JJS seri 29
Besok pagi jam delapanan anak-anak yang ikutan dalam ekspedisi THARIQ BIN ZIYAD bakal berangkat. Ngumpulnya di Masjid. Nah, untuk tujuan ekspedisinya taon ini, dalam rapat dewan SKI kemaren secara aklamasi ditentuin di daerah pedalaman kaki gunung Seremlu (Ada nggak ya?). Daerah itu menjadi pilihan berdasar temuan Tim Pencari Fakta bahwa di sana banyak saudara-saudara kita yang murtad alias berpindah agama.
Jodi udah nggak sabaran pengen segera berangkat. Malam itu dia nggak bisa tidur nyenyak. Bahkan sampe kebawa mimpi. Dia ngimpi sedang nyeramahin warga-warga desa yang selama ini kering pengetahuan Agama Islam. Semula keadaan berjalan lancar. Tapi tiba-tiba warga yang imut-imut yang sebelumnya duduk manis sambil mengulum Lolipop, berubah menjadi sangar dan brutal bak gangster jalanan kota Rio de Jeneiro. Permen Lolipopnya berubah jadi samurai, gergaji listrik, granat nanas, pistol revolver dan AK-47. Mereka mengejar Jodi, kayak di game Grand Teft Auto San Andreas. Jodi terbangun. Beristighfar. Ada apa gerangan?
***
“Are You Ready!!!” teriak Somad. Enggak peduli ada kulit cabe merah segede pentol korek nangkring di gigi depannya yang bikin anak-anak ngikik.
“Yes, Im ready!!!” Balas anak-anak serempak. Sebagian ada yang mlesetin “Yes, liat gigi!!”
Ketujuh anggota udah siap semua. Diantara peserta, Toriq paling banyak bawaannya. Selain bawa ransel gede, dia bawa dua kerdus Aqua yang isinya mangga, pisang, opor ayam, sama mainan-mainan (ih, mau mudik kali). Peralatan dan logistik udah siap, anak-anak naik ke atas angkot. Sementara puluhan anak melepas kepergian mereka dengan lambaian tangan dan teriakan takbir.
***
Dalam perjalanan menaiki gunung, anak-anak menemukan pemandangan yang mengenaskan. Sebuah Masjid tak terurus berdiri layu dan lesu. Sohib geleng-geleng kepala sambil beristighfar. Kondisi bangunan suci itu amat memprihatinkan. Terlihat jelas, bahwa Masjid itu udah lama kagak di pake. Lantainya kotor banget, penuh debu. Kotoran tikus berhamburan dimana-mana, menimbulkan bau busuk yang amat menyengat.
Langit-langitnya udah dikuasai total sama komunitas spiderman. Sementara keluarga Mickey Mouse, secara sepihak bikin Rumah Sakit Bersalin di bawah-bawah almari. Ketika anak-anak masuk, aura dan tatapan mata tidak suka terasa banget dari para serdadu hewan itu. Termasuk cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap. Memang, paska ditandingin sama Buaya, akhir-akhir ini komunitas cicak makin pede aja sama manusia.
“Ya Allah..begitu jauhnya mereka dari Agama sampe-sampe membiarkan Masjid dalam keadaan seperti ini”, Sohib berkeluh.
“Semoga kita diberi kekuatan untuk mendakwahkan Islam di sini” Sahut Nabil.
Tiba-tiba ada teriakan menyayat. AAAAARGGGGGHHH!!!
Anak-anak lari menuju arah suara. Ternyata di kamar mandi. Seorang anak kekunci di dalam. Pintu dibuka. Tapi macet. Akhirnya di dobrak paksa. Setelah berhasil dibuka, tampak di dalam Jodi meringis. Tadi waktu mau berhajat, pantatnya nyium kepala tikus. Nyaris digigit.
Rupanya para kaum hewan mulai menabuh genderang perang. Tapi itu belum seberapa. Marabahaya lebih besar segera menanti.
Dalam perjalanan pulang, mereka menemukan sebuah gedung mewah (untuk ukuran desa pedalaman) dengan sebuah lambang garis Horizontal dan vertikal yang saling bersilang tertempel di atas pintunya. Sebuah rumah ibadat ternyata.
***
Tepat matahari terbenam, anak-anak udah kelar dirikan tenda. Selanjutnya mereka mandi di kali, dan dilanjutkan shalat Maghrib. Anak-anak ngumpul melingkar di tengah-tengah perkemahan. Di bawah lampu petromak, semuanya khusyuk membaca Al-Qur’an.
Ba’da Isya mereka rapat merencanakan agenda besok. Memang, menyaksikan lahan dakwah yang kayaknya rada berat, waktu enam hari kayaknya nggak bakalan nyukup. Makanya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, termasuk membuat perencanaan kegiatan yang terstruktur, akan cukup membantu optimalnya dakwah dalam waktu yang sangat sempit.
Untuk besok agenda utamanya bersihin Masjid. Semua perlengakapan di prepare ulang. Sementara Jodi paling sibuk sendiri, dia lagi nyiapin skenarion balas dendam sama tikus kamar mandi. Skenario pertama bikin jebakan tikus. Kalo gagal, skenario kedua, berdamai saja dengan pura-pura menjadi tikus (???).
Abis semua persiapan dibicarain, anak-anak beranjak tidur. Malam harinya jam dua malam mereka bangun lagi. Tahajjud. Ada cita rasa berbeda bertahajjud malam itu. Cuaca dingin yang membekukan tulang, membuat perjuangan atas nama dakwah makin terasa. Anak-anak merasa benar-benar berada dalam suasana di gunung Thariq, tempat dimana pasukan THARIQ BIN ZIYAD mengangkat bendera Jihad. Belum lagi suasana alam yang menghadirkan eksotisme kegelapan namun Indah. Suara-suara serangga kecil dan Pohon-pohon yang berdiri merunduk seolah menyuarakan tasbih dan sujud atas fitrah dari Sang Khalik, bikin hati bergetar takjub. Makin lengkap keterpesonaan anak-anak menyaksikan langit yang ditaburi bintang-bintang. Pokonya feel-nya dapet banget. Suasana Alam yang masih perawan makin menambah khusyuk Tahajjud malam itu.
Dikejauhan, di semak-semak, ada sepasang mata menyaksikan mereka. Sepertinya sejak dari tadi sore si yang punya mata nggak mengalihkan pandangannya sama anak-anak. Pandangannya tajam, menunjukkan aura kasih, eh, aura permusuhan.
***
Pagi ba’da sholat Subuh, anak-anak langsung bersiap-siap menjalankan misi pertama, “memasjidkan masjid”. Misi ini dimulai dari menanyakan sama warga sekitar siapa gerangan takmir atau pengurus Masjid tersebut. Tapi hasilnya nihil, warga nggak ada yang tahu siapa pengurus masjid tersebut. Bahkan mereka kayaknya nggak respek sama anak-anak, kayak cara ngeliatnya orang kehilangan kolor terus nyurigai seseorang nyolong kolornya buat sarung bantal.
Selain fakta merosotnya keislaman warga lereng gunung Seremlu, sebagian besar mereka udah menjurus sama mencampuradukkan agama, bahkan sampe keluar agama. Mereka udah jarang sholat. Bahkan kalau ada acara di rumah-rumah ibadah agama laen, mereka ikut-ikutan. Karena katanya, mereka abis itu dapat angpao dan oleh-oleh. Hampir tiap rumah selalu ada hewan najisnya, Anjing, satu sampe lima ekor. Nggak sedikit rumah-rumah warga, di atas pintunya ada lambang garis vertikal –diagonal membentuk palang.
Berbekal buku dan VCD Ahmad Deedat, seorang cenedekia kebanggaan Islam yang ahli dalam perbandingan Agama, anak-anak udah siap melakukan dakwah re-islamisasi (mengislamkan kembali). Rencananya, sisa lima hari besok akan digunakan untuk melakukan pendekatan sama warga. Meluruskan kembali nilai-nilai Islam dan mengingatkan akan bahayanya murtad. Tapi buat hari ini, mereka bakal ngabisin waktu buat bersiin Masjid. Berhubung kagak ada pihak yang bertanggungjawab sama Masjid, anak-anak nggak tahu harus ijin kemana, akhirnya mereka inisitaif langsung bersihin Masjid. Toh ini buat kebaikan.
Proyek rekonstruksi Masjid dimulai tepat jam tujuh pagi. Dengan penuh semangat anak-anak bersihin Masjid. Komunitas Spiderman buru-buru menyelamatkan diri dan membiarkan rumahnya di luluhlantankan oleh pedang-pedangannya Toriq. “Yeaaah…satu benteng musuh sudah kita hancurkan, komandan” teriak Toriq setiap berhasil ngancurin benteng Spiderman, feel-nya dia seakan berada di tengah-tengah medan perang pasukan Islam abad ke 7 saat penaklukan Eropa. Kalo nggak dibilang lebay, nih anak emang over obsesi.
Sesuai hobinya, ngutak-ngatik elektronik, Somad sibuk betulin mikrofon Masjid. Yang lain nyapu, ngepel, ngelap jendela, dan betulin genteng. Sementara Jodi udah mulai frustasi. Jebakan tikusnya nggak mempan. Skenario keduanya juga GATOT (Gagal Total), pasalnya waktu dia pura-pura jadi tikus, para tikus malah ngirain dia kecoak!!
Jelang terbenam Matahari, anak-anak menghentikan aktivitasnya. Sholat Maghrib di Masjid kemudian kembali ke tenda. Sebelum tidur, anak-anak meeting lagi buat persiapan acara besok. Namun di tengah-tengah meeting….
“TERORIIISSSSS”
Suara itu berasal dari sesosok bayangan yang berdiri nggak jauh dari anak-anak. Dalam waktu sekejap bayangan itu di susul bayangan berikutnya. Saling susul menyusul. Jumlahnya makin banyak, puluhan. Hampir mengelilingi area perkemahan. Beberapa saat kemudian, tampak puluhan orang berwajah garang dengan berbagai senjata ditangannya. Anak-anak menangkap sesuatu yang membahayakan. Dengan sigap mereka membentuk lingkaran.
“soddara-soddara! Merrekha, adalah terroris yang diccari-cari sama pollizih!” nadanya nggak asing, kayak acara minggu siang di sebuah stasiun telepisi. “Jangan biarkan merrekha membuat keonaran di tempat kita, KITA HARUS MENGUSIR MERREKHA DARI SINI!!!”, terikanya lantang, disambut warga yang laen.
“SETUJU!! USIR MEREKA…!!”
“KITA HABISI SAJA,….MAKANANNYA”, Kata yang berbadan gemuk.
“KALO PERLU SAMA ORANGNYA, HAHAHAHAAA!!” Sahut yang berkalung Sorban sambil mengacung-acungkan pentungan hansip, kayaknya dia aktor intelektualnya.
Anak-anak dalam bahaya. Sumpah, meski udah lama di dunia dakwah, mereka nggak pernah nemuin tantangan dakwah macam begini. Semuanya tegang. “tenang..tenang kawan-kawan, Allah bersama kita…Allah bersama kita” bisik Sohib menenangkan yang lainnya.
“Kayaknya mereka susah diyakinkan, kalo kita memaksakan diri mereka nggak segan melakukan kekerasan sama kita, daripada kita melawan, mending sementara kita mengalah…” Sohib usul sama teman-teman yang laen.
Warga yang beringas mulai merengsek maju. Sebelum mereka melakukan tindakan brutal, Sohib maju dan berteriak, “berhenti semua…ini negara hukum, Anda tidak bisa melakukan tindakan kekerasan semaunya, kalau kalian menganggap kami teroris, harus ada bukti…buktikan di hadapan yang berwajib…silahkan bawa kami ke Polisi” Teriak Sohib. Menurutnya ini langkah aman, agar tak terjadi pertumpahan darah.
“jika kalian melakukan kekerasan kepada kami, sungguh kami tak takut mati, InsyaAllah Surga menanti kami, tapi kalian akan menanggung sendiri akibatnya, kalian akan dipenjara, sedang anak istri kalian tidak lagi ada yang menafkahi”, Jodi menyambung. Sementara kawan-kawan yang lain kaget Jodi bisa ngomong sekeren itu.
Rupanya kata-kata Jodi bikin mereka keder juga. Sang aktor intelektual sebenarnya udah tau kalo mereka bukan teroris. Dia nuduh teroris biar warga mau mengusir mereka. Dia khawatir, kalo anak-anak itu dibiarin disitu, maka akan ada banyak warga yang kembali kepada Islam.
***
Ketujuh pasukan ekspedisi THARIQ BIN ZIYAD keluar dari ruang introgasi Polsek. Untuk menghindari hal-hal yang nggak diinginkan, mereka diminta oleh pihak kepolisian untuk tidak melanjutkan kemah dan kembali ke Surabaya. Anak-anak nggak bisa membantah, mau nggak mau mereka harus menuruti himbauan kepolisian.
Di dalam bis, dalam perjalanan pulang, tak ada yang berkata-kata. Semuanya diam termenung. Wajah mereka tampak seperti berkeluh kesah. Bukan kecewa sama warga gunung Seremlu. Tapi lebih kepada menyayangkan, kenapa tak pernah ada dakwah dari orang-orang atau organisasi Islam yang lebih punya power yang mau terjun kesana…hingga tak perlu ada pemandangan menyakitkan, tiap taon ada sekian orang Islam warga Seremlu berpindah agama..
(Terinspirasi dari pengalaman penulis saat mengunjungi sebuah daerah Kristenisasi di Jawa Timur)



Komentar Saudara !