SPMB
Bobby murung. Dia nggak ngira, bahwa riwayat pendidikannya akan berakhir kayak gini. Seorang anak yang punya masa depan cerah, akademisnya di atas rata-rata, harus putus sekolah lantaran nggak ada biaya. Ah, lagu lama, batinnya. Ujian berat yang dialaminya ini mengingatkan Bobby pada ungkapan terkenal Napoleon Bonaparte, “Vini-Vidi-Vici” yang seingat dia artinya,…“dilarang meludah di sembarang tempat”(???!), huh, dia merasa peribahasa itu sangat gak nyambung (ya eyalah).
Bobby jadi ngayal sendiri. Andaikata pas bapaknya meminta dia berhenti sekolah tadi terus kedengeran wartawan yang lagi numpang buang hajat di WC tetangga, nasibnya mungkin ada harapan berubah menjadi baik. Tentu nggak disebabkan “hajat”nya si wartawan mengandung jimat, trus jimat itu bikin Bobby kaya mendadak, ya nggak lah. Itu mah syirik..jijik lagik!
Menurut Bobby, bukankah keadaan dan nasibnya ini adalah berita yang sangat menarik dan prestisius. Abis nuntasin hajat sucinya, si wartawan bakalan nggak buang kesempatan mewawancarai Bobby. Dengan perasaan yang dalem banget, kalo perlu ngeluarin air mata lewat hidung, Bobby bakalan menceritakan semuanya kepada si wartawan. Dan selanjutnya wartawan beruntung itu akan memuat berita Bobby di korannya. Di halaman depan separuh halaman!!, dengan judul sensitif “TERJADI LAGI, PUTUS SEKOLAH KARENA TAK PUNYA BIAYA”. Plus mas wartawan baik hati itu dengan sangat cerdas mengambil foto Bobby dengan pose melankoli. Tampak Bobby menunduk tak berdaya kayak orang mau dieksekusi mati dengan tekhnik di ithik-ithik sampe mati (ih kejem banget). Benar-benar berita yang mampu menguras derai air mata pembacanya.
Nggak selesai disitu, si wartawan tanpa terasa terbawa kisah dan terenyuh, dan tanpa diduga ia nyumbangin bolpen, tas, dompet, kaos kaki, deodoran, pasfoto 3×4, fotokopi KSK, Fotokopi KTP, Ijazah Kuliah (ih, memangnya mau ngelamar kerja?), trus hp, kamera digital, dan busyet..kartu ATM-nya juga buat Bobby, sambil menitikkan airmata lagi..benar-benar dramatis (tapi buru-buru Bobby ralat, karena khayalan yang ini sangat gak mungkin). Yang jelas, dari berita itu besoknya dia bakalan kebanjiran bantuan dan ungkapan belasungkawa sedalam-sedalamnya. Mulai dari bapak RT, bapak Lurah, sampai bapak-bapak anggota dewan yang merasa berdosa kepadanya. “Terima kasih-terima kasih, tak usah sedih bapak-bapak..saya sudah memaafkan anda semua”, ucapnya berwibawa dalam pidato sambutan, masih di dunia dalam khayalan.
Tapi apa mau dikata, kenyataan nggak demikian. Seketika dia nyadar, berkhayal berlebihan malah bisa bikin kecewa. Yang ujung-ujungnya tidak terima pada takdir Alloh. Itu dosa besar!. Belum lagi kalo dia kesambet jin terus gila (hii ngeri juga kan, ngeliat Bobby nggak gila aja udah mengerikan).
Bobby masuk ke kamar. Dua orang adiknya yang tidur pulas dengan gaya kepiting ngangkang bikin Bobby nggak kebagian tempat tidur. Akhirnya ia menggelar tikar, tidur di bawah. Lama sekali ia tak bisa memejamkan mata. Teringat kembali semua cerita indah di sekolah. Teringat prestasi-prestasi akademisnya yang membanggakan, teringat kawan-kawan seperjuangannya di dunia dakwah sekolah, teringat kang Junet, Aa Jodi dan mas Sohib yang jadi inspirasi hidupnya, dan teringat pula ia kepada mami penjual pecel dikantin, utang beli nasi belum dibayar.
Pandangannya kini mengarah pada dirinya sendiri, tepatnya dirinya lima tahun lagi. Dia tak lagi melihat dirinya sedang tersenyum bangga dengan mengenakan toga fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Melainkan yang keliat waktu itu dirinya berdiri di perempatan jalan. Sedang ngamen dengan tampang yang sangat mengenaskan. Bahkan adiknya sendiri nggak ngenalin wajah dia. Dan tanpa merasa menjadi adik durhaka tuh adik malah berkata “liat tuh pengamen, mukanya mirip kura-kura yah”.
HWAA..HWAAA..HWAAAAAA..TIDAAAAAAAAK!! Bobby nangis sejadi-jadinya, jeritannya menyayat-nyayat hati. Benar-benar memilukan. Bobby nggak peduli bahwa teriakannya bisa membangunkan orang sekampung. Tapi nggak juga, ternyata Bobby nangisnya sudah di alam mimpi (fiuh).
Pagi itu berbeda dari biasanya. Tak ada sapaan hangat dari atas sepeda kebo warna kuning norak yang menghangatkan paginya para pejalan kaki di sepanjang jalan menuju SMU JiwaKelana. Sepeda kebo kuning itu tak lagi ceria. Bahkan sepeda zaman prasejarah itu berlalu begitu saja ketika melintasi mang Kardi sang penjaga parkir, tak seperti biasanya yang selalu menyalami dan menyapa penuh gairah “Assalamualaikoooom..semangat pagi, mang!!”. Mang Kardi hanya manyun ketika senyumannya tak mendapatkan balasan dari sang penunggang sepeda, sambil numpahin kekesalan dengan ngelapin upil sebiji jagung ke tembok di belakangnya. (YEAAK..jorok banget nih orang!)
Ya, sang pemilik sepeda kebo itu hari ini sedang pengen diam. Atau tepatnya lagi tak punya gairah. Batin Bobby sedang sedih. Sepertinya kemarin adalah hari terakhir Bobby bin Marzuki menghadiahkan tatapan hangatnya pada dunia. Hatinya pilu bagai diiris sembilu. Alam seakan menatapnya dengan airmata duka (cie..). Segala yang ia lihat berubah menjadi buram dan muram. Hanya remang-remang. sampai seorang anak yang lewat didepannya mengingatkan,
“mas, kacamatanya ketutupan plastik tuh”.
“eh, makasih”, Bobby buru-buru ngelempar plastik bungkus es teh yang nyantol di kacamatanya (yee..kirain deh).
Di kelas ia tak banyak bicara. Di masjid ia hanya mampir sholat dhuha. Selesai itu ia langsung kembali ke kelasnya. Benar-benar keluar dari prosedur. Biasanya ia menghabiskan waktu istirahatnya di dalam masjid dengan tilawah atau bercengkrama dengan rekan-rekannya. JJS merasakan ada sesuatu yang aneh pada Bobby. Waktu salaman tadi juga tak seperti biasa, dingin sekali.
***
“Jadi gitu ceritanya nak Sohib” Pak Marzuki, ayah Bobby, menceritakan panjang lebar penyebab Bobby berubah murung di sekolah. Yang tak lain karena dia bulan depan harus putus sekolah.
Mendengar penuturan pak Marzuki ingin rasanya Junet memeluk adik kesayangannya itu. Namun sayang yang bersangkutan tidak ada ditempat. Maka dengan terpaksa acara peluk-memeluk ia ganti dengan ngabisin pisang goreng yang disuguhkan pak Marzuki ( ye..kebiasaan).
“mudah-mudahan Alloh memberikan kesabaran buat Bobby dan Bapak dan semoga Alloh segera memberikan jalan keluar yang paling baik…”Ucap Sohib simpati.
***
Pagi itu anak-anak Rohis (kerohanian Islam) ngumpul di Masjid minus Bobby yang sengaja nggak diundang. Anak-anak Rohis sepakat untuk mencanangkan program SPMB. Tapi Saepul yang datang terlambat tiba-tiba protes. “NGGAK..NGGAK NGGAK BISA!!..pokoknya ana nggak ikutan..masak kita masih SMA kok sudah ditawarin ikut SPMB!, ini tidak sesuai dengan keputusan menteri pendidikan, ini rencana ngawur..INI MENYESATKAN!!”.
“sebentar, tabayyun dulu akhi”, kata Sohib berwibawa. “maksudnya SPMB itu, singkatan dari Solidaritas Peduli Masadepan Bobby. Dalam program ini kita semua mohon sukarelanya untuk membantu Bobby.”
“Oooh..ana kira Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru”
“Dalam program SPMB ini saya meminta kawan-kawan semua untuk terlibat dalam tiga hal” Sohib menjelaskan “Yang pertama dan paling utama adalah mencarikan kerja buat Bobby tapi syaratnya pekerjaan itu tidak terlalu mengganggu sekolahnya. Kedua, memberikan sumbangan berupa uang. Ketiga, bagi yang tidak mampu yang pertama dan kedua cukup memberikan sumbangsih doa, itu juga sangat berarti. Sementara dari kas Rohis juga akan kita keluarkan sebagian”.
Si Dika yang dari tadi sibuk betulin mainan tamiyanya, tiba-tiba angkat tangan “maaf bang, pendaftaran SPMB-nya di kampus mana yah”
GLODHAAAAK!!! Semua penghuni masjid tewas seketika.
Kalo nggak ingat si Dika mengidap penyakit panu, anak-anak Rohis udah njitakin tuh anak rame-rame.
Setelah mengulang penjelasan, Sohib kemudian menutup pertemuan dengan doa yang diawali dengan menyampaikan sebuah hadits dari Rosululloh yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, “sesungguhnya mukmin satu dengan mukmin yang lain ibarat satu tubuh. Apabila yang satu sakit maka yang lain juga merasakan”.
Doapun dipanjatkan. Sang pembaca doa, terlihat matanya berkaca-kaca. Diikuti oleh yang lain, entah sudah berapa banyak titik bening pagi itu jatuh di lantai masjid, terutama di ruang akhwat.
Setelah dua hari program SPMB berjalan, terkumpul dana senilai enam ratus tigapuluh ribu rupiah. Ditambah kas Rohis duaratus ribu. Sedangkan tawaran pekerjaan juga banyak. Mulai dari yang nawarin jadi loper koran, becak driver, pasukan kuning, tukang jagal sapi, penjaga warnet, penjaga wartel, sampe penjaga wortel. Rencananya hari ini Sohib akan bicara dengan Bobby empat mata, tentu bukan empat matanya Tukul Arwana.
***
“Assalamu’alaikoooom…semangat page mang!!”. Tiba-tiba mang Kardi dikagetkan oleh suara yang tidak asing ia dengar.
“Bobby”, mang Kardi sumringah, sambil mengelap-ngelap jari telunjuknya yang kaku karena terlapisi upil yang udah mengering. Bersiap-siap menyambut jabat tangan Bobby.
“gimana kabarnya mang…”
“baikan Bob”
“nih mang, Bobby kasih mang Kardi Koran” Bobby menyerahkan Koran baru hari ini.
“wah..mang kardi nggak punya uang Bob”
“eh, ini gratis mang, gratis !!” Jawab Bobby sambil menepuk pundak mang Kardi.
“Elo dapet duit dari mana pake bagi-bagi Koran segala, Bob?”
“Gini mang, pertama-pertama Bobby bersyukur sama Alloh yang telah memberikan rizki buat Bobby. Kedua Bobby bersyukur Alloh mempertemukan Bobby dengan saudara-saudara Bobby, anak-anak Rohis yang baek hati. Bobby dikasih tawaran pekerjaan dan dikasih uang ratusan ribu.”
“wah enak dong”
“Tapi Bobby ngembaliin tuh uang”
“loh”
“ya mang, mandiri adalah kehormatan yang nggak bisa di tawar buat aku. Pantang bagiku menerima uang dari belas kasihan” Bobby menepuk dada “Aku milih pekerjaannya. Dan inilah pekerjaan Bobby sekarang yang bakal mengantarkan Bobby lulus sampe kelas 12 mang, doakan..distributor Media alias Loper Koran!!”
“wah berarti gue bisa dapet Koran gratisan tiap hari ne”
“yee..si mamang, yang nggak lah..ini kan cuman program promosi Bobby, selanjutnya…ya bayar dong mang” Jawab Bobby sambil nunjukin kwitansi pembayaran. “udah dulu yah, Bobby mau mampir ke Masjid dulu”.
Bobby berlalu meninggalkan Mang Kardi yang manyun karena ternyata nggak bakal dapet Koran gratisan. Dan seperti biasa, ia numpahin kekesalan dengan ngelapin upil ke tembok di belakangnya. (busyet dah, tunggu aja tuh tembok bentar lagi jadi monumen upil!).
Di Masjid, anak-anak Rohis memberikan ucapan selamat kepada bobby. Saling berpelukan. Bobby sendiri nangis terharu



Komentar Saudara !