Home » Nuansa Qolbu

Totalitas 10 malam terkahir

24 November 2009 No Comment

Menemukan ruang hikmah di bulan Ramadhan adalah tugas kita. Menjalani setiap detik penuh makna di bulan Ramadhan, antara beribadah, berlaku sia-sia ataukah bermaksiat, adalah pilihan-pilihan yang masing-masing ada konsekwensinya. Kesempatan sudah dibuka. Lebar. Selebar-lebarnya. Ia disebut bulan Rahmat, karena pada bulan inilah Rahmat dihantarkan pada jarak yang sangat dekat. Sementara laknat, berada pada jarak yang sudah hampir tak bisa kita lihat.
Hanyasanya, galibnya kesempatan emas kadang hadir dalam waktu yang amat singkat. Karena begitulah tabiat sebuah kesempatan. Ia menjadi berharga, sebab ia tak selalu ada untuk kita.
Semakin kesempatan emas itu hadir dalam waktu yang singkat, semakin gigih kita menguras segala potensi demi meraih keberuntungan. Setiap detik menuju batas akhir adalah keadaan yang seolah tak diingini tapi sekaligus menyemangati.
Saudaraku,
Terhadap bulan Ramadhan, begitulah seharusnya kita. Memandangnya sebagai kesempatan emas. Kemudian anda harus setuju bahwa kesempatan satu bulan itu adalah waktu yang amat singkat. Singkat sekali. Banyak urusan yang ingin kita mintakan ampun, banyak beban hidup yang ingin mintakan jalan keluar, dan ingat juga, diwaktu yang hanya 29 atau 30 hari itu, kita sesungguhnya sedang melaksanakan urusan besar nan kekal, penyelamatan nasib di akhirat.
Dalam kalender Qamariah, pergantian hari dihitung sejak tenggelamnya matahari di ufuk barat, bukan dini hari. Oleh karena itu, hayatilah selama Ramadhan, bahwa setiap adzan maghrib berkumandang, itulah penanda satu kesempatan kita berkurang.
Maka adzan maghrib di hari  pertama puasa, menandakan bahwa kita sudah ditinggal pergi satu hari oleh Ramadhan. Tinggal 29 atau 28 hari lagi. Adzan magrib hari ke sepuluh, sungguh kita telah ditinggal pergi lebih banyak lagi, sepuluh hari. Dan tersisa hanya dua puluh hari lagi. Adzan maghrib hari ke duapuluh, maka kesempatan kita tinggal 10 hari lagi sebelum Ramadhan benar-benar pergi. Tak peduli kita menyesal atau tidak atas kesia-siaan yang dilakukan selama Ramadhan, tepat hari ke dupuluhsembilan Ramadhan akan pergi. Sekali lagi tak peduli, kita menangis karena ditinggal pergi atau kita berseringai gembira di idul fitri padahal banyak dosa yang belum terampuni.
Menyadari kesempatan emas Ramadhan adalah urusan lebih penting daripada kesempatan emas berlabel materi dan duniawi. Mengisi kesempatan emas ramadhan dengan ketaatan akan sangat hina bila dikalahkan oleh keseriusan mengisi kesempatan emas ”mumpung dapat THR..yuk belanja”.
Saudaraku, menjadilah manusia beruntung dengan memanfaatkan setiap jeda sepuluh malam terakir Ramadhan dengan ibadah dan ketaatan. Menjadilah seperti mereka yang benar-benar ma’rifat dan menyadari keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadhan. Mereka yang justru semakin mengencangkan sabuk dan memaksa tanpa ampun raganya untuk beribadah. Mencambuk jiwanya yang di jelang akhir Ramadhan biasanya dihinggapi rasa berpuas-puas, bosan dan malas. Kakinya mengeras karena semakin banyak ia berdiri dan sujud, sementara matanya hampir tiap malam basah oleh airmata. Semakin menjelang hari perpisahan, semakin ia dihinggapi kegelisahan dan kekhawatiran.
Dengarlah apa yang dikatakan Aisyah tentang perilaku Rasulullah pada saat memasuki malam sepuluh terakhir, ” Adalah Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/233 dan Muslim 1174]
Saudaraku, mari kita menakar pentingnya sebuah moment Sepuluh Malam Terakhir (SMT). Renungkanlah ini, untuk bertemu kembali dengan sepuluh malam terakhir, kita butuh waktu sebanyak 12 bulan atau sebanyak 365 hari lagi. Sebuah penantian yang sangat panjang. Belum lagi, penantian yang panjang tersebut berpotensi kita gagal menjumpainya. Ya, karena ajal yang kita tak pernah tahu kapan ia datang. Ramadhan hari ini, tentu ada diantara kita yang Alloh menjadikannya sebagai Ramadhan yang terakhir. Meningga dunia. Entah kita kenal mereka atau tidak.
Waktu yang amat panjang itu juga menjadi masa yang mengkhawatirkan. Dikarenakan, kita tak cukup yakin bahwa pada ramadhan tahun depan nanti kita bisa beribadah dengan optimal sebagaimana Ramadhan hari ini. Karena apa? Salah satunya karena fisik yang bisa jadi dalam kondisi sakit. Tak bisa puasa, terbaring di rumah sakit.
Atau karena alasan yang sangat tidak kita inginkan. Yaitu Sebab maksiat yang dilakukan selama usai Ramadhan ini akhirnya hati kita berada dalam keadaan mati. Lihatlah disekeliling anda ”mayat-mayat hidup” ber-KTP Islam itu. Bisa ngomong tapi hatinya mati. Tidak berpuasa, tidak sholat. Maka ketika berjumpa dengan Ramadhan, tak ada getaran hati sama sekali. Jangankan getaran hati, malah kadang mereka kesal dan mengumpati bulan mulia ini. Naudzubillah..semoga kita dijauhkan dari hati yang mati.
Diluar bulan ramadhan, Potensi hati menjadi sakit sehingga banyak maksiat sangat tinggi. Karena belenggu musuh abadi kita, setan, telah dibuka kembali. Bersamaan dengan hawa nafsu yang kembali gagah seiring perut yang kembali sering kekenyangan. Sementara seperti gayung bersambut, suguhan glamour kehidupan dan kemaksiatan yang semasa Ramadhan sembunyi, saat itu kembali deras menghampiri.
Teringatlah saya dengan yang pernah dikatakan oleh imam Ali karomAllohu wajhahu, ”barangsiapa yang siang harinya bermaksiat kepada Alloh maka dia tidak akan pernah merasakan kelezatan ibadah di malam hari, dan barangsiapa yang malam harinya jauh dari ibadah kepada Alloh, maka pastilah siang harinya ia cenderung bermaksiat kepada Alloh”.
Sebagaimana yang dikatakan imam Ali itu, saya ingin menakut-nakuti diri saya sendiri, maka barangsiapa yang hari-harinya habis untuk bermaksiat kepada Alloh, maka jika tanpa rahmat Alloh, pastilah ia tak akan pernah merasakan kelezatan ibadah di bulan Ramadhan. Habislah ia. Ketika yang lain merasakan kenikmatan ruhiyah saat Ramadhan, justru hatinya masih mati dan sibuk dengan urusan duniawi.
Oleh karena kelangkaan kesempatan Sepuluh Malam Terakhir itulah, maka tak ada alasan bagi kita bermalas-malasan. Ibarat seorang pelari maraton, semakin mendekati finish, semakin kencanglah ia berlari.
Sebagai penyemangat, bayangkan pula hasil yang akan kita peroleh saat Sepuluh malam Terakhir benar-benar bisa kita optimalkan. Bila kita bisa meraih malam lailatul Qadr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Seribu bulan itu, 83 tahun. Masa yang sangat berlebih dibanding jatah hidup kita yang kebanyakan hanya 60-70 tahunan. Tak mengapa bila kita menghayalkan bahwa selama 83 tahun itu, mudah-mudahan Alloh memberikan penjagaan yang baik sebagai balasan atas kesuksesan Sepuluh Malam Terakhir kita. Bukankah sunnah yang berdalil, seorang muslim meminta pertolongan dengan bertawasul menggunakan amal baiknya?
Akhirul kalam, semoga Alloh mengkaruniakan kejernihan hati dan kekuatan jasmani, agar amaliah kita optimal di kesempatan emas sepuluh malam Terakhir. WaAllohu A’alam bisshowab

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.