Karena Remaja Makhluk Luar Biasa
Remaja identik sama hura-hura, narkoba, tawuran, freeseks?, Ih, elo aja kale..kita nggak.
Remaja yang mana dulu, coy!. Simpen dulu segala cap negatif itu kalo situ ketemu sama gank JJS. Bisa gak nyambung, tau nggak!. Cap jelek remaja yang ada di kepala kamu bakalan ilang kalo kita ngikutin sepak terjangnya tiga cowok klimis berjanggut minimalis dengan dompet super tipis itu.
Btw, rupa-rupanya nggak kerasa udah dua tahun JJS tayang di majalah mungil NH ini. Sekarang udah serial ke 24. Di edisi dua tahun ini, sayah nggak nulis tentang kisah JJS. Istirahat dulu, euy. Kayak sinetron Cinta Fitri, gitu.
Ada urusan lain yang perlu kita selesaikan! (hii takuut). Nggak, saya pikir penting di edisi kali ini saya sempetin bentar buat nyeritain latar belakang kenapa bikin cerita fiksi humor remaja JJS. Saya berharap nanti ke depannya frame kita bisa sama. Kan lebih enak.
Selama 24 bulan nongol di majalah NH, Banyak respon yang diberikan oleh pemirsa setia JJS. Yang menurut survey, katanya pemirsanya kagak hanya kaum muda, tapi para sesepuh dan tetua kita. Yah, jujur ada yang komen positip ada juga yang negatip. Positipnya, katanya sih, remaja bangetz. Negatifnya, katanya bikin perut sakit karena kebanyakan ngikik.
Apapun respon yang diberikan, yang paling baik buat saya adalah introspeksi. Yang baik dibikin tambah baik, yang nggak baiknya, dihilangkan.
Trus itu tadi, supaya ke depan persepsinya sama, harus dijelasin sampai ke buntut-buntutnya kenapa di majalah kaya hikmah NH ini, ada tulisan nyasar rada gokil begitu. Yang jelas dari lubuk hati yang paling dalam, dekat usus 12 jari dan sebelah bawah paru-paru, tak ada tujuan kami menulis kisah itu melainkan untuk dakwah. Mudah-mudahan demikian pula Alloh mencatatnya.
Islam Lahir Diantara Tangan-Tangan Para Remaja
Suatu ketika pandangan Nabi Muhammad menerawang ke masa-masa awal beliau berdakwah di Mekkah dulu. Membayangkan ulang, bagaimana beliau yang hanya sendiri, mendapat tugas untuk mendakwahi masyarakat Mekkah yang waktu itu masih Jahili. Sedih dan pedih yang beliau rasakan waktu itu. Karena yang ada hanya cemoohan, hinaan bahkan ancaman pembunuhan.
Tapi ada kebanggaan yang menyeruak di sela-sela kepedihan waktu itu. Kebanggaan yang beliau tuturkan dalam ekspresi penuh kekaguman. Sosok-sosok yang terukir kuat di hati beliau hingga akhir hayat. Dengarkanlah sabda beliau, ”ketika aku berdakwah pertama kali, yang menerimaku adalah anak-anak muda, sedangkan golongan tua menolak”.
Sekali lagi, rasakan betapa bangganya beliau kepada makhluk bernama ”anak-anak muda” itu.
Di Mekkah waktu itu, di saat para pemuka kaum Quraisy berkumpul di atas permadani-permadani mahal di pasar kota sambil mengibaskan selendang lambang kekayaannya, di sudut kota yang lain, di sebuah rumah kecil, anak-anak muda juga berkumpul bermajelis. Mereka begitu antusias mendengarkan nasihat dan didikan agama dari sosok idolanya, Rosululloh Muhammad SAW. Di rumah sahabat Arqam bin Abi Arqam itu, penuh sesak oleh anak-anak belasan tahun. Belasan tahun.
Lihat saja, Ali Bin Abi Thalib yang waktu itu usianya sekitar duabelasan tahun juga ada di sana. Disebelahnya ada Zaid bin Tsabit, ada Zaid bin Haritsah, Mush’ab bin Umair, Zubair bin Awwam, Ammar bin Yassir, Usamah, Usman dan remaja-remaja lainnya. Rata-rata kalau diukur sekarang, mereka seperti ee..usia mahasiswa..oh bukan terlalu tua. Seusia anak SMP & SMA!. Subhanalloh!.
”Anak-anak SMP dan SMA” itu begitu serius mendengarkan petuah-petuah sang Rosul mulia. Wajah polos mereka telah dipenuhi dengan cahaya keimanan. Biarpun orang lain melihat mereka sebagai anak kecil bau kencur, tapi di mata sang Nabi tidak demikian.
Tentang siapa makhluk bernama “remaja”, Rosululloh lebih tahu. Beliau sangat tahu bahwa mereka adalah sosok-sosok berpotensi dalam menjalankan misi besar tak main-main, merubah sebuah peradaban yang mengakar berabad-abad. Di usia belia itu, Rosululloh sangat tahu bahwa Alloh memberikan kekuatan besar dalam pribadi mereka. Ketika ditekuni dan diasah dengan baik, maka jadilah mereka kekuatan yang luar biasa.
Saat dakwah dilakukan terang-terangan, pribadi-pribadi mungil itu menjadi martir bagi Nabi kecintaannya. Rela mati. Kelak pribadi-pribadi muda itu tercatat sebagai sosok-sosok tangguh yang menempati kedudukan-kedudukan strategis di masa perkembangan Islam.
Lihatlah, Rosululloh memuliakan remaja. Di mata beliau mereka adalah ”orang dewasa yang berusia belia”, bukannya ”anak-anak kecil yang sudah berusia tua”. Dua penyebutan yang menghasilkan cara pandang yang sangat berbeda.
Mereka dibiasakan dan terbiasa membicarakan tema-tema besar seperti, ”iman kepada Alloh dan hari akhir”, ”Berjihad dijalan-Nya”, ”strategi dakwah”, ”siasat perang” dan lain sebagainya. Di usia muda itu mereka juga sudah sangat kenal dengan janji nikmat Surga, Bidadari yang bermata jeli, atau siksa neraka yang berapi-api.
Itulah remaja sesungguhnya. Saya rasa, kita sangat bisa untuk sama seperti mereka. Kalau kita mau.
Maka dunia remaja, yang realitasnya memang semakin hari semakin mengkhawatirkan, tak bisa selesai hanya dengan menjadi tempat menuduhkan segala kesalahan. Mereka menjadi seperti apa karena pengaruh lingkungannya. Remaja-remaja Mekkah waktu itu bisa muncul potensinya di bawah manajemen dakwah dan teknik pendekatan yang dibuat oleh Rosululloh. Saat ini saya dan saudara-saudara seperjuangan di jalan Alloh di bumi manapun, harus melanjutkan dakwah Rosululloh itu.
Pemuda harus memperoleh sentuhan dakwah yang besar. Tentu teknis di lapangan tak bisa sepenuhnya sama. Selera konsumen (remaja) harus tetap diperhatikan oleh para pendakwah. Zamannya berbeda, itu sudah realitas. Suguhan hiburan dan kesenangan berunsur maksiat makin hari makin cerdas mempengaruhi kaum remaja. Kalau kita tak bisa dakwah dengan kreatif, bukan tidak mungkin kita akan kalah dengan mereka.
Jangan sampai karena ketidakcerdasan menyampaikan ajaran Islam yang sejatinya mulia dan indah ini, membuat mereka merasa tambah tidak leluasa, merasa berat atau bahkan sampai tak disukai.
Tukung Cukur Rambut Aja Tahu
Seorang remaja datang ke tempat cukur rambut. Usai cukur, dia bayar dengan uang Rp 7.500 rupiah. Tiba-tiba sang tukang cukur marah-marah, ”be be be, adek ini bagaimana, koq bayarnya cuman tujuh ribu limaratus, kurrang dek!”
”wah pak, seharusnya kan segitu memang”
”be be be, apa adek ndak bisa bacca tulisan itu, coba baca baek-baek tarif potong itu tak iye”
”Dewasa Rp 8.000, Anak-anak Rp 7.000, nah saya kan remaja pak, jadi Rp 7.500”
”be be be, adek ini maen-maen ya, tak petal sampeyan tau rasa, ndak ada remaja-remajaan, situ bukan nak-kanak lagi, situ sudah genjhe tak iye (genjhe adalah bahasa Madura, mengartikan seorang anak sudah baligh)
Begitulah, tukang cukur rambut aja tahu. Nggak ada remaja, yang ada anak-anak atau dewasa. Mau ikut anak-anak dengan tarif Rp 7.000 atau ikut dewasa dengan tarif Rp 8.000. nggak ada Rp 7.500, nggak ada tarif remaja.
Nah, kayak tukang cukur itu, Islam memberikan batasan yang tegas terhadap status tersebut. Ketika seorang perempuan sudah datang bulan dan laki-laki bermimpi basah (bukan mimpi hujan-hujan lho), maka dia sudah dianggap baligh. Sudah dewasa. Pada saat baligh tersebut, syariat Islam secara penuh ditanggungkan kepadanya.
Orang dewasa usia 30 tahun dengan remaja usia 16 tahun, kewajibannya terhadap sholat, puasa, zakat dan ibadah lainnya sama. Nggak ada cerita anak usia 17 tahun tidak sholat maka dosanya diberikan separuh dari biasanya. Atau sebaliknya, kalau sholat pahalanya dapat separuh. Usia baligh adalah saat dimulainya perjalanan seorang anak manusia. Menjalankan misi menuju Surga atau terpedaya yang akhirnya jatuh ke Neraka.
Remaja, Potensi Maxi Yang Peduli Mini
Dalam catatan sejarah, tidak sedikit perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia ini dimotori oleh para remaja. Mulai dari Rosululloh sendiri hingga tokoh-tokoh dunia dan tokoh nasional kita. Semuanya memulai mimpinya di usia remaja.
Remaja adalah pribadi yang hidup tanpa tendensi, lebih jujur pada nurani, jauh dari kepentingan politik dan kekuasaan, punya semangat tinggi, dan berani menghadirkan perbedaan.
Karena itu, apalagi di era modern saat ini, kepada mereka Islam mesti disuguhkan sebagai pilihan hidup yang menyenangkan. Seharusnya mereka bisa terbawa pada nikmatnya hidup berada dibawah naungan Al-Qur’an. Sehingga mereka tak mencari kesenangan-kesenangan lain di luar sana.
Diluar sana jangankan televisi, buku-buku (yang katanya gudang ilmu) sudah tercampuri penanaman gaya-gaya hidup hedonisme dan kebebasan. Buku-buku humornya yang menjadi selera remaja banyak nyebutin kata-kata jorok, vulgar dan seksploitasi. Novel-novel cinta yang disajikan dalam berbagai format entah itu sastra, puisi, teenlit, ceeklit, pelit, melilit, genit, dedemit dan apalah macamnya kadang sengaja dibumbui muatan erotis. Kita tak bisa hanya melarang. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan suguhan saingan yang bisa menjadi pilihan.
Kena Bogem, Ban Motor Digembosi
Kisah JJS is based on true story saya sewaktu SMA. Waktu itu saya bergabung dalam ROHIS (Kerohanian Islam) sekolah. Disela-sela aktivitas belajar sekolah, saya bersama teman-teman meluangkan waktu mengurusi Masjid, mengemas acara Peringatan Hari Besar Islam dan program-program dakwah lainnya.
Tidak ada waktu berhura-hura bagi kami (bukan apa, asli para aktivis masjid rata-rata Bokek). Suatu kesenangan yang luar biasa bagi kami ketika kami bisa mengajak satu orang teman untuk sholat berjamaah di Masjid, sholat dhuha waktu jam istirahat dan berhasil memakaikan jilbab bagi yang akhwat.
Dalam dunia dakwah sekolah itulah terjadi banyak cerita menarik. Yang sebagiannya menjadi inspirasi tulisan saya dalam serial JJS.
Misalkan, tokoh Jodi yang sotoy dan over confidence, terinspirasi dari teman saya yang berinisial MM, semoga Alloh menerima disisi-Nya (eh, orangnya masih hidup, koq). Tokoh Junet sang pemberani, terinspirasi teman saya Muhammad Andi. Dan, Sohib…tentu saya sendiri (hehe narsis yah). Maksudnya Sohib adalah sosok ideal yang saya impikan.
Misalkan juga, kisah gank Apek di edisi 49. Kisah itu terinspirasi dari pengalaman saya dan anak-anak Masjid yang konflik dengan anak-anak belakang (istilah kawan-kawan yang masih istiqomah dalam kegelapan). Konflik yang mau nggak mau harus terjadi karena perbedaan pandangan, kami membela kebenaran dan keadilan (satu platform sama Ninja Hatori) sedangkan mereka terbiasa dengan botol-botol minuman. Puncaknya waktu itu, saya sampai kena bogem oleh salah satu tokoh pentolannya. Belum selesai sampai disitu, pulang sekolah saya harus dorong motor sampe tukang tembel ban karena ban motor saya digembosi.
Tapi alih-alih nyesel jadi anggota Rohis. Justru ketika kena Bogem itu saya langsung ingat Surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai (ciee segitunya). Iya donk, biar nggak sepedih yang dirasakan Bilal waktu ditindih batu sama orang kafir, tapi berharap ”nyonyor bekas bogeman” itu menjadi saksi kelak di akhirat kan boleh-boleh saja atuh.
So, Remaja-remaja macem JJS buanyak sekali. Maklumat saya, kalo kamu masih remaja jangan sia-siakan waktu, gabunglah ke organisasi-organisasi kayak JJS gitu. entah yang namanya SKI, ROHIS, Remas, atau apalah itu. Dan bagi yang sudah dewasa dan dulu nggak sempat jadi aktivis Rohis, mmm..banyak-banyak istighfar aja kali ya, hehe…
(kritik dan saran shooting langsung ke : encung@ymail.com)




Komentar Saudara !