Menyemai Ketenangan Hati
Oleh : Amin Justiana
Setiap orang tentu pernah merasakan kekecewaan. Wajar dan manusiawi. Secara fisiologis, kecewa dapat mempengaruhi fungsi hati dan jantung. Cermati, ketika kecewa biasanya hati tidak karuan. Jantung pun berdebar-debar. Hal yang sama juga terjadi ketika kita marah.
Hati Yang Tenang
Hati yang tenang selalu menghadapi kejadian dan peristiwa apapun dengan cara tegar dan tumaninah.
Sikap sewot hampir-hampir tak pernah hadir. Jiwa pun terbebas dari sikap murung.
Nina (bukan nama sebenarnya) adalah seorang muslimah yang senantiasa menjaga kehormatannya. Di usia mendekati kepala tiga, dia masih dalam penantian akan datangnya jodoh yang ditakdirkan Alloh SWT. Hingga suatu waktu sejarah hidupnya mencatat, ”Seorang muslim telah meminangnya”. Suka cita dari pihak keluarga pun tak tergambar. Betapa tidak, keluarga Nina sangat menginginkan segera menimang cucu. Dan kedua belah pihak pun sepakat menetapkan hari pernikahan. ”Insya Alloh, bulan depan kami akan menikah.” ucap Nina pada sahabatnya. Benar, dia tampak bahagia sekali. Sahabatnya pun turut bahagia.
Sepekan menjelang pernikahan Nina mendatangi sahabatnya. Dengan nada lirih dia menyampaikan, ”Pernikahan kami tidak jadi. Ikhwan itu memutuskan hubungan kami. Dan saya tidak tahu apa alasan sebenarnya.” Kalau kita jadi Nina, kira-kira apa yang ada dalam jiwa kita, kecewa ? Terheran-heran ? Mempertanyakan ? Marah ? Ingin mempraperadilankan ?
Boleh jadi kita sepakat dengan sahabat Nina, bahwa sah saja bila Nina kecewa dan marah. Namun, tulisan Nina kepada sahabatnya ini menunjukkan hal yang lain : ”Setelah kejadian itu, saya memang punya hak untuk kecewa dan sakit hati. Awalnya memang iya, tapi sekarang tidak lagi. Saat saya memutuskan menerima pinangan seseorang, berarti saya telah menjawab satu pertanyaan penting dalam hidup ini. Dengan siapa saya akan berjuang menjalani hidup ini, berbagi suka dan duka ? Dan dengan siapa saya akan berkorban mencapai surga ? Satu hal, landasan rumah tangga adalah kasih sayang dan keharmonisan. Semua itu tak dapat dipaksakan. Keraguan saja dapat mengakibatkan keguncangan, apalagi keterpaksaan. Karenanya saya ‘bersyukur’ hal ini terjadi sebelum pernikahan. Sungguh, gagalnya pernikahan ini bukan kehendak saya. Saya tidak punya kontribusi terhadap putusnya hubungan. Saya percaya, ini hal terbaik bagi saya. Buktinya, saya tidak melanggar hukum syara’. Saya pun tidak mengecewakan orang. Dan saya bukan penyebab gagalnya pernikahan. Andai saya menggugat dan memaksanya untuk menikahi saya, siapa yang akan rugi? Bukan hanya dia, tapi juga saya. Rumah tangga hanya akan dipenuhi dengan keharmonisan semu. Biarkan saya menghilangkan kekecewaan dan kegundahan. Kini, hati dan jiwa saya lapang. Siap menyongsong kehidupan dengan mantap. Saya tidak rela energi saya tersita oleh kekecewaan dan kesumpekan. Saya menerima ini sebagai ketetapan Alloh SWT. Dan saya berserah diri pada-Nya.”
Contoh lain; bayangkan, di depan kita anak-anak sedang bermain-main. Tiba-tiba, praang! Gelas favorit yang kita beli dari luar negeri pecah berkeping-keping. Kira-kira apa yang ada dalam jiwa kita ? Emosi? Memarahi anak ? Bila itu yang terjadi, mari kita renungkan; siapakah yang meletakkan gelas hingga terjangkau oleh anak? Kita orang tuanya, bukan ? Apakah anak-anak itu sengaja memecahkan untuk membuat kita jengkel? Tidak, bukan? Atau jangan-jangan dia sedang memenuhi rasa ingin tahunya tentang apa yang akan terjadi bila gelas dijatuhkan? Bila ini yang terjadi, bukankah kejadian itu merupakan kemajuan bagi anak kita? Belum lagi kalau dilihat bahwa anak itu belum terkena beban hukum (taklif). Alloh saja tidak memberikan hukum padanya, mengapa kita menimpakannya? Islam memang membolehkan kita memukul anak dengan tidak menyakitkan bila anak telah berusia 10 tahun. Itupun bila ia tidak mau mendirikan sholat, bukan karena memecahkan gelas. Bila hal ini benar-benar kita renungkan, maka rasa marah pun akan hilang seketika. Fokus pikiran yang semula pada gelas berpindah pada anak. Apakah anak terluka?
Yang patut dicatat baik-baik adalah hati yang tenang bukanlah menyerah pada nasib. Hati yang tenang adalah hati yang tidak larut dalam kekecewaan, yang tidak memperturutkan kegundahan, yang tidak tunduk pada tekanan kesedihan dan tidak sesak oleh nafsu angkara. Sebaliknya, hati yang tenang merupakan hati yang segera menuju keriangan setelah kekecewaan, yang meraih kelapangan setelah kegundahan, yang melahirkan rasa bahagia dengan mengesampingkan kesedihan dan yang menapaki cahaya Alloh yang menyirnakan bujukan syetan. Orang yang berhati tenang memandang apa yang terjadi sebagai salah satu tingkatan menuju kebajikan. Orang yang berhati tenang tidak terlena dalam kegamangan, tapi segera mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya. Benar, hati yang tenang terbentang dari dada hingga langit. Dia melakukan perbuatan di dunia, tetapi hati dan cita-citanya menembus batas melesat hingga ke surga.
Penyemai
Kita harus punya hati yang tenang. Setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan :
1. Ridho terhadap ketentuan Alloh SWT.
Ini bukan berarti menyerah pada nasib, melainkan meyakini bahwa ada hal-hal yang terjadi di luar kontribusi dan peran manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengalami dua macam peristiwa. Pertama, peristiwa yang kita pilih dan karenanya kita berkontribusi dalam menentukannya. Misalnya, apakah kita mau sholat atau tidak, apakah kita taat pada Alloh ataukah tidak. Atas pilihan kita, kelak Alloh akan meminta pertanggungjawaban kita. Kedua, peristiwa di luar peran kita. Misalnya, kelahiran dan kematian manusia, musibah yang menimpa kita. Peristiwa kedua inilah yang disebut qadha. Kita tidak bisa menolak qadha, sikap yang diperintahkan Alloh adalah menerima dan meyakininya bahwa hal tersebut berasal dari Alloh SWT.
Penerimaan terhadap qadha akan membuahkan kelapangan dan ketenangan. Sebaliknya penolakan terhadap qadha hanya akan mempersempit hati kita. Rasanya perlu kita renungkan firman Alloh SWT, yang artinya : ”…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah : 216).
2. Qona’ah.
Qona’ah merupakan suatu sikap dan rasa hati puas terhadap sesuatu yang diterima. Rizki sedikit puas, rizki banyakpun puas. Dalam keadaan sehat puas, dalam keadaan sakitpun puas. Tentu, bukan puas karena sakitnya tapi puas oleh sesuatu hal lain yang terdapat di dalam sakit itu. Orang yang sakit lalu bersabar maka dosanya diampuni. Itulah yang menyebabkan puas atau qona’ah ketika sakit. Begitu pula ketika ada anggota keluarga yang meninggal, misalnya, ia akan qona’ah terhadap keputusan Alloh SWT tersebut. Betapa tidak, ia akan sadar bahwa yang dapat menghidupkan dan mematikan hanyalah Alloh.
Rosul SAW memuji orang yang qona’ah. Sabda beliau, yang artinya : ”Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rizki cukup, dan dilimpahi sifat qona’ah oleh Alloh terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1746).
3. Tawakkal.
Sikap hati yang menyerahkan segala macam urusan kepada Alloh SWT disebut tawakkal. Alloh berfirman, yang artinya : ”Dan siapa saja yang bertawakkal kepada Alloh maka Dia yang akan mencukupkan keperluannya.” (QS. Ath-Thalaq : 3).
Tawakkal muncul dari keyakinan seorang muslim terhadap qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak) Alloh. Bahwa bila Alloh berkehendak menimpakan kemudharatan, tak satupun yang dapat menghindarkannya selain Dia, dan bila Alloh menghendaki karunia maka tak satupun juga yang dapat menolaknya.
Hati yang tenang tak hanya menghadirkan ketenangan, tapi juga kejernihan berpikir, dan tumbuhnya semangat dan keberanian. Bukan hanya berani mati, tapi juga berani hidup.

alhamdulillah, setelah saya membaca ini menetes air mata saya. semoga ALLAH menenagkan hati saya
makasih ilmunya …..slamat berjuang salam 165
# Silaturrahim
# Cermin
# Menu Utama
# Keberkahan Finansial
# Konsultasi
# Bagi-Bagi
# Cahaya Islam
# Doa
# Cerpen Anak
# Cermin, Yuk Belajar Bersama Nuri
# Buku Pilihan
# Buat Nanda
# Generasi Emas
# Rehat
# Sakinah
# Wanita
# Kisah Hikmah
# Hikmah Muallaf
# Nuansa Qolbu
# Fitrah
# Iqro'
# Fadhilah Amal
Random Image
Berita Terbaru
Komentar Terbaru
Polls
Agenda Kegiatan