Belajar Meyakini Janji Alloh
Kalau saja setiap orang Islam ditanya, ”Apakah mereka meyakini akan kebenaran janji Alloh tentang hal-hal berikut? Bahwa setiap perbuatan baik akan berbuah catatan pahala. Bahwa setiap perbuatan mungkar akan berbuah catatan dosa. Bahwa pahala dan dosa akan berbalas selama di dunia dan akhirat. Bahwa perbuatan apapun kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Bahwa balasan akhir dari perbuatan manusia adalah surga atau neraka.” Setiap pribadi muslim pasti akan menjawab ”Ya, saya yakin.”
Namun konsistenkah jawaban itu? Disinilah persoalannya. Rasanya kalau mau jujur, jauh panggang dari api. Amat senjang jarak antara ucapan dan kenyataan. Kalau mau jujur ummat akhir jaman ini memang harus berendah hati untuk mengatakan, ”Saya harus terus belajar untuk meyakini janji Alloh.” Hingga suatu saat sampai pada kondisi dimana antara ucapan dan perbuatan telah satu kata. Ucapan mengejawantah dalam perbuatan. Hingga suatu saat warna keislaman diri benar-benar putih bersih. Bukan Islam abu-abu apalagi Islam kehitam-hitaman. Fenomena ketidak konsistenan ummat ini mudah ditemui di semua aspek kehidupan. Lihat kemungkaran di ranah ekonomi. Pelakunya mulai dari pemain ekonomi kelas semut hingga kelas gajah.
Cobalah masuk ke pasar tradisional. Lihatlah ketidak jujuran dalam penggunaan timbangan. Pon timbangan tidak pernah diangkat karena timbangan yang digunakan tidak setimbang. Membayangkan soal timbangan ini, rasanya bulu kuduk berdiri. Setiap hari selama bertahun-tahun mereka, para pedagang menumpuk-numpuk catatan dosanya kepada banyak orang. Bagaimana kelak mereka akan mempertanggung jawabkan di hari pembalasan? Andaipun mereka tergolong orang-orang yang amal kebaikannya banyak sekalipun, tidak ada jaminan bahwa mereka akan selamat di akhirat kelak. Mereka terancam menjadi orang-orang yang bangkrut karena pahala kebaikannya akan digunakan untuk menebus dosa-dosanya kepada para pembeli yang dulu pernah dicurangi timbangannya. “Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, ….Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS : Al A’ Raaf (7) : 85).
Perhatikan apa yang dilakukan dengan tukang parkir di pinggir-pinggir jalan. Betapa banyak diantara mereka yang tidak jujur dalam urusan karcis. Karcis yang sama bisa digunakan berulang-ulang. Demikian juga petugas negara yang menjadi pengatur lalu-lintas. Sudah sangat mafhum bahwa tidak sedikit oknum yang mendapatkan penghasilan dengan cara yang tidak semestinya.
Perhatikan iklan di televisi. Betapa banyak iklan yang berlebihan dan menjurus pada penipuan. Produk-produk makanan sampah (sumber penyakit) divisualkan sedemikian rupa sehingga citranya berkelas. Padahal semua orang tahu bahwa produk itu menjadi sumber penyakit bagi anak-anak. Tapi para pengusaha itu tidak peduli. Jangan bicara soal tanggung jawab moral kepada mereka. Apalagi soal tanggung jawab di negeri akhirat. Yang ada dalam pikiran orang-orang ini hanyalah uang dan uang.
Perhatikan perilaku korupsi. Korupsi merajalela dimana-mana. Sampai-sampai ada yang berkata bahwa korupsi sudah menjadi budaya. Aneka macam bentuknya. Mulai dari yang bernama uang tip, uang suap, komisi, mark up harga hingga yang paling canggih. Para koruptor itu membutakan mata hati. Menutup mata dan telinga bahwa perbuatan mereka itu jauh menerjang larangan-Nya. Mereka dengan entengnya melakukannya, kemudian membawa pulang hasilnya untuk disuapkan kepada keluarga. Mereka tidak menyadari bahwa siang dan malam sepanjang hidup terus memasukkan bara api kedalam perut diri dan keluarganya. Para koruptor itu pantas diberi gelar sang raja tega yang sebenar-benarnya. Bagaimana tidak, mereka tega memasukkan bara api kedalam perut keluarga dan darah dagingnya sendiri yang mereka cintai.
Mereka semua, mulai pedagang kecil di pasar tradisional, tukang parkir, petugas negara di jalan raya, pengiklan produk di televisi dan para koruptor adalah sebagian contoh orang yang mesti terus belajar untuk meyakini kebenaran janji Alloh. Bahwa Alloh akan membalas kemungkaran yang mereka lakukan. Balasannya selama mereka di muka bumi dan terlebih lagi di akhirat nanti.
Jika perilaku umat dalam bidang ekonomi banyak yang carut marut, maka jangan tanya perilaku di bidang politik. Ummat islam yang terjun di bidang ini seperti tidak ada bedanya dengan mereka-mereka yang tidak beriman. Obral janji sana-sini siang dan malam. Janji bagi mereka ini laksana buang ludah saja. Keluar ya keluar. Tidak usah dipikirkan. Lihat saja kampanye pilpres barusan. Bantuan langsung Tunai (BLT) dijadikan bahan kampanye siang dan malam. Menebar angin surga bagi orang-orang miskin. Ketika kemenangan sudah di tangan, eh tahu-tahu BLT sudah dihapus dari RAPBN tahun 2010. Padahal malaikat ada di kanan dan kiri siapapun mencatat setiap kata bahkan huruf yang keluar dari lisan siapapun,”Dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.“ (QS : Qof (50) : 17).
Ummat Islam yang terjun ke dunia politik praktis di level apapun, yang orientasinya semata-mata kekuasaan dan kekayaan termasuk yang perlu terus menerus belajar meyakini janji Alloh. Mereka harus meyakini bahwa kelak di hari kiamat mulut mereka terkunci. Tangan dan kaki mereka yang akan bersaksi bahwa mereka pernah obral janji lalu tidak dipenuhi. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS : Yaasiin (36) : 65). Kelak di hari akhir jutaan rakyat itu pasti akan menagih janji di hadapan-Nya! Miris rasanya membayangkannya.
Lalu lihat bagaimana tentang persaudaaan Islam. Ini penegasan Alloh tentang hubungan orang-orang yang beriman. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS : Al Hujurat (49) : 10). Namun fakta apa yang kita lihat? Sehatkah persaudaraan ummat ini? Justru ironi yang sering kita saksikan. Persaudaraan Islam sering dikalahkan oleh hal-hal keduniaan. Tidak sedikit dari ummat ini bersedia saling berbeda secara tidak sehat. Bahkan siap saling bertentangan dengan saudaranya yang lain. Persaudaraan Islam dicampakkan demi bendera yang bernama partai, organisasi profesi, kelompok, aliran, kesukuan dan lainnya. Bahkan ironi yang paling menyedihkan adalah fanatisme orgnisasi keagamaan mengalahkan persaudaraan Islam. Mereka ini sesungguhnya harus belajar lebih meyakini janji Alloh.
Lihat bagaimana fenomena tentang zakat. Berdasarkan penelitian PIRAC (2005), potensi zakat di Indonesia mencapai 9 triliun. Tapi yang terbayar hanya pada kisaran 20% saja. Apa maknanya ini? Orang-orang Islam yang berkecukupan secara ekonomi tidak peduli kepada saudara-saudaranya yang fakir dan miskin. Orang-orang yang berkecukupan dengan entengnya mengabaikan perintah berzakat dari-Nya. Mereka menganggap angin lalu saja pemberitahuan dari-Nya bahwa dalam harta yang mereka kuasai ada hak fakir miskin yang Alloh titipkan kepada mereka. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.“ (QS : Adz Dzaariyaat (51) : 19).
Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang mendzalimi orang yang lemah. Mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah orang yang hina. Bagaimana tidak, ditengah kecukupan ekonomi mereka tega memakan hak-hak mutlak orang miskin yang jumlahnya tidak seberapa. Hanya 2,5%. Sedang mereka sudah diberi olehNya 97,5%. Mereka telah dibutakan hati dan mata kepalanya oleh gelimangan materi. Mereka lupa hidup ini sebentar. Dalam waktu yang sudah ditentukan kematian pasti akan datang. Kelak orang miskin yang terzdalimi itu akan menagih dan meminta keadilan dihadapan-Nya. Orang-orang miskin itu kelak akan menjadi sumber penyesalan bagi orang-orang yang tidak membayar zakat.
Untuk menyempurnakan kehidupan dunia, manusia mengusahakan sedemikian rupa. Gegap gempita siang malam, bersedia mengerahkan segenap potensi dirinya, bersabar mengejar bertahun-tahun. Menuntut ilmu, meniti karir, membangun usaha untuk suatu saat meraih impian hidup berkecukupan secara materi, terhormat secara pergaulan.
Sementara untuk menyempurnakan kehidupan di akhirat hanya ala kadarnya saja. Lihat faktanya dalam urusan membangun keluarga. Semua orang yang membangun keluarga berharap bisa mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rohmah.
Pertanyaannya apa ketika akan memasuki kehidupan berkeluarga setiap muslim benar-benar belajar terlebih dahulu tentang bagaimana cara membangun keluarga sakinah? Rasanya secara umum membangun keluarga seperti tradisi dan kemestian saja. Berkeluarga ya berkeluarga sebagaimana orang kebanyakan berkeluarga. Tidak perlu membekali khusus dengan ilmu tentang bagaimana menyiapkan fondasi keluarga sakinah.
Lihat lebih jauh pada keluarga-keluarga muslim. Rasanya tidak sedikit diantara anggota keluarga, entah ayah, ibu atau anak-anak yang tidak bisa membaca Al Qur’an. Menjadi sebuah ironi orang mengaku Islam sekedar membaca Al Qur’an saja tidak bisa.
Bahwa banyak orang Islam tidak bisa membaca Al Qur’an merupakan akibat logis dari kurangnya perhatian terhadap pengetahuan agama. Orang sedemikian sangat semangat mempelajari dan membekali diri dengan ilmu dunia namun kurang bergairah membekali diri dengan ilmu untuk bekal perjalanan ke negeri akhirat.
Lihat saja fenomena jam keberangkatan sekolah di pagi hari. Hiruk pikuk memacetkan jalan raya di mana-mana. Tetapi lihat sore hari saat dimana pengajian di masjid-masjid di mulai. Tidak ada geliat mencolok dari orang-orang untuk menyambutnya. Hanya ada sedikit anak-anak yang berangkat belajar mengaji ke TPQ di masjid-masjid dan musholla. Maka anak-anak yang mayoritas yang tidak berangkat mengaji pada masanya pasti tidak bisa membaca Al Qur’an.
Kalau mau dideretkan akan banyak kita temui berbagai fenomena yang mengharuskan siapapun untuk terus belajar meyakini kebenaran janji Alloh. Satu hal yang sudah pasti, barang siapa tidak konsisten meyakini kebenaran janji Alloh, maka sulit berharap bisa menuai kebaikan hakiki selama di muka bumi dan terlebih di negeri akhirat nanti.
Satu pertanyaan yang mesti kita jawab untuk diri masing-masing. Apakah diri kita termasuk orang-orang yang benar-benar meyakini janji Alloh? Atau termasuk orang-orang yang memang harus terus belajar untuk meyakini kebenaran janji Alloh. Hanya diri masing-masing yang tahu jawabannya. Wallohu a’lam bisshowab.



Komentar Saudara !