Don’t Panic, I’m Not Terrorist
EKSPEDISI THARIQ BIN ZIYAD. Begitu anak-anak Masjid nyebutin kegiatan atu ini. Nih acara tiap taonnya di tunggu-tunggu ama para penghuni Masjid. Biasanya diadain tiap liburan semester. Kegiatannya emang menantang. Yaitu beberapa orang bakalan dipilih untuk melakukan EKSPEDISI (catet, bukan urusan ngirim barang loh!) ke daerah-daerah terpencil. Nah, apa yang dilakuin di situ?. Kayak namanya, EKSPEDISI THARIQ BIN ZIYAD, anak-anak bakalan mendakwahkan Islam di sana.
“Permisi, kang”, seorang siswa berkacamata minus 30 mengacungkan kaki, eh, jari. “mau tanya, kenapa dikasih nama THARIQ BIN ZIYAD, yaks”.
“Kenapa kok dinamain Ekspedisi Thariq Bin Ziyad, karena dalam kegiatan ini, kita ingin menapaktilasi seorang tokoh pejuang Islam yang tangguh di abad ke 7, Thariq Bin Ziyad. Beliau adalah seorang anak muda, sama kayak kita. Tapi keimanannya membuat beliau menjadi pribadi tangguh dan pemberani. Beliau menaklukkan negeri-negeri Eropa dan meneranginya dengan cahaya Islam sesudah kegelapan”, Jawab Sohib
“Waow…gue nggak ngira kalo papa gue ngasih nama tokoh Islam yang keren banget” Thoriq menyahut.
“Nah, dalam kegiatan ini kita akan melakukan ekspedisi ke daeah-daerah terpencil dimana disana masih banyak saudara-saudara kita yang berislam dengan cara yang keliru, masih banyak yang Cuma ber-KTP Islam tapi mereka ibadahnya menggunakan cara-cara nenek moyang dan mirip agama laen, kita harus bantu menyelamatkan mereka..” Sohib melanjutkan.
Sekarang tibalah saatnya penentuan siapa yang bakalan dipilih berangkat kesana. Sekedar informasi, terpilih sebagai pasukan EKSPEDISI THARIQ BIN ZIYAD adalah sebuah kehormatan yang tinggi. Karena seperti yang dibilang tadi, kegiatan ini benar-benar menantang. Kalau melakukan sedikit kesalahan dan lagi nggak mujur, bisa-bisa pulang tinggal nama.Hii..ampe segitunya?, yak, penolakan yang dilakukan ama warga sekitar kadang sampe main hukum rimba, cuy. Main kasar. Tapi Alhamdulillah, ampe angkatan ke 5 sekarang, tidak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.
Makanya, ngejalanin misi mulia ini nggak bisa dijalanin sama anak-anak sembarangan. Anak yang lemah Iman, nggak istiqomah ngajinya, susah berhasil dalam kegiatan ini. Butuh ketangguhan dan keberanian tingkat tinggi. Nah, buat memilih tujuh orang yang bakalan dikirim, anak-anak Rohis memberikan kriteria penilaian. Semua dilihat buku Mutaba’ah-nya. Buku Mutaba’ah ntuh semacam buku evaluasi amaliah. Isinya cuman tabel-tabel. Di kolom paling kiri, dari atas kebawah tertulis beberapa amaliah sunnah seperti Tahajjud, Shalat Dhuha, Puasa Senin-Kamis, Silaturrahim, Tilawah Al-Qur’an dan membaca doa Ma’tsurat.
Kolom atas dari kiri ke kanan tertulis nama-nama Hari, Senen ampe Ahad. Sejak enam bulan lalu semua anak Masjid dibawain nih buku dan tiap hari mereka disuruh ngasih gambar centang di dalam kolom-kolomnya, kalo mereka hari itu telah melakukan amaliah-amaliah tadi. Dan kalo nggak ngelakuin, mereka harus memberi gambar lingkaran. Catatan evaluasi ntuh buat ngukur kualitas amaliah para aktivis Rohis.
Nah, sekarang, tujuh orang yang bakalan berangkat ke medan laga adalah anak-anak yang ubudiyahnya paling oke, dengan dilihat dari berapa banyak gambar centangnya. Dan setelah tim KPR (Komisi Pemilihan Relawan) menghitung jumlah panah ke atas dari Mutaba’ah semua anak, terpilihlah 7 anak dengan poin paling tinggi. Mereka adalah…Sohib, Jodi, Boby, Muhaimin, Somad, Nabil, dan terakhir di luar dugaan…yaitu TTM, alias Thariq Titian Margonocildren (di akte kelahirannya emang ketulis kayak gitu ).
Denger namanya disebut, Toriq bin Margono melompat girang. Melakukan sujud syukur. “Benar, kang…nggak bo’ong kang, Ana ikut ekspedisi kang?” Toriq masih nggak yakin dirinya terpilih.
“Frani Zumfe, Ane Zuzur..” Kata ketua KPR Abud Asseghaf yang berketurunan arab.
“CIIHUUUY…Yuhuuu…Ane ikut Ekspedisi..Saksikanlah, Neo-Toriq Bin Ziyad bakalan membuat sejarah penaklukan Spanyol kembali terulang!!” katanya lantang sambil lompat-lompat kayak kanguru keganjenan. Nggak ada yang berani ngalang-ngalangin. Kalo dah gitu, tanda-tanda nih anak obatnya belum diminum.
Sementara di kejauhan nampak sesosok bayangin yang ngeliatan rapat anak-anak di masjid. Kacamata item merek “LOCAKEP” nangkring di atas kepalanya. Raut mukanya nunjukin dia nggak seneng sama JJS dan anak-anak Masjid.
***
Aslinya, ini rahasia kita loh ya, yang menempati salah satu posisi 7 pasukan dalam ekspedisi Thariq Bin Ziyad adalah Junet. Ya, Junet menempati urutan ketiga dalam point Mutaba’ah. Tapi jelang dua hari lagi mau berangkat, program Ekspedisi Thariq Bin Ziyad masih kekurangan biaya. Ya, Yang banyak ngabisin biaya biasanya transportasi dan program renovasi masjid desa. Biasanya sih, bisa minta sumbangan ke orang tua siswa. Tapi berhubung baru kemaren sekolah ngadain tarikan sumbangan, anak-anak Masjid jadi nggak enak kalo narik sumbangan lagi. Entar kayak sekolah SMK di sebelah SMU JIWAKELANA ntuh. Karena seringnya ada tarikan sumbangan, bahkan beritanya sampe sehari tiga kali (pheuw..kayak jadwal makan aja) sekolah tersebut di plesetian menjadi SMK alias Sekolah Milik Kaipang. (tau nggak kaipang? Kalo nggak tahu jitak kepala tiga kali). Partai Kaipang itu partai pengemis yang ada di Pilem Yoko yang dibintangi Andi Slamet, eh Andy Lau ntuh.
Berangkat dari ketiadaan dana, akhirnya diputuskan untuk mengambil strategi mengikutkan si Toriq, anak juragan Galangan. Dengan harapan, bapaknya Thariq mau ngasih sumbangan atas kegiatan yang diikuti oleh anaknya. Dan akhirnya Junet dengan rela memberikan posisinya kepada Thariq. “Dakwah ini harus terus berjalan, untuk kondisi saat ini, dimana kita kekurangan biaya, Thariq lebih layak menempati salah satu posisi pasukan ekspedisi Thariq Bin Ziyad daripada Ane” Kata Junet berwibawa.
“co cweeet…”, tukas Jodi sok Imut.
***
Beneran, keikutsertaan Thariq memang memberikan angin segar sama Ekspedisi Thariq Bin Ziyad. Si papanya Tahriq akhirnya menggelontorkan dana sumbangan sebesar Rp 2.000.000. Tapi, keesokan harinya bantuan itu di ralat karena sebenarnya papa Thariq mau nyumbang 200.000 aja. “Kemarin keliru ngisi kuitansi, kang” Kata Thariq malu-malu.
“huuuuu….” semua anak ber-koor kecewa.
***
“jadi saya sarankan sebaiknya Thoriq dilarang ikut acaranya anak-anak itu, Om”, kata Robert Lastamasta, sambil mbetulin kacamata item merk “LOCAKEP” pabrikan tanggulangin miliknya. “sekali lagi om, apakah om mau, anak om menjadi buronon polisi karena ikut sindikat teroris? Belum lagi om, kalo mereka memperalat si Thoriq buat bunuh diri, ah, saya saja sebagai temannya akan merasa sangat kehilangan, apalagi Om sebagai orang tuanya, ckk..ck..ck… om pasti menyesal”.
“trus..kenapa sekolah ngijinin acara itu?”
“ah, Om kayak nggak tauk aja…mereka tuh pandai kali ngelobi, Om…dengan sedikit bujuk rayuan, sudah, mereka pasti lolos, nanti di sana Thoriq bakalan di cuci otak”
“Baik, terima kasih informasinya dik Robert”
Hihihi…sukses..yeaaks., Robert membatin. Siapakah gerangan Robert ini?. Memang Robert adalah nama baru dalam dunia Gank sekolah. Dia adalah sempalan dari Gank Apek. Karena kalah dalam pemilihan Pimpinan Gank beberapa waktu lalu, akhirnya dia memutuskan keluar dan bikin Gank Baru. Namanya Gank Lastamasta. Diambilkan dari nama belakangnya sendiri. Gank ini memang tergolong masih kecil di JiwaKelana. Belom punya nama besar kayak Gank Apek, The Devils, Wonderman, WarCraft, Alkatras, SkateBoardeath, the Bombers atau Laskar Halilintar. Dimana mereka sudah hidup di Jiwakelana sangat lama. Dan anggotanya paling sedikit duapuluh anak.
Tapi Robert dengan Gank Lastamastanya patut diwaspadai. Sebabnya, Robert sendiri memiliki dendam kesumat sama Anak-anak masjid. Perkaranya, dia pernah kepergok sama anak-anak Masjid nyuri cabenya kantin. Dan karena ulahnya dia kena hukum sama sekolah makan cabe dua mangkok!!, Busyeeet!!
***
“Pokoknya papa nggak ngijinin”
“ah, pa…nggak itu fitnah pa!”
“nggak bisa, papa nggak mau kamu jadi korban”
“Pa..sumpah pa, itu fitnah, Pa”
“Sudah..sudah..besok kamu ambil uang sumbangan papa yang 200 ribu itu”
***
Keesokan harinya, Sohib, Somad, Jodi sama Junet datang ke rumahnya Thariq. Bermaksud tabayyun alias Klarifikasi. Sohib berusaha menjelaskan sedetail-detailnya apa dan siapa mereka.
“Kami termasuk yang tidak setuju melakukan pengeboman di Indonesia atas nama Agama, Om” Urai Sohib tegas. “Islam adalah rahmatan lil’alamin, memberikan kebaikan kepada semesta alam, oleh karenanya bukan hanya kepada umat muslim kita berbuat baik, kepada nonmuslimpun kita wajib berbuat baik. Selama mereka secara nyata tidak terlibat dalam skenario penghancuran Umat Islam, tidak memerangi kita, darahnya berhak kita lindungi”
Sang Om diam sejenak, lalu buka suara “ah, sayah masih nggak yakin”
Jodi mengambilkan sesuatu dari tasnya. Dia nunjukin dokumentasi kegiatan-kegiatan dakwah anak-anak Rohis yang cenderung santun dan jauh dari kekerasan. Misalkan, disitu ada foto anak-anak lagi kerja bakti buang sampah-sampah di sungai. Mengajari anak-anak pemulung, atau dokumentasi saat memberi bantuan kepada anak-anak yatim. Tak lupa juga, ditunjukkan secara khusus dokumentasi kegiatan Ekspedisi Thariq Bin Ziyad pada tahun-tahun sebelumnya. Terlihat di situ anak-anak Rohis yang sedang berfoto bersama warga Desa dalam keadaan ketawa-ketawa. Foto anak-anak yang lagi bersih-bersih dan ngepel Masjid desa, foto perwakilan Rohis yang berjabat tangan dengan kepala desa. Dan Foto pernikahan kang Malik, senior angkatan 2001 yang menikahi anak pak Lurah desa tersebut. Sekarang Kang Malik sudah memiliki pondok pesantren Putra dan Putri. Yang Putri, sang Istri yang mengelola.
“baiklah pak, kami tidak memaksakan Thariq untuk ikut kami, kehadiran kami ke sini hanya untuk meluruskan bahwa, bapak tak perlu panik, kami bukan Terorist. Bapak lihat kan, wajah-wajah kami, tak ada yang mencurigakan”, serta merta Jodi, Junet dan Somad menampilkan wajah kalem, matanya dibikin sayu, senyumnya tipis sambil mengulum bibir. Gitu mereka malah mirip kayak orang malu abis keceplosan kentut.
Papanya Thoriq terdiam. Sesekali melihat wajah Thariq yang menujukkan penuh harap.
“gimana dik ya, sebenarnya jujur, Om sangat senang dengan Thoriq saat ini. Om merasakan perubahan besar pada Thoriq sejak dia SMA dan ikut kegiatan masjid sekolah. Kalo dulu dia males belajar, sekarang belajarnya jadi rajin, nggak pernah lagi bentak-bentak orang tua, dan sholatnya nggak pernah bolong,”
“Jadi, Om”
Fffffffhhhhh…si Om mendesis, bingung. Matanya merah berair. Kayaknya ada yang di tahan. Tiba-tiba…
“HIKS..HIKS..HIKS”, Si Om nangis.
“kalian tahu, istri om sudah meninggal dunia. Sedangkan Thariq adalah anak semata wayang Om..Om takut terjadi kenapa-kenapa sama dia…Tapi “ Si Om memandangi Thariq yang sejak tadi pasang wajah melas “Bismillah…papa ijinin kamu ikut teman-temanmu, dan uang yang dua ratus ribu saya tambahi ajah sampe dua juta, itu amal bapak untuk mendukung perjuangan kalian. Saya salut Kalian anak-anak muda tapi sangat peduli untuk mendakwahkan Islam, hebat. Moga ibunya di alam kubur sana senang ngeliat Thariq bergaul dalam lingkungan yang baik”
Amiiiiin….,
Thariq langsung berjingkat meloncat ke ayahnya. Kemudian mengelu-elukan tangan sang Ayah sambil bernyayi kayak di Iklan Tivi, “
SUPER DAD..SUPER DAD..”
Sementara Somad langsung Update status di Facebooknya, “BARANGSIAPA BERTAKWA, MAKA Alloh AKAN MEMBERIKAN JALAN KELUAR’…HARI INI AKU MENYAKSIKAN KEBENARAN AYAT TERSEBUT”



Komentar Saudara !