Tuduhan Suka Kawin Tidak Terbukti
Bisa dibilang ragam keyakinan yang dianut orang tua dan saudara-saudara saya seperti gado-gado. Bapak dan ibu saya adalah penganut Katolik yang biasa-biasa saja, tidak fanatik. Saya tiga bersaudara, dan meski pernah dipermandikan secara Katolik, ternyata kelak kakak saya yang pertama pindah ke agama Hindu sedangkan satunya tetap Katolik.
Saya sendiri? Meski dari TK hingga SMA sekolah saya Katolik terus, rupanya Alloh menakdirkan saya untuk jadi seorang muslimah, dengan perjuangan yang menurut saya, sungguh tidak main-main.
Itu bermula ketika pada tahun 1976 saya bertemu dengan seorang teman yang kelak ditakdirkan Alloh menjadi suami saya hingga sekarang. Waktu itu usia saya masih 16 tahun, dan dia 20 tahun. Selama kurang lebih 6 tahun pacaran, riak-riak pertentangan dari keluarga masing-masing mulai terasa. Maklum dia Jawa muslim dan agak priyayi, sedangkan saya bukan. Kultur saya dan dia beda 180 derajat, Bapak saya Cina dan ibu saya berdarah Perancis-Negro.
Pas saya ulang tahun ke-17 teman saya itu menyatakan niat bulatnya untuk tetap menjalin hubungan serius dengan saya, meski dengan sadar ada perbedaan RAS (ras, agama, suku) di antara kami. Tak sekedar nekat, ia juga sempat menyatakan bersyukur bertemu saya. Kok bisa? Ya, karena perbedaan itu pula sehingga ia perlu belajar agama lebih mendalam. Ia bahkan jadi aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) ketika kuliah. Ia bilang, dengan kamu saya terdorong untuk beragama menjadi lebih baik, belajar dan belajar. Perbedaan ini dianggap sebagai tantangan. Kalau ia sendiri tidak kuat, bagaimana mungkin akan bisa meyakinkan saya tentang kebenaran Islam, begitu katanya waktu itu
Terlebih lagi, pada tahun 1978, bapak ibunya yang berangkat haji ternyata luput dari kecelakaan pesawat haji di Kolombo yang menewaskan semua penumpangnya, hanya karena ketinggalan paspor di hotel. Rupanya peristiwa itu membawa hikmah tersendiri bagi keluarganya. Yang dulu sekedar Islam KTP, sejak kejadian itu bapak ibu dan saudara-saudaranya jadi lebih sering ngaji.
Di sinilah awal mula pertentangan itu. Keluarga saya dan dia sudah saling mengungkit-ungkit masalah perbedaan agama tadi. Bapak saya terang-terangan melarang saya berhubungan dengan dia karena kalau bisa terpengaruh masuk Islam. Kata bapak saya, jangan masuk Islam, orang Islam itu bisa kawin berkali-kali. Beda dengan Katolik, yang gerejanya hanya mengizinkan kawinnya cuma sekali. Bapak saya bahkan sempat berdebat dengan teman saya itu tentang masalah ini. Dia bilang, soal kawin itu tergantung orangnya. Meskipun Islam membolehkan umatnya kawin lebih dari sekali, apakah dalam kenyataannya orang Katolik tak ada yang kawin lebih dari sekali?
Suster saya yang tahu saya menjalin hubungan dengan seorang muslim, sempat marah besar. Dalam pandangannya, di Katolik itu saya sudah mantap apalagi saya sejak SD sering mimpin koor di gereja. Ia lalu berupaya agar saya tak terpengaruh dengan Islam. Entah kenapa, ketika sekelas disuruh mengarang tentang ketuhanan, saya sendiri malah menulis Tiada Tuhan selain Alloh.
Apakah saya sudah terpengaruh dengan upaya tak kenal lelah teman saya itu? Yang setiap kali meminjamkan kaset Islam untuk diputar dan didengarkan di rumah, yang setiap sholat Jum’at selalu memberikan lembaran Jum’at ke saya untuk dibaca, yang senantiasa membimbing dan membimbing saya untuk meyakini kebenaran Islam? Sekali lagi saya tidak sadar. Yang jelas selama masa-masa itu kondisi kejiwaan saya seperti mengambang, tak jelas arah, tak punya pegangan. Ke gereja sudah mulai bolong-bolong.
Saya juga seperti tak sadar ketika mengajak ibu-ibu PKK Mulyosari waktu itu untuk memanggil guru ngaji privat. Bersama mereka saya belajar sholat, ngaji, puasa, dan ibadah lainnya. Teman saya itu juga mengajari saya tentang hukum-hukum Islam, membaca fatihah dan lainnya.
Hingga pada suatu shubuh saya merasa sangat pas dengan Islam, dan saya sholat dengan rukuh pemberian teman saya itu dulu. Sudah berbulan-bulan saya diberi rukuh, namun tak pernah saya pegang, bungkusnya juga masih utuh. Saya sendiri waktu menerimanya merasa risih sekali. Rupanya ia memang mempersiapkan barangkali suatu ketika saya mendapat hidayah. Ibu saya yang kemudian tahu saya pindah agama menangis dan menyesal. Begitu juga bapak saya. Saya pun dibiarkan dengan keputusan saya yang sudah bulat tersebut.
Alhamdulillah, dua tahun kemudian Alloh menakdirkan kami menikah, dan hingga kini dikaruniai 2 orang anak (1 putra, 1 putri) yang sudah menginjak dewasa. Kami sekeluarga saling menimba ilmu, saling melengkapi dan saling mengingatkan. Apalagi, kami tinggal di Sidoresmo, daerah yang banyak pondok pesantrennya, hingga kami bisa mudah menimba ilmu keagamaan. Rupanya perjuangan dan pengembaraan selama 10 tahun sebelum saya resmi masuk Islam, buahnya sungguh terasa nikmat. Mawaddah warohmah.
Belakangan, ibu dan keluarga besar saya yang dulu pernah melarang saya masuk Islam malah membanggakan keluarga saya. Di samping tak terbukti dengan tuduhannya tentang orang Islam yang suka kawin, mereka menyatakan keheranannya. “Keluargamu kok bisa utuh dan harmonis seperti ini yaa?. Anakmu juga nurut-nurut…” Mereka heran, sebab semua kakak-kakak saya yang non-Muslim itu ternyata sudah cerai semua dan keluarganya berantakan.
Sekali lagi alhamdulillah. Dan Insya Alloh tahun depan saya dan suami Pak Joko Prijono - berencana melengkapi rasa syukur kami itu dengan menunaikan rukun Islam yang kelima, bersama rombongan KBIH Nurul Hayat.




semoga keluarga ibu rukun dan berbahagia selalu, dunia akhirat