Merasakan Kebersamaan Alloh
Setiap orang selalu mengejar apa yang ia inginkan. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan selalu mengingatnya. Tak ada kebahagiaan di dunia bagi orang yang tidak mementingkan kebahagiaan di akhirat. Siapa yang lebih memprioritaskan dunia dibanding akhirat, ia tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia, tidak pula di akhirat (Hasan Al-Bashri : Hilyah Al-Auliya)
Seandainya kita ada disana, tentu kita akan sangat mengerti kemana seharusnya mencari penyeka kesedihan. Seandainya kita mendapat kehormatan menjadi orang ketiga di dalam misi hijrah itu, niscaya perjalanan hidup selanjutnya kita tak akan bingung lagi dalam memaknai kebahagiaan. Bila kita sempat menyaksikan mereka berdua, mungkin kita akan meratapi ketamakan hidup selama ini.
Dua insan itu, yang satu seorang makhluk termulia, yang satu seorang sahabat yang setia. Rosululloh Muhammad dan As-Shiddiq, Abu Bakar. Berada di dalam gua di tengah kepungan kafir Quraisy yang sudah lapar membunuh. Dalam kondisi kritis, fisik yang lelah dan jiwa yang tertekan, terucaplah satu untai kalimat menyejarah tentang makna kebahagiaan sesungguhnya. Menjadi kalimat yang tak boleh terlewatkan dan di tulis tebal dalam karya kumpulan hadist Imam Bukhori, Imam Muslim dan Imam Ahmad. Agar menjadi inspirasi kehidupan bagi ummat sesudahnya.
Kalimat itu, sang nabi membisikkannya pada sang sahabat,”La tahzan, innalloha ma’ana”
”Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Alloh membersamai kita”. Untaian sederhana yang besar maknanya. Mewakili kekokohan dan ketegaran pribadi yang mengatakannya. Maka, usai mendengarkan kalimat ”sakti” itu, seketika ekspresi Abu Bakar berubah menjadi begitu tegar.
Alloh membersamai kita. Setelah itu yang lain bukanlah segala-galanya. Bila Alloh telah bersama kita, maka ujian adalah kebaikan. Bila Alloh telah bersama kita, apalah arti musibah, ancaman, hantaman, hatta kematian. Kecil seumpama tidak ada apa-apanya.
Saudaraku,
Harusnya kita juga bisa merasakan getaran untaian itu. Mestinya sebagaimana Abu Bakar, kita juga bisa menemukan ketenangan saat mengingati bahwa Alloh membersamai kita.
Betapa nikmatnya hidup ini bila kata itu bisa tersimpan rapi di satu bagian dalam jiwa kita. Sewaktu-waktu dapat di ”akses” ketika kesempitan hidup datang menghampiri. Kita membayangkan sangat mudah. Seperti sebuah obat. Kala sakit, kita minum dan seketika bisa sembuh. Bila sakit lagi, minum lagi dan sembuh lagi.
Tapi kenyataan tak semudah itu. Saat ujian hidup menghampiri, kadang kita harus bersusah-susah memaksa diri agar tegar dengan mengingat Alloh. Lisan bisa mengucap ”sabar..sabar..sabar, Alloh bersama kita”, tapi hati tak bisa dibohongi bahwa ia tetap gelisah dan sedih. Hati seolah melawan dan bertanya dengan nada berontak, ”Ah, Benarkah Alloh bersama kamu?!”
Ada dua hal mengapa kita sepertinya malu atau susah untuk meyakinkan diri bahwa sesungguhnya kita berada dekat dengan Alloh. Pertama, karena kesempitan itu disebabkan oleh kamaksiatan. Bila kesempitan itu disebabkan dari kemaksiatan yang kita lakukan, maka jauh panggang dari api, jangan berharap bisa meraih ketentraman hati.
Misalkan, seorang koruptor yang dalam hidupnya dihantui rasa takut dan kesempitan. Maka tidak masuk akal dan tidak pantas ia memohon ketentraman kepada Alloh. Justru ia harus segera sadar bahwa itu adalah adzab dunia yang ditimpakan lantaran dosa besarnya. Atau orang yang merasakan hidupnya tidak tentram lantaran tidak sholat, orang yang rizkinya tidak barokah karena tidak zakat, orang yang hubungan dengan pasangannya berantakan karena diluar rumah mata banyak maksiat. Semuanya itu membuat kita di posisi tidak bersama tapi justru berhadapan dengan Alloh. Menantang hukum-hukum-Nya.
Kedua, kesempitan yang datangnya berwujud ”ujian” dan bukan ”adzab”. Tentang hal ini, semua orang pasti mengalami. Dan masing-masing kita memiliki kemampuan yang berbeda untuk bisa meng-”akses” energi dzikrullah saat ujian itu datang.
Ada yang begitu mudah, ada yang terasa susah. Mereka yang susah, harus bersedia merenung. Mengapa bisa demikian. Perhatikanlah apa yang dilakukan selama ini ketika berada dalam kondisi yang lapang. Barangkali kebanyakan waktu yang dimilikinya terlanjur digunakan untuk mengejar sumber-sumber kebahagiaan yang bersifat duniawi saja. Dan tanpa terasa kepada kebahagiaan dalam sholat, tahajjud, dzikir, bersedekah kita tak terlalu peduli.
Kita lebih sering menciptakan kebahagiaan melalui menikmati harta, berbelanja, berlibur, berganti-ganti mobil, tidur berlama-lama dan lain sebagainya. Hati sedikit sekali dikenalkan dengan sumber-sumber kebahagiaan yang bersifat ukhrowi. Maka tak salah ketika ujian datang menghantam, kemudian kita mencoba mengingatkan hati ”jangan bersedih, sesungguhnya Alloh membersamai kita”, hati seolah-olah menolak. Kenapa? Karena hati tak pernah akrab dengan ungkapan-ungkapan semacam itu.
Hasan Al-Bashri mengingatkan kepada kita semua melalui keindahan hikmahnya : Setiap orang selalu mengejar apa yang ia inginkan. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan selalu mengingatnya. Tak ada kebahagiaan di dunia bagi orang yang tidak mementingkan kebahagiaan di akhirat. Siapa yang lebih memprioritaskan dunia dibanding akhirat, ia tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia, tidak pula di akhirat (Hasan Al-Bashri : Hilyah Al-Auliya)
Bila waktu banyak dihabiskan untuk memburu dunia, maka jangan pernah berharap dunia itu membahagiakan kita. Namun bila akhirat adalah tujuannya, maka seluruh kebaikan dunia pasti akan datang kepadanya.
Belajarlah dari kisah nabi Yunus. Faktor apa hendaknya yang membuat beliau mendapat pertolongan dari Alloh saat beliau mengalami musibah ditelan ikan. Ya. Karena saat lapang nabi Yunus senantiasa mengingat Alloh ”Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Alloh, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. As-Shaffaat : 143-144).
Sama dengan Abu Bakar. Alasan apa yang membuat bisik Rosululloh itu menjadi energi ketentraman yang luar biasa di dalam jiwanya. Ya, karena pada masa-masa kelapangannya, Abu Bakar telah menjadi hamba yang senantiasa ingat kepada Alloh. Frekuensinya sudah sama, saat dibutuhkan, tinggal connected saja.
Saudaraku,
Ada saatnya perjalanan hidup terhampar tidak sesuai harapan. Adalah sebuah sunnatulloh, setelah jalan lurus pasti ada yang berbelok. Setelah menanjak pasti menurun. Setelah terang pasti ada gelap. Setelah bebatuan pasti ada bagian yang halus membentang. Kelapangan dan kesempitan pasti kita akan kita temui di depan sana. Kita tak mungkin mampu merubahnya.
Orang yang beruntung adalah, mereka yang dalam setiap keadaan, jiwanya tetap terikat dengan Alloh Jalla wa ‘Ala. Wallohu ‘Alam Bisshowab



Komentar Saudara !