Home » Hikmah Muallaf

Doa Dikabulkan Setelah 14 Tahun Tahajud

26 June 2009 3 Comments

Saya lahir tahun 1953, di zaman serba susah, susah ekonomi, susah ilmu.  Bapak saya asli Buton (Bau-bau), Ibu Jawa. Dalam hal berkeyakinan, ibu saya selalu bilang,  semua agama itu baik, yang penting dilakoni. Entah kenapa, dari kecil saya dan adik sudah dibaptis Kristen. Ibadah ke gereja pun saya lakoni.
Saya menuntut ilmu di sekolah umum, SD Bubutan, dan saya lebih suka pelajaran agama Islam. Pelan tapi pasti saya pun meninggalkan gereja. Dari sekolah pula saya belajar sholat. Di tengah jalan, keluarga kami broken-home,  Bapak ketahuan menikah 3 kali, ibu saya istri keduanya, tak terima, mereka pisah, dan saya diasuh orang lain, keturunan Malaysia-Inggris. Agama orang tua asuh saya ini Islam, tapi ya Islam KTP, tak pernah sholat. Maka saya hanya mengandalkan pelajaran agama di sekolah yang juga saya peroleh ketika sekolah di SMPN 2 dan SMAN 3 Gentengkali Surabaya.
Sejak SMP, semua yang di rumah baru saya yang sholat. Rukuh pun saya beli dari hasil menabung sejak kelas 1. Sholat demi sholat saya lakukan, dan hati terasa nyaman. Saya membatin, lebih enak ke masjid dari pada ke gereja.
Meski begitu, terus terang, keIslaman saya waktu itu jauh dari pemahaman yang sempurna. Apalagi seusai sekolah bidan, saya kerja di lingkungan non-Islam. Kadang doktrin ibu bahwa semua agama itu baik asal dilakoni sering teringat.
Saya juga tak menolak ketika mendapatkan suami Katolik. Sebelum menikah ia minta saya pindah agama, tapi saya berkomitmen, bersedia menikah asal tetap Islam, jangan dipaksa pindah. Kami pun menikah 1978 di Catatan Sipil, resepsi di gereja tapi saya tak ikut sakramen pernikahannya. Pastur bilang, kami berdua harus bersedia mendidik anak-anak kami kelak secara Katolik. Saya pun diam saja, sebab sekali lagi saya ingat doktrin ibu tadi.
Karena sering dirayu, saya yang sangat awam dalam ber-Islam, akhirnya coba-coba ikut suami ke gereja. Sholat dan puasa pun saya tinggalkan. Ketiga anak kami yang lahir tahun 1981, 1982 dan 1985 juga dibaptis. Semua itu saya lakukan demi anak. Dalam hati kecil sebenarnya ada ganjalan bila ke gereja, saya tak yakin trinitas, di sana pun saya sering membaca Al Fatihah dan surat-surat pendek, Meski tidak secara resmi pindah Katolik, selama 8 tahun itu saya seperti benar-benar meninggalkan Islam.
Lama-lama rasanya saya malah bingung sendiri. Bila saya susah ada masalah, doanya pakai apa ya. Seperti kehilangan pegangan hidup, tiba-tiba saya merasa mantap untuk kembali menjalankan ibadah Islam. Mulai 1988, saya niati dan mantapkan diri memeluk Islam tak sekedar asal-asalan lagi.
Sendirian saya belajar tentang Islam, dan waktu itu guru saya yang utama adalah para ustadz yang ada di TV-TV setiap dini dan pagi hari. Majelis taklim di kampung saya ikuti. Sholat pun saya jalani lebih tekun. Bila lupa sholat rasanya ada yang kurang di hati. Saya pun, alhamdulillah, sejak saat itu diberi kesempatan rutin tahajud. Dari keseriusan itu saya jadi paham, menikah beda agama itu sama dengan zina. Tapi ya apa boleh buat, keadaan sudah seperti ini. Saya hanya bisa bertobat.
Rupanya kebiasaan saya sehari-hari dilihat juga oleh anak-anak. Merekapun sering bertanya tentang agama yang benar, saya katakan Islam adalah agama yang haq. Saya coba pahamkan itu, tanpa paksaan. Anak bungsu saya agaknya yang mendapat hidayah duluan. Setiap pelajaran agama Katolik di sekolah ia melarikan diri. Setiap diajak ayahnya ke gereja, ada-ada saja alasannya. Bahkan sering ia sembunyi di bawah kolong tempat tidur selama 1 jam, hanya untuk menghindari ajakan ayahnya itu. Selama 4 tahun itu dilakukannya.
Pertama kali ayahnya tahu si bungsu masuk Islam, ia tak bisa ngomong apa-apa, seperti terhipnotis, mulutnya terkunci, padahal biasanya ayahnyalah yang ngobrak-ngobrak ke gereja. Tak lama kemudian 2 anak saya yang lain menyusul si bungsu, masuk Islam. Waktu itulah saya benar-benar ingin menangis sebagai wujud syukur pada Alloh, selama 14 tahun saya tahajud. Saya selalu berdoa  memohon agar anak-anak yang saya lahirkan ini diberi hidayah seiman dengan saya, akhirnya dikabulkan juga. Terus terang selama waktu itu, saya benar-benar nelongso bila melihat anak-anak saya ke gereja.
Begitu mereka Islam, saya merasa semua kesusahan yang saya hadapi tak ada artinya. Semuanya kecil, yang penting mereka sudah Islam. Hati ini rasanya tenteram sekali, plong rasanya, bukankah anak itu amanah, dan bagaimana nasibnya bila ia masih di luar agama saya, saya dosa.
Tahu kesemua anaknya masuk Islam, suami saya sangat kecewa, dan ia pun selama 2 tahun keluar rumah, melepas tanggung jawab selaku kepala keluarga. Padahal waktu itu adalah pas anak-anak butuh biaya banyak untuk sekolah dan kuliah. Bersyukur ada-ada saja  jalan yang Alloh berikan, saya bisa menyekolahkan anak saya sendiri. Karena kondisinya yang memprihatinkan, anak-anak minta ayahnya kembali berkumpul.
Namun ia tetap Katolik. Pas sendirian, bila ingat suami, saya sering menangis, bila ia meninggal nanti gimana ya, saya mau berdoa cara apa, gimana menguburkannya. Kalau misalnya teman-temannya yang Katolik mendoakan ke sini, jelas saya tak mengizinkan. Kepada anak-anak saya pun, saya senantiasa mengingatkan untuk tidak lupa memohon pada Alloh agar membukakan dan memberi hidayah pada ayahnya.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.

3 Comments »

  • supri said:

    saya salut dengan ketegaran ibu
    apapun kalau kita bersungguh sungguh alloh pasti bukakan jalan.
    insya alloh ,semoga alloh memberi hidayah

  • aris said:

    mudah-mudahan istiqoma ya Bu…
    kadan saya yang islam saj juga berpikir baik untuk diri sendiri dan orang tua terutama tentang mati dalam keadaan beriman..

  • riyan said:

    subehanaallah.. cuman yang ingin saya tanyakan, setelah suami kembali apakah masi berhubungan dgn suami??