Islam Lebih Sering Dipahami Kulitnya Saja
Lahir, Januari 1964, orang tua saya berdarah campuran. Bapak saya ada darah Makassar, Inggris dan Arab tapi sudah WNI, sedangkan ibu saya berdarah Sunda, Jerman dan Belanda. Keluarga besar kami adalah keluarga Katolik.
Dari kecil, sejak SD kelas 2, entah kenapa, saya mulai tertarik bila mendengar adzan shubuh. Kebetulan rumah saya, di Ngagel Tama Selatan III,tak jauh dengan musholla.
Adzannya kok enak didengar ya, lamat-lamat, mendayu-dayu. Teman sekampung juga sering ngajak saya. Pas puasa Romadhon, habis sahur diajak mereka jalan-jalan, pokoknya ikut meramaikan kegiatan keIslaman.
Waktu belajar di SMA Trimurti, kadang waktu pelajaran agama Islam, biasanya yang non-Islam keluar kelas, entah kenapa saya pingin di dalam kelas, Saya bilang Bu Zainab, guru agama Islam waktu itu, saya mau ikut dan mendengarkan, dia bilang silahkan, tak apa-apa. Saya sendiri tak tahu kenapa kok tertarik. Dari kebiasaan itu pula saya juga tahu Al-Fatihah dan surat-surat pendek itu bagaimana, meskipun tidak hafal betul.
Juga ketika ada orang ngaji, saya dengar kok gimana gitu. Dalam hati kecil memang ada keinginan untuk ikut, tapi takut untuk terus terang karena masih ikut orang tua. Kedekatan dengan teman-teman yang kebanyakan muslim membuat keinginan belajar tentang Islam semakin kuat. Waktu kuliah di Unair pun, saya sering duduk-duduk dan nimbrung di masjid mendengarkan acara keIslamanan. Waktu itu saya mahasiswa Program Studi Teknik Perpustakaan FISIP Unair, angkatan tahun 1983.
Belajar dari pengalaman bergaul itu pulalah saya jadi tahu tentang beragama Islam. Di sana tak ada paksaan untuk belajar, semuanya mengalir apa adanya. Itulah yang justru membuat saya tertarik. Kalau misalnya teman-teman mempengaruhi atau memaksa saya untuk belajar saya, saya yakin saya justru malah mutung. Yang saya tangkap, Islam itu indah, damai, tak ada paksaan.
Ketika niat untuk pindah agama itu saya utarakan, alhamdulillah, pertentangan dari orang tua relatif tidak ada. Mereka demokratis. Bapak saya bilang, kalau kamu jadi Islam silahkan, cuma jangan diambil yang enaknya saja. Semua harus dijalani. Ibu juga bilang, kerjakan dengan semua kewajibannya. Kenapa begitu, mungkin karena kakak saya yang pertama lebih dahulu masuk Islam.
Saya putri kelima dari 8 bersaudara, kakak saya yang pertama dan keempat sudah muslim duluan. Jadi sepertinya masalah pindah agama itu bagi orang tua saya sudah biasa. Sayangnya, bapak (almarhum) dan ibu saya masih Katolik hingga kini. Alhamdulillah, permulaan hidayah yang tertanam sejak SD itu, memantapkan saya untuk masuk islam, tepatnya pada Desember 1985.
Sekali lagi, alhamdulillah, saya dikaruniai orang tua yang demokratis. Bahkan, setelah kelak berkeluarga, dan kebetulan saya pulang ke tempat bapak, dan waktu itu sedang puasa, yang membangunkan untuk sahur ya bapak saya yang masih Katolik itu.
Hanya teman sepergaulan yang sering usil dan mengucilkan. Oleh teman sejemaat dulu, saya sempat dianggap murtad. Sayapun pernah diejek, ngapain kamu jengkang-jengking (maksudnya sholat). Saya tak melawan, diam saja, toh akhirnya mereka menerima juga.
Bahkan sampai sekarang, ada teman dekat yang meragukan keIslaman saya. Dia bilang, kamu hanya pakaiannya saja yang tertutup, tapi berdoanya kan tetap Katolik kan? Saya jelaskan, kalau saya Islam ya total, tak hanya tampilannya saja. Wajar mereka seperti tak percaya dan yakin, sebab dulunya saya terbilang aktif di gereja. Bahkan hingga sekarang ada teman yang menyarankan saya makan babi, toh tak ada yang tahu. Saya bilang, tidak bisa. Banyak juga teman yang menanyakan saya itu Islam cap apa. Apa kamu NU, Muhammadiyah atau apa, saya jawab Islam ya Islam.
Terus terang, saya belajar Islam lebih banyak dari buku, otodidak, dari teman, dan ikut kelompok-kelompok pengajian. Kebetulan saya juga pernah menjadi pustakawan di Universitas Katolik Widya Mandala. Beruntung pula, saya dikaruniai Alloh suami yang bersedia membimbing keIslaman saya dengan sabar dan telaten. Pertama belajar sholat ya sebisanya, semula dengan membentangkan kertas berjejer-jejer di depan sajadah, bertuliskan lafal-lafal sholat dalam bahasa Indonesia.
Dan alhamdulillah, sekarang saya belajar terjemahan Al Qur’an di LPIQ (Lembaga Pengembangan Ilmu Al Qur’an) yang dipimpin Prof. Roem Rowi, guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya. Secara rutin saya bergabung dengan jamaah LPIQ tersebut di masjid dekat dengan tempat tinggal saya di Juanda Harapan Permai Sidoarjo. Kenapa saya kok sedalam itu? Terus terang, saya ingin benar-benar all-out memahami Islam. Sebab, tuntutan di Qur’an tu sungguh lengkap. Kebanyakan kita sekarang kan lebih terpaku pada berapa kali khatam Quran, tak ada yang orientasinya bagaimana bisa memahami, tak sekedar melafalkan Qur’an. Terus terang selama ini saya ndak ngerti apa artinya doa ini-itu. Makanya saya ingin lebih memahami lagi dengan ikut LPIQ tadi.
Budaya kita sampai sekarang, memahami Islam hanya sekedar kulitnya saja, belum ke isinya secara utuh. Bagi saya itu tidak benar. Memahami isi Al Qur’an lebih penting dari kulitnya saja. Ketika Alloh memperkenankan saya dan suami naik haji tahun 2007 lalu misalnya, saya ditanya sudah berapa kali khatam. Target-target “kulit” seperti itu masih sering saya temui. Target khatam berapa kali, tapi tak tahu maknanya. Ini salah kaprah. Bagi saya, yang penting adalah mengerti artinya lalu bisa mengamalkan. Dan alhamdulillah, dalam kursus itu, sekarang saya sudah menginjak buku kelima.
*Rangkuman Wawancara Reporter Majalah NH dengan Ibu Linda




Komentar Saudara !