Home » Hikmah Muallaf

Ikut-ikutan Sholat Jum’at Hati Lebih Tenang

3 January 2009 One Comment

Suasana hening, sejuk dan damai begitu saya rasakan ketika beberapa kerabat juga jamaah masjid mengiringi langkah saya memasuki ruang utama Masjid Al Akbar Surabaya (MAS), Selasa (10 Juni) baru-baru ini. Malam itu memang sholat Isya baru saja usai. Sebagian jamaah sudah bergegas pulang, namun saya justru beranjak masuk. Malam itu saya ingin memulai hidup baru, saya ingin kembali suci, saya ingin hidup dari nol,saya ingin berubah. Dan alhamdulillah niat suci untuk pindah agama terpenuhi sudah. Dengan bimbingan Ust. Prof Dr. Roem Rowi, pengurus MAS, saya ikrarkan diri, saya mengucapkan dua kalimat syahadat. Sejak itu pun saya resmi jadi muslim.
Ya, keheningan dan kesejukan suasana masjid sungguh telah mengantarkan kedamaian dalam hati saya. Inilah babak baru kehidupan yang akan saya jalani di sisa umur saya ini. Saya ingin tenang, saya ingin damai dan bahagia, lahir batin.
Cukup sudah pengalaman hidup penuh duri saya jalani. Dan cobaan yang paling berat adalah pernikahan saya yang berantakan gara-gara faktor ekonomi. Saya menikah dengan sesama penganut Katolik tahun 2005 lalu, dikaruniai seorang putra, namun sayang tambah lama keseharian keluarga saya tidak tambah nyaman. Istri saya sepertinya tidak cocok dengan saya yang hanya seorang salesman, sedangkan dia secara ekonomi jauh di atas saya. Pertengkaran dan percekcokan sudah bukan barang asing lagi, hingga akhirnya saya tak tahan. Saya ceraikan istri saya, dan biarlah anak saya satu-satunya yang masih kecil ikut mantan istri saya.
Dalam kekosongan itu saya sempat teringat pada Ust. Syaukani Ong yang masih punya hubungan darah dengan keluarga ibu saya. Kebetulan saya pernah sharing dengan beliau tentang persoalan pindah agama. Saya lalu tahu pindah agama itu tak semudah membalik telapak tangan. Cobaannya banyak, dan yang paling berat tentu datang dari keluarga. Dari cerita beliau yang saya tangkap, saya jadi yakin pertentangan dari keluarga itu sungguh tak mengenakkan. Namun betapapun dahsyatnya pertentangan itu, kalau niat sudah bulat, pasti akan mengalir perlahan-lahan hingga akhirnya seperti tak terjadi apa-apa. Lalu saya berpikir begini : Ust. Syaukani saja bisa pindah agama, kenapa saya kok tidak bisa?
Sempat terbersit untuk segera pindah agama, namun saya tahan dulu. Sebab saya termasuk orang yang tidak percaya begitu saja dengan omongan orang tentang Islam. Katanya Islam itu begini dan begitu, ya saya terima, tapi saya saring dulu. Ketika informasi itu datang bertubi-tubi, entah kenapa saya rasanya semakin mantap untuk pindah agama.
Niat itu pun saya sampaikan pada orang tua saya. Benar juga, sebagaimana yang dialami Ust. Syaukani Ong, mereka pasti menolak. Namun bersyukur pertentangan itu tak berjalan lama. Toh akhirnya orang tua saya menyuruh saya untuk mempertimbangkan matang-matang. Jangan asal pindah agama, kalau tak jelas arahnya, jangan asal pindah keyakinan kalau tak jelas pandangannya, jangan asal pindah agama hanya karena agar saya tidak ingin keluarga berantakan lagi. Apapun keyakinan kamu yang baru nanti, kamu jangan asal-asalan, kamu harus serius, begitu kata mereka.
Tak cukup sekali, orang tua sering menanyakan coba dipikirkan dulu. Permintaan itu memang wajar, pernah menanyakan coba dipikirkan dulu, sebab dalam Katolik semua sakramen sudah terima semua. Saya bahkan sudah jadi putra altar.

Saya hargai permintaan orang tua itu, sekaligus saya tegaskan pada mereka bahwa saya sudah pikirkan betul dan saya bertekad bulat mau pindah Islam. Saya pikir saya dulu juga percuma ke gereja kalau rumah tangga hancur juga. Saya inginkan kedamaian dan ketenangan.
Sejak itu kembali niat bulat itu mencari-cari jalan keluar. Sekali lagi saya tak begitu saja percaya omongan kanan-kiri tentang Islam. Katanya Islam itu lebih sempurna. Saya coba belajar sendiri, dan sebagai testing pada diri sendiri, meski belum pindah agama, saya sering ikut-ikutan sholat Jum’at. Selama 3 bulan terakhir ini saya tak pernah absen. Bahkan bos saya di kantor mengingatkan saya untuk sholat Jumat bila sudah waktunya tiba. Alhamdulillah lancar. Yang ngajari saya sholat Jumat ya teman-teman sendiri. Rupanya dengan ikut sholat Jumat, hati saya lebih tenang, dibanding ketika saya mengikuti ritual agama saya sebelumnya. Dalam hati saya berpikir, ini benar-benar petunjuk. Terkadang saya juga ikut sholat maghrib.
Terus terang belakangan, kalau saya mendengar orang membaca ayat-ayat Qur’an hati rasanya lebih tentram. Di Katolik dulu, bila ada teman yang mengajak ini itu, saya bilang ayo-ayo, asal ikut saja. Tak ada kesadaran pribadi yang mendalam. Namun sekarang lain, setiap langkah saya ikuti dengan pertimbangan ke-Islaman. Kalau saya masuk Islam bila mendengar orang baca surat itu beda, hati jadi tenang. Dulu kalau ada teman yang ngajak gini gitu, ayo-ayo, tak ada kesadaran pribadi yang mendalam. Namun sekarang mendengar orang baca surat saja hati sudah tenang. Teman-teman juga yang membimbing saya untuk bisa surat Al Fatihah sehabis ikut-ikutan sholat.
Bersyukur pula, teman-teman di kantor amat mendukung rencana pindah agama itu. Bahkan ada relasi bisnis yang seakan tak percaya. ”Masak sih kamu mau jadi muslim, kan dulu kamu Katolik yang kolot dan tak mungkin tergoyahkan?” begitu kata mereka. Ya, saya 3 bersaudara memang dari keluarga Katolik kolot sejak kecil. Saya katakan saya betul-betul tulus ikhlas untuk pindah agama. Baru-baru ini sebelum resmi ikrar syahadat, saya sudah lebih dulu dikhitan, meski sudah sebesar ini.
Apalagi kemudian saya bertemu seorang muslimah yang insya Alloh akan jadi pendamping saya. Saya juga jadi belajar banyak Islam dari dia. Namun saya perlu tegaskan, saya masuk Islam bukan karena ingin punya istri muslimah. Sama sekali tidak. Di samping karena niatan dan kesadaran sendiri, saya pikir-pikir secara sederhana saja, tidak mungkin misalnya saya nikah tapi agamanya beda. Yang dulu seagama saja bisa berantakan, apalagi beda agama. Saya tak ingin trauma masa lalu itu terulang, dan saya yakin dengan Islam, dengan rumah tangga Islam, hidup saya akan lebih tenang dan damai.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.

One Comment »

  • kukuh santoso said:

    Kisah ini sangat bagus dan luar biasa, tidak mudah untuk bisa melakukannya, hanya orang2 yang punya niat sungguh2 dan betul2 mendapat hidayahNya saja yg mungkin memang berhak atas karuniaNya.
    Karena saya juga seorang non muslim yg ingin untuk bisa hidup di jalanNya (Tuhan yg di sembah Rasullullah Muhammad saw), namun entah mengapa sampai sekarang belum juga kesampaian.