Bumi Yang Terbelah
Beberapa waktu yang lalu di berbagai bagian bumi Indonesia mengalami goncangan yang berupa gempa bumi sehingga menimbulkan banyak korban baik harta maupun nyawa. Bahkan tsunami di Aceh yang memakan korban ratusan ribu nyawa juga salah satu imbas dari gempa bumi. Ada yang mengatakan kejadian ini disebabkan oleh berkuasanya pemimpin tertentu, sehingga pemimpin tersebut harus diruwat untuk menolok bencana yang akan datang. Bahkan di sebuah daerah di sisi selatan pulau jawa berkembang kabar kalau gempa yang melanda wilayahnya disebaban karena raja yang berkuasa sudah tidak sakti lagi. Naudzubillah min dzalik. Ya Alloh lindungilah kami dari dosa-dosa syirik..
Jika dilihat dari sisi ilmu geologis, memang Indonesia rawan terjadi gempa bumi karena wilayah kita ini terletak pada beberapa lempeng bumi yang saling bersinggungan dan bertabrakan sehingga menimbulkan goncangan yang lebih lazim disebut gempa bumi.
Dalam QS. Ath Thariq : 12 Alloh berfirman : “Demi Bumi yang terbelah.” Ilmu geologi modern menyoroti rahasia di balik sumpah Alloh pada ayat di atas. Kata ardh (bumi) dalam Al Qur’an pada umumnya menunjuk tiga makna.
Pertama, kata ardh (bumi) menunjuk pada makna planet bumi secara keseluruhan, seperti pada firmanNya, “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan Alloh) bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Adz-Dzariyat:20).
Kedua, kata ardh (bumi) menunjuk pada lapisan batu kulit bumi tempat kita tinggal seperti pada firman-Nya,”Dan bumi Kami hamparkan, maka Kamilah sebaik-baik yang menghamparkan.”
Ketiga, kata ardh (bumi) menunjuk pada karakteristik dan spesifikasi bumi yang perlu mendapat renungan dan pemikiran karena memiliki nilai yang sangat penting dalam kehidupan manusia sebagai salah satu bukti kekuasaan Alloh, seperti pada firmanNya,”Demi bumi yang terbelah.” (QS. Ath Thariq:12)
Kalangan mufasir berpendapat bahwa ayat di atas menggambarkan sifat dan ciri kulit bumi yang darinya banyak terjadi perubahan pada permukaannya. Artinya, kulit bumi mempunyai kemungkinan untuk terbelah. Alloh bersumpah dengan sifat dan ciri bumi ini untuk menjelaskan pentingnya sifat itu dan menganjurkan kita supaya mengetahui hikmahnya.
Dahulu orang memahami gambaran tentang bumi yang “mempunyai belahan” ini berarti bahwa bumi terbelah setelah disiram oleh air hujan, kemudian mengeluarkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Selain itu bumi juga mempunyai belahan yang membantu menciptakan jalan keluar bagi air, mineral, gas bumi dan minyak mentah ke permukaannya. Belahan yang terdapat di permukaan bumi itu juga merupakan sarana sebagai ventilasi udara bagi tanah guna memperbaharui kesuburannya.
Ilmu pengetahuan modern terus melakukan upaya penemuan tanda-tanda kekuasaan Alloh di jagat raya. Di akhir 1960-an para ahli menemukan bahwa ternyata lapisan batu kulit bumi terbelah oleh jaringan belahan yang panjang dan lebarnya mencapai ribuan kilometer serta terbagi menjadi 12 belahan besar dan beberapa belahan kecil. Belahan tersebut banyak tersebar di dasar laut, samudera dan juga di daratan dengan kedalaman belahan dapat mencapai 100 km (sama dengan rata-rata ketebalan lapisan batu bumi).
Dengan pengamatan lebih rinci terbukti bahwa kumpulan batu besar yang dewasa ini dikenal dengan “lempeng lapisan batu” yang mengambang di atas zona batu-batu semi larut ini disebut “zona kelemahan bumi”. Zatnya mempunyai kepadatan yang lebih tinggi daripada lapisan di atasnya.
Menurut teori lempeng, lapisan terluar bumi kita terbuat dari suatu lempengan tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak relatif terhadap yang lain. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori Lempeng Tektonik ini hingga kini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, meletusnya gunung berapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra.
Berdasarkan arah pergerakannya, perbatasan antara lempeng tektonik yang satu dengan lainnya terbagi dalam 3 jenis dan ada jenis lain yang cukup kompleks namun jarang terjadi, yaitu pertemuan dimana tiga lempeng kerak bertemu. Batas-batas antar tiga lempeng tersebut antara lain :
1. Batas Divergen
Terjadi pada dua lempeng yang bergerak saling memberai (break apart). Ketika sebuah lempeng tektonik pecah, lapisan litosfer menipis dan terbelah, membentuk batas divergen. Jika terjadi di samudera, proses ini menyebabkan pemekaran dasar laut (seafloor spreading). Sedangkan jika di daratan, proses ini menyebabkan terbentuknya lembah retakan (rift valley) akibat adanya celah antara kedua lempeng yang saling menjauh tersebut.
2. Batas Konvergen
Terjadi apabila dua lempeng tertelan ke arah bumi, yang mengakibatkan keduanya bergerak saling menumpu satu sama lain.
Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng benua atau lempeng samudra lain disebut dengan zona tunjaman (subduction zones). Di zona tunjaman inilah sering terjadi gempa. Pematang gunung-api (volcanic ridges) dan parit samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini.
3. Batas Transform
Terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak saling menggelangsar (slide each other), yaitu bergerak sejajar namun berlawanan arah. Keduanya tidak saling memberai maupun saling menumpu. Batas transform ini juga dikenal sebagai sesar ubahan-bentuk (transform fault).
Sifat lapisan-lapisan ini sangat lentur dan mudah terpeleset akibat perputaran bumi pada porosnya. Permukaan bumi dalam keadaan ini ibarat hamparan kasur dan tempat tidur yang telah disediakan oleh Alloh.
Alloh berfirman:”Dan bumi Kami hamparkan maka Kamilah sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz Dzariyat:48).
Penelitian para ahli juga membuktikan pusat guncangan, gempa dan didihan vulkanis (lava) banyak terdapat di sekitar belahan “lempengan lapisan batu” ini. Tempat terjadinya pertemuan antara lempengan itu sepanjang tepiannya atau sebaliknya. Ia saling menjauh atau bergerak mendekat, secara berdampingan atau tanpa saling mendekat atau saling menjauh. Belahan bumi ini juga berfungsi memperkaya kulit batu dengan bermacam-macam unsur dan komponen dalam bentuk tambang yang terdorong dari sumber vulkan yang naik ke permukaan melalui belahan-belahan bumi.
Maha suci Alloh yang menciptakan bumi yang memiliki belahan dan menjadikan belahan itu sebagai komponen utama demi keberlangsungan hidup di permukaan bumi.



Komentar Saudara !