Home » Iqro'

Mengundurkan Diri Demi Sebuah Bakti

24 November 2009 No Comment

Saya tak pernah menyangka, dia sanggup mengambil keputusan itu. Laki-laki tinggi kekar berkulit gelap itu ternyata memiliki kelembutan hati untuk sebuah urusan bernama pengabdian. Pengabdian pada sosok ibu yang ditelapak kakinya ada pintu Surga baginya. Kamis pagi itu, saya ikut merasakan perasaannya.
Usai acara Silaturrahim Pagi (apel pagi, pen.), dia datang ke ruangan saya. Biasanya dia tak ikut acara Silaturrahim Pagi di Surabaya. Dia adalah karyawan Funding Officer NH di biro Sidoarjo. Maka Silaturrahim Paginya ya bersama rekan-rekan di Sidoarjo. Hari itu dia datang ke Surabaya, membuat saya menyambut dia dengan penerimaan hormat antara sebagai rekan kerja sekaligus seperti tamu.
“Mohon maaf mas, mengganggu waktu mas Heri sebentar”, katanya. Wajahnya risau, menulari aura wajah saya yang akhirnya ikut berubah. Senyum bulan sabit yang dari tadi mengembang, berubah menjadi siklus tengah bulan. Tenggelam dan hilang.
Keliatannya dia ada masalah. Saya berusaha bercerah-cerah wajah. Saya pikir barangkali, saat seperti inilah peran pemimpin dibutuhkan. Ketika salah satu anggota timnya mengalami permasalahan, bersiap segeralah pemimpin menjadi motivator andalan. Membakar dia habis-habisan agar mau bangkit dan kembali ke puncak keberhasilan.
Dalam waktu yang sangat singkat saya harus memutar otak untuk menemukan kata-kata yang pas untuk dia. Menyesuaikan dengan posisi dia sebagai staf publikasi Zakat. Dalam beberapa detik, pikiran saya terpecah antara mendengarkan dia dan sibuk menyiapkan kata-kata penyemangat, memasang mimik antusias dan optimis.
Tapi, sirna akhirnya. Saya terhenyak ketika dengan pelan dia berkata, ”saya minta izin mengundurkan diri, mas”. Saya tahu dia berusaha keras agar tak membuat saya terkejut. Tapi bagaimana mungkin saya tidak terkejut. Tidak terpikir sebelumnya dia sampai berkata begitu.
Dia berusaha secantik mungkin menjelaskan. Dalam kondisi seperti itu, dia masih berusaha menjaga perasaan saya. Agar jangan sampai saya berifikir dia tidak puas bekerja di Nurul Hayat. Maka dia berusaha menjelaskan dengan seleksi kata-kata tingkat tinggi. Sampai terbata-bata. Agar saya tenang.
”kenapa, mas Faisal ? apa ada yang tidak memuaskan buat njenengan?” tanya saya heran.
”ya Alloh tidak, mas” katanya meyakinkan, ”sungguh, selama saya bekerja dimana-mana, saya tidak menemukan pekerjaan yang setenang dan sebahagia bekerja di Nurul Hayat”. Raut mukanya memelas.
”lalu kenapa sampeyan berhenti” kata-kata saya meninggi. Marah. Marah yang sangat saya sadari bukan karena tersinggung atau karena dibuat bingung, tapi karena tidak bisa menerima kenyataan hari itu saya akan berpisah dengan satu orang teman yang sudah sejak lama berjuang di Nurul Hayat. Keberhasilan kami raih bersama. Dukapun kami ratapi bersama.
”tidak ada hubungannya dengan Nurul Hayat, mas”, ujarnya sambil menunduk sejenak, ”saya mundur karena mau membantu ibu saya di warung”. Saya terdiam. Mencoba mencerna kata-katanya lagi. Membantu ibu di warung ?, dan warungnya saya tahu warung kaki lima.
Sang Ibu memang sangat mencintai warung kaki limanya. Bahkan kata dia, ketika dia minta ibunya berhenti malah sang Ibu marah kepadanya.
”Kau tahu apa nyuruh-nyuruh ibu nutup warung ini, katanya menirukan, ”tahukah kamu yang membuat kamu dan adikmu bisa sekolah ya dari warung ini!, jadi jangan sekali-kali kamu ngomong begitu lagi”.
Disinilah terkadang saat genting itu muncul. Ketika ada perbedaan pandangan antara keinginan orang tua yang kadang tidak rasional dengan keinginan anak. Sering, seorang anak berusaha meyakinkan dengan kekuatan rasionalnya hingga tanpa sadar terbawa pada perkataan tinggi dan menyakiti hati orang tua. Tapi, tidak semua anak begitu, salah satunya rekan saya ini.
”Memang mas Heri, beliau orangnya keras kepala, maklum sudah tua, sudah tak bisa diajak berpikir dengan logika, apalagi dulu pernah ditipu oleh pembantunya jadi beliau kapok pakai pembantu. Warungnya itu sudah kayak belahan jiwanya. Saya melihat ibu sangat senang mengurusi warungnya. Saya tidak tega melarang beliau. Sedangkan satu sisi saya merasa sedih melihat ibu yang sudah sepuh melayani para pembeli sendirian. Bahkan kadang saya melihat beliau tertidur sendirian di warung”. ujarnya.
Lisan saya bertasbih. Kagum. Mata saya berkaca-kaca.
Yang membuat mata saya semakin hangat, dia berkata lagi seperti bersumpah, ”Niatan saya adalah mengabdi pada ibu, mas, sungguh, saya tak ingin jauh dari beliau”. Ya Alloh, Saya tahu ketulusan niat itu sebelum dia bersumpah. Saya tahu sebenarnya dia tetap butuh posisi karyawan di NH untuk mendukung ekonomi keluarga. Mereka keluarga tidak terlalu berkecukupan.
”selamat mas, njenengan telah mengambil pilihan yang tepat yang jarang ditempuh banyak orang”, kata saya, benar-benar dari hati terdalam karena salut. Boleh jadi orang melihat itu sebuah kemunduran, tapi barangkali Alloh melihat dia sebagai orang yang sedang maju. Hanya Alloh saja yang tahu. Dan kita tak punya wewenang untuk mengadili. Mudah-mudahan  melalui pilihan hidup tersebut, Alloh menjadikan dia sebagai hamba yang dimuliakan sebagai washilah dari ketaatan pada ibu.

Saudaraku,
Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari kisah yang saya ceritakan tersebut. Dalam hidup, seringkali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan semacam itu. Saat itulah kita perlu menyediakan kesempatan kepada Nurani untuk berbicara lebih banyak. Bukan dengan rasional atau bukan berdasar hitung-hitungan material (duniawi). Mengabdi dan mentaati ibu adalah harga mati. Tak bisa dibantah lewat alasan apapun. Maka sepenuh hati saya mendukung dia untuk mengundurkan diri.
Suatu ketika barangkali ambisi karir ataupun titian kesuksesan itu tidak sedang berhadapan dengan ”pengabdian pada orangtua”. Tapi berhadapan dengan nilai-nilai prinsip lain misalkan ”shalat tepat waktu”, ”tidak korupsi”, ”bayar zakat” dan lain sebagainya. Maka ijinkan Nurani bicara, percayalah, dia lebih ”hamba” daripada kita. Dan percayalah pula, bahwa mencari rahmat Alloh adalah lebih baik daripada mencari dunia dan seisinya.
Berulang-ulang teman yang saya cintai ini minta maaf. Berulang-ulang pula saya menyampaikan ungkapan salut. Saya merasa tak perlu ada yang dimaafi. Diapun merasa tak ada yang perlu disaluti. Tapi tetap saja, sampai jabat tangan perpisahan terlepas, kami  masih terbawa perasaan kami masing-masing..

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.