Suamiku Tidak Sholat
Seorang istri mengeluh, “Suamiku tidak sholat”. Keluhan yang hanya berisi tiga kata, tapi betapa besar urusan pertanggungjawabannya. Barangkali permasalahan rumah tangga seperti yang dialami wanita tersebut juga tidak sedikit rumah tangga muslim yang mengalaminya.
Betapa inginnya kita bisa membangun keluarga yang barokah. Bisa membina kebahagiaan bersama tidak hanya di dunia, tapi juga kekal hingga akhirat.
Tentu saja kita amat menyadari, jalan satu-satunya untuk meraih mimpi indah tersebut adalah ”takwa”. Menjalani ketaatan kepada Alloh dengan sepenuh hati. Dengan bertakwa kita mengharap rahmat Alloh turun kepada keluarga kita. Kemudian menjadi cahaya bagi keluarga kita menuju kebahagiaan dunia-akhirat.
Suami yang tidak mendirikan sholat, menjadi sebuah keprihatinan besar di hati seorang istri bertakwa. Walaupun ada hati seorang istri yang sakit karenanya, namun jangan pernah kita putus harapan. Pahamilah ini, bahwa tidak ada manusia manapun yang tidak menginginkan kebahagiaan. Semua orang ingin berlari mendekat pada titik kebaikan dan ingin menjauh dari titik keburukan. Semuanya, tanpa kecuali. Termasuk suami yang belum Sholat. Mudah-mudahan dengan pemahaman tersebut kita dijauhkan oleh Alloh dari sikap putus asa dalam menyampaikan kebaikan.
Kepercayaan dan Nilai
Di luar hal prinsip bahwa seseorang yang tidak mendirikan sholat adalah wujud besarnya pengaruh hawa nafsu dalam dirinya, atau tercerabutnya keimanan di hatinya kepada Alloh dan hari akhir, mari kita melihat pula dari sisi psikologis. Mudah-mudahan kita tidak hanya bisa sekedar memvonis atau bahkan putus asa pada kondisi suami yang tidak mau sholat.
Seseorang bertindak, atau menghindari sebuah tindakan, didorong oleh faktor kepercayaan dan nilai yang ada dalam dirinya. Kepercayaannya meniscayakan untuk melakukan sesuatu dalam segala hal hingga menjadi pribadinya seperti saat ini.
Kepercayaan yang mengakar akan menjadi nilai. Nilai terbagi dua, yaitu nilai tujuan dan nilai makna. Nilai tujuan adalah keadaan yang ingin kita raih. Sedangkan nilai makna adalah proses yang kita yakini sebagai jalan untuk mencapai nilai tujuan.
Misalkan bagi kita, nilai tujuan kita adalah kebahagian dunia dan akhirat. Maka nilai makna yang kita buat adalah bertakwa, menjalankan perintah Alloh, menjauhi maksiat, sholat, bersedekah dan lain sebagainya. Nilai tujuan dan nilai makna berhubungan sebagai sebab akibat.
Orang yang tidak sholat berarti sedang mengalihkan nilai makna (faktor sebab) dari nilai tujuan (faktor akibat). Mereka berusaha sekuat tenaga, walaupun dalam keadaan tidak sadar, berusaha memecah-mecah faktor sebab tadi. Bahwa untuk meraih bahagia tak harus dengan sholat.
Lantas mengapa mereka berupaya mengalihkan nilai makna tersebut? Sikap bawah sadar tersebut berawal dari kondisi jiwa yang putus asa, kecewa atau terlalu bergantung pada kekelaman masa lalu.
Misalkan begini, nilai tujuan semua wanita adalah menjadi wanita suci dan terhormat. Maka nilai maknanya atau cara dia memaknainya adalah dia akan menjaga kesucian dan pergaulannya dengan lawan jenis.
Lalu jika dia gagal menjaga kesuciannya, apa yang terjadi?
Sebuah penelitian menunjukkan, hampir 90% wanita yang jatuh menjadi penjaja seks disebabkan di masa lalunya ia telah mengalami penodaan terhadap dirinya, baik diperkosa atau berhubungan di luar nikah.
Maka selanjutnya adalah, terjadi upaya (tanpa sadar) untuk memecah-mecah nilai yang dimiliki sebelumnya yaitu bahwa ”agar terhormat harus suci” menjadi ” kesucian bukanlah segala-galanya”. Sadar atau tidak sadar akhirnya dia berusaha mewajarkan perilaku yang sudah dialaminya. Dia berusaha dengan menceburkan diri sekalian ke dunia seks, untuk mematahkan beban emosional dari nilai ”kesucian adalah segala-galanya”. Dengan melakukan hal tersebut, dia akan merasakan bahwa apa yang terjadi pada dirinya di masa lalu adalah hal biasa. Harapannya luka itu akan hilang dengan sendirinya.
Lantas hubungannya dengan tidak sholat tadi?. Sama. Bahwa orang yang tidak sholat, tanpa sadar berusaha mewajarkan dengan sekalian tidak sholat.
Hal tersebut bisa terjadi oleh dua hal. Pertama, orang-orang terdekatnya, misalkan kedua orangtuanya, dilihatnya dulu tidak melaksanakan sholat. Sehingga terhadap nilai yang mengatakan bahwa ada siksa Neraka bagi orang yang tidak sholat, tanpa terasa, sekali lagi tanpa terasa, ia menolaknya. Alam bawah sadar ia tidak setuju bila orangtuanya bernasib seperti itu. Dirinya tak bisa menerima sehingga berusaha ia hancurkan dan memutus beban emosional yang diakibatkan oleh nilai tersebut. Akhirnya ia mencairkan nilai tersebut dengan sekalian tidak sholat.
Kedua, berasal dari dirinya sendiri yang sudah lama tidak mendirikan sholat atau merasa terlalu banyak melakukan kemaksiatan lain. Minimnya dorongan eksternal lewat ilmu dan pengetahuan tentang Alloh Maha Menerima Taubat hamba-Nya, membuat ia memaksakan batinnya untuk merusak atau meruntuhkan nilai yang mengatakan ” ada Siksa Neraka bagi ahli maksiat” yang sebenarnya hati kecilnya meyakini.
Ikhtiar Kita
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk bisa mengupayakan suami untuk bersegera memenuhi kewajibannya kepada Alloh ta’ala tersebut. Berikut ini InsyaAlloh bisa menjadi jalan perubahan :
1. Kita harus bisa menunjukkan efek positif dari sholat. Kita harus bisa menghadirkan kehadapan dia bahwa pribadi ahli sholat akhlaknya begitu indah dan menyenangkan. Misalkan kita menjadi pribadi yang ramah, sopan, taat kepada suami, tidak pemarah, tidak suka ghibah, tidak menyukai gaya hidup glamour atau kita tunjukkan dengan berhasil mendidik anak-anak menjadi pribadi yang berakhlak baik. Jangan berharap mereka mau sholat, jika ahli sholat yang dia lihat ternyata tidak jauh beda dengan yang tidak sholat.
2. Terkadang untuk menunjukkan kondisi ruhaniah kita tak cukup hanya ditunjukkan lewat perbuatan. Perlu diungkapkan lewat lisan. Maka pandai-pandailah dan sering-seringlah ketika berhadapan dengannya mengaitkan segala urusan dengan ungkapan-ungkapan keimanan. Misalnya, ketika mendapat musibah, kita mengatakan ”mudah-mudahan Alloh memberikan kita kesabaran dan hikmah dari ujian ini, mas” atau ketika mendapatkan nikmat kita katakan kepadanya ”Alhamdulillah, Alloh memberikan kita nikmat, mudah-mudahan barokah ya mas”. Lakukan terus menerus. Sesungguhnya saat itu kita telah menanamkan nilai-nilai keimanan ke dalam hatinya.
3. Menghadirkan suasana agamis. Misalkan menyetel lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, menonton ceramah agama di televisi, membeli buku-buku agama. Kadang sengajakan buku-buku agama itu diletakkan ditempat yang mudah dilihat misalnya di meja makan atau di kasur. Barangkali dia mau membuka dan membacanya.
4. Meyakinkan kepadanya, bahwa Alloh Maha Menerima Taubat. Kalaupun pengalaman masa lalu misalkan orangtua yang tidak sholat atau pribadinya sendiri yang jauh dari agama, maka buatlah agar dia tidak putus asa akan rahmat dan ampunan Alloh. ”Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Alloh menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (At-Taubah : 9).
5. Akan sangat berguna bila kita sanggup menghadirkan suami di majlis-majlis ilmu.
6. Bersungguh-sungguhlah kita mendekat dan memohon kepada Alloh. Senantiasalah mohonkan hidayah untuknya. Karena sesungguhnya Alloh-lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Ketahuilah Alloh memberikan petunjuk kepada yang Dia kehendaki ataupun juga menyesatkan kepada siapa yang Dia kehendaki,” Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash : 56)
Sebagai Catatan
Realitas kehidupan saat ini memungkinkan, bahkan memaklumkan, seorang beragama Islam untuk tidak mendirikan sholat. Pola pendidikan orang tua pada anak yang jauh dari Islam, lingkungan yang salah, serta suntikan informasi yang serba duniawi dan gemerlap, membuat kebanyakan orang Islam tumbuh menjadi ”orang-orang berkumis” (sudah dewasa, pen) dalam keadaan tidak menjalankan aturan dan hukum Islam dengan sempurna.
Walaupun sesungguhnya dalam bingkai keimanan kita, sholat adalah ukuran keislaman, bekal kebahagiaan akhirat, bahkan ia merupakan amal yang pertama kali akan ditanyakan diakhirat kelak. Rosululloh SAW bersabda : “Amalan yang pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat ialah sholat…”(HR.Thabrani)
Tapi karena balasan yang benar-benar nyata itu adanya hanya di akhirat. Dan tidak ada siksa dan kemurkaan Alloh yang tampak dan benar-benar nyata di dunia, maka sholat bukan menjadi suatu yang penting bagi sebagian orang (yang mengaku) Islam. Jadi tak sholatpun, tak mengapa. Memang, tak ada ceritanya orang tidak sholat dhuhur tiba-tiba terbakar api, atau tidak sholat ashar terus malaikat turun dari langit untuk menyiksa, tidak ada. Atau sebaliknya, dengan melaksanakan Sholat tiba-tiba kejatuhan uang dari langit.
Kalaupun toh dengan tidak sholat kemudian hidupnya jauh diri barokah Alloh, tidak tentram dan selalu ditimpa masalah, syetan akan sangat mudah memperdaya mereka dengan membuat mereka berpikir, ”itu tak ada hubungannya dengan sholat atau tidak sholat”.
Orang-orang yang tidak sholat, bukannya seumur hidup ia tak pernah sholat. Ia pernah sholat beberapa kali, dulu dan dulu. Tapi dari semua sholatnya ia tak pernah merasakan kehadiran dirinya dihadapan Alloh. Ia tak menemukan hakikat dirinya sebagai hamba ketika rukuk dan sujud. Yang ia alami adalah sholat tak lebih sebagai aktivitas berdiri-nungging-nyungsep semata. Makanya kesimpulan mereka, lebih tepatnya kesimpulan hasil bujuk rayu syetan kepadanya, Sholat tidak berdampak apa-apa. Tidak menambah manfaat atau tidak pula menambah mudhorot. Hampir saja sholat mereka samakan dengan senam atau terapi relaksasi belaka.
Padahal sholat adalah satu ibadah paling pokok dalam Islam. Sholat menjadi pembeda antara keislaman dan kekafiran. Karena sholatnya ia dikatakan Islam, dan karena tidak sholatnya ia tergolong kafir. ”Rosululloh Saw bersabda : Penengah antara keislaman dan kekufuran serta syirik adalah meninggalkan sholat” (HR. Muslim)
Beliau juga pernah bersabda dalam kalimat yang lebih tegas, ”Batas antara kami dan orang kafir adalah sholat, siapa yang meninggalkannnya maka ia telah menjadi kafir (HR. Tirmudzi).
Maka apakah salah, bila seorang istri amat khawatir dengan nasib Suami yang amat ia cintai? Karena tak sholatnya maka ia jatuh menjadi kafir. Apakah juga salah bila seorang istri bersedih karena bayang-bayang nasib buruk yang akan dialami suaminya kelak di akhirat karena tidak sholat.
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat..(Qs. Al-Muddatsir : 42-43).
Semoga keluarga kita mendapat rahmat dari Alloh dan dijauhkan dari keburukan Akhirat..




Dear Bpk/Ibu/Sdr/sdri
Pengelelola Portal/Situs ini,
Assalamu’alikum WR wb
Dengan Hormat,
Perkenalkan nama saya nuaim.shobron panggilan A’am, bersamaan dgn ini saya bermaksud untuk mohon ijinnya dan skiranya diperkenanka untuk meng-upload artikel yg berjudul “Suamiku Tidak Sholat” di salah satu Blog saya, yang insya Allah artikel tersebut bisa berguna sebagai tambahan ilmu bagi saya pribadi khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Demikian permohonon ijin ini saya haturkan kiranya ada sesuatu hal yg kurang berkenan mohon segera bisa menghubungi saya di nuaim.shobron@plasa.com atau di http://www.fasilitasillahi.co.cc/.
Jazakumullah & Terima kasih byk atas segala bentuk perhatiannya.
Wassalamu’alaikum WR wb
A’am
http://www.fasilitasillahi.co.cc/