Home » Keberkahan Finansial

Uang Berpihak Pada Orang Bijak

3 January 2009 No Comment

Pada tahun 2000 lalu, teman - teman di kantor tempat saya bekerja, rame- rame menginvestasikan uangnya pada salah seorang rekan yang kebetulan sekantor. Investasi itu dijanjikan dengan bunga tetap (fixed) sebesar 10 persen setiap bulan. Uang investasi tersebut oleh si Bimasakti sebut saja namanya begitu, diinvestasikan di pasar saham, Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang saat ini bernama Bursa Efek Indonesia (BEI). Dana yang terkumpul saat itu mencapai milyaran rupiah, karena diantara mereka ada yang menginvestasikan uangnya Rp 500 juta.
Singkat cerita, bulan pertama kerjasama ini berjalan lancar. Bulan kedua, ketiga hingga bulan ketujuh, pembayaran bunganya masih lancar. Melihat ‘peluang’ investasi yang demikian menggiurkan itu, para investor menambah uangnya. Bahkan ada beberapa pemilik uang yang mengakumulasikan (menambahkan) bunganya sebagai modal pokok investasi.
Untung tak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Setelah sekian bulan kerjasama itu berjalan lancar, pada bulan berikutnya pembayaran bunga mulai ‘batuk-batuk’ alias tersendat, sampai akhirnya macet. Bimasakti melarikan diri dan hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya. Uang investor hilang, investasi tidak jadi untung tetapi malah buntung!.
Itulah sepenggal cerita tentang orang-orang yang tidak bijaksana dalam mengelola uangnya. Dan kabar buruknya, ternyata orang-orang yang demikian ini jumlahnya banyak dan masih ada hingga saat ini. Buktinya, cerita-cerita semacam ini masih sering kita baca di media cetak maupun kita dengar dan lihat dari media elektronik. Orang-orang seperti itu termasuk orang-orang yang tidak bijaksana dalam mengelola uangnya. Saya mengatakan tidak bijaksana karena mereka ingin mendapatkan hasil yang besar tanpa mau berusaha dan tidak berpikiran logis. Sebab bagaimana mungkin investasi dalam setahun menghasilkan 120 persen atau 10 persen sebulan? Dalam dunia investasi memang berlaku hukum high risk high return (semakin tinggi risiko, semakin tinggi peluang hasilnya). Namun kita harus tetap bijaksana dalam menilai investasi yang ditawarkan. Secara logika, investasi dengan penghasilan tetap 10 persen per bulan adalah tidak rasional, meski dalam perdagangan saham dimungkinkan mendapatkan hasil sampai 100 persen dalam setahun. Tetapi hasil sebesar itu tentu tidak dapat dipastikan, sebab ada juga peluang untuk rugi besar.
Kita sudah menyaksikan bahwa uang selalu tidak ‘kerasan’ ditangan orang-orang yang tidak bijaksana. Uang akan ‘kerasan’ atau ‘betah’ bilamana seseorang bisa memperlakukannya secara bijaksana. Karena ditangan orang - orang yang bijaksana, uang juga akan diperlakukan dengan bijaksana pula. Orang bijaksana tidak pelit, juga tidak boros. Mereka berhati - hati dalam membelanjakan uang termasuk dalam berinvestasi dan berhati - hati pula dalam mendapatkan uang. Berhati-hati mendapatkan uang berarti memperhatikan rambu - rambu atau norma, sehingga dalam jangka panjang uang juga akan percaya padanya. Bagi orang yang tidak berhati-hati dalam mendapatkan uang, suatu saat uang akan lari darinya karena akan mendapatkan masalah dengan sikapnya itu. Uang akan habis untuk membiayai masalahnya. Itulah yang sering terjadi. Sebagai contoh orang yang tidak bijak dalam mendapatkan uang adalah para koruptor, maling, penipu dan lainnya.
Orang bijak, selalu berorientasi jangka panjang. Salah satu sikap paling penting agar sukses finansial adalah berpikir jangka panjang. Dengan berpikir jangka panjang, perbuatan dan langkah akan diperhitungkan secara matang dengan perencanaan yang baik. Kita harus memiliki keyakinan bahwa hidup kita saat ini sebenarnya hanyalah merupakan hasil dari serangkaian pikiran, langkah dan tindakan masa lalu. Bila saat ini menjadi seorang sarjana itu karena kita telah menyelesaikan kuliah di masa lalu. Bila saat ini kita menjadi pegawai, artis, pengusaha atau pekerjaan lainnya, itupun karena pilihan kita di masa lalu. Demikian juga bila sukses finansial dan menjadi kaya, itu pun dari serangkaian tindakan kita karena sudah bekerja, menabung dan mengelola penghasilan dengan baik di masa lalu. Bayangkan bila saat itu (saat masa lalu) uang yang kita peroleh dihabiskan begitu saja untuk kesenangan sesaat, tentu kita tidak sekaya saat ini. Dan seterusnya, masih banyak contoh lain.  Itulah sebabnya, dalam setiap cerita orang-orang sukses ataupun orang-orang kaya, mereka selalu meraihnya dalam waktu panjang. Jarang sekali yang mendapatkannya dalam waktu singkat, kecuali mendapatkan lotere atau warisan.
Orang bijak memahami betul bahwa uang itu mudah habis. Semua orang tentu sepakat bahwa uang mudah habis, sementara bagi sebagian besar orang mencari uang sangat sulit namun bagi sebagian lain, yang sudah mengetahui ‘jalan’nya mendapatkan uang itu sangat mudah, Dalam pepatah Jepang dikatakan, “Mencari uang bagaikan menggali dengan satu paku, sedangkan menghabiskan uang bagaikan menuangkan air ke pasir”. Itulah sebabnya kita harus memperlakukan uang dengan bijaksana!.
Dalam buku Finansial Sukses tulisan Brian Tracy, disebutkan Hukum Parkinson yang mengatakan bahwa berapapun jumlah uang yang diperoleh seseorang, mereka cenderung lebih banyak menghabiskan dari pada menabungnya. Pengeluaran semakin bertambah seiring jumlah penghasilan. Banyak penghasilan orang saat ini berlipat kali dari gaji/penghasilan saat pertama kali, namun mereka tetap saja merasa kurang. Berapapun penghasilan yang diperoleh, manusia tidak merasa cukup. Berdasarkan hukum tersebut, Brian Tracy mengemukakan dua akibat yaitu : “Ketergantungan keuangan berasal dari penyimpangan Hukum Parkinson”.  Inilah alasan munculnya hutang, takut tidak punya uang, dan frustasi. Kita akan sukses hanya jika mampu mencegah godaan menghamburkan uang sehingga bisa mengelola uang dengan bijak. Sedangkan akibat kedua adalah, “Jika bertambahnya pengeluaran lebih kecil daripada kenaikan pendapatan dan sisa uang bisa ditabung atau diinvestasikan, maka kita akan kaya raya”. Inilah kuncinya!. Dengan melanggar hukum Parkinson, maka kita sebenarnya bisa menjadi kaya raya.
Uang juga akan berpihak pada orang-orang  yang berpikir kaya. Karena orang-orang kaya berpikir bagaimana memperoleh kekayaan, bagaimana menggunakan dan mensyukuri yang ada dan bagaimana merealisasikan keinginan-keinginan yang dicita-citakan. Dengan sikap ini, maka langkah yang akan diarahkan menjadi lebih positif.
Berbeda dengan orang-orang miskin. Apa yang dipikirkan orang miskin? Mereka memenuhi pikirannya dengan kekurangan, kelangkaan dan ketidakmampuan. Mereka merasa tidak mempunyai meski dia sudah memiliki, mereka merasa tidak mampu meski sebenarnya mereka mampu. Mereka menyalahkan orang lain atau harga-harga barang yang dinilainya terlalu mahal, sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan bagaimana mengatasi keterbatasan yang ada. Mereka lebih banyak menyalahkan kondisi yang ada. Seperti halnya kondisi sekarang ini, banyak orang yang mengeluh dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebagian waktunya habis untuk membicarakan barang-barang yang naik akibat kenaikan BBM. Menyalahkan pemerintah, menyalahkan pedagang yang menaikkan harga, dan menyalahkan siapa pun. Masalahnya, apakah dengan mengeluh, menyalahkan orang lain serta memikirkan terus menerus hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan tersebut akan membuat kondisi lebih baik? Tentu tidak semudah itu. Lebih baik kita memikirkan solusi yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kondisi yang ada menjadi lebih baik. Lebih baik pula, kalau waktu, pikiran dan tenaga, kita habiskan untuk hal-hal yang positif khususnya untuk meningkatkan ketrampilan, amal dan meningkatkan penghasilan.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.