Home » Menu Utama

Hanya Sedikit yang Berjuang Untuk Masuk Surga

19 January 2010 No Comment

Saudaraku, tulisan ini tidak berpretensi untuk menghakimi siapapun. Mudah-mudahan judul tulisan ini seratus persen salah. Yang benar justru sebaliknya yaitu mayoritas umat Islam benar-benar berjuang sungguh-sungguh untuk masuk syurga. Kalau judul di atas yang dipilih, itu semata-mata agar menjadi penggugah kesadaran penulis dan siapapun diantara ummat Islam agar lebih memperhatikan dengan sungguh-sungguh soal kesempurnaan ibadah, kebaikan akhlak diri dan ketaatan kepada Alloh dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Hidup hanya sekali dan pasti berujung pada kematian.
Tulisan ini bermula dari ketersirapan penulis saat menghadiri undangan khotmil (hataman) Al Qur’an di sebuah TPQ. Ditengah berlangsungnya hataman itu pikiran dan perasaan penulis campur baur antara kagum dan miris. Penulis kagum kepada kemampuan anak-anak dalam penguasaan atas bacaan-bacaan Al Qur’an. Miris  saat memikirkan yang diwisuda hari itu hanya 9 orang. Apalagi saat itu mendapatkan informasi bahwa tidak setiap tahun ada wisuda hataman al Qur’an. Wisuda terakhir sebelum ini adalah tiga tahun sebelumnya. Kalau dalam kurun tiga tahun yang lulus 9 orang, maka berarti setiap tahun rata-rata hanya 3 orang. Ya hanya tiga orang anak yang  hatam al Qur’an.
Wisuda hataman  Al Qur’an itu, bisa menjadi indikator pembenar atas beberapa pernyataaan ini. Mudah-mudahan semuanya salah. Bahwa hanya sedikit orang tua yang memperhatikan agama anak anaknya.  Hanya sedikit diantara ummat Islam ini yang menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan hidupnya. Hanya sedikit jumlah orang tua yang benar-benar menjaga keselamatan dunia akhirat anak-anaknya. Hanya sedikit orang tua yang peduli mengajarkan anak-anaknya untuk taat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Hanya sedikit diantara orang tua yang menyiapkan jalan ketentraman hati bagi anak-anaknya. Tanpa kedekatan dengan Al Qur’an, ketentraman hati  yang sesungguhnya tidak akan pernah didapatkan. Hanya sedikit diantara orang tua yang peduli agar anak-anaknya mencintai Al Qur’an. Mungkin karena orang tua juga tidak mencintai Al Qur’an. Hanya sedikit diantara orang tua yang memikirkan nasib akhir anak-anaknya di akhirat kelak. Apakah anak-anaknya berujung di syurga atau neraka. Naudzubillah.
Bandingkan dengan acara semacam untuk urusan pendidikan dunia. Di kota Surabaya saja, setiap tahun puluhan ribu anak-anak dan remaja  berhasil menyelesaikan pendidikan formalnya mulai dari tingkat SD hingga SMTA. Orang tua mana yang tidak peduli kepada pendidikan formal anak-anaknya. Pendidikan formal menjadi pertaruhan segala-galanya bagi orang tua. Orang tua selalu khawatir akan nasib  masa depan anak-anaknya. Urusan pendidikan formal anak-anak, benar-benar menguras  perhatian dan pikiran semua orang tua. Perhatikan saat menjelang ujian akhir tahun dan seleksi masuk jenjang pendidikan lanjutan bagi anak-anaknya. Tidak sedikit orang tua yang dibuat setres memikirkan nasib anak-anaknya.
Memperhatikan fenomena perhatian orang tua yang sangat bertolak belakang antara urusan dunia dan akhirat anak-anaknya, bisa menjadi pembenar atas kesimpulan bahwa kebanyakan diantara kita menyiapkan jalan kebahagiaan yang terputus. Yaitu hanya menyiapkan jalan kebahagiaan dunia dan mengabaikan kebahagiaan akhirat. Kalau ini benar, maka boleh jadi pula judul tulisan di atas benar adanya,”Hanya sedikit yang berjuang untuk masuk syurga.”  Wallohu a’lam.
Jika anak-anak sedikit yang dikirim orang tuanya untuk belajar membaca Al Qur’an. Juga demikian dengan minat orang tua. Hanya sedikit yang berminat  untuk mempelajari agama dengan sungguh-sungguh. Majelis ta’lim yang rutin mengkaji ajaran-ajaran islam secara kontinu sangat jarang. Yang jarang itupun peminatnya juga sangat sedikit. Kondisi ini melahirkan banyak pertanyaan mendasar pula. Dari mana ummat ini akan memperoleh pengetahuan yang cukup sebagai bekal mengarungi kehidupan. Padahal pengetahuan agama menjadi kamus untuk menjawab setiap persoalan dalam hidup. Menjadi rambu-rambu pengambilan keputusan apapun dalam hidup. Jadi pembimbing untuk melakukan atau tidak melakukan apapun dalam hidup.
Bagaimana kualitas beragama dari orang-orang yang tidak cukup ilmu agamanya? Boleh jadi orang-orang ini mudah tergelincir dalam berbagai bentuk perbuatan maksiat dan kemungkaran baik kecil maupun besar. Yang demikian itu mungkin tidak disadari karena tidak mengetahui parameter mana yang boleh dan tidak boleh.
Contoh sederhana adalah nonton berbagai acara infotainment di televisi. Acara yang sering membuka aib para selebriti itu sesungguhnya haram ditonton. Lalu sebenarnya siapa penonton acara itu di negeri ini? Pasti sebagian besar ummat Islam penontonnya. Mengapa mereka tetap menonton meskipun itu tidak boleh? Salah satu jawabannya karena mereka tidak tahu atau tidak cukup punya ilmu.
Orang-orang yang berilmu agama tidak cukup akan menjadi mudah terombang ambing hati dan pikirannya. Mudah dipermainkan oleh berbagai pendapat atas berbagai peristiwa yang terjadi. Padahal pendapat yang paling rasional sekalipun dalam pandangan manusia belum tentu terbaik buat manusia. Harus diuji dengan firman-Nya atau hadits-hadits  Nabi. Bukan tidak mungkin pendapat-pendapat itu bersifat sangat subyektif karena ada motif –motif ketidak jujuran. Kerena itu siapapun mesti menyadari, tidak cukup hanya punya niat untuk menjadi orang baik. Niat baik itu harus didukung dengan kecukupan ilmu.
Benarlah apa yang disabdakan Rosululloh bahwa jika ingin dunia harus dengan ilmu. Jika ingin akhirat (masuk surga) harus dengan ilmu. Jika ingin dunia dan akhirat harus dengan ilmu. Pertanyaannya adalah kalau ummat ini enggan menuntut ilmu-ilmu agama yang nota bene merupakan bekal kebahagiaan akhirat, apakah ini bukan merupakan indikasi bahwa hanya sedikit diantara ummat ini yang berjuang untuk masuk surga? Wallohua’lam.
Bahwa hanya minoritas jumlah orang-orang yang berjuang untuk masuk syurga  makin menemukan cantolan faktualnya saat memperhatikan fenomena sholat berjamaah lima waktu. Seperti kita ketahui, bahwa sholat merupakan tiang agama. Kalau sholatnya  kokoh, maka kokoh pula keislaman seseorang. Demikian pula sebaliknya.  Kalau rapuh sholatnya, secara otomatis rapuh pula keislamannya.
Fakta  tentang sholat ini setali tiga uang  alias sama saja dengan fakta jumlah anak-anak yang diwisuda hatam al Qur’an. Hanya sedikit diantara ummat islam yang benar-benar berusaha menjaga sholatnya dengan sungguh-sungguh. Lihat saja mereka yang menjaga sholat berjamaah lima waktu di masjid atau musholla. Hanya beberapa orang yang bisa di hitung dengan jari. Terutama sholat isya’ dan subuh. Dua shaf terpenuhi sudah luar biasa.
Fenomena sholat berjamaah ini melahirkan pertanyaan yang sangat mendasar. Apakah ini menjadi bukti bahwa hanya sedikit diantara ummat ini yang benar-benar berusaha menegakkan keislaman dirinya. Apakah ummat ini sudah tidak peduli terhadap kesempurnaan penghambaan dirinya kepada Tuhan-Nya. Apakah ummat ini sudah tidak ikhlas untuk menghamba kepada-Nya. Apakah ummat ini sudah enggan menyempurnakan  rukuk dan sujud kepada-Nya. Apakah ummat ini sudah tidak peduli terhadap nasib dirinya di akhirat nanti. Apakah realitas ibadah sholat berjamaah ini menjadi pembenar yang tidak terbantahkan tentang manusia yang tidak tahu berterima kasih? Ketahuilah Alloh telah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa hanya sedikit manusia yang tahu berterimakasih. “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS : Saba’ (34) : 13).
Apakah dengan demikian ada pembenaran dari judul tulisan ini, bahwa hanya sedikit yang berjuang untuk masuk surga? WAllohu a’lam.
Dilalaikan Bermegah-megahan
Diantara penyebab lalainya manusia dari berjuang untuk memasuki syurga adalah karena dilalaikan soal bermegah-megahan dalam urusan dunia.
Manusia dilalaikan oleh obyek yang bernama harta, keluarga, kedudukan, pangkat dan jabatan serta apapun sejenisnya. Padahal Alloh sudah memberitahu semua manusia dalam firman-Nya. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS: Al Hadiid (57) : 20).
Sejujurnya memang harus diakui, di zaman ini tidak mudah bagi siapapun untuk tidak terjebak dalam permainan kemewahan dunia. Dari sejak dalam buaian hingga masuk liang lahat, siang dan malam, manusia dijejali informasi dunia materi yang serba menyilaukan. Sementara informasi tentang ruhani sangatlah tidak seimbang. Akibatnya secara tidak sadar, pola pikir yang terbentuk sejak bayi adalah hal yang terbaik adalah materi yang kasat mata. Sedangkan janji syurga dari Sang Maha Pencipta informasinya entah ada atau tidak di memori alam sadar dan bawah sadar manusia pada umumnya.
Ada sementara orang yang berkata, bahwa apapun bisa bernilai ibadah. Termasuk bekerja keraspun juga beribadah. Pernyataan itu seratus persen benar adanya. Tetapi harus diuji secara parallel dengan ibadah sholat misalnya. Kalau untuk urusan bekerja selalu siap mati-matian sedang kalau mendirikan sholat malas-malasan, maka pernyataan bekerja bisa bernilai ibadah bisa tidak bermakna apa-apa.
Sebuah pertanyaan yang mesti kita jawab bersama-sama, apakah diri ini termasuk orang-orang yang berjuang untuk memasuki syurga-Nya atau tidak? Seharusnya kita tahu jawabannya…

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.