Home » Generasi Emas

Halimah As Sa’diyah, Sang Ibu Asuh Rasulullah SAW

24 November 2009 2 Comments

Sesungguhnya Al-Amin Muhammad adalah sebaik-baik manusia. Dan manusia pilihan
tiada pengasuh baginya melainkan Halimah, sebaik-baiknya wanita terpercaya.
Ia penjaga rahasia, bersih dari berbagai aib yang buruk, berbaju dan bersarung paling bercahaya

Wanita yang benar-benar mulia muncul dari kalangan Bani Saad. Wanita tersebut adalah Halimah bintu Abdullah bin Al-Harits As-Sa’diyah. Ibu yang menyusui Rasulullah Muhammad SAW. Seluruh referensi sepakat bahwa Halimah As-Sa’diyah adalah wanita Arab yang sangat terkenal karena menjadi ibu susu Rasulullah.
Halimah adalah orang dari Bani Sa’ad, sebuah suku yang memiliki kebiasaan bahasa yang indah. Oleh karena itu Rasulullah SAW terbiasa merujuk kefasihan bahasanya yang hebat itu kepada tempat beliau berkembang di kalangan Bani Saad. Beliau pernah bersabda kepada para sahabatnya yang mulia, “Aku ini orang yang lebih fasih berbahasa Arab dibandingkan kalian karena aku ini orang Quraisy dan aku berkembang di kalangan Bani Sa’ad.”
Tentang awal mula Halimah As-Sa’adiyah menjadi ibu susu Rasulullah, ia menceritakan: “Suatu ketika aku keluar bersama para wanita Bani Sa’ad untuk mencari anak susuan. Waktu itu adalah tahun paceklik. Kami mengendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina namun sudah tidak mengandung air susu setetes pun. Kami selalu mengharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Makkah. Saat itu Rasulullah sedang dicarikan ibu susu oleh orang tua beliau. Tetapi para wanita dari Bani Sa’ad enggan mengasuh ketika dikatakan bahwa Rasulullah adalah bayi yang yatim dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ‘Ia yatim, jadi apa yang akan diberikan oleh ibu atau kakeknya?’ Oleh karena itu, kami tidak tertarik. Tidak ada dari wanita-wanita Bani Sa’ad yang mengambilnya, selain diriku.

HALIMAH DAN BERKAH
Halimah telah melihat berkah Muhammad. Sejak kedatangan Muhammad, kebaikan selalu memancar kepadanya dari segala penjuru. Keberkahan meliputinya dalam segala hal. Kambing-kambingnya yang keluar menuju tempat penggembalaan bersama milik orang lain, ketika kembali ke kandang selalu dengan susu yang penuh. Sedangkan kambing-kambing yang lain pulang dengan keadaan sebagaimaan ketika pergi.
Demikianlah hari-hari Halimah hingga berjalan selama 2 tahun. Setiap hari ia melihat tambahan dan kebaikan dari Allah hingga menyelesaikan penyusuan Nabi SAW.
Setelah 2 tahun, Nabi SAW harus dikembalikan kepada ibunya yaitu Aminah. Demi melihat keberkahan dan cintanya kepada Muhammad, halimah ingin kembali mengasuhnya kembali. Setelah diijinkan oleh Aminah, betapa bahagianya halimah. Demikian pula dengan anak asuhnya, merasa sangat berbahagia dan sukacita karena kembali lagi ke daerah pedalaman. Demikianlah, Nabi tinggal di tengah-tengah bani Sa’ad sampai berumur 4 atau 5 tahun dari hari lahirnya hingga terjadinya peristiwa “Pembelahan dada”.
Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik R.A. bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh Jibril ketika sedang bermain dengan anak-anak yang lain. Beliau berusaha melepaskan diri ketika ditangkap oleh Jibril. Kemudian Jibril membelah dada beliau dan mengeluarkan hatinya serta mengeluarkan segumpal daging dan berkata, “ini bagian setan dirimu” lalu mencucinya di dalam mangkok dari emas dengan air Zamzam. Jibril menutup dada Nabi, setelah mengembalikan hati ke tempatnya semula. Akan-anak yang lain bergegas menuju ibu asuhnya dengan berkata, “Sungguh, Muhammad telah dibunuh.” Ternyata mereka masih bisa menyambutnya dengan rupa yang telah berubah.
Setelah kejadian ini Halimah merasa takut sehingga mengembalikannya kepada ibu kandungnya. Nabi SAW lalu tinggal bersama ibunya hingga berumur 6 tahun.
Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad SAW kepada seluruh manusia, maka Halimah As-Sa’diyah masuk Islam. Ibnu Hajar Rhimahullah mengatakan, “Dari kebahagiaan Halimah adalah ia mendapatkan taufik untuk masuh Islam bersama suami dan anak-anaknya.” Penulis Sirah Al-Halabiyah mengatakan, “Keislaman Halimah tidak diragukan oleh para ulama. Ibnu Hibban telah meriwayatkan sebuah hadits shahih yang menjelaskan tentang Islamnya Halimah. Al-Hafidz Mughlathi memiliki buku tentang Islamnya Halimah yang diberi judul Barang Mahal dan Agung dalam Keislaman Halimah.”

KELEBUTAN RASULULLAH KEPADANYA
Seluruh referensi menunjukkan bahwa Halimah berkedudukan mulia di sisi Rasulullah  SAW. Tidak ada kehormatan dan kelembutan yang lebih baik daripada yang diberikan kepada ibu asuhnya, Halimah. Bukti sikap beliau yang sangat menghormati Halimah, yaitu ketika menyambut kedatangan Halimah (waktu itu Nabi telah berusia lebih dari 40 tahun) dengan berteriakh, “Ibuku, Ibuku…!” Lalu beliau membentangkan sorbannya untuk ibu asuhnya itu sebagai bukti bakti dan kebaikan beliau kepadanya. Rasulullah menyebut masa kanak-kanaknya yang indah, yang dijalaninya bersama saudara-saudara sepersusuannya. Beliau tersenyum kepadanya dengan senyuman seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Seakan-akan beliau hendak memberi kesan bahwa beliau tidak akan melupakan kasih-sayang ibu asuhnya, dan itu juga merupakan wujud bakti kepadanya.
Al-Qadhi Iyadh di dalam kitabnya berjudul Asy-syifa menyebutkan kedudukan Halimah dan keluarganya sebagai berikut, “Abu Ath-Thufail mengatakan, ‘Ketika aku masih kanak-kanak, aku melihat Nabi SAW di Ji’ranah. Tiba-tiba muncul seorang wanita hingga dekat dengan beliau, beliau membentangkan sorbannya, kemudian wanita itu duduk di atasnya. Aku bertanya, ‘Siapa wanita itu?’ Orang-orang menjawab, ‘Itu wanita yang telah menyusui beliau. Diriwayatkan oleh Umar bin As-Saib bahwa, “Rasulullah SAW suatu ketika sedang duduk. Kemudian, datanglah ayah asuh beliau. Nabi meletakkan sebagian dari pakaiannya, dan sang ayah itu duduk di atasnya. Datang pula ibu asuh beliau, lalu Nabi meletakkan sebagian pakaiannya yang lain, dan sang ibu duduk di atasnya. Datang pula saudara sepersusun beliau, Abdullah bin Al-Harits, maka Rasulullah SAW berdiri dan mempersilahkan duduk di dekat duduk beliau.

SELAMAT JALAN….
Tentang wafatnya Halimah, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan menyebutkan bahwa Halimah masuk Islam dan berhijrah. Beliau meninggal di Madinah dan dimakamkan di Makam Baqi’. Demikianlah sedikit kilasan tentang sirah seorang shahabiah bernama Halimah As-Sa’diyah Radhiyallahu Anha. Semoga Allah  menjadikannya sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya, “Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagi karunia yang tiada putus-putusnya.”(Hud:108)

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.

2 Comments »

  • Bank ASI, Perlukah? « Laman Aja said:

    [...] Tentang awal mula Halimah As-Sa’adiyah menjadi ibu susu Rasulullah, ia menceritakan: “Suatu ketika aku keluar bersama para wanita Bani Sa’ad untuk mencari anak susuan. Waktu itu adalah tahun paceklik. Kami mengendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina namun sudah tidak mengandung air susu setetes pun. Kami selalu mengharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Makkah. Saat itu Rasulullah sedang dicarikan ibu susu oleh orang tua beliau. Tetapi para wanita dari Bani Sa’ad enggan mengasuh ketika dikatakan bahwa Rasulullah adalah bayi yang yatim dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ‘Ia yatim, jadi apa yang akan diberikan oleh ibu atau kakeknya?’ Oleh karena itu, kami tidak tertarik. Tidak ada dari wanita-wanita Bani Sa’ad yang mengambilnya, selain diriku. —————————— (Selengkapnya bisa dibaca di sini) [...]

  • dhana said:

    artikelnya bagus. mohon izin copas yah