Home » Cerpen Anak

Si Hitam dan Si Putih

24 November 2009 No Comment

“Assalamualaikum Bunda..” seru Fajar saat memasuki rumahnya yang meskipun tidak begitu besar namun terasa asri itu.
“Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh…”jawab Bunda seraya tersenyum menyambut kedatangan anak lelakinya itu dari sekolah. Fajar yang masuk dari pintu belakang, langsung menemui bundanya dan mencium tangan beliau. Kemudian ia menuju rak sepatu dan duduk di sebelahnya.
“Bagaimana keadaan di sekolah hari ini sayang?” tanya Bunda sambil melanjutkan memasak.
“Tadi Fajar di hukum Pak Andi, Bunda. Pak Andi itu guru olahraga Fajar di sekolah, Bunda. Soalnya tadi Fajar tidak memakai seragam olahraga.” Cerita Fajar dengan nada jengkel, sambil tangannya masih sibuk melepas tali sepatu.
“Pasalnya tadi pasti ada yang sengaja menyembunyikan seragam Fajar, Bunda. Barulah setelah pelajaran olahraga selesai orang usil itu lalu mengembalikannya di kolong meja Fajar. Fajar juga tidak tahu siapa yang berbuat jahat seperti itu. Pasti mereka senang melihat Fajar di hukum lari keliling lapangan tadi.” lanjut Fajar dengan bersungut-sungut kesal. Bunda yang mendengar keluhan itu hanya tersenyum kecil. Kemudian Bunda menghampiri bocah kecil itu dan jongkok di depannya.
“Fajar, yang sabar saja ya kalau menghadapi teman yang usil begitu, jangan di masukkan hati. Perbuatan baik dan buruk pasti ada balasannya dari Alloh nanti.” kata Bunda seraya membantu Fajar melepas rompi dan dasi yang masih menggantung di kerah bajunya.
“Tapi Fajar itu gak habis pikir Bunda, kenapa sih di dunia ini harus ada  orang yang jahat. Pasti deh dunia ini bisa jadi lebih nyaman bila penghuninya orang-orang baik semua. Benar kan Bunda?” kata Fajar sambil merangkulkan kedua tangannya ke pundak Bunda, dan menatap mata Bunda lekat-lekat.
“Sayang, sudah fitrahnya kalau manusia lahir di dunia ini dengan memawa sisi baik dan sisi buruk.  Kehidupan ini ibaratnya seperti main games saja. Ada Si Hitam sebagai sisi buruknya, dan Si Putih sebagai sisi baiknya. Ketika Fajar sedang nakal, berbohong, mengusili teman dan berbuat tidak baik lainnya, maka skor atau nilai Si Hitam akan bertambah. Dan begitu pula sebaliknya, bila Fajar berbuat kebaikan skor Si Putih nantinya yang akan meningkat.” terang Bunda seraya memandang Fajar, memastikan putranya itu memahami maksudnya. Fajar mengerjap-ngerjapkan matanya dan mendengarkan dengan seksama.
“Lalu akhirnya gimana Bunda…?” tanya Fajar masih dengan penasaran.
“Lalu di akhir permainan nanti, yaitu di akhir kehidupan seseorang. Skor itu akan di hitung di hadapan Alloh. Tuhan Yang Maha Kuasa. Bila skor Si Hitam lebih banyak maka pasti ia akan di beri kunci pintu neraka. Tempat orang-orang di hukum atas perbuatan jahatnya di dunia. Asal Fajar tahu saja ya, di sana itu tidak ada minuman selain air panas yang mendidih dan api yang sangat panas.” terang Bunda seraya melirik putranya yang seketika itu mengeryitkan dahinya mendengar kata neraka.
“Tapi bila sebaliknya, skor si putih yang lebih banyak, maka ia nanti akan di beri kunci pintu surga. Yaitu tempat tinggalnya para bidadari. Dimana di sana para penghuninya tinggal di istana-istana yang indah dan memiliki banyak pelayan yang siap melayaninya. Mereka hidup dengan rukun dan damai karena tidak ada satupun penghuninya yang memiliki sifat jahat.” terang Bunda dengan penuh semangat.
“Itulah sebabnya, selama ini setan pasti selalu menggoda manusia untuk berbuat kejahatan terus. Karena setan itu tidak mau kalau ada manusia yang masuk surga. Setan kan telah dihukum oleh Allah, karena tidak mematuhi aturan Allah. Maka kelak setan itu akan dimasukkan ke dalam neraka dan menjadi penghuni tetapnya neraka. Makanya umat manusia dilarang berteman dengan setan atau mengikuti kemauan setan bila ingin masuk surga.” lanjut Bunda.
“Selain itu, di dunia pun akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Bila dalam diri seseorang skor si Hitam yang lebih banyak, maka ia akan menjadi orang yang jahat dan pasti di benci teman-temannya. Sebaliknya bila Si Putih yang lebih menonjol, pasti ia adalah anak baik dengan kepribadian yang di senangi teman-temannya. Bunda yakin-lah kalau Fajar lebih suka menjadi pribadi yang disenangi daripada pribadi yang di benci. Iya kan?”tanya Bunda seraya mengelus-elus hidung Fajar dengan hidungnya. Fajar mengangguk-angguk membenarkan
“Nah, sekarang Fajar segera ganti baju ya, Bunda tunggu di meja makan. Tadi Bunda membuat puding kesukaan Fajar loh. Pasti sekarang sudah beku.” seru Bunda seraya melirik lemari pendingin di sudut ruangan itu.
“Asyik…!! Terimakasih Bunda.” seru Fajar sambil kegirangan seraya melepas pelukannya pada Bunda dan berlari ke arah kamar.
Sesaat kemudian Fajar kembali ke ruang makan. Kini ia telah berganti pakaian yang biasa dipakai di rumah. Namun ia lalu nampak ragu-ragu ketika Bunda menyerahkan piring ke arahnya. Ia semakin salah tingkah lagi sewaktu Bunda hendak mengambilkan nasi untuk makan siangnya.
“Ehm.., ehm… Bunda… ehm… sebenarnya.. Ehm.. tadi Fajar sudah makan siang di kantin sekolah Bunda. Habisnya rasa lapar di perut Fajar sudah tidak tertahan lagi. Mungkin karena habis lari keliling lapangan pas dihukum tadi trus energi di tubuh Fajar jadinya habis. Jadi ya maaf Bunda, tadi Fajar terpaksa jajan.” kata Fajar terbata-bata tidak berani melihat ke arah Bunda.
“Oh.. jadi sekarang sudah kenyang kalau gitu.” kata Bunda menanggapi
“Iya, ehm…tapi..engh.. tapi, Bunda tidak marah kan?”tanya Fajar ragu-ragu.
“Engh… gimana ya,… ” seru Bunda dengan raut muka seolah sedang berfikir keras.
“Gimana Bunda? Fajar masih boleh kan makan pudingnya sekarang..” pinta Fajar dengan wajah memelas.
“Engh..gimana ya??” gumam Bunda tak pasti. Mendengar itu Fajar hanya bisa manyun. Kedua tangannya menopang dagu, dan kepalanya di miringkan ke kanan dan ke kiri dengan lemas.
Melihat wajah puteranya yang polos begitu akhirnya Bunda luluh juga. Ia mengambil sepotong puding coklat dan menaruhnya di atas piring kecil,  kemudian Bunda mengguyurnya dengan ice cream vanila dan tak ketinggalan irisan strawbery menjadi pelengkapnya. Hm… segarnya. Melihat itu mata Fajar semakin berbinar-binar saja.
“Sayang, mungkin memang benar Ayah atau Bunda tidak mengetahui apa saja yang di perbuat Fajar tanpa sepengetahuan Bunda. Tetapi Fajar harus selalu ingat ya, bahwa meskipun tidak ada Ayah ataupun Bunda yang mengawasi, tetapi ada yang selalu mengawasi Fajar, yaitu Allah. Dzat Yang Maha Tahu. Bahkan Dia tahu apa yang tersembunyi di dalam hatimu. Maka dalam berperilaku bukan Bunda atau Ayah yang harus Fajar takuti. Melainkan Allah, karena hanya kepadanyalah kelak semua perbuatan Fajar akan di perhitungkan.” kata Bunda setelah menaruh piring itu di hadapan Fajar dan mengelus kepala putranya yang tengah lahap menikmati puding buatannya itu.
Fajar memandang Bundanya seraya tersenyum penuh arti,
“InsyaAllah Fajar tidak akan mengecewakan Ayah dan Bunda. Doakan Fajar ya Bunda, agar Fajar bisa selalu menahan diri dari godaan setan. Fajar kan juga ingin masuk surga.” kata Fajar sambil terus melanjutkan menikmati pudingnya.
“Amin, Bunda doakan. Makanya mulai sekarang jangan malas-malas untuk memperbanyak skor Si Putih.“ kata Bunda sambil mengacak-acak rambut putranya itu.
Mendengar itu Fajar hanya nyengir, sambil menggigit irisan strawbery. Diam-diam dalam hati ia berjanji untuk memperbanyak skor si putih. “Masak Fajar kalah sama setan.. No Way… ” batinnya.

Oleh : AZKIA

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.