Home » Serial Remaja

Don’t Panic I’m Not Terrorist

24 November 2009 No Comment

Nggak pernah kepikir sama Junet, hari itu ia harus menjadi tersidang di gudang pengap belakang balai RW. Tangannya terikat di belakang kursi. Kakinya rapat diikat tali rafia. Tiga orang berpakaian hitam-hitam, mengelilingi, menatapnya tajam dan penuh curiga. Ketiganya siaga dengan pentungan terhunus, (berhubung tak boleh pakai pedang, diganti pentungan). Junet diringkus tim DENGUS 99. Menjadi tersangka teroris. Oh!
***
Sejak peristiwa bom-boman yang terjadi di Indonesia, masyarakat dan aparat mulai melakukan tindakan pengamanan dan pengawasan ekstra. Hal tersebut diharapkan agar peristiwa-peristiwa memilukan kemarin-kemarin nggak terjadi lagi. Benar cuy, kita semua punya tanggungjawab menjaga stabilitas keamanan negara. Mulai yang skala nasional hingga kelas kampung.
Tapi cara pengawasan dan tindakan yang kita ambil nggak boleh sampai berlebihan. Nggak ngerti betul tentang dakwah dan dinamika Islam, akhirnya semua jadi dipukul rata. Jadi paranoid. Pokoknya berjenggot, dahi hitam, pintar ngaji, mesti dicurigai. Astaga..dosa euy!, orang menjalankan syariat agama kok dilarang-larang..
Termasuk yang paranoid itu adalah pak Karta. Ketua RT 10 di kampungnya Junet. Sore itu pak Karta tak beranjak dari depan televisi. Dia menyaksikan salah satu stasiun tivi yang menyiarkan tentang profil tersangka Teroris.
Pak Karta manggut-manggut, mencoba memasukkan ciri-ciri sang tersangka ke memori otak kanannya. Dikepalanya sudah tergambar sketsa penampilan yang ia deskripsikan sebagai ciri khas teroris.
Pak Karta rupanya kemakan propaganda media tivi ntuh. Semangat juangnya sebagai ketua RT bergelora. Tiba-tiba dia merasa gagah bak Rambo masuk Desa. Menurutnya, tindakan antisipasi musti dilakukan. Kalo perlu represif. Di culik, diintrograsi, ditakut-takuti sampe ngaku. Maka dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan atas nama rakyat RT 10, dia manggilin ketiga hansip kesayangannya. The MP3, alias Mas Parmin, Parno, dan Paijo.
The MP3 adalah Hansip kampung yang konyol abis. Kalo bukan karena langkanya para peminat Hansip, mereka kagak mungkin diterima. Gimana nggak, kalo jalan miring-miring, trus kebanyakan ekting yang nggak penting-penting. Apalagi kalo udah ketemu anggota P3K, alias Persatuan Pembokat Pretti & Kiyut (ih, maksa banget). Jadi over ekting, sementara cewek-ceweknya tersipu malu-malu kayak kucing.
Parmin adalah mantan penjual buah-buahan di kampung. Kalo ngomong orangnya ceplas-ceplos. Pernah suatu saat ada orang beli dagangannya,
“ Bang apelnya manis kan ?” kata seorang ibu.
“tentu saja, bu” jawab Parmin meyakinkan
“1 Kg nya berapa?”
“7500 rupiah, bu”
“Mahal banget, Apel segede Upil kok harganya 7500”
Tiba-tiba Parmin menyahut, “lha, ibu, cantik-cantik kok upilnya segede apel !”
Kontan aja si Ibu berteriak marah. Sejak saat itu dagangan Parmin kagak ada yang mau beli. Dia beralih profesi menjadi seorang Hansip.
Kalau si Paijo, terkenal katrok banget. Pernah dia masuk ke sebuah mall. Waktu jalan dia ngeliat papan penunjuk arah bertuliskan “Naik Lift”. Jiwa petualangnya tertantang (ciee). “Wah, ada Lip (Lift), kayak di tipi-tipi, nyoba, ah!”, desisnya.
Akhirnya Paijo masuk ke dalam Lift. Sewaktu di dalam Lift, Paijo membaca tulisan yang tertera di atas tombol “HANYA 6 ORANG”. Paijopun bergumam, “waah, mesti nunggu ngumpul 6 orang dulu, yak, ah, kelamaan, nggak jadi deh”. Akhirnya Paijo keluar lagi (duss..)
Kalo Si Parno adalah calon TKI ilegal yang gagal berangkat. Kegedean obsesi, kadang bikin kelakuannya jadi aneh-aneh. Masak berangkat kesana nekat pake perahu?!. Parno ditemukan terdampar di pulau Madura.
“Kita harus mengamankan kampung kita tercinta, teroris selalu mengancam” Ucap Pak Karta berapi-api.
“Yak bener, sejak ditinggal pergi suaminya, Teh Nuris suka macam-macam” Sahut Paijo tak kalah semangat (Ih, nyambung amat!).
“Apa yang harus kita lakukan, pak?” Paino bertanya serius.
Akhirnya mereka berempat sepakat membentuk tim pemburu Teroris. Tim itu langsung dipimpin oleh Pak Karta dan ketiga Hansip gokil ntuh jadi anggotanya. Segera aja mereka nentuin nama tim tersebut. Dan semuanya sepakat memberi nama, DENGUS 99.
Keesokan harinya mereka mulai berlatih. Macam-macam latihan mereka konsumsi seperti, pencak silat, kickboxing, kapoeira, panjat pinang, lompat harimau, push up, holahop de el el.
Seragam hijau mereka juga diganti jadi item-item. Plus helm stardart warna item juga. Mereka juga bela-belain pake kacamata renang. Pokoknya urusan tampilan, udah kagak jauh beda ama DENSUS 88.

***
Sebenarnya, udah lama Junet nggak pake kaos item kesayangannya yang bertuliskan “NEVER ENDING FOR JIHAD”. Tuh kaos udah kekecilan.
Tapi nahas, DENGUS 99 yang setiap hari aktif melakukan operasi dari rumah ke rumah, menemukan kaos Item ada kata-kata “JIHAD”nya di jemuran. Sesuai instruksi pak RT, segala yang berbau JIHAD baik itu tulisan ataupun perkataan, harap dicurigai.
Paijo yang saat itu menjadi pemimpin operasi langsung memimpin aksi. Sebuah upaya penggerebekan gembong Teroris dimulai.
“Berlindung semuanya..mereka pasti membawa senjata api” Paijo memberi aba-aba.
Paijo berlindung di balik Jemuran. Parmin berguling-guling di tanah. Sementara Parno hampir saja loncat ke dalam Sumur.
“Siapapun yang di dalam, cepat keluar…!!” Paijo berteriak.
“yak betul, mohon dengan segala hormat, diharapkan perkenannya untuk keluar”
“Hus, terlalu sopan, tauk..nggak keren gitu!” Parmin menegur Parno
“Dalam hitungan ketiga, keluar dengan kaki di atas, eh, tangan di atas”
Paijo menghitung “satu… dua… duasetengah… duaseperempat…duaseperdelapan … tiii… tiiii… yak tiigaaaa..!!”
Suasana menegangkan. Paijo memberi isyarat agar Parmin mendekat ke rumah tersangka. Parmin berguling-guling, saking semangatnya, nggak sengaja mukanya ngelindes taik ayam. Gak papa..apalah artinya taik Ayam dibanding perjuangan ini..Merdeka ataoe Mati! gumamnya.
Ketiga anggota DENGUS 99 mendekati rumah tersangka. Menempel di dinding-dinding. Parmin disamping rumah. Paijo di depan. Dan Parno kebelakang, ijin buang hajat.
“eh..eh..apa-apaan inih” tiba-tiba dari depan muncul Junet.
“nah ini dia, nih Terorisnya”
“Apa?” Junet nggak nyambung.
“KIJANG 1 KIJANG 2, lakukan peringkusan dengan segera” Kapten Paijo memberi Aba-Aba”
“SIAP!!” kedua Kijang alias Parno en Parmin, berteriak serentak. Dengan secepat kijang, dan sedikit erangan harimau untuk menambah efek dramatis, keduanya melesat. Dan dalam beberapa detik, kira-kira 1800-an detik alias 30 menit, Junet sudah terikat dengan tali rafia.
“Ayo kita bawa ke markas”
“ayo”
Junet yang masih belum nyambung, pasrah aja di tangan 3 orang paranoid ntuh. Junet dibonceng sepeda kebo milik Parmin. Dua orang dibelakngnya mengawal, jalan kaki.
***
Di gudang milik balai RW, Junet diintrogasi.
“Ayo ngaku, dimana kau sembunyikan Bom-nya” Tanya Parmin to the Point.
“Bang, jangan main-main, bang, Abang menuduh sayah tanpa bukti, astighfirullah abang bisa kenak pidana karena pencemaran nama baik, bang”, Junet Emosi.
Dikatain begitu, the MP3 sedikit khawatir. Akhirnya dia ngebuka buku yang berjudul “PANDUAN MENGENAL CIRI-CIRI TERORIS EDISI REVISI”. Dicocok-cocokin. Antara wajah Junet dengan ciri-ciri yang tertulis di buku.
“heh, buktinya kau pakai janggut dan kaosmu bertuliskan Jihad ?” Selidik Paijo
“Astaghfirullahal’Adzim, minta ampun bang sama Allah…agama abang apa?”
“ISLAM..” Jawab mereka serempak
“Tuhan Abang Siapa?”
“ALLOH”
“Rosul Abang Siapa”
“Nabi Muhammad”
“Apa abang sering bersholawat kepada beliau? Apa Abang rindu syafaat beliau?”
Ketiganya mengangguk.
“TAHUKAH KALIAN!!” Suara Junet Meninggi, “MEMELIHARA JANGGUT ADALAH SUNNAH KANJENG NABI…BARANGSIAPA YANG MENGHALANG-HALANGI UMMAT KANJENG NABI MENGIKUTI PERILAKU NABINYA …BERARTI.. ”
Suasana hening, The MP3 begidik.
“BERARTI DIA SEDANG MELAWAN KANJENG NABIIII!! “ Junet murka.
JDERRRR..(Biar dramatis dikasih suara halilintar kayak dipilem-pilem ntuh)
Parmin, Parno dan Paijo berdiri mematung. Pucat pasi. Asli ketakutan.  Lisan mereka tak henti-heti mengucap istighfar. Ya kawan, sebenarnya mereka adalah muslim yang taat ibadah. Cuman karena kurang ilmu dan kena propaganda media, akhirnya ikut-ikutan serba curiga.
“maap ini cuman nanya yak, tt..ttt..terus JIHAD ituh..ss..sory, kalau nggak berkenan nggak usah dijawab ndak apa-apa” Parmin masih ketakutan. Sementara paijo langsung berinisiatif ngelepasin ikatannya Junet.
“Jihad secara bahasa artinya bersungguh-sungguh, JIHAD secara istilah artinya berjuang menegakkan agama Allah. JIHAD bisa dengan harta yaitu memberi nafkah, bisa dengan ilmu yaitu berdakwah, dan berperang membela agama. Setiap Muslim diwajibkan untuk berjihad, bang. Karena di negara Indonesia ini tidak ada orang kafir yang menyerang kita, maka Jihad kita adalah jihad Ilmu dan harta. Ketahuilah bang, setiap kita punya kewajiban untuk berjihad di jalan Allah..makanya sayah pakai kaos “NEVER ENDING FOR JIHAD, buat ngingetin diri saya dan orang lain, agar terus berjuang menegakkan agama Allah”.
Parmin, Parno dan Paijo saling berpandangan. Ada gurat sesal di wajah ketiganya.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.