Home » Cermin

Kecintaan Pada Usia Dan Harta

3 January 2009 One Comment

Usia dan harta. Seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Andai boleh berpengharapan tentang keduanya, semua manusia pasti berharap bisa berusia panjang serta hidup kaya.
Usia dan harta selalu menarik untuk diangkat sebagai topik pembicaraan. Tidak hanya menarik untuk diperbincangkan secara informal, tetapi bisa bernilai komersial yang layak jual. Seminar atau apapun namanya yang menawarkan resep atau kiat-kiat agar berusia panjang pasti banyak peminatnya. Demikian pula dengan kiat-kiat untuk menjadi orang yang sukses dan kaya, selalu punya daya tarik yang luar biasa. Dipasang tarif harga super mahal sekalipun, tetap saja ada peminatnya. Peminatnya bisa lintas usia, mulai dari usia produktif hingga para lansia. Bahkan bisa jadi ada lansia lebih semangat dibandingkan dengan yang berusia muda. Usia boleh tua, tapi semangat bisa tetap muda. Fenomena yang demikian tidak mengherankan. Rosululloh telah memberikan tengara kepada kita semua dengan sabdanya,” Hati seorang kakek senantiasa muda dalam mencintai dua perkara, yaitu kehidupan dan harta. (HR. Muslim).
Jika Rosululloh sudah menyampaikan seperti itu, maka kita sebagai ummatnya dituntut untuk merenungkannya. Dibalik sabda Beliau kita bisa membaca pesan seperti ini,” Ada orang-orang yang usianya sudah tua, namun belum juga menyadari tentang dekatnya diri dengan batas akhir usia. Terus saja hati dan pikirannya terpasung oleh urusan-urusan dunia. Lupa bahwa sebentar lagi dirinya akan segera kembali kepada-Nya. Lupa untuk memperbanyak tobat dan membekali diri dengan amalan-amalan sholih. Seakan-akan mau hidup selamanya. Lupa bahwa saat kematian tiba hartanya tidak akan berguna apa-apa. Tidak menyadari bahwa usia dan hartanya justru akan menjadi jalan siksa bagi dirinya.” Naudzubillah.
Tengara Rosululloh makin menemukan kebenaran kontekstualnya di zaman ini. Manusia makin terjebak dalam peradaban serba materi yang diciptakan sendiri. Tidak ada peluang yang memungkinkan manusia bisa mengelak dari perangkap peradaban yang serba materi. Menyadari atau tidak, manusia dari sejak berada dalam kandungan hingga menemui kematian, jalan pikirannya dipenuhi oleh soal materi. Kecukupan materi sudah menjadi keniscayaan. Dapat dipahami karena semua hal dalam hidup, mulai dari hal-hal kecil hingga besar, semua butuh pembiayaan.
Yang lain dari peradaban serba materi adalah kecenderungan yang besar terhadap kenikmatan dan kesenangan hidup. Manusia terus dikondisikan untuk mengejar dan menikmati umur dalam gelimang kenikmatan. Kalau  tidak menyadari, siapapun boleh jadi akan terlenakan. Inovasi berbagai fasilitas kenikmatan dan kesenangan hidup terus-menerus diciptakan. Tubuh, mata, telinga, hati dan pikiran terus-menerus dimanjakan.
Ironi dalam peradaban yang serba materi adalah jasad atau tubuh terus-menerus  dimanjakan, sementara kebutuhan ruhani semakin terlupakan. Itulah fenomena yang tidak bisa dielakkan.
Karena manusia tumbuh dalam lingkungan peradaban yang demikian, maka dapat dipahami jika ada manusia yang kemudian lalai dan tenggelam dalam kenikmatan dunia (menikmati umur dan harta) seraya melupakan akhir hidup yang bernama kematian. Untuk mengejar materi manusia mengerahkan semua waktu, pikiran  dan tenaga. Sedang untuk beribadah kepada Sang Maha Pencipta, hanya waktu sisa atau sedikit saja seadanya. Itupun tidak ada jaminan saat beribadah juga menghadirkan hati dan pikiran. Kelompok orang-orang yang seperti inilah yang terkena secara langsung dengan sabda Rosululloh tersebut diatas.
Ramadhan segera tiba. Inilah saat terbaik untuk berpuasa, untuk menahan diri. Mungkin kita pernah lalai sehingga terseret peradaban yang serba materi. Akibatnya kita kurang akrab dengan-Nya. Puasa merupakan media terbaik bagi orang-orang yang beriman untuk berkontemplasi guna memperbaiki diri.
Saudaraku, tidak ada yang salah dengan usia dan materi. Keduanya merupakan milik-Nya yang dianugrahkan kepada hamba-Nya. Dengan usia dan materi manusia bisa hidup serta bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sampai pada tingkatan sejahtera. Bahkan kalau bisa ummat Islam hidup kaya agar bisa membayar ongkos naik haji serta bisa meninggalkan keturunan dalam keadaan sejahtera. Kalaupun kita membicarakan usia dan materi, itu semata-mata diwilayah-wilayah cara penyikapan dan persepsi manusia yang terkadang kurang proporsional terhadap usia dan materi. Kekeliruan manusia dalam memahami dan menyikapi usia dan materi bersumber dari kesalahan referensi. Manusia melihat usia dan materi tidak dari sudut pandang pemilik usia dan materi. Yaitu Sang Maha Pencipta. Referensi penyikapan manusia kebanyakan adalah hawa nafsu dalam dirinya. Padahal semua tahu watak dasar hawa nafsu hanya satu, yaitu menyesatkan manusia. Karena itu sering kita saksikan manusia berumur panjang dan berlimpah harta, justru semakin jauh dari Sang Maha Pencipta.
Menjelang Ramadhan ini, mari kita bercermin menatap di kedalaman hati, bagaimana kita selama ini dalam mengelola hati saat berhubungan dengan usia dan harta. Referensi yang mana yang kita pergunakan. Referensi Sang Maha Pencipta atau referensi nafsu dalam diri. Tentu tidak ada manusia yang bisa sepenuhnya taat sepanjang masa. Ada masa manusia tergelincir berbuat dosa. Dan tidak ada pula manusia yang terus menerus berbuat durhaka tanpa kebaikan. Hanya yang mana yang lebih dominan dari keduanya, itulah diri kita yang sebenarnya.
Saudaraku, dibulan Ramadhan nanti mari kita berdo’a kepada Alloh. Semoga kita dan keluarga bisa senantiasa berada dalam bimbingan-Nya dalam menjalani sisa usia dan dalam mengelola harta. Hati dan pikiran kita dijernihkan dengan rahmat-Nya dalam berhubungan dengan usia dan harta. Mencintai usia dan harta karena ingin banyak berbuat kebaikan selama hidup di dunia. Dan kita mohon agar usia dan harta kita berkah yang mendatangkan banyak catatan pahala untuk bekal kembali kepada-Nya. Wallohu a’lam bisshowab.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.

One Comment »

  • sogol said:

    merupakan fenomena akhir zaman yang mana manusia semakin jauh dari petunjuka Al qur’an dan assunah kalau toh petunjuk itu sudah diterima tetapi aqidahnya masih perlu di tingkatkan kwalitasnya mengingat yang dihadapi oleh umat islam tantangannya sangat global dan mudah mudahan umat islam kembali kepada syariatNya ..amin