Sepengal Syukur Dari Bongkahan Sampah
Langit gelap, tertutup mendung. Kilatan petir menggelegar menggetarkan jiwa, diiringi guntur yang bersahutan. Beberapa detik kemudian air tercurah dari langit, tetes-tetesnya mendarat di segala penjuru dan membasahi setiap tempatnya mendarat. Tak terkecuali tubuh dan rambut Siti, gadis kecil berparas manis itu beringsut mencari tempat berlindung. Di genggamannya terdapat tas plastik transparan bergambar logo salah satu pusat perbelanjaan. Di dalamnya terlihat sebuah buku tulis yang agak lecek dan sebatang pensil yang sedikit patah ujungnya. Setelah menunggu beberapa saat, namun hujan tak kunjung reda. Siti pun berlari menembus hujan, sambil memeluk tas plastiknya erat-erat.
Tibalah Siti di bawah jembatan. Dikibas-kibaskannya rambutnya, butiran-butiran air berterbangan tak tentu arah dari ujung-ujung rambutnya yang ikal. Kaki-kaki kecilnya dihentakkan ke tanah, menepis butiran air yang menempel. Sementara tangan kirinya tetap menggenggam tas palstiknya, tangan kanannya memeras ujung-ujung roknya yang basah. Siti melihat sekeliling kemudian mengusap wajahnya yang basah. Matanya berbinar ketika menatap tas plastik di tangannya. Saat ini barang yang terdapat dalam tas itu merupakan satu-satunya harta yang paling berharga baginya. Karena itu merupakan satu-satunya buku miliknya. Alat untuk ia belajar menulis dan membaca. Satu keahlian yang memberinya harapan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Ringan kakinya melangkah masuk ke bagian bawah jembatan lebih dalam. Seulas senyum tersirat di wajahnya yang membiru kedinginan. Terbayang tatapan emaknya penuh bangga ketika ia membacakan tulisannya. Satu kemampuan yang tak dimiliki kedua orangtuanya. Bapak pun menghentikan aktifitasnya mengepaki kardus seraya menatapnya dengan berkaca-kaca. Bahkan saat ia selesai membaca Bapak mengelus kepalanya seraya mengangguk-angguk senang. Tak pernah Siti sebahagia waktu itu, serasa Tuhan telah memberikan dunia dan seisinya padanya.
Langkah Siti terhenti. Di depannya sebuah papan tulis berdiri dengan kokoh. Tak jauh dari sana seorang wanita setengah baya berbaju panjang dan bersepatu bot sedang merapikan tikar yang sedikit lembab terkena rembesan air hujan. Di kedua pundaknya bergelantung tali ransel. Meski demikian keanggunannya tetap tampak. Ditambah lagi kain panjang yang menutupi kepala dan dadanya. Membuatnya nampak seperti malaikat. Terutama bagi Siti dan teman-temannya, keberadaan Bu Ida adalah dewa penolong bagi mereka. Satu tahun sudah Siti belajar membaca dan menulis di tempat ini. Sekolah luar biasanya, demikian mereka menyebutnya. Karena tak ada gedung dan peralatan lain selayaknya sekolah pada biasanya. Setelah mengucapkan salam, Siti mendekati Bu Ida dan mencium punggung tangan gurunya dengan khidmat.
Sesaat tempat itu menjadi ramai dengan kedatangan anak-anak sebaya Siti. Mereka duduk rapi di atas tikar menghadap papan. Seolah mereka berada dalam sebuah kelas dan siap menerima pelajaran layaknya pelajar lain. Bu Ida membuka pertemuan seperti biasanya dengan salam dan berucap syukur.
“Assalammualaikum, syukur alhamdulillah hari ini kita dapat di pertemukan dalam keadaan sehat untuk menuntut ilmu. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, amin…”tutur Bu Ida lembut.
“Waalaikumsalam…”jawab anak-anak serentak
“seperti perjanjian kita di pertemuan sebelumnya, bahwa hari ini kita akan membahas bab syukur. Jadi Ibu ingin mendengar tulisan kalian dengan tema tersebut. Semua sudah menyelesaikan tugas tersebut kan” tanya Bu Ida sambil berkeliling memeriksa buku murid-muridnya.
Jantung Siti berdebar lebih keras, tatkala tiba waktunya membacakan hasil karyanya di depan guru dan teman-temannya. Kakinya serasa berat diajak melangkah. Siti melangkah dengan ragu, mulut mungilnya terus komat-kamit menyebut nama Alloh. Ia menggenggam bukunya lebih erat. Setelah berada di depan Siti menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan. Secerca keberanian merambati hati dan raganya, saat ia kembali. terbayang wajah kedua orangtuanya tersenyum bangga padanya. Di iringi gemuruh hujan di atas jembatan, Siti mulai membaca tulisannya. Jelas dan lancar,
“ Segala puji bagi Alloh SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberiku tubuh yang lengkap. Memberiku panca indra yang berfungsi dengan baik. Kedua orangtua yang merawatku dan saudara yang menyayangiku. Selalu mengumpulkan kami dalam lingkaran kasih sayang-Nya dalam menjalani kehidupan. Saling membantu, berbagi dan bercanda.
Alhamdulillah…,
Ia beri kami kekebalan tubuh yang ekstra. Sehingga kami dapat terus bertahan dalam terpaan angin malam yang menembus hingga ke dalam tulang. Derasnya hujan dan panasnya sengatan sinar matahari. Tubuh yang tak protes ketika menggigil dan berkeringat. Tubuh yang ikhlas merengkuh saudaranya dalam pelukan, tubuh yang rela meski harus beratap langit dan beralas tanah. Tubuh yang tak mengeluh meski harus tidur dengan meringkuk dalam gerobak.
Alhamdulillah…,
Ia beri kami perut yang kuat. Sehingga kami dapat terus melanjutkan hidup meski dengan perut kosong. Perut yang tak pernah berontak dan mengeluh meski hanya kemasukan air putih dan makanan sedikit basi. Perut yang selalu bersyukur dengan rezeki-Nya yang halal. Perut yang memilih melilit daripada harus menampung makanan yang tidak halal.
Alhamdulillah…,
Ia selalu memberi kami rezeki. Menyediakan plastik dan kardus bekas yang melimpah. Sehingga kami bisa menyambung hidup dari hasil penjualannya. Dan memberi kami harapan untuk hari esok yang lebih baik.
Atas semua karunia dan kemurahannya, tak ada kata yang bisa mewakili segala rasa syukur di hati kami. Kecuali satu kata, Alhamdulillah….”
Siti mengakhiri penampilannya dengan senyum yang mengembang, tepat ketika hujan berhenti dan menyisakan gerimis. Di sambut hening dan tatapan berkaca-kaca pendengarnya. Siti menutup bukunya perlahan, jiwanya menghangat. Sedetik kemudian keheningan berganti dengan gemuruh tepuk tangan dari teman-teman dan gurunya. Mereka berdiri dan memberinya tepuk tangan yang meriah. Wajah Siti memerah diantara malu dan bahagia. Wajahnya cerah penuh semangat. Tak terasa lagi penat tubuhnya, tak ada lagi dingin kulitnya. Siti melangkah kembali ketempatnya dengan penuh rasa syukur.
Tak berhenti disana, rupanya di akhir penampilan semua murid Bu Ida memiliki kejutan untuk mereka.
“Ibu rasa kini kalian tahu apa itu Syukur, dan orang terkaya adalah ahli syukur. Ketahuilah bila kita bersyukur maka Alloh akan memberi lebih banyak lagi karunia-Nya pada kita. Dan karena kalian hari ini telah bersyukur, Ibu punya hadiah untuk kalian. Dan satu hadiah khusus untuk tulisannya yang paling bagus.”terang Bu Ida seraya membagikan buku bacaan untuk mereka. Sejenak keadaan menjadi riuh, karena anak-anak bersorak kegirangan menerimanya.
“dan hadiah khusus ini Ibu berikan pada seseorang yang begitu indahnya menggambarkan apa itu arti syukur pada kita. Menyadarkan kita bahwa betapapun keadaan kita saat ini, sesungguhnya Alloh telah memberi kita banyak hal yang patut kita syukuri. Ia adalah…..Siti”kata Bu Ida lugas dan disambut sorakan anak-anak.
Siti hampir tak percaya, dengan malu-malu ia menerima bingkisan dari Bu Ida yang menyalaminya dan mengecup keningnya penuh kasih.
“alhamdulillah..”ucapnya dalam hati. Kini Siti memiliki tas untuk buku-bukunya, matanya berbinar gembira. Hatinya hangat, tak sabar rasanya untuk segera pulang dan memperlihatkan semua itu pada orangtuanya. Mentari kembali muncul dibalik mendung yang perlahan memudar. Siti berlari riang menembus jalan dan melewati tumpukan sampah di tepian gunung sampah. Tempat dimana ia menemukan sebongkah harapan selama ini.



Komentar Saudara !