Demi Masa dalam Kehidupan Akhirat Kita
Jika Alloh bersumpah atas sesuatu dalam al Qur’an, maka obyek sumpah itu mengandung suatu perkara yang teramat sangat besar utuk ditafakkuri oleh manusia. Tafakkur yang akan menyampaikan manusia pada kesempurnaan iman dan penghambaan kepada-Nya.
Seperti sumpah Alloh dengan obyek bintang. Alloh berfirman “Demi bintang ketika terbenam. ” (QS: An Najm (53) 62). Dulu 15 abad yang lalu ketika firman ini diturunkan kepada Rosululloh SAW, manusia di jaman itu mungkin bertanya-tanya,” Mengapa Alloh menempatkan bintang sebagai obyek sumpah-Nya?” Manusia di jaman itu belum bisa memahami sumpah Alloh itu karena tidak didukung kemajuan ilmu dan teknologi. Tapi di jaman ini, di jaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, barulah manusia menjadi tahu sebagian dari rahasia besar sumpah Alloh “ Demi bintang.” Kita tahu salah satu bintang itu bernama matahari. Para astronom setelah menjelajah jagad raya dengan teropong bintang, mereka menemui fakta jagad raya yang seakan-akan tidak bertepi. Sampailah mereka pada pernyataan ini, ” Andai butiran-butiran seluruh pasir di muka bumi dihamburkan ke angkasa, maka jumlahnya tidak akan mampu menandingi banyaknya bintang-bintang di jagad raya.” Subahanalloh – Allohu Akbar. Betapa luasnya jagad semesta raya. Betapa Maha perkasa dan Maha kuasanya Alloh.
Sumpah demi bintang seharusnya membuat manusia menundukkan kepala, dengan hati penuh keimanan mengakui ke Mahabesaran Sang Kholik. Lalu manusia bertakwa dengan cara hidup berdasarkan bimbingan-Nya. Dengan cara itu manusia akan sempurna sebagai hamba yang menghamba kepada-Nya.
Untuk bahasan artikel kita kali ini kita ingin membaca sumpah Alloh tentang waktu. Alloh bersumpah dalam al Qur’an tentang obyek waktu dan perilaku manusia. Alloh berfirman,” Demi Masa. . Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS : Al Ashr (103) : 1-3).
Sumpah Alloh ini mengisyaratkan bahwa kebanyakan manusia gagal memanfaatkan arti penting waktu kehidupan yang disediakan oleh Alloh. Kebanyakan manusia menyia-nyiakan jatah waktu yang diberikan oleh Alloh. Bahkan tidak sedikit manusia yang mengisi waktu untuk berbuat maksiat di muka bumi-Nya.
Dalam perspektif kehidupan yang dihendaki-Nya, kebanyakan manusia gagal memahami arti penting waktu bagi kehidupan dan keselamatan dirinya. Manusia gagal memahami eksistensi dan misi kehidupan dirinya. Manusia gagal menjawab pertanyaan ini ,” Siapa dirinya dan untuk apa dirinya dihidupkan di muka bumi.”
Ketika manusia gagal memahami eksistensi dan misi kehidupan yang telah digaraiskan-Nya, maka waktu kehidupan dihambur-hamburkan sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan peruntukan yang ditetapkan-Nya. Manusia mengarungi waktu dengan banyak mengerjakan sesuatu yang sia-sia yang tidak bermakna dihadapan-Nya. Bahkan waktu digunakan untuk menumpuk dosa demi dosa yang menjauhkan manusia dari Ridho dan kasih Sayang-Nya. Mari kita lihat “Demi Masa” dalam praktek keseharian kehidupan dalam kontek menyiapkan keselamatan dan kesejahteraan di alam akhirat.
Bagaimana sikap kita atas panggilan sholat lima waktu? Lima kali dalam sehari Alloh memanggil kita melalui suara muadzin. Apakah kita senantiasa memenuhi panggilan-Nya dengan sebaik-baiknya? Bersegera menuju masjid? Bersegera sholat berjamaah tepat waktu? Ah, pasti hanya sedikit diantara ummat ini yang bisa menjawab dengan anggukan kepada. Mayoritas pasti menggelengkan kepala. Ya, mayoritas diantara ummat ini, termasuk kita, benar-benar merugi karena lalai dari menjaga sholat berjamaah lima waktu.
Kalkukasi sederhana sangat mudah melihat kerugian besar akibat tidak menjaga sholat berjamaah lima waktu. Dengan dasar hitung-hitungan sabda Nabi bahwa sholat berjamaah 27 derajad lebih mulia. Maka perolehan orang yang sholat berjamaah dalam 5 waktu adalah 135 derajad setiap hari. Sedang yang tidak berjamaah hanya dapat bagian 5 derajad. Celakanya kebanyakan diantara kita justru memilih dapat bagian 5 derajad kemuliaan dan bukan yang 135.
Itu sehari, lalu bagaimana kalau satu minggu, satu bulan, satu tahun dan bertahun-tahun. Lihat perbandingan satu tahun derajad kebaikan orang yang berjamaah dan tidak berjamaah. Orang yang istiqomah berjamaah memperoleh derajad kemuliaan 27 x 5 waktu x 365 hari = 49.275 derajad kemuliaan. Sedangkan orang yang tidak berjamaah 1 x 5 waktu x 365 hari = 1.825 derajad kemuliaan. Betapa sangat meruginya orang-orang tidak sholat berjamaah lima waktu.
Seberapa tingkat keakraban diri dengan al Qur’an? Banyaknya diantara manusia lebih akrab dengan koran dibandingkan dengan al Qur’an. Koran menjadi bacaan wajib harian. Sedangkan al Qur’an tidak jarang menjadi bacaan tahunan. Al Qur’an dibaca hanya saat datang bulan Ramadhan. Padahal Rosululloh sudah memberi tahu kita semua bahwa membaca satu huruf dalam al Qur’an dapat sepuluh pahala kebaikan. Sekedar membaca Alif lam mim yang hanya tiga huruf, sudah dapat 30 pahala kebaikan.
Sejujurnya kebanyakan diantara ummat ini tidak banyak yang istiqomah menyediakan waktu secara rutin membaca Al Qur’an setiap hari. Siapapun yang demikian berarti telah membuang kesempatan untuk menangguk pahala kebaikan dalam jumlah besar disepanjang hidupnya. Ambil contoh hitungan ini. Dua halaman al Qur’an itu jumlah huruf bisa mencapai ratusan. Katakanlah minim 500 huruf. Maka kalau saja kita membaca dua halaman sehari (bagi yang lancar tidak sampai 5 menit), maka akan dicatat 500 x 10 kebaikan = 5.000 pahala kebaikan. Meluangkan waktu hanya 5 menit langsung memperoleh 5.000 pahala kebaikan. Bagaimana kalau istiqomah dalam satu tahun. Maka catatan pahala kebaikannya adalah 500 huruf x 10 pahala kebaikan x 365 hari = 1.825.000 pahala kebaikan. Subhanalloh. Orang-orang yang tidak membaca Al qur’an secara istiqomah telah membuang kesempatan meraih pahala kebaikan dalam jumlah besar dengan usaha yang sangat ringan. Hanya meluangkan waktu 5 menit per hari. Tapi itulah manusia, kebanyakannya lalai memanfaatkan waktu dengan baik.
Alloh setiap tahun menghadirkan bulan mulia, yaitu bulan Romadhon. Apakah ummat ini memanfaatkan waktu datangnya bulan Romadhon dengan sebaik-baiknya? Rasanya semua orang berani berkesimpulan,” Mayoritas ummat islam tidak memanfaatkan dengan baik kedatangan Romadhon.” Indikasinya sederhana. Lihat jamaah sholat tarawih. Awal Romadhon, masjid-masjid dimana-mana penuh oleh para jamaah sholat tarawih. Tapi semakin hari jumlah jamaah semakin menyusut. Barisan atau shof sholat makin maju mendekati imam. Pada sepuluh malam terakhir jamaahnya mayoritas orang-orang berusia tua. Kemana mereka-mereka yang berusia muda yang secara fisdik jauh lebih kuat. Fisik boleh kuat, tapi iman dan semangat beribadah rapuh adanya. Semaraknya Romadhon di sepuluh malam terakhir terkonsentrasi di pasar-pasar dan pusat-pusat perbelanjaan. Ah, puasa nampaknya bagi kebanyakan ummat ini lebih nampak sebagai tradisi tidak makan dan minum tahunan yang miskin isi. Jasad berpuasa, namun ruhani tetap berpesta siang dan malam hampir tanpa kendali.
Alloh menghadirkan kaum duafa disekitar tempat tinggal kita dalam hitungan waktu bertahun tahun. Seberapa tingkat kepedulian kita selama ini. Apakah kita rutin berbagi kecukupan ekonomi dengan mereka. Atau sebaliknya justru merasa hidup nafsi-nafsi. Tidak acuh dan tidak peduli terhadap mereka. Mereka kenyang atau lapar bukan urusan kita. Padahal kalau saja mata hati terbuka, berdekatan tempat tinggal dengan mereka, seharusnya berbuah kesyukuran. Berdekatan dengan mereka berarti Alloh mendekatkan diri kita kepada surga-Nya. Kaum duafa sesungguhnya ladang amal yang mendatangkan catatan pahala besar bagi orang-orang yang punya. Pahala yang akan menjadi tiket menuju surga-Nya.
Baru membuka empat catatan yaitu sholat lima waktu, membaca al Qur’an, puasa Romadhon, dan tanggung jawab menyantuni duafa, kita menjadi tahu bahwa memang kebanyakan manusia benar-benar merugi. Kalau kita teruskan dengan membuka catatan yang lain, makin terbukalah fakta kerugian besar manusia yang tidak memanfaatkan waktu kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya.
TIDAK AKAN TERULANG.
Tidak ada manusia yang bisa membeli waktu meski dengan membayar sepenuh kekayaan bumi. Sekali terlewati, selamanya waktu tidak akan kembali. Ini yang mesti tertanam kuat di dalam hati dan akal pikiran. Kesadaran yang demikian akan memungkinkan manusia untuk berhati-hati dalam memanfaatkan waktu kehidupannya.
Sering tanpa disadari dalam meniti perjalanan waktu, manusia salah persepsi. Setiap tahun ada yang merayakan dengan pesta dan syukuran ulang tahun. Bahwa waktu perjalanan hidup bertambah satu tahun benar adanya. Tapi pertambahan itu berarti makin berkurang jatah hidup dimuka bumi. Bukankah perjalanan umur semakin mendekat pada batas akhir berupa kematian?. Pertambahan usia dengan demikian semestinya tidak dirayakan dengan pesta. Tapi dengan introspeksi. Kalau bisa bahkan dengan linangan air mata. Tangisi diri sendiri karena telah banyak berbuat dzalim dan nista. Tangisi diri sendiri karena sering membangkang atas perintah dan larangan-Nya. Perintah-Nya sering diabaikan. Larangan-Nya justru sering dikerjakan. Padahal waktu terus berjalan dan tidak tergantikan. Catatan kelam di masa lalu pasti akan menjadi penyesalan di hari kemudian. Bahkan andai kekelaman itu dengan rahmat dan kasih sayang-Nya diampuni semua, tetap saja akan berbuah penyesalan. Akan menyesal karena tidak menggunakan waktu untuk memperbanyak amal kebaikan.
START DARI FINIS.
Saudaraku, perencanaan hidup nampaknya harus dibalik agar waktu kehidupan yang tersisa bisa lebih bermakna. Dalam arti bisa hidup sesuai dengan harapan-Nya. Mulailah dengan membayangkan akhir hidup seperti apa yang kita kehendaki. Kita pasti berharap bisa tersenyum ditengah tangis keluarga, saudara, teman dan handai tolan yang kita tinggalkan? Bukan sebaliknya, di akhir hidup justru sama-sama menangis. Yang meninggal dan yang ditinggalkan sama-sama manangis. Naudzubillah.
Membayangkan finis terbaik di akhir kehidupan. Itulah yang harus menjadi panduan hati dan pikiran untuk melangkah diperjalanan waktu kehidupan yang tersisa. Mudah-mudahan dengan cara demikian, menjadikan diri termasuk orang-orang yang beruntung dalam mengarungi waktu kehidupan. Dan kita terhindar dari termasuk kedalam golongan orang-orang yang merugi. Wallhu ‘alam bhissowab.



Komentar Saudara !