Home » Hikmah Muallaf

Hikmah Teguran di Balik Autis

25 February 2009 No Comment

Memang secara fitrah tidak seorangpun di muka bumi ini yang menginginkan suatu musibah yang menimpa dirinya. Sebab biasanya musibah itu memang tidak menyenangkan, menyusahkan atau menyakitkan, baik secara fisik maupun mental. Secara manusiawi, yang diinginkan setiap orang adalah sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, melegakan dan sebagainya. Namun harus disadari smukmin haruslah senantiasa berada pada jalan kebenaran, selalu memiliki pandangan yang lurus kedepan, kuat dan mendasar, luas menjangkau dan seimbang dalam mensikapi segalanya.

Begitu juga dengan sebagian dari episode kehidupan yang saya alami, penuh liku, penuh makna. Saya adalah anak sulung dari 4 bersaudara. Bapak saya Hindu, ibu saya semula muslim namun kemudian ikut pindah agama bapak. Belakangan, ibu malah lebih fanatik kehinduannya dibanding bapak. Keduanya adalah guru pegawai negeri sipil di Banyuwangi, tempat kami lahir dan dibesarkan. Saya lahir tahun 1971.

Karena lingkungan saya di sana banyak yang muslim, mungkin karena ini sudah diatur Allah, justru saya lebih banyak bergaul dengan mereka yang muslim itu. Bahkan ketika liburan tiba – waktu saya SD dulu selalu sebulan penuh karena bulan Ramadhan – saya menolak kalau diajak orang tua pulang ke Bali. Saya lebih suka memilih di rumah, sebab dengan itu saya bisa ikut-ikutan puasa, ngaji dan sebagainya bersama bude, teman atau tetangga sekampung. Bapak dan ibu tidak menyadari hal itu. Hampir setiap waktu, bila ada pengajian saya selalu ikut. Tak sekedar ikut, tapi juga menyimaknya.

Tahu-tahu waktu SMP saya seperti tersadar kenapa kok saya yang Hindu malah bisa ngaji. Bahkan saya yang hindu itu pernah meraih juara pertama kelompok lomba juz amma. Saya pun menangis, kok bisa ya… .Dan saat yang paling tidak bisa saya lupakan adalah suatu sore ketika saya pulang sekolah. Melewati Masjid Jamik di Banyuwangi, dekat alun-alun, hati saya tiba-tiba bergetar mendengar adzan maghrib yang dikumdangkan. Seperti ada perasaan luar biasa. Padahal sebelumnya tidak pernah. Saya juga biasa lewat alun-alun tapi tak pernah seperti sore itu. Berikutnya saya jadi merasa iri bila melihat ada orang berbondong-bondong ke masjid. Kok enak ya orang sholat itu…

Pemberontakan batin saya dalam mencari jati diri itu makin menggelora ketika saya sudah SMA. Kalaupun orang tua mengajak ke Bali, sebisa mungkin saya menolak secara halus, yang alasan inilah, alasan itulah. Juga ketika merantau kuliah di Surabaya. Lagi-lagi karena lingkungan kos-kosan saya muslim, keinginan untuk mencari tahu tentang Islam kian mendapat tempat. Waktu berlalu, saya pun sampai menyimpulkan bahwa Islam itu agama yang teratur. Dari hal kecil sampai besar, diatur dalam Islam. Itu yang tidak pernah saya dapati di Hindu, yang sepertinya hanya sebagai adat saja.

Awal Pebruari 1996, sehari sebelum Idul Adha, pas maghrib, di kamar kos-kosan saya menemukan mukena. Dalam hati saya bertanya, ini mukena siapa, saya tanya teman tak ada yang mengaku memiliki. Saya coba memakainya untuk sholat, saya menangis. Tiba-tiba saya mengajak 5 orang teman saya ke Masjid Agus Salim di Manyar. ”Mau apa?,” begitu tanya mereka. ”Sudahlah pokoknya antarkan saya ke sana.”

Usai sholat maghrib, saya masuk masjid, sejenak tak bisa ngomong apa-apa. Ditanya takmir, saya malah nangis. Baru sekitar 10 menit kemudian saya mengutarakan niat saya untuk membaca kalimah syahadat. Alhamdulillah, usai ikrar, saya merasa lega. Rupanya mukena yang tertinggal itu sebagai pertanda bahwa saat inilah saya harus mengambil jalan yang benar. Saya lalu belajar ngaji juga di sana hingga sekitar 1 tahun, Pencarian saya pun berkelana dari masjid ke masjid, pengajian ke pengajian, hingga saya menemukan pondok pesantren di Kedungdoro, tempat saya menimba ilmu hingga sekarang.

Setiap pulang kampung pas liburan, saya selalu diam bila diajak ke pura. Sejak kecil sampai sekarang, berapa kali saya ke Bali bisa dihitung dengan jari. Saya baru tahu ngaben itu apa baru setelah SMP kelas 3, itupun karena kakek saya yang meninggal. Selain itu tidak..

Hingga akhirnya bapak ibu tahu juga tentang keIslaman saya. Mereka marah, bahkan mencari cara bagaimana cara agar saya bisa kembali ke Hindu lagi. Karena keIslaman saya, bahkan keadaan rumah tangga bapak ibu saya jadi bermasalah. Saudara-saudara saya jelas menuduh saya penyebabnya. Hingga saya menikah pada tahun 1999 pun, mereka belum mau menerima saya. Selama hampir 7 tahun, baru 6 bulan yang lalu saja bapak ibu saya baikan.

Pengembaraan saya tentang keIslaman alhamduillah seakan tiada pernah terbendung. Sekarang pun, minimal seminggu sekali dalam sebulan saya ikut pengajian. juga ikut kuliah online-nya Ust. Yusuf Mansur,

Namun, rupanya Allah seperti tak ingin membiarkan saya begitu saja. Persepsi saya, dengan masuk Islam saya bisa berleha-leha begitu saja. Ternyata, anak saya autis. Ya Alloh… Karena tak bisa menerima kenyataan, saya sampai punya perasaan kok jadi muslim itu seperti ini ya? Beruntung dari lingkungan pengajian itu saya jadi tersadar, rupanya Alloh sedang menguji dan menegur saya. Saya yakin dengan ujian itu Alloh ingin agar saya selalu mengingat-Nya. Memang ada saatnya saya harus terbentu tembok, tapi saya yakin di balik tembok itu pasti ada sesuatunya, dana saya harus mencari pintu menuju ke sana. Saya yakin, ini karena Alloh sayang sama saya, agar saya lebih dekat lagi.

Bila hari raya tiba, saya sering menangis sendirian. Di sela-sela mendengar takbiran, seakan-akan saya nelangsa, tak ada keluarga, merasa sebatangkara. Setiap habis sholat saya selalu berdoa semoga kedua orang tua saya dan tiga adik saya yang masih Hindu diberi hidayah-Nya. Hanya doa yang bisa saya lakukan, lewat yang lain saya tak mampu. (*)

ALAMAT ALAMAT MUALLAF

Kurnia Indrawati, RS Bhakti Fahayu, Ketintang Okt 2008

Lucia Dianawati, Jl. Kombespol M Duryat II/1-A Sidoarjo Nop 2008

031-8965921, 085855006364

Ahmad Hariyono, Masjid Cheng Hoo Surabaya Des 2008

Anton, NH Jan 2009

Tirta Segara, Peb 2009

L. Putu Purnamawati, Jl. Menur I / 54 087851529001 Mar 2009



Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.