Home » Menu Utama

MASIHKAN BENCANA TIDAK MEMBUKA HATI KITA?

24 December 2009 No Comment

Bencana beruntun menghantam berbagai belahan dunia. Gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor seakan tiada henti. Baru kemarin rasanya gempa di bumi Sunda, sudah menyusul tsunami di Samoa. Berbilang jam berikutnya gempa menghantam Sumatera. Belum lagi kering air mata para korban gempa Sumatra, tersiar berita, di Philipina  ratusan orang mati akibat bencana hujan yang tiada henti.
Tidak terbilang harta benda yang sirna begitu saja di terjang bencana. Tidak terperikan kesedihan para korban yang kehilangan semua yang dicintainya, bahkan sanak keluarga ada yang meregang nyawa diterjang bencana. Yang tersisa apa yang melekat di badan saja. Mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian yang apa adanya. Hati sedih, perut lapar dan tidak tahu harus berbuat apa di hari-hari dekat nanti. Mereka tentu butuh waktu untuk kembali normal seperti sedia kala.
Berbagai analisa terus kita baca dan dengarkan dari berbagai media  tentang penyebab bencana. Mengikuti analisa bencana dari ahlinya pasti ada manfaatnya..  Setidaknya menjadikan siapapun lebih waspada. Untuk meminimalkan korban kalau terjadi hal yang sama entah kapan dan dimana. WAllohu a’lam.
Kalau kita selalu membaca berita-berita tentang bencana. Membaca analisa dari para ahinya. Maka sesungguhnya jauh lebih penting bagi kita sebagai orang-orang yang beriman adalah membaca bencana dalam hati dan pikiran masing-masing. Adakah kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari bencana demi bencana yang Alloh hadirkan di berbagai penjuru dunia?
Sederet pernyataan bisa kita renungkan bersama. Apakah dengan gempa dan berbagai bencana tersebut dapat membuka hati kita. Menjadi menyadari Kemahakuasaan Sang Maha Pencipta. Menjadi pengantar penyempurna atas penghambaan kita. Menjadikan kita menundukkan kepala menyadari kelemahan diri sebagai manusia yang tidak ada apa-apanya dihadapan kekuasaan Sang Maha Perkasa. Menjadi pengantar kesadaran tentang banyaknya dosa-dosa yang ada dalam diri kita.
Melihat fenomena yang ada, rasanya tidak banyak diantara ummat ini yang mengambil pelajaran dari bencana yang terjadi diberbagai belahan dunia tersebut. Bencana tidak dipahami sebagai terguran-Nya kepada semua manusia. Tidak dipahami sebagai peringatan agar kembali kepada-Nya. Maka yang tampak adalah sebelum dan sesudah terjadinya bencana, tidak ada perubahan apa-apa. Setelah bencana tidak ada gerakan moral atau perbaikan akhlak kepada sesama dan kepada Tuhan-Nya. Kedzaliman dan mendzalimi sesama terus berjalan seperti sedia kala. Kemungkaran dan kemaksiatan  terus saja merajalela dimana-mana, sementara sarana-sarana tempat menyembah Alloh tampak selalu sepi. Masjid-masjid dan musholla tetap saja merana. Sholat lima waktu hanya dihadiri beberapa gelintir jamaah saja. Satu dua shof (apalagi subuh) itu sudah luar biasa bagusnya. Dan yang rukuk dan sujud satu dua baris itu hanyalah para orang tua yang sudah berusia senja.
Apakah manusia mengira bahwa mereka yang jauh dari pusat bencana tidak termasuk orang-orang yang diperingatkan oleh Tuhannya? Lalu di hatinya merasa tidak perlu merespon dengan cara memperbaiki akhlak kepada sesama dan kepada Tuhan-Nya? Kalau saja ummat muslim mau membuka Al Qur’an dengan penuh keimanan, maka ia akan menyadari bahwa bencana yang terjadi di belahan bumi manapun, merupakan peringatan agar manusia kembali memenuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Agar manusia kembali ke jalan yang benar. Agar manusia kembali kepada fitrah penciptaan dirinya. Yakni menghamba hanya kepada Sang Maha Pencipta.
Sayang kebanyakan dari Bani Adam ini semakin lama semakin tenggelam dalam keasyikan diri dan kehidupan dunianya. Kehidupan yang terlepas dari bimbingan-Nya. Manusia rasanya sudah menutup mata hati dari peringatan dan ancaman-Nya. Tidakkah tergetar dengan firman-Nya? ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.(QS: Al Isra’ (17) : 16). Alloh mengancam akan meluluh lantakkan semua.
Dari ayat ini kita bisa mengambil pelajaran agar hati menjadi terbuka. Betapa sangat mudahnya bagi Alloh untuk menghancurkan semua. Entah dengan tentaranya yang bernama air bah, angin topan, api yang membara, gempa yang mengguncang semua, kemarau dan panas panjang, hujan badai, badai salju dan seterusnya. Harusnya manusia menyadari dan membuka hati sepenuhnya bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah tentara-Nya yang bisa diperintahkan sesuai dengan takdir-Nya. Takdir membinasakan manusia sekalipun. “Dan kepunyaan Alloh-lah tentara langit dan bumi Dan adalah Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS : Al Fath (48) : 7). “Alloh-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Alloh berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Alloh ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” ( QS  At Thaalak (65) : 12).
Jika Alloh telah menggerakkan tentara-Nya yang manapun, tidak ada manusia yang mampu menahannya. Semua ilmu dan teknologi yang dipunyai manusia menjadi tidak ada apa-apanya. Ilmu dan teknologi yang membuat manusia lalai dan sombong, tidak bisa menyelamatkan manusia barang sedikitpun.

HATI TELAH MATI?
Ketika bencana tidak memperoleh respon sebagaimana mestinya sebagaimana dikehendaki Sang Maha Pencipta. Ketika bencana tidak lagi menggetarkan hati manusia akan KemahaPerkasaan Sang Maha Pencipta. Ketika bencana tidak mengantarkan manusia kembali menjadi hamba yang berbakti kepada Illahi. Ketika bencana tidak menjadikan hati menusia tergerak untuk memperbaiki penghambaan dirinya kepada Sang Maha Kuasa. Maka semua itu menjadi jelas dan gamblang bahwa manusia tidak lagi peduli dan mencampakkan janjinya untuk berbakti dan untuk mengabdi kepada Ilahi selama hidupnya di muka bumi ini. Baca kembali janji setiap diri kita yang Alloh abadikan dalam firman-Nya ”Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,(QS: Al A’raaf (7): 172).
Ketika manusia telah mengingkari janjinya untuk mengabdi kepada Ilahi, maka menjadi jelas bahwa hati manusia hanya perputar-putar disekitar urusan dunia semata. Ketika telah sampai kondisi seperti itu maka hati manusia benar-benar mati. Hati manusia benar-benar telah buta. Dalam keadaan seperti itu penglihatan dan pendengaran yang dimilikinya tidak lagi bermakna bagi kehidupannya. Sebagaimana disiratkan dalam firman-Nya,”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada (QS: Al Haj (22): 46).
SAATNYA MEMBUKA MATA HATI
Jangan sekali-kali terbersit di hati kita, bahwa bencana terjadi jauh dari tempat kita berada. Jangan pernah berkata bahwa daerah kita jauh dari pusat bencana sebagaimana dikatakan para ahlinya. Ketahuilah oleh siapapun, jika manusia terus berakrab-akrab dengan kemungkaran dan kejahatan, maka sesungguhnya manusia mengundang datangnya azab dan murka-Nya. Perhatikan firman-Nya,”Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Alloh bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari” (QS: An Nahl (16): 45). Api di rumah kita. Awan yang bergerak diatas kita bisa menjadi bencana jika Alloh memang menghendakiNya.
Tidak cukupkah bencana demi bencana yang terjadi dimana-mana itu membuka hati kita? Apakah kita akan membiarkan bencana berlalu begitu saja tanpa mengambil makna didalamnya? Apakah bencana tidak juga menjadikan hidup kita lebih baik dari sebelumnya? Apakah bencana tidak menjadikan kita bergegas untuk menyempurnakan penghambaan kepada-Nya? Padahal Alloh telah memberi tahu semua manusia agar belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Ummat-ummat terdahulu banyak yang dibinasakan karena kedurhakaan mereka. Apakah kita akan terus mengabaikan seruan dan ancanaman-Nya, ”Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Alloh baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Fathir (35): 44)
Saudaraku.. Dengan hati tawaddu, dengan mengakui semua dosa-dosa, kelemahan dan kerendahan diri dihadapan-Nya. Mari kita memohon agar diri dan keluarga kita dijauhkan oleh Alloh dari termasuk kedalam golongan orang-orang yang berhati buta. Sehingga kita bisa mengambil hikmah sebesar-besarnya dari setiap bencana. Kita tidak perlu takut akan bencana apapun. Toh tanpa bencapun, jika sudah sampai waktunya kita pasti akan mati juga. Yang kita takutkan dengan bencana adalah kejadiannya itu disebabkan karena murka-Nya atas kedzaliman-kedzaliman kita semua. Naudzubillah Yaa Alloh….
Tidak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa banyaknya bencana tidak ditangkap manusia sebagai sinyal teguran dari Sang Maha Pencipta. Bencana tampaknya hanya dibaca sebagai gejala alam semata. Tidak lebih tidak kurang. Sumber referensi yang dicari untuk memahami bencana sebatas pendapat para ahli geologi. Pendapat yang sesungguhnya tidak merubah apa-apa terhadap datang dan perginya bencana. Rasanya tidak banyak orang yang berusaha membuka al Qur’an untuk memahami apa kata Sang Pencipta tentang bencana ini.
Yaa Alloh ampuni dosa-dosa kami, keluarga kami dan semua saudara muslim kami diseluruh belahan bumi. Dengan rahmat-Mu, Ridhoi kami semua di dunia ini dan di akhirat nanti. Wahai Dzat yang Maha Mengasihi, kabulkan do’a dan pengharapan kami. Aamiin….

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.