Home » Cermin

Tidak Perlu Menghinakan Diri Dalam Urusan Materi

24 November 2009 No Comment

Di zaman ini secara obyektif materi menjadi kebutuhan yang amat vital. Sulit membayangkan bisa hidup sejahtera tanpa dukungan kecukupan materi. Sulit membayangkan bisa hidup terhormat dalam pergaulan sosial tanpa dukungan materi. Sulit membayangkan bisa hidup berkualitas tanpa dukungan materi. Tanpa dukungan kecukupan materi, kesulitan demi kesulitan akan selalu akrab menyapa dalam kehidupan sehari-hari. Karena sedemikian vitalnya kebutuhan akan materi, maka wajar jika manusia bersedia mengerahkan segenap potensi untuk menggapainya.
Rasanya di zaman ini tidak ada manusia yang tidak memimpikan hidup berkecukupan secara materi. Impian tentang hidup dengan materi berkecukupan menjadi impian yang ditanamkan sejak dini oleh orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua sejak dini menyiapkan anak-anaknya untuk siap berkompetisi di masa dewasanya nanti. Implementasinya adalah memilihkan sekolah dengan kualitas terbaik. Sekolah saja tidak cukup, butuh tambahan les atau berbagai kursus.
Dalam benak siapapun keterbatasan materi dan apalagi kemiskinan merupakan hantu yang amat menakutkan. Karena sedemikian vitalnya kebutuhan akan materi, jika tidak kuat iman, manusia mudah tergelincir dalam perburuhan materi. Manusia bisa mudah membuang harga diri. Bisa menghinakan diri. Bahkan bisa mencampakkan iman dan islam. Naudzubillah.
Setiap orang beriman pasti menyadari, bahwa mereka bukan hanya sekedar butuh materi tapi juga butuh harga diri. Butuh kehormatan diri. Baik dihadapan manusia dan terlebih dihadapan Sang Maha Pencipta.  Beruntunglah orang-orang yang bisa meraih kecukupan materi dengan tetap menjaga kehormatan dan harga diri. Hidup berkecukupan dengan tidak menghinakan diri.
Untuk menginspirasi diri siapapun agar meraih materi dengan dengan tidak menginakan diri, kita baca kisah berikut ini yang kami kutip dari tulisan Imam Ibnu Athoillah dalam kitab Al Hikam.
Muhammad bin Hamdan berkata,” Ketika saya di majelis Yasid bin Harun ,saya bertanya kepada seseorang yang duduk disampingku:” Siapakah namamu? Jawabnya: “Saied.” Saya bertanya : “Siapakah gelarmu?” Jawabnya: “Abu Usman.” Lalu saya bertanya tentang keadaannya. Jawabnya: “ Kini telah habis belanjaku”. Lalu saya tanya: ‘Siapakah yang engkau harapkan untuk kepentingan itu?’ Jawabnya: ‘Yazid bin Harun’. Maka saya berkata kepadanya: “ ‘Jika demikian, maka ia tidak menyampaikan hajatmu,dan tidak akan membantu /meringankan kebutuhanmu.’ Dia bertanya: ‘Dari mana engkau mengetahui hal itu?’ Jawabku: ‘Saya telah membaca dalam sebuah kitab: Bahwasanya Alloh telah berfirman: ‘Demi kemulyaan-Ku dan kebesaran-Ku, dan kemurahan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku diatas Arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang mengharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan, dan akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan dimata orang, dan Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, dan Aku putuskan dari hubungan-Ku. Mengapa ia mengharap lain-Ku dalam kesukaran. Padahal kesukaran itu ditangan-Ku, dan Aku yang dapat menyingkirkannya, dan mengharap kepada lain-Ku serta mengetuk pintu lain. Padahal kunci pintu-pintu itu tertutup. Hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapa yang berdo’a minta kepada-Ku. Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalaukan kesukarannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya lalu Aku putuskan harapannya?
Atau siapakah yang pernah mengetuk pintu-Ku, lalu tidak Aku bukakan? Aku telah mengadakan hubungan langsung antara-Ku dengan angan-angan dan harapan semua makhluk-Ku. Maka mengapakah kau bersandar kepada selain-Ku? Dan Aku telah menyediakan semua harapan hamba-Ku, tetapi tidak puas dengan perlindungan-Ku. Dan Aku telah memenuhi langit-Kyu dengan makhluk yang tidak pernah jemu bertasbih kepada-Ku dari para malaikat, dan Aku perintahkan mereka tidak menutup pintu antara-Ku dengan para hamba-Ku. Tetapi mereka tidak percaya kepada sabda-Ku.
Tidakkah mengetahui siapa yang ditimpa bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya selain Aku. Maka mengapa ia dengan segala angan-angan dan harapannya selalu berpaling dari-Ku? Mengapa ia tertipu oleh lain-Ku? Aku memberi kepadanya dengan kemurahan-Ku apa-apa yang tidak pernah diminta, kemudian Aku yang mencabut darinya, lalu ia tidak meminta kepada-Ku untuk mengembalikannya. Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, kemudian jika diminta tidak memberi kepada peminta? Apakah Aku bakhil (kikir) sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku. Bukankah dunia dan akhirat itu semua milikku? Bukankah semua rahmat dan karunia itu di tangan-Ku? Bukankah dermawan dan kemurahan itu sifat-Ku? Bukankah Aku tempat semua angan dan harapan? Maka siapakah yang dapat memutuskannya dari-Ku? ….
Subhanalloh  Allohu Akbar. Bergetar hati orang-orang yang beriman kala membaca firman-Nya diatas. Jelas - gamblang apa yang disampaikan-Nya kepada manusia. Tahu seperti itu, buat apa kita menghinakan diri sendiri dalam memburu materi. Jilat sana jilat sini. Sikut sana sikut sini. Menyakiti orang dimana-mana. Pakai jurus mabuk dan gelap mata. Halal  haram dilalap semua. Mereka terlihat seperti mengumpulkan harta. Padahal sesungguhnya ia sedang mengumpulkan kehinaan demi kehinaan dihadapan manusia dan dihadapan-Nya.
Saudaraku, alam dan segenap kekayaan dalam bentuk apapun adalah milik-Nya. Adalah dalam genggaman kekuasaan-Nya. Dan Pemilik alam semesta ini adalah Sang Maha Rahman. Maha Pengasih kepada semua hamba-Nya. Jika kita butuh akan kekayaan itu, Alloh menyuruh kita untuk mengetuk pintu-Nya. Meminta kepada-Nya. Jangan meminta kepada selainnya. Bahkan orang-orang yang halus perasaannya, dia melepaskan diri dari diri sendiri sekalipun. Ia berikhtiar seperti manusia pada umumnya untuk menjemput karunia-Nya. Tapi ia tidak bersandar kepada ikhtiar itu. Ia hanya bersandar dan berpengharapan kepada-Nya. Tertancap kuat kalimat ini dalam hati dan pikirannya,  La haula wala kuwwata illa billah ( tiada daya upaya melainkan dengan pertolongan-Nya).
Rosululloh memberitahu kita, bahwa kasih sayang Alloh melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya yang masih kecil. Kita tahu betapa besarnya kasih sayang ibu kepada kita dikala kita masih kecil. Ketika kita lapar, ibu kita menyuapi dengan makanan. Ketika kita haus, ibu memberi kita minum. Saat diri butuh pakaian ibu mengusahakan. Ketika kita butuh kasih sayang, ibu mendekap dalam buaian. Pendek kata semua kebutuhan ibu penuhi dengan segenap kasih sayang dan kemampuan yang dimiliki.
Alloh lebih menyayangi diri kita dibandingkan ibu kita yang sangat besar kasih sayangnya. Maka kala kita membutuhkan apapun dalam kehidupan ini, termasuk kebutuhan materi, kita tinggal datang mengetuk pintu-Nya. Pintu-Nya tidak pernah tertutup siang dan malam. Tidak  perlu pakai perantara. Tidak perlu biaya. Kita bisa berdialog langsung dengan-Nya. Dengan rukuk dan sujud kepada-Nya. Kemudian menadahkan tangan berdo’a kepada-Nya. Setelah itu dilakukan, biarlah Alloh yang Maha Kuasa melimpahkan rahmat karunia-Nya. Alloh yang akan mengatur semuanya. Mungkin dengan membimbing cara berfikir kita. Menumbuhkan kreativitas kita. Membentangkan jalan-jalan kemudahan usaha dan sebagainya. Kewajiban kita adalah berproses dalam ikhtiar dan sabar. Insya Alloh harapan itu akan sampai sesuai waktu yang ditentukan-Nya. Janji Alloh itu pasti dan benar adanya,” Hai manusia, sesungguhnya janji Alloh adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Alloh. (QS : Fathir (35) : 5).
WAllohu a’lam bisshowab.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.