BALIK AGAMA = Menukar Nyawa
Menimba ilmu di sekolah yang berdekatan dengan masjid, rupanya merupakan jalan hidayah Alloh bagi saya. Bapak saya asli Kupang, ibu Jakarta, dan saya dibesarkan di Surabaya. Bersama 4 saudara saya lainnya, tentu kami dibesarkan dalam lingkungan Katolik, agama asal orang tua saya. Ke gereja pun rutin kami lakukan bersama-sama.
Namun sejak kelas 2 SD entah kenapa saya mulai ogah-ogahan ke gereja. Penyebabnya adalah setiap siang hari pulang sekolah di SD Baratajaya ketika itu, perhatian saya tertuju pada suara adzan yang dikumandangkan dari masjid di belakang sekolah saya. Rasanya benar-benar aneh, terasa menyentuh dalam hati dan menjadikan perasaan tenang. Makin hari kumandang adzan itu makin saya gemari dan saya tunggu-tunggu setiap pulang sekolah. Saya pun berusaha untuk mengintip masjid dan ingin tahu siapa yang mengumandangkannya.
Adzan ini, dalam perasaan saya waktu itu, sungguh beda dengan ketika saya di gereja. Berdoa di sana serasa tidak ada apa-apanya, hampa. Maka sejak itu saya tak lagi mau diajak ke gereja. Yang saya lakukan malah sering ke masjid untuk mencari tahu bagaimana cara orang adzan, sholat, dan mengaji. Lihat orang sholat itu kok enak ya, lalu saya ikut-ikutan sholat. Bisa jadi ini merupakan pilihan hidup saya yang baru, dan saya merasa sudah makin mantap ber-Islam. Ini saya lakukan hingga lulus SD.
Pas menginjak SMP prahara itu pun dimulai. Tahu gelagat saya yang aneh, bapak ibu saya marah besar, juga kakak-kakak saya. Namun saya sudah tak ragu akan agama saya yang baru itu, saya tak mau menoleh ke belakang lagi. Kebetulan waktu itu bapak mau pindah tugas ke Jakarta, rumahnya pun dijual. Bagi saya ini adalah kesempatan terbaik saya untuk minggat dari rumah. Kenapa? Karena situasinya sudah tidak mungkin dikompromikan, setiap hari saya dimarahi terus soal agama itu. “Siapa yang mempengaruhi kamu?” begitu terus hardikan seperti itu saya terima.
Rupanya kakak-kakak saya diberi amanah bapak ibu yang sudah di Jakarta untuk mencari saya yang waktu itu menginap di rumah teman di Bratang. Sebulan kemudian ketemu, saya dipaksa pulang. Sampai di rumah, pintu ditutup rapat-rapat, saya dihajar habis-habisan. Selama sejam di kamar saya disiksa, dipukul, ditendang, ditampar hingga pingsan.
Bulan depannya saya bertemu dengan bapak ibu dan kembali saya dimarahi. “Apa kamu lupa sama Yesus, Bunda Maria, anak apa kamu ini?” begitu hardik mereka. Saya katakan pada mereka, ini adalah keyakinan saya sendiri dan tak bisa digoyahkan, kalau bapak ibu mau ikut saya, silahkan. Tentu saja mereka tambah marah.
Tak kuat dengan situasi seperti itu, begitu ada kesempatan saya minggat lagi. Lewat belakang rumah saya panggil taksi dengan membawa pakaian seadanya. Sopir taksi itu aneh melihat gelagat saya, namun begitu saya cerita, ia malah mendukung saya. Ia juga cerita akan kebenaran Islam, dan dalam hati saya bersyukur karena ia makin memantapkan langkah saya lari dari rumah itu. Saya sudah mantap dengan niat saya, dan saya pasrahkan diri ini pada Alloh dan saya yakin Alloh akan senantiasa melindungi dan menjaga saya. Sebab terus terang sebenarnya saya waktu itu juga bingung harus kemana.
Alhamdulillah, Alloh menuntun langkah kaki saya ke Rungkut, ke sebuah yayasan yang ternyata mau menerima saya. Kebetulan yayasan itu punya lembaga pendidikan, dan saya pun diperkenankan sekolah sambil membantu pak bon bersih-bersih di sana. Jadi paginya sekolah, siang sorenya bersih-bersih. Di sana pulalah saya mengucapkan ikrar syahadat dibantu seorang guru ngaji. Rupanya ini jalan Alloh, dan di sana saya juga bisa belajar Iqro’ dan ilmu-ilmu Islam lainnya.
Lulus SMP kembali saya berdoa agar diberikan Alloh kemudahan meneruskan sekolah. Dengan uang tabungan selama di Rungkut itu saya mencoba mendaftar ke SMK Prapanca. Menghadap kepala sekolahnya, Alhamdulillah diberi keringanan biaya, hanya membayar buku. Namun di mana saya akan tinggal? Lagi-lagi Alloh memudahkan saya hingga bisa tinggal di sebuah panti asuhan di Rungkut.
Di sana saya lebih bisa belajar banyak tentang Islam. Termasuk bahwa di Islam itu, ada ajaran untuk saling membantu sesama lewat zakat infaq sedekah, sesuatu yang tak pernah ada di agama saya sebelumnya. Lulus SMK tahun 2007 lalu, bersyukur saya bahkan ditawari menjadi penjaga sekaligus satpam di sekolah tersebut hingga sekarang.
Sejak minggat itu pula saya sudah jarang bertemu saudara-saudara saya. Saya pikir tak ada gunanya. Kalau pun bertemu, paling-paling saya dirayu kembali ke Katolik lagi. Bagi saya itu sama dengan menceburkan diri ke neraka, sama dengan menjual nyawa. Saya pernah melihat sendiri orang Islam yang masuk Katolik karena alasan ekonomi namun kemudian meninggal dalam keadaan musyrik. Naudzubillah…, saya tak ingin seperti itu.
Dengan bapak ibu, sejak minggat saya tak pernah ketemu lagi. Lewat telepon belakangan beliau mengajak saya ke Jakarta, namun saya enggan. Sebab kalau sudah di sana, pasti makanan yang disajikan yang haram-haram, babi misalnya. Dari pada dibilang, masak ke sini nggak mau makan, lebih baik saya tak ke sana. Saya merasa Islam itu agama yang haq, maka saya tak ingin separuh-separuh menerapkan ajarannya. (*)



Komentar Saudara !