IBNU RUSYD : Sang Perintis Ilmu Kedokteran
Ibnu Rusyd adalah seorang filosof yang amat cemerlang. Beliau juga ahli dalam ilmu Al-Qur’an serta ilmu kealaman seperti misalnya fisika, kedokteran, biologi, dan astronomi.
Di peradaban barat ia dikenal dengan nama Averroes, meskipun namanya yang lengkap adalah Abu Al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd. Ibnu Rusyd Lahir di Kordoba/Spanyol pada tahun 520 H/1126 M dan meninggal di Maroko pada tahun 595 H/1190 M.
Ibnu Rusyd berasal dari sebuah keluarga terpelajar berkebangsaan Spanyol yang juga telah terkemuka sejak beberapa generasi di atasnya. Keluarganya terkenal alim dalam ilmu fiqh. Kakeknya merupakan seorang konsultan hukum serta menjadi qadii dan Imam di Masjid Besar Kordoba. Pun juga ayahnya juga merupakan seorang qadli. Al-Hafidz Abu Muhammad Ibnu Rizk merupakan salah seorang gurunya, begitu pula Ibnu Zuhr. Bahkan dapat dikatakan bahwa buah pemikiran dan kejeniusan gurunya ini memberikan pengaruh dan mengalir cukup deras ke dalam alam pemikiran Ibnu Rusyd.
Masa hidup Ibnu Rusyd berada dalam situasi politik yang pelik dan sedang berkecamuk. la lahir pada masa pemerintahan al-Murafiah yang kekuasaannya digulingkan oleh golongan al-Muhadiah di Marakusyi pada tahun 542 H/1147 M, yang sepenuhnya menaklukkan Kordoba pada tahun 543H/1148 M. Gerakan al-Muhadiah itu sendiri dimulai oleh Ibnu Tumart yang menyebut dirinya sebagai al-Mahdi.
Pada tahun 548 H/1153 M Ibnu Rusyd berada di Maroko, di mana ia diperkirakan berada di Maroko ini dalam rangka mengemban tugas yang dipikulkan oleh Almohad Abdul Mu’min. Melalui keterangan yang didapatkan dari De Caelo, diketahui bahwa Ibnu Rusyd melakukan pula observasi-observasi astronomi di sana.
Jadi kemungkinan besar pada saat itulah ia menulis sebuah komentar dan pendapat mengenai metafisika sewaktu menyatakan usulan mengenai riset-riset yang mesti dilakukan terhadap gerak planet-planet untuk memperoleh astronomi yang bersifat fisis, tak hanya matematis.
Pada tahun 578 H/1182 M, di Maroko ia menggantikan kedudukan Ibnu Thufayl sebagai kepala tabib (dokter istana) Abu Ya’kub Yusuf. Kemudian diterima di kantor kepala qadii (hakim agama Islam) Kordoba.
Sumbangan Ibnu Rusyd pada bidang filsafat, kedokteran, dan teologi sangatlah banyak dan dapat disejajarkan dengan sumbangan yang diberikan oleh Al-Farabi dan Ibnu Sina, dua tokoh Muslim yang jika dilihat dari kemahsyuran dan sumbangan pemikiran termasuk menyainginya.
Meskipun begitu Ibnu Rusyd lebih unggul dalam tiga masalah fundamental yakni kemahirannya menafsirkan dan menguraikan pemikiran Aristoteles, kontribusinya terhadap bidang jurisprudensi (fiqh) berupa dua buah karya penting yang salah satunya masih eksis hingga kini, dan sumbangannya yang sangat signifikan pada bidang teologi.
Ibnu Rusyd dikenal pula sebagai seorang perintis ilmu kedokteran umum, serta perintis ilmu tentang jaringan tubuh (histology). la juga berjasa dalam bidang penelitian pembuluh-pembuluh darah dalam tubuh manusia, serta sumbangan pemikirannya dalam penyakit cacar. Buku karangannya “Al-Kulliyat ft ath-Thibb” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Bonacosa (seorang Yahudi dari Padua) sebagai “Colliget” merupakan ikhtisar kedokteran yang terlengkap pada zaman itu dan diterbitkan di Padua pada tahun 1255 M. Bahkan salinannya yang ditulis dalam bahasa Inggris dan dikenal dengan nama “General Rules of Medicine” atau aturan umum tentang kedokteran sempat dicetak berulang kali di Eropa.
Ketika Ibnu Rusyd diperkenalkan kepada Khalifah Yusuf, ia telah menulis beberapa karya serta komentar-komehtar ringkas tentang “Organon”, “Physics” dan “Metaphysics”, yang sama baiknya dengan karya besamya di bidang medis “Al-Kulliyat fi ath-Thibb” (Aturan-aturan Umum Ilmu Kedokteran) yang terdiri dari 16 jilid. Di samping itu, ia juga meminta kepada sahabat karibnya, Abu Marwan Ibnu Zuhr untuk bekerja sama menulis sebuah buku tentang “Particularities” (”Al-Umur al-Juz’iyyah”), sehingga menurut Ibnu Abi Ushaybi’ah, karya bersama mereka menjadi sebuah karya lengkap tentang seni pengobatan.
Di antara karya-karyanya, yang dalam teks Arab, adalah komentarnya terhadap “Physics” (”As-Sama’at-Tabi’i”), “De Caelwt Mando” (”As-Sama’ wa al-Alam”), “De Generatione et Corruptione” (”Al- Kawn wa al-Fasad”), “Meteorologica” (”Al-Atsar al-Ulwiyyah”), “De Anima” (”an-Nafs”), “Metaphysical Questions” (”Ma Ba’ad at-Tab’ah”, Pertanyaan-pertanyaan Metafisis) dan lain-lain.
Di samping keahliannya dalam bidang-bidang tersebut di atas, Ibnu Rusyd dikenal pula sebagai pemberi komentar bagi karya Ibnu Sina yang paling bersemangat meskipun ia memberikan juga respek yang tinggi terhadap karya-karya medis pendahulunya tersebut. Seperti yang teriihat dalam komentamya berupa syair medis yang berjudul “Al-Urjuza fi ath-Thibb”. la juga amat tertarik dengan gagasan-gagasan al-Farabi tentang logika yang malahan kerapkali memberinya inspirasi.
Selain masyhur sebagai seorang dokter, Ibnu Rusyd juga dikenal khalayak sebagai seorang ahli matematika, Ilmu hukum Islam, dan juga seorang filosof yang brilian. Sejarah mencatat pembelaannya yang cemerlang yang dilakukannya dalam “menangkis” serangan al-Ghazaly yang menuding para filosof telah sesat dan karenanya menjadi kafir. “Pertarungan seru” tentang dua pendapat ini dapat kita baca pada bukunya yang berjudul “Tahaful al-Tahafut”. Karyanya yang berjudul “Bidayatul Mujtahid” merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa ia juga seorang ahli dalam bidang yurisprudensi Islam. la juga dikenal sebagai seorang polemis yang tajam pena-nya dan kuat dalam hal rasionalitasnya.
Karya-karyanya dalam bahasa Arab jika dikumpulkan kira-kira berjumlah 78 buah yang masih tetap tersimpan dan terawat baik di perpustakaan Escurial di Kota Madrid Spanyol. Dua puluh buah karyanya berupa tulisan tentang kedokteran dan empat buah di antaranya mengenai astronomi.
Dalam sejarah hidupnya Ibnu Rusyd pernah mengalami pembuangan ke Lucena (dekat Kordova) akibat difitnah. la dituduh murtad dan menghina kepala negara. Namun kemudian ia dibebaskan atas tekanan dan desakan-desakan tokoh-tokoh terkemuka pada saat itu. Akan tetapi beberapa waktu kemudian ia kembali diasingkan ke Maroko (lagi-lagi karena fitnah) hingga Ibnu Rusyd meninggal di sana pada bulan Shafar 595 H/10 Desember 1198 M. Jenazahnya kemudian dibawa ke Kordova dan dimakamkan di dekat tempat pemakaman Ibnu Arabi, seorang tokoh cendikiawan muslim yang mahsyur juga.



Komentar Saudara !