Home » Hikmah Muallaf

Bersyukur Tinggal di Keluarga yang Beragam

29 May 2009 No Comment

Bersyukur saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang boleh dibilang cukup demokratis. Tidak ada paksaan dalam kehendak, tidak ada tekanan dalam menentukan pilihan, tidak ada keharusan untuk ini-itu.
Papa saya katolik dan mama Islam. Lahir dan dibesarkan di Palu (Sulawesi Tengah). Saya empat bersaudara, 2 saudara saya ikut agama ibu sejak kecil, dan saya dan kakak saya entah kenapa condong ikut papa. Dalam urusan keagamaan pun saya ikut  cara-cara papa beribadah, hingga saya jadi penyanyi gereja. Itu berlangsung hingga saya kelas 4 SD.
Waktu itu, kebetulan memang teman-teman sepergaulan di kampung banyak yang muslim. Dan ketika bulan Romadhon tiba, entah kenapa tiba-tiba saya punya keinginan kuat untuk nimbrung apapun yang mereka lakukan. Pas tarawih, saya ikut-ikutan tarawih. Sekali dua kali ikut, kok rasanya lain, ada perasaan enak, tenang, damai mendengar lantunan ayat-ayat yang dibaca. Padahal terus terang, jelas saya tak pernah mengerti apa yang dibaca imam dan artinya apa. Pokoknya saya ikuti setiap gerakan sholat dengan tertib. Herannya lagi, begitu keluar dari masjid, perasaan tenteram itu terus menyelinap. Lain ketika saya ke gereja, rasanya biasa-biasa saja, habis melakukan ritual ibadah, pulang ya sudah, tak ada apa-apanya, gitu-gitu aja.
Namanya masih anak-anak, mestinya saya lebih suka ke gereja, karena ibadahnya seminggu sekali, tak banyak menyita waktu. Tapi ya itulah, saya justru sreg ikut-ikutan melakukan sholat meskipun bisa dibilang cukup melelahkan bila dibanding ke gereja, sehari 5 kali. Tapi entahlah saya lebih mantap ke masjid.
Masih dalam suasana Romadhon itu, pas teman sekampung sahur saya ya ikut sahur, buka juga ikut buka. Ke gereja saya sudah tak aktif lagi. Hingga suatu hari saya bilang ke mama, saya mau masuk Islam, mama mengiyakan. Di depan mama saya mengucapkan dua kalimat syahadat, tak lama kemudian juga disunat.
Papa yang kemudian tahu kepindahan agama saya, tak begitu menghiraukan. Cuek saja. Dan bahkan di kemudian hari, justru papalah yang mengantarkan dan menjemput bila saya hendak menunaikan sholat Jum’at. “Papa mau ke toko nih, ayo tak antar sholat Jum’at, pulangnya tak jemput,” begitu kata papa waktu itu. Saya kemudian mendalami belajar Iqro di masjid sekitar kampung saya.
Meski tak lagi ke gereja, tapi karena tuntutan pelajaran di sekolah, saya tetap mengikuti pelajaran katolik di kelas. Maklum SD saya katolik, jadi kalau ndak ngikuti bisa ndak lulus. Lulus SD katolik, saya masuk SMP Negeri, sempat pindah ke SMP di Gorontalo, dan di sanalah saya baru sedikit-sedikit mendalami Islam yang sebenarnya, karena pelajarannya memang Islam. Saya makin mantap dengan keIslaman saya.
SMA saya tempuh di Palu lagi.  Waktu SMA itu pula, saya pernah ikut jamaah tabligh, yang membuat pendalaman saya akan Islam mendapat tempat. Saya pun ikut rombongan jamaah keliling dari masjid satu ke masjid lainnya di sana, setiap menginap selama 3 hari. Cuma saya tak sempat mengiyakan tawaran mereka mengajak saya ke India, Pakistan dan Bangladesh.
Sempat menganggur setahun, saya lalu merantau ke Surabaya, sambil kuliah di Fakultas Ekonomi Untag. Nah, berkumpul dengan kerabat di Surabaya ini juga membawa pengalaman tersendiri bagi keberagamaan, tepatnya keIslaman saya kemudian.

Keluarga Gado-Gado
Di Surabaya ini keluarga yang saya tempati benar-benar beda-beda agamanya. Kakak saya Katolik, kakek agama Budha, nenek Katolik, sedangkan Oom Kejawen. Dan saya bersyukur bisa berada di lingkungan seperti ini, sebuah lingkungan yang bisa jadi tak pernah didapati di keluarga lain.
Dalam lingkungan yang gado-gado itu, saya bebas beribadah, mereka tak berani menegur saya kenapa kok berangkat sholat misalnya. Bila Idul Fitri tiba, seharian penuh saya di luar rumah, ya silaturahmi ke teman-teman. Sebaliknya saya juga tak peduli mereka mau ke mana, ke gereja, atau lainnya.
Hanya kakek saya saja yang cukup perhatian pada saya. Meskipun Budha, beliau senang ngobrol tentang segala sesuatu yang ritual agama. Bahkan bila hari raya Kurban tiba, beliau terlihat turut senang. “Mana dagingnya, ayo kita masak bareng-bareng”, katanya. Kakek juga sering mengajak diskusi tentang surah yasin, dan sejenisnya. Rupanya kakek senang dan mendukung saya, namun sayang ketika meninggal dunia bulan Maret lalu, kakek tetap dalam Budha,
Dalam lingkungan keluarga seperti ini, bila sedang berkumpul bareng, tak pernah ada perbincangan tentang agama, sebab pasti hanya akan membuat ramai. Cuma Oom saya di Kedungcowek yang penganut Konghuchu, sering datang seakan-akan mengajak kami agar mau mengikuti jejaknya. Namun tak ada yang mau, saya pun dengan berbagai cara selalu menghindar.
Dan ketika di antara keluarga saya pernah mempertanyakan kenapa ya kok umat Islam itu kadang penampilannya serem gitu, apalagi dengan isu-isu teroris beberapa saat yang lalu, saya berusaha menjelaskan sebatas yang saya ketahui. Saya bilang, terus terang selama saya belajar, tak pernah saya mendapat pengajaran seperti itu. Islam itu positif. Ustadz-ustadz saya tak pernah mengajarkan permusuhan, teroris dan sejenisnya. Islam itu enak, tenang dan nyaman. Saya ceritakan, dalam sejarah, terhadap orang-orang kafir pun Nabi Muhammad SAW berlaku lemah lembut.
Rupanya di kalangan non-muslim, hingga kini ada semacam alam bawah sadar, ketika bertemu dengan orang berjenggot, pakai sorban, atau lainnya, itu sesuatu yang membahayakan, perlu diwaspadai. Sebenarnya itu tak perlu terjadi. Saya selalu berusaha sekali lagi meyakinkan mereka bahwa Islam bukan yang seperti itu, Islam itu damai.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.