat-lekat.
“ibu sudah memeriksa semua jawabanmu, seperti biasa semuanya benar. Bahkan teks kalimatnya tidak berbeda dengan catatan yang ibu berikan. Sedikit ganjil memang, namun bisa saja terjadi kalau Nisa memang benar-benar telah menghafalnya di luar kepala. Dan dengan kejadian ini, pasti Nisa juga tahu orang lain bisa berfikiran salah. Ibu berharap Nisa berkata jujur pada ibu, sekarang tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!”.kata Bu Iffa sambil menarik nafas perlahan.
Sejenak suasana hening. Nisa berdoa dalam hati, dengan sebelumnya menyebut nama Alloh ia mulai bertutur. Entah kekuatan dari mana yang membuatnya menjadi tenang, dan mampu menjelaskan apa yang terjadi dengan lancar.
“saya bersedia kalau harus mengikuti ulangan ulang Bu”.kata Nisa mengakhiri penjelasannya.
“tidak usah, ibu percaya pada Nisa.”jawab Bu Iffa lugas
“tapi Bu, mungkin itu satu-satunya cara untuk membuktikan pada semua orang kalau saya tidak bersalah”.kata Nisa penuh harap
“sudahlah Nisa, kau tak perlu membuktikan apa-apa pada kami. Alloh Maha Tahu, hanya kepadaNyalah kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan. Percayalah, Insya Alloh orang yang jujur di dunia akan selamat di akhirat. Dan sebaliknya orang yang berbohong, ingkar ataupun curang akan mendapat balasan yang setimpal.”jelas Bu Iffa tegas
“sekarang kembalilah ke kelas”kata Bu Iffa seraya menyerahkan buku bersampul pink itu kepadanya.
Dengan lebih ringan Nisa melangkah kembali ke kelas, namun ada sedikit gundah di hatinya. Apalagi ketika ia berpapasan dengan teman-temannya di depan kelas. Sebagian membuang muka, sedang yang lain berkasak-kusuk sambil menatapnya tajam.
“gak nyangka ya..”ujar salah seorang
“padahal selama ini kelihatannya alim, tapi ternyata…”yang lain menimpali. Meski kata-kata itu seolah mengiris-iris hatinya, Nisa tetap berusaha tidak menghiraukan, mereka hanya salah paham, pikirnya menenangkan diri. Namun hati kecilnya sedikit kecewa, mengapa teman-temannya tak percaya padanya.
“ketangkap basah nih yee..”ujar salah seorang dari gerombolan anak lelaki mengejek, Nisa terus melangkah. Di dalam hati ia terus berdoa agar di beri kesabaran.
Buku tulis di tangannya digenggam erat, tatkala melihat tulisan di papan tulis
“ T U K A N G  N Y O N T E K ” kalimat itu tertulis besar-besar di papan dan di bawahnya terdapat gambar seorang anak berkerudung, tertulis WANTED. Nisa menarik nafas perlahan, di raihnya penghapus dan tanpa sepatah kata menghapus tulisan di papan. Tak terasa sebutir air mata menetes di pipinya. Ia sedih bukan karena sakit hati, tapi ia sedih karena takut teman-temannya berdosa karena fitnah.
“Ya Alloh ampunilah mereka, mereka hanya tidak tahu ya Alloh. Dan berilah penyelesaian yang baik untuk masalah ini.”doa Nisa dalam hati seraya kembali ke bangkunya. Disana menunggu Aisy dengan ekspresi tak menentu, dengan tenang Nisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Mendung bergelantung di langit senja, seorang bocah perempuan tengah menengadahkan kedua tangannya. Air mata berlinangan di kedua pipinya yang putih, tubuhnya kian terlihat mungil dalam balutan mukenah berwarna putih tulang. Hatinya bergetar mengucapkan doa, memohon kekuatan dan kesabaran atas cobaan ini. Bibirnya yang komat kamit lirih memohon ampun untuk teman-temannya dan berdoa agar mereka dijauhkan dari fitnah. Ia yakin Alloh akan memberi penyelesaian yang paling baik. Dari kejauhan lamat-lamat terdengar gemuruh dan sejenak kemudian hujan pun turun membasahi bumi. Menciptakan suasana yang menyegarkan. Esok pasti lebih baik.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.