Home » Cahaya Islam

Cahaya dan Nikmat Penglihatan

19 January 2010 No Comment

Sinar merupakan sebuah karunia yang atas izin Alloh dengan sinar tersebut kita dapat melihat benda-benda yang terhampar di jagat semesta ini. Bagaimana metode yang ditempuh oleh mata sehingga dapat melihat benda-benda ternyata masih belum diketahui orang sebelum Islam datang.
Saat itu para filosof berkeyakinan bahwa proses melihat benda terjadi karena mata mengeluarkan sinar yang meliput benda-benda yang dilihat secara langsung. Atau dengan kata lain proses melihat ini terjadi karena terekamnya gambar benda di mata dan mata tidak memantulkan apa-apa.
Pendapat filsuf tentang penglihatan yang keliru secara ilmiah ini menghambat penelitian ilmiah yang benar, bahkan merupakan sebab tertundanya teori penglihatan yang benar sampai datang masa peradaban Islam karena para ilmuwannya berkat konsep Islam dalam penelitian dan pemikiran mampu menempuh metode induksi yang sangat teliti untuk membuktikan kekeliruan pendapat filsuf klasik itu. Mereka berhasil menemukan teori baru tentang penglihatan atas dasar sinar sebagai faktor perangsang luar.Tokoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah Al-Hasan bin Al-Haitsam yang bersama tokoh-tokoh lain meletakkan dasar-dasar ilmu tentang sinar dan penglihatan. la menulis karya yang ter1aenal,Al-Manazhir, yang kelak menjadi rujukan ilmuwan Eropa pada masa kebangkitan modern. Teori penglihatan yang baru itu sejalan dengan hal-hal yang dikabarkan Al-Qur’an bahwa mata telanjang mustahil dapat melihat dalam keadaan gelap, sebagaimana firman Alloh SWT:

Perumpamaan mereka adalah bagaikan orang yang menghidupkan api. Ketika api itu menerangi apa yang ada di sekelilingnya, Alloh menghilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat. (QS Al-Baaarah: 17)
Dalam ayat ini Alloh mengumpamakan keadaan orang-orang munafik seperti keadaan orang yang menghidupkan api. Setiap kali api itu menyala dan menerangi seluruh benda yang ada di sekitarnya, mereka dapat melihat. Akan tetapi, ketika Alloh menghilangkan cahayanya, (yaitu cahaya yang memancar dari benda-benda gelap yang sampai ke mata mereka sehingga membantu mereka dapat melihat), terjadilah kegelapan yang tidak dapat membantu mereka untuk melihat.
Dengan demikian, Alloh menjadikan proses penglihatan benda berkaitan secara langsung denganjatuhnya cahaya atau sinar ke benda itu, kemudian memantui ke mata. Sedangkan, sinar itu sendiri tidak dapat membantu untuk melihat suatu benda kalau tidak jatuh ke benda tersebut sebab mungkin ada sinar di pinggir suatu benda, tetapi benda itu tetap saja gelap tidak teriihat. Contohnya, sinar matahari yang melewati kamar gelap tanpa menyentuh suatu benda yang ada di dalamnya, padahal udara kamar itu bersih dan tidak berdebu.
Sinar matahari itu tidak akan mampu menghilangkan kegelapan kamar selama ia tidak menyentuh benda untuk memancarkan dan memantulkan cahayanya. Sinar terang yang lewat disamping suatu benda di tengah malam gelap juga tidak akan membuat benda itu teriihat jika sinar itu tidak jatuh ke permukaannya. Akan tetapi, jika sinar itu jatuh ke permukaannya, kemudian terpantui ke mata, ia menjadi teriihat. Jadi, Al-Qur’an lebih dahulu berbicara kemustahilan terjadi penglihatan di tempat yang gelap, ketika tidak ada sinar yang terpantui dari benda.
Mengutip sistem dari proses melihat yang paling diakui oleh ilmu pengetahuan kontemporer yang redaksi kutip dari harunyahya.com, ia menyatakan bahwa proses penglihatan terjadi secara bertahap. Saat mata melihat benda, kumpulan cahaya (foton) bergerak dari benda menuju mata. Cahaya ini menembus lensa mata yang selanjutnya membiaskannya dan menjatuhkannya secara terbalik di retina mata – bagian belakang mata. Sinar yang jatuh di retina mata ini di ubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh syaraf-syaraf neuron ke sebuah bintik kecil di bagian belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Di dalam pusat penglihatan inilah, sinyal listrik ini diterima sebagai sebuah bayangan setelah mengalami sederetan proses. Dalam bintik kecil inilah sebenarnya penglihatan terjadi, di bagian belakang otak yang sama sekali gelap dan terlindung dari cahaya.
Saat mengatakan “kita melihat”, sebenarnya kita hanya melihat efek-efek impuls yang sampai ke mata kita dan diteruskan ke otak kita setelah diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Jadi, saat kita mengatakan “kita melihat”, sebenarnya kita hanya melihat sinyal-sinyal listrik di dalam otak kita.
Buku yang sedang Anda baca serta pemandangan yang terbentang di kaki langit termuat dalam ruang kecil di dalam otak ini. Hal yang serupa terjadi dengan persepsi lain yang Anda tangkap melalui keempat indra lainnya.
Para astronaut belakangan mi mencatat, setelah mereka menembus batas atmosfer bumi, langit kehilangan warna birunya yang menarik yang kita lihat dari bumi. Langit menjadi hitam pekat meskipun matahari dan bintang menyala terang. Hal itu terjadi karena tidak ada benda yang cukup untuk memantulkan sinar agar terjadi proses penglihatan. Mereka juga mencatat langit bulan selalu gelap karena bulan tidak memiliki atmosfer di atas permukaannya. Dari angkasa luar, bumi tampak seperti bola yang bercahaya di tengah-tengah gelap gulita. Gambar-gambar yang diambil mereka selama perjalanan antariksa itu membuktikan bumi dan bulan bercahaya berkat sinar matahari yang dipantulkan, sedangkan warna hitam yang meliputi gambar-gambar itu adalah kegelapan langit.
Demikianlah sains membantu mengungkap rahasia dibalik ayat-ayatAl-Qur’an. Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur’an yang bertentangan dengan fakta ilmiah yang berkenaan dengan hukum Alloh di alam raya.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.