Home » Iqro'

Dia Katakan, “Kita Kafirkan Tanpa Mengeluarkan Mereka dari Islam

8 April 2009 No Comment

Saya sangat sadar, bagi seorang yang masih baru masuk Islam seperti saya, harus punya kesiapan mental untuk menghadapi ujian. Sudah banyak ujian hidup yang sudah saya lalui, salah satunya berpisah dengan orang tua seperti yang saya ceritakan di majalah ini beberapa waktu lalu.
Alhamdulillah, dalam kondisi yang serba kekurangan justru saya merasakan bertambahnya keimanan kepada Alloh. Sholat makin khusyuk dan kalau berdo’a juga saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Saya yakin, Alloh memberikan ujian pasti dengan celupan hikmahnya juga. Yang penting kita mau bertawakal kepada-Nya. Selanjutnya Alloh pasti memberikan jalan keluar.
Tujuh tahun sudah saya menjadi seorang muslim. Suatu ketika, Alloh menghadirkan kepada saya sebuah hikmah yang cukup mendalam menurut saya. Mendalam karena ada hubungannya dengan agama lama saya. Katolik.
Ceritanya waktu itu saya sedang menumpang bus dari Surabaya dengan tujuan Jogjakarta. Mau main ke rumah teman. Walau sudah lama di Jawa, menumpang bus bagi saya masih menjadi sesuatu yang spesial dan berkesan. Waktu saya di Timor Leste, saya hanya melihat bus kalau sedang ke kota. Menaikinya tak pernah.
Saya duduk di dekat Jendela. Di daerah Krian, seorang pria paruh baya naik ke dalam bus dan mengambil tempat duduk di sebelah saya.
Bus melaju dengan cepat. Sang bapak saya lihat sedang membuka-buka sebuah buku. Tampak sekilas dalam buku itu banyak gambar foto. Sedikit kurang jelas, tapi menimbulkan rasa keingintahuan di kepala saya. Saya berusaha merubah posisi duduk dengan maksud agar sedikit leluasa melihat gambar dalam buku tersebut. Menegakkan punggung dan mengintip.
Belum selesai saya kaget oleh gambar yang ada dalam buku tersebut, saya dikageti oleh sang bapak yang tahu saya sedang mengintip bukunya. Si bapak berusaha untuk tenang. Sepertinya dia memang tidak terlalu panik, barangkali karena yang melihat adalah saya, wajah peranakan Timor Leste.
“mau lihat, dik” tanya sang bapak sambil menyodorkan buku tersebut.
Sambil mengucap terima kasih saya raih buku dari tangan si bapak. Sebelum saya membuka buku, si bapak berpesan agar jangan ketahuan orang yang ada dibelakang. Saya diminta untuk membaca menghadap jendela dan membelakangi si bapak.
Saya mulai membuka isi buku dan saya terbelalak kaget. Gambar-gambar mengenaskan. Setiap lembar yang saya lewati semakin membuat dada saya sesak. Perut rasanya mual mau muntah. Bagaimana tidak, foto-foto yang ada di dalam buku itu adalah foto-foto tragis, (maaf) darah berceceran, kepala tanpa badan, mayat bergelimpangan, ibu hamil yang dibunuh dengan tidak manusiawi.
Di pengantar buku itu menjelaskan bahwa foto tersebut adalah hasil dokumentasi konflik Ambon. Mayat-mayat itu adalah mayat kaum Muslim yang dibunuh oleh kaum Kafir disana.
Si bapak bercerita, buku itu memang dicetak khusus dan disebarkan secara rahasia ke komunitas-komunitas gereja. Oh, mengapa sang bapak begitu jujur bercerita, padahal itu adalah sebuah misi propaganda yang rahasia, buku itu juga rahasia kenapa dengan mudah dipinjamkan kepada saya?
Sekali lagi karena wajah saya peranakan Timor Leste. Apalagi sebelumnya saya sengaja memperkenalkan diri saya dengan nama Katholik saya, Mario Pereira De Santos Gusmao. Si bapak yang adalah pendeta menganggap saya satu agama dengannya. Makanya tanpa ada yang ditutup-tutupi ia leluasa bercerita. Tentang dirinya, tentang misinya, dan tentang fitnah kepada Islam.
“kalau kita mayoritas, maka misi kita adalah menguasai. Tapi kalau saat ini kita minoritas, kita harus menguasai hal-hal yang strategis seperti televisi dan telekomunikasi”. Cerita si bapak dengan mimik serius. “Tapi kalau masih belum bisa”, katanya lagi, “bagaimana caranya kita mengkafirkan mereka tanpa harus keluar dari agamanya. Seperti kalau Islam mengajarkan wanitanya pakai Jilbab, kita upayakan dengan segala cara agar mereka tidak pakai Jilbab”
Lisan saya mendesah, hati saya bertakbir. Ternyata memang ada segolongan kaum yang berusaha merusak kita, merusak agama Islam.
Di mata saya, kepala si bapak sudah seperti balon yang begitu gemasnya ingin saya letuskan. Karena tidak kuat menahan panas hati, saya katakan kepadanya bahwa saya seorang Muslim, “saya dulu Katolik dan sekarang sudah Islam, pak”
Diluar dugaan, si bapak tidak minta maaf justru malah balik berkata kepada saya, “wah, sebaiknya adek segera bertobat, kembalilah kepada agama Katolik”
Dalam letupan emosi yang masih bisa saya tahan, saya katakan kepadanya, “maaf pak, saya sekarang Islam tapi juga sudah pernah Katolik, kedua-duanya sudah saya rasakan, bapak kan belum pernah mencoba Islam, gimana kalau saya tawarkan bapak saja yang masuk Islam?”
Si bapak diam. Di sebuah halte si Bapak turun. Saya tahu tujuannya ke Kertosono bukan ke situ. Tapi dia ngeluyur mungkin malu kepada saya.
Hingga hari ini saya masih mengingat betul kata-kata si bapak. Mengkafirkan orang Islam tanpa harus mengeluarkan dari agamanya. Sebuah misi cerdas sekaligus licik. Satu sisi saya berpikir, berarti orang Katolik juga sadar bahwa bila orang Islam tidak berbusana muslim atau tidak menjalankan syariat lainnya dianggap telah berhasil kafir. Disini saya mendapat pelajaran lain. Orang Kristen saja tahu bahwa itu perilaku dosa. Pertanyaannya, bagaimana dengan kita?
Di akhir catatan ini ingin saya katakan, saya tak bermaksud menebarkan propaganda kebencian kepada agama lain. Karena bisa jadi dalam agama lain, tak semuanya memiliki pemikiran seperti si bapak tadi.
Saya lebih berharap saudaraku mengambil hikmah untuk diri sendiri lalu mau merenung. Kemudian sadar agar jangan sampai menjadi korban tipudaya segolongan kaum yang menipu daya. Sehingga terjerumuslah kita, menjadi orang yang bukan Islam walaupun lisan masih mengaku Islam. Kita terbawa untuk tidak menjalankan syariat Alloh dengan benar. Meninggalkan perintah dan banyak maksiat. Gaya hidup, cara berbusana, cara mendidik keluarga semuanya menyerupai kaum kafir. Nau’dzubillah min dzalik
Sabda Rosululloh ini sangat tepat sebagai renungan kita, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)
Jangan lemahkan diri dengan cinta dunia, itu poin dari catatan saya ini.
Wallohu ‘Alam Bisshowab

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.