Mereka Dipanggil Dibulan Suci #2
Di sela-sela rapat akhir bulan, seorang rekan dari Divisi Layanan Sosial dan Dakwah menyampaikan sebuah berita duka. Seorang abang becak binaan kita meninggal dunia. Namanya Pak Yono, dari pangkalan becak Kedung Asem. Tentu saja, kami semua bersedih. Innalillahi Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun… berita itu menambahi kesedihan kami setelah beberapa waktu sebelumnya kami juga dikabari meninggalnya Islahuddin, seorang anggota Majlis Ta’lim Abang Becak yang mangkal di daerah Rungkut.
Teman kami ini juga menyampaikan titipan ungkapan terima kasih dari istri beliau kepada Nurul Hayat, khususnya untuk program Majlis Ta’lim Abang Becak. Dimana menurutnya, sang suami mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan tersebut.
“Dulu ketika sebelum ikut majlis ta’lim, bapak malas sholat, tapi ketika rutin ikut ngaji bersama teman-temannya yang lain (di Nurul Hayat) bapak jadi rajin sholat.” Kenang beliau.
Bahkan tak hanya itu, sang istri mengatakan bahwa Pak Yono tidak pernah mau sholat wajib di rumah. Dalam keadaan apapun, entah itu dalam kondisi mangkal di pangkalan becak, di rumah, atau sedang bepergian, apabila terdengar panggilan Adzan selalu beliau sempatkan ke Masjid. Bahkan dalam keadaan sakitnya-pun beliau masih sempatkan untuk sholat di Masjid.
Benar-benar inspiratif. Mendengar cerita itu, seluruh peserta rapat tertegun. Sebagian lisannya komat-kamit, bertasbih. Beberapa diantaranya terlihat matanya berkaca-kaca. Ada perasaan bahagia, syukur, senang, dan juga bercampur malu. Malu kepada Alloh, malu kepada Pak Yono.
Aktivitas layanan sosial dan dakwah yang banyak dan padat, jujur saja kadang membuat kami terjebak dalam rutinitas. Berangkat pagi-pagi, pulang petang atau kadang sering hingga larut malam. Hari Ahad-pun juga masih beraktivitas. Kadang tanpa sadar, di hati ada keluh kesah, lelah, malas dan juga tidak ikhlas.
Mendengarkan cerita bahwa dari apa yang kita lakukan itu membuahkan hasil yang sangat indah, yaitu bisa mengantarkan mereka lebih dekat kepada Alloh, ada perasaan bahagia dan berbunga-bunga. Kami seperti di sirami energi semangat untuk berkarya lebih besar lagi.
Walaupun bersamaan rasa syukur tersebut sejujurnya menyisakan rasa malu di hati kami. Memang kami bersyukur menjadi jalan kebaikan namun sekaligus juga malu karena barangkali kami selama ini kurang menyadari karunia itu. Yaitu karunia kami berada di Nurul Hayat dan dijadikan jalan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya yang lain. Padahal boleh jadi, di luar sana ada orang-orang shalih yang lebih layak daripada kami. Kita juga malu, karena barangkali kita tidak lebih baik dari Pak Yono dalam hal memuliakan ibadah shalat.
Ada sebuah fragmen kisah ketekunan ibadah Pak Yono yang saya mendengar dari istrinya ketika bertakziyah. Waktu itu, Pak Yono dalam keadaan sakit. Saat terdengar adzan sholat Ashar, beliau bergegas memakai pakaian terbaiknya untuk pergi ke Masjid. Sang istri melarang. Tapi beliau memaksa. Sang istri kembali menawarkan jalan tengah, sholat saja di Mushalla dekat rumah. Tapi pak Yono tetap kekeuh. Lebih memilih sholat di Masjid yang di situ barangkali beliau mengejar keutamaan jamaah sholatnya yang lebih banyak, bisa niat i’tikaf karena berstatus Masjid secara fikih (dibuat sholat jum’at).
“Waktu pulang dari Mushalla, saya ndak tahu tiba-tiba banyak orang berkerumun di rumah saya.” kata sang ibu, sambil sesekali melihati foto Pak Yono yang terpasang di tembok di belakang saya. “Ternyata setelah saya lihat, mereka sedang ngerumuni bapak yang sedang pingsan.” Kata warga, Pak Yono ditemukan jatuh di gang menuju Masjid dalam keadaan tidak sadarkan diri. SubhanAlloh..
Kesungguhan Pak Yono sholat di Masjid walau dalam keadaan sakit cukuplah menjadi penanda keimanan beliau kepada Alloh. Ya, bukankah kesungguhan seseorang dalam melakukan amal akhirat adalah seukuran dengan tingkat keimanan dia kepada Alloh?. Sebagaimana Ibnu Qayyim pernah berkata, “Kurangnya amal shalih pada diri seseorang menunjukkan kurangnya iman, sebagaimana kekuatan beramal juga menunjukkan kuatnya iman.”
Beberapa hari kemudian, saya bertakziyah ke rumah beliau. Dalam perjalanan ke rumah beliau di perkampungan padat Kedung Baruk, saya sudah mengira, bagaimana kehidupan beliau dan keluarganya. Setelah bertanya alamat berkali-kali dan keluar masuk gang sempit, akhirnya kami mendapati rumah kecil Pak Yono dan keluarganya. Saya disambut seorang putranya yang cacat fisik akibat terbakar listrik.
Orang-orang yang tidak terkenal. Orang-orang yang tak punya pangkat. Orang-orang yang dianggap kelas bawah. Orang-orang yang “dijauhi” oleh harta dan dunia. Justru mereka yang kadang mendapat karunia besar dari Alloh. Hidupnya sederhana dan tak banyak angan-angan.
Dengan keadaan seperti itulah barangkali Alloh “menjaga” kemuliaan Pak Yono. Alloh tidak memberinya kekayaan berupa harta, melainkan InsyaAlloh, yang lebih baik dari itu, yakni kekayaan hati. Saya teringat kata-kata hikmah dari Ibnu Taimiyah, “Pahala dan ganjaran amal perbuatan yang dilakukan tidak hanya terlihat pada bentuk lahirnya saja. Akan tetapi, keberadaannya juga tampak dalam bentuk yang sesungguhnya di dalam hati. Setiap manusia sangat berbeda dalam hal tersebut”.
Balasan amal kebaikan tak hanya di ukur dengan makin bertambahnya duniawi saja. Tapi hati yang makin tenang, tawadhu’, syukur, sabar, ridha dan yakin, itulah sebaik-baiknya balasan…
Mudah-mudahan Pak Yono pulang kepada Alloh membawa hati yang seperti itu. WAllohu A’lam Bisshowab
*Kalaupun ada keberhasilan dalam karya-karya yang dibuat oleh Nurul Hayat, semata-mata semua karunia Alloh. Dan kami serta Anda, para donatur, dipilih oleh Alloh untuk menyampaikan karunia-Nya kepada sebanyak-banyaknya ummat. Mudah-mudahan amal ibadah kita diterima oleh Alloh..



Komentar Saudara !