Harga Sebuah Ketulusan
Oleh : Bambang Heriyanto
Pagi yang menyenangkan. Setiap akan memulai aktivitas kerja, kami karyawan NH selalu berkumpul di depan kantor untuk saling berbagi good news dan dilanjutkan dengan doa bersama. Waktunya cukup sebentar, tapi memberikan spirit luar biasa untuk aktivitas kami sepanjang hari.
Namun, hari itu terasa berbeda. Sebab kegiatan yang kami labeli ”Silaturrahim Pagi” tersebut termuati moment pelepasan saudara kami yang akan melaksanakan ibadah Umroh.
Tak seperti biasanya yang suasananya begitu semangat. Langit Surabaya yang pagi itu mendung tampak begitu cerdas menggambarkan gerimisnya hati kami semua. Beberapa mata tampak berkaca-kaca.
”mohon maaf atas segala kesalahan saya, terima kasih atas dukungannya” katanya polos. Kami berdiri berbanjar, bersiap memberikan ucapan selamat jalan kepada ibu yang sangat kami cintai itu.
Saat mengucap selamat jalan itu getaran di hati kami semua makin kuat. Getaran yang meluap hingga ke mata kami. Menumpahkan bulir-bulir kecil di kedua pipi.
Ada dua hal yang mengaduk-ngaduk hati kami pagi itu. Yang jelas bukan tak tega melepas dan berpisah. Bukan itu. Siapatah yang berani memberati seseorang yang pada hakikatnya dipanggil oleh Alloh. Justru disemangati seharusnya.
Adalah air mata yang mengalir itu seperti menjadi bukti zahir bagi yang tak bisa datang ke baitulloh dan menjenguk makam Rosululloh seperti kami-kami ini. Bahwa kami begitu tersulut oleh kerinduan yang teramat sangat. Membayangkan diri kami menjadi ibu tua yang kami cintai itu dan sudah merasakan nikmatnya menatap kakbah, thawaf disana, khusyuknya sholat di Raudhah, menatap jazad Nabi yang mulia.
Ratusan ribu orang sudah berangkat, setiap tahun, bahkan ada yang berkali-kali. Bilakah masanya kami yang tak kalah rindunya dengan mereka ini juga bisa berada disana. Kami menangis diantara terngiang-ngiangnya pertanyaan yang tak bisa kami jawab ”kapan saya juga bisa ke baitulloh ?”
Adalah juga yang membuat kami tak bisa menahan tangis, karena kami luluh menyaksikan kasih sayang-Nya, pemuliaan-Nya, kemahabesaran-Nya, benar-benar nyata di hadapan kami, pada ibu itu yang kami cintai itu. Atas kehendak Alloh, seorang donatur tersentuh hatinya untuk meng-Umrohkan beliau. Suatu ibadah yang dimata kami semua sangat tidak mungkin ibu itu melakukannya.
Ibu Nur, yang dengan tak mengurangi rasa hormat saya, adalah seorang tukang setrika dan tukang masaknya anak-anak yatim di Asrama Anak Sholeh Nurul Hayat.
Hari-hari ibu 52 tahun itu dihabiskan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada 38 orang anak-anak asuh kami. Beliau mencucikan baju santri yang masih kecil, menyetrikakannya, memasukkan ke dalam lemari-lemari, dan mengambil pakaian kotor yang tak sempat dibawa ke tempat cucian oleh anak-anak yang kecil-kecil. Sudah delapan tahun istiqomah dalam pekerjaan mulianya tersebut. Sebuah masa yang tidak pendek dan cukup untuk membuktikan ketulusan dan keikhlasan pengabdiannnya.
Terkadang, jam 10 malam beliau masih terlihat mencucikan baju anak-anak santri. Pagi hari, beliau bangun jauh sebelum shubuh untuk memasakkan nasi anak-anak. Setiap hari.
Beliau tak terkenal karena karya atau wajahnya yang sering muncul di majalah. Tak pernah dikenal oleh donatur dan masyarakat luas. Sangat jarang mendapat ungkapan terima kasih atau ucapan selamat, kecuali dari para karyawan, dan beliau memang tak membutuhkan itu. Beliau tak pernah dimintai pendapat dalam hal memajukan lembaga. Alasannya bukan orang ”penting” dalam jajaran manajemen. Hidup beliau hanya berkutat di dalam pengapnya dapur, basah dan panasnya tempat cucian, dan bila saat istirahat kembali ke peraduan 3×4 meternya. Itu saja.
Tapi dengan kejujuran hati, kami semua mengamini dan tak ada yang membantah, bahwa beliau adalah pribadi yang paling mulia diantara kami semua. Paling terjaga ketulusannya. Paling nyata pengabdiannya. Paling besar pengorbanannya.
Maka ketika pikiran membayangkan seluruh potret ketulusan beliau di Asrama, dan dihadapan kami kini beliau berpakaian seragam Umroh warna biru tua, berbalut jilbab putih, dengan tas paspor yang terkalung di leher tirusnya, subhanalloh, kami bergetar. Beberapa karyawati memeluk erat beliau sambil terisak. Pagi itu Ibu Nur telah memberikan pelajaran yang sangat berharga.
Desain Alloh yang begitu Indah. Balasan yang begitu sempurna. Iqro’ Bismirobbikalladzii Kholaq.., pagi itu kami membaca dengan menyebut nama Alloh yang menciptakan kami, keadaan kami, dan menciptakan takdir ibu Nur ke tanah suci..
Bahwa bila Dia berkehendak maka siapa yang bisa menghalangi. Segala sesuatu yang tak mungkin, menjadi mungkin.
Kisah Ibu Nur juga memberikan pelajaran pada kita semua, yang iman kadang naik turun, niat kadang bergeser ke sana ke sini, bahwa, masihkah mencari-cari tujuan yang lain sedangkan Alloh bersama kita? Dia pasti bersama orang-orang yang ikhlas mengabdi di jalan-Nya? Tidakkah mata melihat bagaimana ibu tukang masak yang bekerja ikhlas itu telah dimuliakan oleh-Nya?
Untuk menjadi renungan kita semua…
Sesungguhnya kita semua sedang berniaga dengan Alloh. Ibu Nur telah mendapat satu keuntungan dari perniagaannya, sebagai pelayan anak-anak yatim. Dan mudah-mudahan keuntungan-keuntungan yang lain Alloh telah persiapkan di akhirat-Nya kelak.
Dan kita, harus bertanya pada diri sendiri di jalan manakah kelak Alloh merasa layak memberikan keuntungan kepada kita ?. Harus kita temukan dan kita bersungguh-sungguh menjalaninya. Pekerjaan dan aktivitas bisa berbeda, tapi niat harus tetap sama. Alloh ta’ala berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?(yaitu) kamu beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. As-Shaff : 10-11)”
Prosesi yang cukup sebentar karena jam 08.30 Ibu Nur harus segera berangkat ke bandara. Kami semua menghantar dengan penuh suka cita. Selamat jalan ibu Nur, semoga panjenengan dikaruniai Umroh yang makbul. Aaamiiin…



Komentar Saudara !