Janji Alloh dan Janji Setan
Suatu ketika Abu Bakar menyaksikan 7 orang budak yang disiksa oleh majikannya. Akhirnya diketahui, 7 orang hamba itu disiksa ternyata lantaran mereka beriman kepada Alloh. Melihat itu Abu Bakar merasa kasihan dan ingin membela. Maka, dibelilah 7 orang budak itu dengan harta yang dimilikinya.
Ibnu Hatim meriwayatkan, setelah kejadian pembebasan budak oleh Abu Bakar itu, maka turunlah firman Allah, ”Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail : 17-21)
Abu Bakar beramal karena yakin terhadap janji Alloh. Turunnya ayat tersebut, tak pelak membuat beliau semakin yakin akan janji-Nya.
Ayat itu menjadi janji Allah kepada Abu Bakar. Namun sejatinya, janji tersebut hakikatnya bukan hanya untuk Abu Bakar, melainkan juga untuk orang-orang sesudahnya yang mau dan berusaha mengikuti jejak kedermawanan Abu Bakar.
Menjadi orang-orang yang yakin terhadap janji Allah seperti Abu Bakar tentu butuh perjuangan. Sebab, balasan yang dijanjikan tak nampak jelas dihadapan. Tapi justru disinilah letak ujian itu. Yang memberi janji tidak tampak mata, dan yang dijanjikan juga tak nampak mata. Karena itulah Allah ta’ala memfirmankannya, agar tak ada yang ragu sesudahnya, ”Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk : 12)
Tapi bukan berarti kemudian tak ada manusia yang tak yakin pada janji Allah. Justru mereka yang tak yakin akan janji Allah, adalah manusia kebanyakan. Sebagaimana yang Alloh sinyalir dalam firman-Nya, ”Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).” (QS. Yunus : 10)
Agar sampai pada keyakinan kuat terhadap janji Allah memang butuh perjuangan. Dalam perjalanan, disadari atau tidak, sering manusia menelikung karena tergoda oleh iming-iming kemegahan dunia. Seolah-olah membanding-bandingkan janji Allah dengan keuntungan haram di dunia dengan berkata, ”buat apa mengharap yang tak nampak dan masih jauh disana, mending yang tampak dan sudah di depan mata di sikat saja”. Kepandaian setan dalam menipu juga membuat kita benar-benar terpedaya. Ragu pada janji Allah. Padahal Allah telah mengingatkan, ”Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Faathir : 5).
Manusia Terombang Ambing Diantara Dua Janji
Ketahuilah, sesungguhnya manusia selalu berada dalam dua pengharapan janji. Yaitu pengharapan pada janji Allah dan pengharapan pada janji Setan. Dua pengharapan janji itu tidak akan terjadi dalam waktu bersamaan. Orang yang mengharapkan janji Allah, tentu dia tidak percaya kepada janji setan. Sebaliknya orang yang mengikuti janji setan, maka pasti dia tidak beriman pada janji Allah. Manusia selalu diombang-ambingkan oleh dua pengharapan itu. Satu saat pengharapan janji Allah yang menang. Suatu saat pengharapan janji Allah dikalahkan. Lebih mengikuti janji-janji setan.
Apa saja janji setan?, ya, janji setan itu kebalikan dari janji Allah. Kalau Allah menjanjikan balasan Neraka kepada ahli maksiat, maka setan menjanjikan tidak akan ada balasan apa-apa atas perbuatan maksiat. Atau menjanjikan ampunan dengan cukup mengucap ”astaghfirullah” saja. Sekaligus dia mengiming-iming kenikmatan dunia apabila manusia melakukan perbuatan haram.
Sebaliknya, kalau Allah menjanjikan balasan Surga kepada mereka yang beriman dan beramal Shalih, maka setan meyakinkan dengan ketiadagunaannya. Justru setan membujuk, bahwa amal shalih adalah perbuatan yang melelahkan dan kadang berujung pada kehidupan yang menyakitkan.
Maka alangkah beruntungnya orang-orang yang yakin terhadap janji Allah. Pada saat Allah telah menunjukkan kebenaran janji-Nya, Alloh menantang orang-orang yang meragukan janji-Nya itu. Sekarang kalian lihat, siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ? .”Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ? (QS. An-Nisaa : 22)
Lantas, bagaimana nasib orang-orang yang di dunia dia terlena dan terpesona dengan janji Setan. Nahas bagi mereka. Kelak di akhirat, ketika mereka meminta pertanggungjawaban pada setan, justru setan enggan dianggap sebagai biang kesalahan. Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 22 dijelaskan, Kelak setan akan berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.
”Rasain tuh Neraka..salahmu sendiri, enak aja nyalahin aku..”, begitu kira-kira kata-kata menyakitkan dari setan. Menjadi pengantar sebelum siksa lain yang lebih menyakitkan.
Alloh berjanji membalas Dunia Akhirat
Janji Allah kepada orang-orang beriman dan beramal Shalih tidak hanya untuk kebahagian hidup di akhirat. Dalam Surat Yunus 64, Allah menegaskan bahwa janji balasan yang diberikan meliputi kehidupan dunia dan akhirat, ”Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus : 64).
Dalam tafsirnya, ibnu Katsir menjelaskan perihal tentang balasan dunia melalui sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Dzar, bahwa sesungguhnya dia berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimanakah tentang sesorang yang mengerjakan suatu amal lalu orang memuji dan menyanjungnya?” maka Rasulullah bersabda, ”itulah berita gembira orang mukmin yang disegerakan” (HR. Muslim).
Nama baik, kehormatan dan kemuliaan, adalah sebuah balasan dunia bagi mereka yang berbuat kebaikan. Itu janji Allah. Hal lain yang menjadi janji Allah terhadap orang-orang beriman di dunia adalah, berupa peneguhan hati agar tidak mengalami ketakutan dan kesedihan. Sebagaimana firman-Nya, ” Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Al-Fusshilat : 30).
Siapa yang tak menginginkan janji itu. Siapa yang tak menginginkan janji penjagaan malaikat itu. Disaat kehidupan dunia yang makin tak menentu ini, bukankah janji ”peneguhan hati” itu menjadi sesuatu yang sangat-sangat diinginkan. Seandainya berlimpah harta, kita akan sangat bersedia menukarkan gunung sebesar emas sekalipun demi sebuah ”ketentraman jiwa”. Mengingat bukankah karunia ”ketentraman jiwa” itu makin hari semakin langka saja.
Demikianlah Allah menunjukkan sifat welas asih-Nya. Agar tak ada manusia yang mengatakan, Alloh hanya menjanjikan kebahagiaan akhirat, dan tidak memberi janji kebahagiaan di dunia. Maha suci Allah dari prasangka tersebut. Wallahu ‘Alam Bisshowab..



Komentar Saudara !