Resep Perbandingan
Kenaikan harga sebenarnya bukan satu-satunya permasalahan yang membuat kita merasa gelisah hidup di negeri Indonesia tercinta ini. Beberapa waktu lalu, kita dibuat resah oleh datangnya “musim” bencana di beberapa wilayah di negeri ini. Sebelumnya juga kita ditimpa was-was karena Indonesia disebut sebagai salah satu Negara dengan suspect flu burung yang sangat mengkhawatirkan.
Di Menu Utama majalah ini, kita sepakat walaupun kenaikan harga adalah hasil kebijakan manusia, bagi kita yang merasakan dampaknya, hakikatnya itu adalah ujian dari Alloh. Sehingga jika bicara ujian, bolehlah kita mengatakan sebenarnya kita sudah terbiasa dengan berbagai ujian. Sebagai mukmin, kita sadar betul bahwa ujian adalah keniscayaan dalam kehidupan. Ia adalah pasangan yang tak terpisahkan. Dimana jika taqwa seseorang akan mengalami kenaikan, disitu pasti ada ujian.
Namun tak dipungkiri, sebagian kita saat ini ada yang mengalami kesempitan ekonomi yang sangat karena harga yang membumbung tinggi. Sangat dipahami sekali. Kita berdoa mudah-mudahan Alloh memberi jalan keluar atas ujian ini.
Kita berbuat apa yang kita bisa. Pertama yang paling penting adalah manajemen hati. Mari kita mulai berpikir. Saya memulai dengan sebuah pertanyaan yang sengaja saya buat dramatis ini, “pernahkah kita resah sampai kepikiran berjam-jam karena besok kemungkinan kita akan mati”. Jangan lagi kita resah karena berpikir nasib kita di akhirat dengan pertanyaan apakah kita nanti matinya khusnul khotimah atau su’ul khotimah, banyak dosa atau banyak pahala, apakah kita masuk Surga atau terlempar ke Neraka. Ukur sajalah dengan keadaan dunia, saya matinya susah atau mudah, sanggupkah saya berpisah dengan orang-orang yang saya cintai, siapa nanti yang akan menyayangi anak-anak kita, siapa yang akan membiayai hidup mereka.
Walaupun demikian, kenyataannya kita tidak terlalu pusing memikirkan kematian yang datangnya bisa tiba-tiba. Kita menjalani hidup biasa-biasa saja. Ibadah, ya ibadah seperti biasa. Kadang serius kadang tidak.
Memang terlalu jauh kalau kematian dihubungkan dengan kenaikan harga. Tapi dengan cara ini mudah-mudahan kita bisa meletakkan permasalahan pada proporsinya. Kenapa dengan kematian kita masih tenang dibanding dengan berita kenaikan harga? Ada tiga jawaban sekiranya.
Pertama, kita tidak terlalu yakin dengan kematian itu sendiri. Walau kita percaya hidup mati di tangan Tuhan, sesungguhnya kita juga masih berpikiran konyol dengan optimis pada hitung-hitungan sendiri. Dengan kondisi saya yang sehat wal afiat seperti saat ini, sangat kecil kemungkinan besok saya mati. Pengalaman selama ini, dengan keadaan jiwa dan raga saya yang seperti ini, toh buktinya besoknya masih hidup. Begitu sisi lain dari diri kita berkata. Padahal sungguh, sebagaimana kenaikan harga pasti terjadi, probabilitas kemungkinan kita mati besok juga adalah 100% bisa terjadi (karena mutlaknya Kuasa Alloh). Jadi kalau kita merasa was-was memikirkan keadaan hidup setelah kenaikan harga, silahkan bertanya pada diri sendiri apakah kita juga sudah was-was memikirkan keadaan hidup setelah mati kita?
Kedua, kita membatasi makna ujian hanya yang kelihatan langsung datangnya dari Alloh. Sebagaimana macam ujian yang akrab didengar, seperti ujian bencana, sakit dan kematian. Sebagai mukmin kita akan pasrah dan menyadari semua itu adalah kehendak Alloh. Berbeda dengan urusan kenaikan harga, ini lain soal, dengan nada protes akan ada yang mengatakan “kalau hidup mati itu memang dari Sang Pencipta, tapi kalau kenaikan harga…jelas itu ulah manusia!”. Sempit sekali pikiran kita jika berpikir seperti itu. (baca : Menu Utama 1, pen.)
Ketiga, kita tenang dengan kematian karena kita memang sudah siap dengan bekal akhirat kita. Untuk mereka yang sudah pada tingkatan ini, pandangannya sudah pandangan akhirat. Segalanya dikaitkan dengan akhirat. kenaikan harga menjadi masalah yang tidak teramat sangat meresahkan hatinya.
Dari tiga alasan tersebut, semestinya kita harus adil. Kalau kita tidak terlalu memikirkan kematian, layakkah kita memikirkan masalah yang kadarnya lebih ringan dari kematian?. Kalau nasib setelah kematian yang sepenuhnya oleh Alloh diserahkan kepada kita (mau Surga atau Neraka) tidak seberapa kita urus, bagaimana mungkin kita terlalu stress mengurus urusan rezeki yang sepenuhnya sudah diatur oleh Alloh?. Ironis. Sekali lagi, kalau kita susah dengan keadaan kesempitan hidup setelah kenaikan harga, patutnya kita juga harus lebih merasa susah dengan keadaan hidup setelah matinya kita.
Momen Menata Keimanan
Jika memang kenaikan harga berdampak pada kesempitan hidup, bolehlah kita bingung sebentar, namun tidak berlama-lama untuk kemudian mengajak diri kembali sadar. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (QS. Al-Baqoroh : 155-156).
Saudaraku, perhatikan apa yang pernah dikatakan oleh khalifah Umar ibn Khattab: “Aku lebih suka mendapat ujian hidup berupa kesempitan dibanding dengan kelapangan. Dengan kesempitan hidup, aku bisa bersabar dan mudah mensyukuri nikmat-Nya sedangkan dalam kelapangan hidup, betapa sulit aku bersabar”.
Subhanalloh…Khalifah Umar mampu membalik paradigma tentang kesempitan hidup. Bagi Umar, ujian dunia adalah media paling mudah untuk menghantarnya kepada kenikmatan. Yaitu kenikmatan di dunia berupa hati yang merasakan makrifah sabar dan kenikmatan di akhirat, yaitu jannah yang didalamnya mengalir sungai-sungai.
Mungkin kita sulit untuk sampai pada tingkatan merindukan ujian seperti khalifah Umar ibn Khattab. Tapi setidaknya, kita bisa mengambil pelajaran dari beliau. Tentang keluasan mengambil sudut pandang dalam menyikapi ujian.
Jika hari ini kita masih merasakan resah karena kenaikan harga, cukupkan, jangan beri kesempatan bersemayam di hati terlalu lama. Sebagaimana ujian-ujian yang lain, pertamanya kita juga resah dan gelisah ketika mendapati ujian yang terlihat memberatkan. Namun bukankah sering akhirnya ketika menjalani ujian itu ternyata kita menemukan hikmah yang mencerahkan. Itulah yang kita mintakan kepada Alloh. Selain jalan keluar berupa rezeki yang mencukupi, mudah-mudahan atas ujian ini, ada celupan hikmah di hati sehingga kita bisa menapak tangga takwa yang lebih tinggi. Istajib du’a anaa..ya Robbi…



Komentar Saudara !