Home » Keberkahan Finansial

Liburan Kok Ngutang

19 January 2010 No Comment

Ketika majalah ini hadir di tengah-tengah pembaca, Insya Alloh masa liburan akhir dan awal tahun telah usai. Dan di saat-saat tersebut banyak sekali masyarakat kita yang memanfaatkannya untuk bepergian ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.
Dan kalau anda perhatikan, akhir-akhir ini, terutama saat menjelang akhir tahun tersebut, beberapa iklan perbankan begitu gencarnya menawarkan paket liburan dengan cara kredit, khususnya liburan ke luar negeri. Anda dapat menyaksikan sendiri bahwa iklan yang ditawarkan melalui televisi dan media cetak tersebut, terlihat begitu menggiurkannya karena seolah paket yang ditawarkan itu memberikan kemudahan dan kenyaman hidup. Iklan tersebut juga bisa dianggap sebagai ‘pahlawan’ saat seseorang memang ingin berliburan ke luar negeri. Akan tetapi, jika kita telaah lebih dalam lagi sesungguhnya iklan seperti itu benar-benar merupakan iklan yang melakukan pembodohan kepada masyarakat. Mengapa demikian??
Liburan memang tidak dilarang. Siapapun boleh memanfaatkan waktunya yang kosong untuk berliburan. Apalagi, setelah bekerja  selama satu tahun yang membuat penat baik fikiran maupun jasmaninya, seseorang perlu melakukan refreshing. Kita memang butuh untuk sekedar istirahat sejenak, setelah seluruh organ tubuh ini kita gunakan selama 12 bulan. Oleh karena itu, seringkali setiap akhir tahun dianggap sebagai ‘hari pembalasan’ dengan menikmati libur  panjang.  Kitapun dapat menyaksikan betapa ramainya tempat-tempat hiburan atau tempat rekreasi saat musim liburan akhir tahun. Dimanapun itu terlihat begitu meriahnya orang menikmati liburan. Bahkan demi memanfaatkan banyaknya pengguna moda angkutan massal, alat transportasi pun menjadi naik harganya karena banyaknya permintaan.
Yang harus benar-benar diperhatikan pada masa seperti itu adalah apakah kita sudah merencanakan liburan sesuai dengan kemampuan finansial kita sebenarnya. Sebenarnya memanfaatkan liburan bisa dilakukan dengan pengelolaan yang lebih ramah dengan keuangan kita. Liburan tidak harus ke luar negeri atau ke luar kota dengan cara memaksakan diri. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berliburan dengan harga yang relatif murah.
Liburan di dalam kota pun tidak kalah serunya. Bahkan liburan bisa dimana saja, seperti memancing di desa tetangga, nonton film, atau hal-hal unik lainnya yang disenangi. Karena itu, kalau kita memang tidak memiliki uang cukup untuk berlibur, kenapa harus dipaksakan dengan ngutang?
Sehubungan dengan rencana liburan, ada beberapa hal yang patut kita perhatikan atau kita pertimbangkan, diantaranya adalah:
Pertama, seberapa penting kita harus melakukan liburan di luar negeri. Liburan ke luar negeri bukan hal yang dilarang.  Akan tetapi, kalau liburan itu kita paksakan dengan cara hutang ke bank atau menggesek kartu kredit, maka kita harus mempertimbangkan kembali niatan itu.  Apakah liburan ke luar negeri itu sebegitu pentingnya, sehingga kita harus kesana? Apakah memang dituntut harus dilaksanakan tahun ini juga, sehingga kalau tidak dilakukan kita akan shock? Stress??!!
Tentu saja tidak. Liburan, menurut saya adalah kebutuhan yang tidak mendesak untuk dipenuhi. Liburan bisa dilakukan kapan saja, dan ditempat manapun tergantung dengan kesediaan dana dan waktu kita, karena selain kebutuhan liburan, seharusnya kita juga mempertimbangkan masak-masak bahwa masih banyak kebutuhan lain yang harus kita penuhi seperti misalnya kebutuhan investasi, anak sekolah dan sejenisnya.
Kedua, untuk memenuhi kebutuhan liburan tersebut, sebaiknya direncanakan dengan baik. Meskipun kita tidak melakukan liburan dengan bepergian ke luar negeri namun setiap kegiatan apapun harus direncanakan dengan baik termasuk liburan ini.
Dalam perencanaan liburan ini tidak hanya sebatas menyangkut lokasi liburan, tetapi juga termasuk anggaran yang diperlukan. Sebaiknya, rencana liburan ini dibuat di awal tahun sehingga kita dapat menyiapkan anggarannya dengan cara menabung.
Ketiga, sebagaimana kaidah atau prinsip dalam pengelolaan keuangan, maka untuk memenuhi keperluan barang konsumtif, sebaiknya tidak dibiayai dengan hutang.
Liburan, menurut saya termasuk kebutuhan konsumtif yang tidak mendesak untuk dipenuhi. Bahkan, liburan merupakan kebutuhan yang bisa dikatakan hanya ‘menghabiskan’ uang belaka dan tidak ‘menghasilkan’ dilihat dari kacamata finansial. Keuntungan dari liburan hanya berupa kesenangan dan kepuasan.
Nah, jika kebutuhan konsumtif (termasuk liburan) ini dilakukan dengan memaksakan diri dengan kredit, maka pada akhirnya justru hanya akan membahayakan keuangan kita.  Apalagi, sebenarnya kebutuhan konsumtif seperti itu, biasanya tidak mendesak untuk kita penuhi. Sehingga apabila tahun ini kita belum bisa pergi berlibur ke tempat-tempat yang jauh yang memboroskan finansial kita misalnya pergi luar negeri, kita masih bisa merencanakannya pada tahun depan.
Dalam mengelola keuangan, kita sebaiknya memperhatikan tingkat prioritas kebutuhan, bukan pada prioritas keinginan. Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi, seperti rumah tempat tinggal, sandang secukupnya, makan, susu untuk anak dan biaya pendidikan sekolah. Sedangkan keinginan tidak harus dipenuhi karena belum tentu merupakan kebutuhan mendesak. Jika tidak dipenuhipun tidak mengganggu pola hidup dasar kita, seperti misalnya liburan ke luar negeri yang kita bahas kali ini, tentu saja bukan kebutuhan mendesak.
Saat ini, godaan konsumerisme ada dimana–mana. Mereka membujuk kita dan anak-anak kita untuk mengikuti  keinginan penjual atau pemasang iklan. Barang-barang yang seharusnya tidak mendesak untuk dibeli, dikemas dalam iklan yang menarik, sehingga mendorong hidup kita berpola hidup konsumerisme. Akibatnya kita merasa harus membeli barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Oleh karena itu kita harus mampu menahan godaan konsumerisme tersebut.
Selain itu, dalam mengelola keuangan, kita jangan besar pasak dari pada tiang. Pengeluaran kita jangan lebih besar dari pemasukan yang diperoleh. Agar hal ini tidak terjadi maka kita harus bisa memberikan prioritas pengeluaran, tidak mengumbar nafsu – syahwat serta lapar mata.  Sebab bila sampai terjadi pengeluaran lebih besar dari pendapatan, maka tunggu saja masa kebangkrutannya.
Masalah besar dalam manajemen keluarga seringkali terjadi bermula dari masalah keuangan. Orang yang selalu defisit keuangannya, bila masih memiliki simpanan (tabungan) lama kelamaan tabungan itu akan habis.  Apabila simpanan itu sudah habis, maka ia akan menjual harta bendanya. Dan apabila harta bendanya sudah habis juga, ia akan mencoba hutang kesana–kemari, gali lubang tutup lubang dan ia terperosok dalam labirin hutang yang tak ada habis-habisnya.
Demikian, semoga bermanfaat.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.