Home » Nuansa Qolbu

Hati yang bercahaya

24 December 2009 One Comment

Alloh (Pemberi) cahaya langit dan bumi.
Perumpamaan Cahaya Alloh, laksana misykat..,
Di dalam pelita…
Pelita itu di dalam kaca..
kaca itu seakan-akan bintang laksana mutiara,
yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi,
pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat
minyaknya hampir-hampir menerangi, walau tak disentuh api.

Nuur ‘Alaa Nuur…Cahaya di atas cahaya…

Alloh membimbing menuju cahaya-Nya sesiapa yang Dia kehendaki,
dan Alloh memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia,
dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nuur 35)
Ayat yang begitu indah. Dalam Tafsir Zilal, Sayyid Quthb menuangkan kata-kata ketakjubannya terhadap Ayat tersebut, “Teks ayat yang sangat menakjubkan ini, timbul bersama dengan cahaya yang tenang dan mencerahkan, sehingga tersebar ke seluruh alam. Ia juga tersebar ke seluruh perasaan dan anggota-anggota badan. Ia mengalir ke seluruh sisi dan aspek kehidupan. Sehingga seluruh alam semesta bertasbih dalam lautan cahaya yang sangat terang. Bila seseorang yang sedang bingung dalam kesesatan berusaha mencarinya, pasti Dia akan memberinya petunjuk. Dan, ketika orang bingung itu mendapatkan cahaya tersebut, pasti dia akan menemukan Alloh, Tuhannya”.
Saudaraku,
Suatu ketika Rosulullah bersabda, Alloh menciptakan makhluk dalam keadaan kegelapan. Kemudian Dia memercikkan kepada mereka sebagian cahaya-Nya (HR. Bukhari dan Tirmidzi). Maka dengan cahaya itulah dunia menjadi seperti hari ini. Pada setiap sisi kehidupan sesungguhnya ada cahaya-Nya. Udara, batu, hewan, langit dan semuanya menjalankan fitrah kemakhlukannya karena cahaya Alloh.
Demikian pula satu makhluk-Nya yang bernama manusia. Dengan cahaya-Nya kita menjadi pribadi yang berkasih sayang, mencintai, mencari dan mengagungkan Alloh ta’ala.
Akan tetapi lambat laun cahaya itu bisa meredup. Siapa lagi kalau bukan karena ulah nafsu. Kemudian nafsu itu membuat mereka bersengaja menjadi manusia munafik dan melakukan kedzaliman. Sehingga Alloh menarik cahaya dari hatinya “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Alloh hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat” (QS. Al-Baqarah : 17)
Dalam kegelapan itu, mereka menjadi orang bingung. Mereka buta terhadap keadaan sekitarnya. Andai ada marabahaya, mereka hanya berdiam saja seolah tak ada apa-apa. Tahu-tahu dia tertimpa, mati dan menyesal. Sebaliknya, andaikata ada emas mutiara di hadapannya, tak akan pula mereka beranjak untuk meraihnya. Karena mereka tak melihat dan tidak menyadarinya.
Begitulah. Ketika dia diliputi ancaman Alloh, akal kematian dan siksa, dia tetap tenang-tenang saja. Tak ada penyesalan dan ketakutan. Sebaliknya, biarpun Alloh ta’ala mengiming-iming pahala dan kenikmatan Surga, tetap saja ia tak beranjak melakukan ketaatan. Dalam gelap, ia tak bisa membedakan mana kotoran mana mutiara. Kotoran dikira mutiara sedang mutiara dianggap kotoran.
Mereka menjalani hidup dengan kegelapan nafsu. Menentukan pilihan-pilihan hidup sesuai kedangkalan berpikir dan kegelapan nurani. Maka saat seharusnya berhenti dia justru berjalan. Saat seharusnya berjalan dia malah berhenti. Mereka tersesat. Semakin jauh dari jalan Alloh dan semakin tak menemukan cahaya petunjuk.
Saudaraku,
Sesungguhnya hati yang jauh dari cahaya, disebabkan oleh ketidakawasannya kepada jiwa. Dimana disana ada celah kecil, seperti jamur penyakit, dan kemudian menyebar makin besar. Imam Al-Hakim At-Tirmidzi mengatakan, “Jika olah jiwa diabaikan, gelora syahwat berikut kenikmatan dan perhiasannya akan menutupi qalbu seperti asap dan awan, Cahaya qalbu menjadi tidak terang, syahwatnya menutupi cahaya itu dengan kegembiraan, perhiasan, kenikmatan dan kelezatan (dunia)”.
Karena tabiat nafsu membawa kegembiraan dan kelezatan, akhirnya justru terlihat baiklah apa yang mereka kerjakan. Mereka membenarkan sikapnya dengan hujjah-hujjah atau kesenangan duniawi yang diperolehnya. Alloh ta’ala berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An’aan : 122.)
Oleh karena itu, saudaraku..
Orang-orang yang mendapat cahaya Alloh adalah orang-orang yang beruntung dunia akhirat. Dia berjalan di atas muka bumi dengan cahaya-Nya. Dengan cahaya itu memupuk kerinduan, memberikan ketaatan dan pengagungan kepada Alloh.
Iapun selalu menemukan keberuntungan dan ketepatan dalam menentukan pilihan hidup. Tentu saja, sebab hakikatnya bukanlah ia yang memilih, tapi ia “dipilihkan”. Dia diarahkan. Dia dihantarkan. Terasa ringan baginya kebaikan-kebaikan. Dan terasa berat baginya kemaksiatan-kemaksiatan. Alloh menentramkan hati mereka dengan cahaya-Nya. Kemudian cahaya itu dirasakan oleh manusia-manusia disekelilingnya sehingga semua manusia memandang baik kepadanya. Sedang Alloh tetap ada di hatinya. SubhanAlloh, tidakkah itu semua sudah cukup?.
Lihatlah bagaimana Rosulullah menuangkan kerinduannya akan cahaya Alloh melalui doa beliau, “Ya Alloh, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di dalam ucapanku cahaya, jadikanlah pada pendengaranku cahaya, jadikanlah pada penglihatanku cahaya, jadikanlah dari belakangku cahaya, dan dari depanku cahaya. Jadikanlah dari atasku cahaya. Dari bawahku cahaya. Ya Alloh berikanlah kepadaku cahaya dan jadikanlah aku cahaya” (HR. Muslim & Abu Daud).
“Hati-hati yang bercahaya”, begitulah Sayyid Quthb menyebutnya. Berbahagialah orang-orang yang mereka mendapatkan cahaya Alloh. Cahaya di atas cahaya. Alloh menciptakan cahaya-cahaya di alam semesta, namun cahaya dzatnya yang terpercik di hati-hati manusia, melebihi segalanya. Dalam naungan cahaya itu seakan mereka sudah tak butuh apapun. Dengan cahaya itu mereka berjalan. Dengan cahaya itu mereka mensyukuri nikmat dan ridha atas segala ujian. Dengan cahaya itu pula mereka kelak menemui Alloh Ar-Rahman..WAllohu A’lam Bisshowab..

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.

One Comment »

  • SAPTONO said:

    Assalamu’alaikum wr wb

    Allhamdulillah, semoga apa yang sampai kepada kita dipilihkan Allah yaitu apa yang kita lihat, dengar, perbuat dan rasakan Amin.

    Wassalam