Tabir Cahaya Hati
“Sayang…sayang…”sebuah suara membangunkan Saskia yang terlelap. Ia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, namun hanya kegelapan yang menyelimutinya. Saskia terpaku sejenak, dan sesaat kemudian suara itu kembali terdengar sayup-sayup semakin jelas.
“sayang…Saskia sayang…”suara yang begitu ia kenal. Saskia menoleh ke arah sumber suara. Seberkas cahaya menyilaukan menyapu pandangannya. Cahaya itu semakin besar dan besar. Hingga mata Saskia terpejam karena silaunya. Beberapa saat kemudian ia mulai membuka kelopak matanya perlahan. Di pandangi sekelilingnya, dimanakah ia tengah berada, tanyanya dalam hati. Kini ia berada di sebuah taman yang indah dengan latar belakang langit biru membentang di angkasa. Sebuah air mancur menghiasi kolam yang jernih dengan beraneka ikan hias di dalamnya. Di sekeliling kolam itu terdapat aneka bunga dengan berbagai warna dan kupu-kupu yang menari-nari di sekitarnya. Sebuah kursi berbentuk ayunan terletak di salah satu sisinya. Dan seorang wanita tengah tersenyum memandanginya dari sana.
Saskia terperanjat, seolah tak percaya dengan penglihatannya. Dan beberapa detik kemudian dia telah berada dalam pelukan wanita itu. Saskia memandangi wajah itu lekat-lekat seraya memeluknya erat. Tak terasa sebutir airmata kebahagiaan bergulir di sudut matanya, tatkala wanita itu mengecup keningnya.
“Saskia kangen sekali sama Bunda”ucapnya dengan terbata-bata, seraya semakin mengencangkan pelukannya. Wanita rupawan yang tak lain adalah Bunda Saskia itu hanya memandangnya sambil tersenyum manis.
“Bunda juga sayang…maafkan Bunda karena belum bisa berada di dekatmu sekarang.”kata Bunda pelan seraya membelai rambut Saskia yang terterpa angin.
“Bunda, mengapa semua ini harus terjadi pada keluarga kita. Mengapa Bunda?”kata Saskia mulai merengek.
“inilah yang namanya ujian sayang. Kita harus sabar menghadapinya. Yakinlah Alloh memberi ujian pada kita, semata-mata hanya untuk meningkatkan derajat kemuliaan kita.”terang Bunda berusaha menenangkan buah hatinya yang tengah dirundung kegelisahan itu.
“Tapi Bunda…”rengek Saskia dengan bersungut-sungut
“Sayang…bukankah untuk naik kelas Saskia harus menempuh ujian dulu. Ini hanya sebagian dari berbagai ujian kehidupan yang harus kita hadapi selanjutnya sayang. Saskia masih sangat muda, masih banyak yang akan Saskia temui nanti. Karena ujian itu bisa berupa perintah dan larangan-Nya, musibah atau bahkan nikmat-Nya. Keluarga pun bisa menjadi ujian bagi kita. Lingkungan, teman dan tetangga juga merupakan ujian. Jadi dalam menapaki kehidupan ini kita tidak akan lepas dari berbagai ujian maupun cobaan sayang.”terang Bunda lagi
“sebagai hamba-Nya kita harus bersabar jika menghadapi kesulitan dan selalu bersyukur tatkala mendapat nikmat-Nya.”jelas Bunda seraya mengecup kening Saskia dengan penuh kasih.
“sabarlah semua ini pasti akan berlalu…”ucap Bunda penuh keyakinan. Kebekuan yang menyelimuti air muka Saskia pun kini berangsur mencair, perlahan senyumnya mulai mengembang.
Tak sadar semua itu hanya terjadi di alam bawah sadarnya. Saskia terbawa larut dalam damai itu. Hangat kasih Bundanya menyapu tabir-tabir kegelapan yang selama ini menyelimuti hatinya. Dan kini seolah hatinya kembali memiliki kekuatan, sehingga kembali bercahaya menerangi jiwanya. Dalam lelap tubuh mungil itu mendekap erat gulingnya. Temaram sinar rembulan menerobos celah-celah jendela kamarnya. Menciptakan berkas-berkas cahaya di sekitarnya. Malam ini seolah Saskia tengah diselimuti cahaya rembulan.
Di belahan bumi yang lain. Seorang wanita, yang tak lain adalah Bunda Saskia tengah menengadahkan kedua telapak tangannya. Matanya terpejam penuh khidmat. Hatinya tengah memohon dengan sangat, agar Tuhan selalu melindungi buah hatinya yang berada jauh darinya. Putihnya mukena yang berada di tengah kegelapan memantulkan cahaya, sehingga membuat ia nampak bersinar.
“Ya Robb, hamba hanyalah hamba-Mu yang tak berdaya. Namun hamba punya satu keyakinan bahwa Engkaulah Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Semua ini pasti ada kebaikan untuk kami di dalamnya. “ucapnya lirih.
Pikirannya kembali melayang pada anaknya yang masih belia yang kini tengah jauh darinya. Dulu mereka merupakan keluarga kecil yang bahagia. Hidup bersahaja dalam kesederhanaan. Meski sibuk Ayah selalu menyempatkan diri berkumpul dengan keluarga. Krisis global mau tak mau menggoyahkan usaha Ayah yang tengah berkembang. Hingga akhirnya dinyatakan bangkrut. Bunda yang mulai turut andil mencari nafkah ditugaskan ke negeri Sakura oleh perusahaan tempat ia bekerja untuk mendapat ilmu pengetahuan. Dan dalam masa tugas yang telah di tentukan itu ia tak diizinkan pulang. Berat memang tapi hanya ini yang bisa ia lakukan, terutama untuk masa depan anaknya.
Sesaat Ayah mulai bangkit. Dengan modal seadanya, Ayah kembali merintis usaha. Namun ujian lain datang mendera, Ayah ditipu rekan bisnisnya dan mengalami stroke karenanya. Rumah mereka pun harus dijual untuk membiayai perawatan Ayah yang masih tergeletak di rumah sakit. Sedang Saskia ia harus tinggal bersama kakek neneknya. Bocah kecil itu selalu menampakkan ketegaran meski sebenarnya di dalam hati ia pun tengah mengalami kegelisahan dan jiwanyapun sedikit goyah.
Namun malam ini rupanya Alloh tengah menaut rantai kasihnya dengan begitu indah. Mengabulkan doa seorang Ibu untuk buah hatinya yang dikasihi dan kesembuhan suami yang disayanginya. Itu terbukti seorang pasien di sebuah bangsal Rumah Sakit mulai merespon. Kesadarannya mulai berangsur kembali. Jemarinya perlahan bergerak, sebuah tanda kehidupan telah dimulai kembali. Mulutnya berkomat-kamit memanggil-manggil sebuah nama,
“Sas..kiaa…saskiaa” ucapnya lirih.
Sedang di dalam mimpi, Saskia tengah berlarian mengelilingi taman. Bersenda gurau dengan Bunda dan Ayahnya yang kini turut bergabung bersama mereka. Taman itu pun menjadi riuh oleh tawa riang mereka. Memang kita tak pernah tahu ada apa di balik ujian-Nya. Namun dengan selalu berpikir positif bahwa Alloh selalu mengasihi hamba-Nya. Semuanya akan jadi lebih mudah untuk dilalui.



Komentar Saudara !