Home » Bagi-Bagi

Refleksi Romadhon Berharap Khusnul Khotimah

24 November 2009 No Comment

Membangkitkan kepercayaan
Jika melihat krisis kepercayaan yang sekarang ada di antara manusia, kelompok, atau bahkan kepada pemimpinnya sekali pun, bisa jadi hal itu disebabkan oleh karena masyarakat sudah bosan dengan janji-janji yang pernah disampaikan. Namun, apabila dengan kerendahan hati kita mengakui bahwa kita memang salah dan misalnya itu diucapkan di dalam rumah Alloh seraya mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama memperbaiki diri, insya Alloh orang akan dapat mempercayai kita kembali.
Pada bulan Romadhon kemarin, atau minimal sepanjang perjalanan tahun 2009 banyak terjadi kejadian-kejadian tragis serta memilukan. Ledakan bom disana-sini, nyawa manusia yang tak berdosa ikut menjadi korban sebagai tumbal sebuah kekacauan peradaban. Maka patut kiranya kita mengucapkan istighfar karena memang demikianlah situasi yang terjadi sekarang ini.
Namun ketika wacana husnul khatimah kita kampanyekan di setiap waktu, kita kumandangkan di dalam masjid, surau, musholla, atau dimanapun, yang terpenting di tempat tersebut kita semua mengetahui secara transparan atas kejujuran atau dusta yang pernah kita lakukan, saya rasa ini adalah sebuah tawaran solusi yang bisa menutup kemungkinan terjadinya kejadian buruk yang akan mengancam diri kita masuk ke dalam lubang kegelapan.
Dengan demikian krisis kepercayaan yang sudah lama terjadi dan eksis, Insya Alloh perlahan-lahan akan berubah menjadi sebuah kepercayaan.
Selama menjalani bulan Romadhon yang lalu, adalah sebuah kesempatan emas yang harus digunakan sebaik-baiknya karena belum tentu tahun depan kita akan menemuinya kembali. Ibadah dan pertaubatan pada Bulan Romadhon ini benar-benar harus dilakukan dengan hati ikhlas supaya kita dapat melakukan instropeksi diri agar nantinya kita dapat menemukan sebuah sikap dan pikiran yang mengedepankan nasib ummat (rakyat) daripada memajukan diri sendiri.

Mensucikan diri
Apabila secara naluri kita sadar dan bersikap untuk mau melakukan perbaikan diri, berarti paling tidak kita telah menjalankan pertaubatan itu secara sungguh-sungguh. Romadhon yang lalu bisa jadi kita melewatinya tanpa ada perasaan menyesal atas dosa-dosa yang kita lakukan. Sementara kita juga tahu bahwa berbagai musibah dan bencana bahkan adzab sekalipun telah melanda diri dan bangsa kita, diharapkan pada Romadhon yang baru saja kita lewati ini, kita melakukannya dengan penuh niat, ikhlas serta tawadhu’ kepada Alloh swt. Bukan itu saja, menumbuhkan semangat persaudaraan mengutamakan kepentingan bangsa, tanpa menomorsatukan egoisme dan hawa nafsu individu maupun golongan tertentu.
Namun apabila Romadhon ini kita jalani dengan setengah hati, penuh dengan kepura-puraan, menyerobot hak-hak orang lain tanpa ada rasa kemanusiaan. Bahkan dengan secara gemblang berbuat berani dan curang kepada Alloh, maka tidak menutup kemungkinan jika bencana dan musibah itu memang pantas untuk kita terima.
Bagaimana tidak pantas, di satu sisi kita telah kehilangan kemampuan utuk melihat siapa diri kita sebenarnya, sementara di sisi yang lain tidak ada kesanggupan untuk mengingat Alloh. Wajar kiranya jika berbagai komplikasi permasalahan yang melanda diri dan bangsa ini kecil kemungkinan untuk diselesaikan.

Solusi Atas Puncak Masalah
Manusia di Negara mana pun pasti tidak menghendaki munculnya kekacauan baru atas kekacauan sebelumnya, dimana antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya mengembangkan kebencian dan permusuhan demi sebuah kekuasaan meskipun darah atau nyawa sebagai taruhannya.
Andaikan memang demikian kejadiannya, dimana perwujudan sebuah kepercayaan antar sesama semakin hilang dengan dalih ketidakadilan ekonomi atau sosial, maka hal ini adalah indikasi bahwa bahwa masyarakat sudah tidak mempunyai cara-cara terhormat agar terlepas dari permasalahan.
Maka Alloh-lah solusi terakhir sebagai satu-satunya muara atau tempat dimana kebenaran sejati itu berada. Pertaubatan itu sangat perlu bagi hambanya-hamba alloh yang menginginkan dirinya masuk ke dalam pancaran cahaya surga-Nya, walau sebetulnya teramat berat untuk mendapakan-Nya. Sebuah ikrar taubat bukan hanya milik seseorang, namun lebih dari itu pertaubatan dalam rangka husnul khatimah adalah milik semua individu, kelompok, atau golongan yang senantiasa bisa dilakukan kapan dan dimana saja.
Karena pertaubatan itu sendiri mempunyai esensi yang ditujukan hanya kepada Alloh, maka pelaksanannya pun harus dilakukan dengan kesungguhan hati. Siapapun dan apapun tentang “kedirian”kita, golongan, simbol-simbol atau jabatan dan kedudukan serta pangkat seseorang, maka semuanya harus dibersihkan dan tidak dibawa-bawa di hadapan Alloh. Sebab sadar atau tidak bahwa segala kehidupan ini berada di depan Alloh, karena Alloh selalu menjadi pengawas bagi ciptaan-Nya. Bahkan dalam menjalankan sebuah ibadah, Alloh selalu ada di depan kita.

Romadhon : Awal ber-husnul khatimah
Di bulan yang penuh dengan berkah, ampunan dan pembebasan atas api neraka ini, pelaksanaan ikrar husnul khatimah ini cepat atau lambat antara mau dan tidak mau maka harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh sebagai wujud inisiatif rohani terhadap Tuhan-Nya. Dengan kata lain, tawaran solusi ber-husnul khatimah merupakan ketergantungan rohaniah yang bisa mengatasi masalah sosial, golongan atau kelompok mana pun.
Untuk itu pelaksanaan husnul khatimah supaya efektif dan efisien maka kita sebagai pelaku dalam mengikrarkannya pun harus benar-benar ikhlas dan terbebas dari rasa pamrih politik, jabatan, kedudukan, nafsu kesementaraan serta pola manajemen keduniaan yang bersifat rendah. Disepanjang perputaran waktu dari hari ke minggu lalu ke bulan dan seterusnya belum tentu Alloh sudah kita akui keberada-Nya dan kita jadikan sebagai cahaya utama dalam kehidupan kita.
Pada umumnya ternyata Alloh sudah kita posisikan di pihak ketiga yang hanya sesekali saja kita sebut, paling-paling saat kita sedang kesusahan atau lagi kepepet oleh suatu masalah. Cukuplah kiranya bahwa dalam ikrar husnul khatimah tersebut kita memposisikan Alloh sebagai yang pertama. Dan, kita menyadari bahwa kehidupan ini berada dalam genggaman-Nya. Alloh bukan di sebelah kiri atau kanan melainkan tepat di hadapan kita. Dengan demikian ikrar husnul khatimah merupakan bentuk penyadaran dimana Alloh tidak kita “nomor tiga” kan yang berada “disana” atau sekedar sebagai pelengkap penderita dalam kehidupan kita.
Wallohu’alam bishowab.

Oleh : Imam Nugroho
Donatur Nurul Hayat Surabaya

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.