Home » Hikmah Muallaf

Lebih Mantap Saat Teringat AL BAQOROH 214

19 January 2010 No Comment

Saya lahir dan dibesarkan dari keluarga Katolik yang taat. Dari kecil hingga remaja saya termasuk aktif di kegiatan gereja, seperti Altar dan organisasi remaja Katolik. Dalam hal sakramen pun saya sudah melampaui 4 sakramen dari 7 sakramen yang ada yakni pembaptisan, ekaristi, penguatan dan komuni. Ayah saya pun di Tulungagung termasuk orang berada dan bagi kalangan katolik cukup terpandang dan disegani.
Dalam hal beragama, saya mulai bandel sejak kelas 3 SMA. Ketika pelajaran agama Katolik di hari Jum’at saya lebih suka mbolos, dan bergaul dengan teman-teman muslim. Di OSIS saya jadi ketua teater dan mengurusi bidang kerohanian katolik.
Nah, pada suatu sore, ketika sedang melakukan pembinaan kerohanian pada adik-adik kelas, tiba-tiba saya tercengang dan terdiam ketika ada lamat-lamat kumandang azan dari musholla sekolah. Spontan kegiatan pembinaan itu saya hentikan hingga azan itu selesai. Selama adzan saya hanya berdiam, bengong, seolah ada sesuatu yang merasuk dalam hati saya. Saya menikmati betul azan itu. Entah apa yang terjadi, saya sendiri tak tahu. Pada pembinaan-pembinaan kerohanian berikutnya juga seperti itu, saya diam hingga adzan Ashar selesai.
Begitu juga ketika kuliah di FKG Unair, bila ada mata kuliah agama Katolik, saya sering menghindar. Saya lebih memilih bergaul dengan teman-teman yang juga kebanyakan muslimah. Entah kenapa saya merasa pas dengan mereka dibanding teman-teman yang Katolik yang borju dan banyak bersenang-senang saja. Terus terang, saya tak suka itu. Dalam pandangan saya, teman-teman yang muslim kesehariannya lebih realistis.
Saya pun mulai ikut pengajian mereka. Pernah ketika saya hadir di sana, seorang ustadz heran melihat penampilan saya seorang diri yang tak memakai kerudung, hanya pakai kaos. Saya bilang saya hanya ingin tahu Islam itu bagaimana. Dan alhamdulillah proses itu berjalan terus hingga akhirnya saya merasa mantap dan pas. Lalu saya melakukan ikrar syahadat di Masjid Al Falah Surabaya setahun kemudian.
Banyak teman kuliah saya yang kaget bahkan hingga menitikkan air mata ketika tahu saya masuk masjid kampus. Mereka menyatakan terharu akan dunia baru saya itu. Dunia baru itu dalam niatan saya akan saya simpan dan sembunyi-sembunyi hingga lulus kuliah, orang tua tak akan saya beri tahu.
Rupanya suatu hari ayah saya tiba-tiba datang ke tempat kos saya, lalu membaca buku harian saya yang diantara lembar-lembarnya berisi bahwa saya telah ikrar masuk Islam. Tahu itu ayah langsung menyusul saya saat saya sedang kuliah. Beliau marah besar. Sayapun disuruh pulang. Begitu di rumah di Tulungagung, saya dimarahi habis-habisan.
Malam itu juga, kebetulan malam takbiran Idul Adha, saya diberi dua pilihan, kembali ke agama ayah agar tetap dianggap sebagai anak dan segera ke gereja minta pengampunan dosa atau berpisah dengan ayah. Saya tak bisa memilih keduanya, saya tak bisa mengakui Katolik namun saya juga tak mau berpisah dengan ayah. Begitulah, saya lalu diusir. Keempat adik-adik saya juga menangis dan menyesali keputusan ayah itu.
Pagi harinya ketika banyak orang sedang sholat Ied, saya pulang sendirian ke Surabaya sambil menangis sepanjang jalan. Kebetulan hari kurban, dalam hati saya berpikir, bagaimana pengorbanan nabi Ibrahim dulu ketika harus mengorbankan anaknya nabi Ismail, kali ini mana mungkin saya harus mengorbankan salah satu, agama atau ayah saya?
Sayapun sempat merenung, inikah dampak dari ke-Islaman saya? Kenapa saya pas masih Katolik dulu tak pernah susah, mau happy-happy bisa, mau aktif dan populer di sekolah bisa, ini itu bisa. Kenapa pas saya masuk Islam, bahkan diusir segala dari rumah?
Namun itu sungguh renungan yang datangnya dari setan. Untung saya jadi ingat akan ayat dalam Al Qur’an yang pernah saya tahu dan kemudian membangkitkan semangat ke-Islaman saya. Ayat itu adalah ayat ke-214 Surah Al Baqoroh,  ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” Rupanya ini adalah cobaan yang diberikan Alloh untuk menuju surgaNya kelak. Hati saya pun kembali tenang.
Diusir dari rumah berarti terancam juga biaya kuliah. Untuk bisa melanjutkan kuliah, saya lalu berniat bekerja apa adanya. Sempat menawarkan diri untuk membantu dosen praktek, juga sempat mau jadi loper koran. Namun itu tak jadi karena ibu saya yang rupanya merasa kasihan telepon, saya harus tetap kuliah dan urusan biaya ibu yang menanggung. Saya pun alhamdulillah bisa kuliah dengan tenang hingga lulus.
Sehabis mengusir saya dari rumah, ayah tak pernah bertegur sapa selama kurang lebih 2 tahun. Namun saya tetap menghargai mereka sebagai orang tua, saya setiap minggu pulang kampung.
Hingga suatu saya dilamar oleh seorang anggota ABRI. Alhamdulillah ayah pun mulai menerima kehadiran saya kembali. Prosesi pernikahan secara Islam di rumah saya agaknya juga berlangsung aneh. Rasanya ayah agak malu atau semacam apalah, sebab di rumah banyak salib, apalagi yang hadir banyak para pemuka agama katolik di sana. Kelak ayah sudah mulai melunak. Bahkan ketika saya sudah punya anak 3, saat puasa ayah pulalah yang membangunkan dan menyiapkan sahur untuk kami.
Ujian ke-Islaman saya belum juga selesai. Anak saya yang terakhir baru-baru ini terkena  radang paru paru, sempat bertaruh nyawa, lalu saya berdoa dalam tahajud, Ya Alloh saya ikhlaskan semua yang ada pada diri saya namun tolong selamatkan anak saya dan ijinkan saya mendidiknya hingga dewasa. Alhamdulillah Alloh mengabulkan.
Dengan hidayah Alloh pula, adik saya yang nomer 3 menyusul masuk Islam. Dan saya berharap suatu saat kelak, semuanya menyusul jejak saya. Saya mengimpikan semua saudara-saudara saya bisa sholat jamaah bersama. (*).

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.