Memberi Dengan Hati
Peristiwa berikut ini mungkin pemah kita alami, bahkan tak sekedar pernah, barangkali justru amat sering kita alami, yaitu kisah tentang memberi dan diberi.
Belum lama ini ketika saya sedang berlibur hari raya ke desa di Malang, ketika itu saya sedang naik mobil bersama keluarga, beranjak pulang ke Surabaya.
Tetapi baru berselang sekitar 500m kami melaju di jalan raya, tiba-tiba ada seseorang memanggil kami dari arah belakang. Ternyata yang menghampiri kami adalah seseorang yang pernah akrab dengan keluarga kami. Kang Mul, begitu ia biasa dipanggil. Ia bukan kerabat dekat kami, bukan pula relasi kantor ayah ataupun ibu, tetapi dia hanyalah seorang laki-laki desa yang pernah menjadi kuli membangun rumah kami di Surabaya sekitar delapan tahun yang lalu. Bahkan saya sendiri agak lupa-lupa ingat dengannya saking lamanya tidak berjumpa lagi dengannya.
Waktu itu kami kira ada sesuatu yang terjadi hingga ia bela-belain berteriak memanggil kami.
“Mau kemana Mas?” begitu ia menyapa ayahku.
“Kembali ke Surabaya Dik Mul.” jawab ayah membalas keramahannya.
“Tidak mampir dulu to Mas?”
“Maaf Dik Mul, Ini kami sedang terburu-buru. Insya Alloh lain waktu saya sempatkan mampir. Ada apa to dik Mul?” ayah menimpali.
“Tidak ada apa-apa kok. Cuma ini saya nitip oleh-oleh buat njenengan.” katanya sambil memberikan satu tas plastik keripik jahe pada ayah saya.
Sejenak saya merenungkan peristiwa itu. Sayapun menyimpulkan bahwa pemberian keripik jahenya tersebut bukan sesuatu yang dibuat-buat, tanpa tendensi apapun. Pemberiannya ada sebuah reaksi spontan dari ketulusan seorang pemuda desa bemama Mul, lantaran dia tidak mungkin menjamu kami dirumahnya. Tapi apapun itu ia tetap berusaha memberikan kami sesuatu, walau hanya sekantung plastik keripik jahe.
Saya jadi teringat cerita seorang ustadz di sebuah pengajian. Waktu itu ia menceritakan kejadian yang dialami temannya. Sore hari ketika teman sang ustadz beranjak pulang dari gedung kantomya, tiba-tiba di depan kantor dijumpainya seorang pengemis yang sedang meminta-minta. Kebetulan waktu itu ia sedang tidak membawa uang, hingga dengan sangat menyesal ia berkata pada si peminta-minta.
“Mohon maaf saudaraku, saya tidak dapat memberikan apa-apa padamu hari ini…” kata teman ustadz tersebut dengan penyesalan yang tak dibuat-buat.
Namun justru yang menarik adalah jawaban pengemis yang di luar dugaan. Ia mengatakan “Terima kasih pak, atas pemberiannya.” Sontak, pegawai itu pun jadi terheran-heran. Ia lalu bertanya kepada si peminta-minta kenapa berterima kasih padanya, sementara tidak ada sesuatupun yang ia berikan pada peminta-minta tersebut.
Dijawablah oleh pengemis tadi, “Seharian ini saya bertemu dengan banyak orang. Diantara mereka ada yang memberi kepada saya, sebagian tidak. Tetapi diantara banyak orang yang saya temui tersebut tidak satupun diantara mereka yang memanggil saya “saudaraku”. Hanya bapaklah yang memanusiakan saya…” kata pengemis tersebut.
Memberi memang menjadi sesuatu yang mudah bagi sebagian orang. Namun sekali lagi memberi bukan sekedar masalah transfer barang dari tangan kita kepada orang lain yang kita beri. Lebih dari itu, memberi adalah sebuah transfer energi hati dari seorang manusia kepada manusia lainnya. Sehingga aktivitas memberi sangatlah terkait dengan perkara konektivitas hati, atau biasa kita sebut empati.
Bisa jadi kita tidak memberikan materi apapun kepada orang lain, tetapi ketika kita telah menyematkan hati kita, empati kita, maka pada hakekatnya kita telah melakukan sebuah aktivitas yang disebut “memberi”. Hal inilah yang dilakukan pegawai tadi kepada pengemis. la memberikan hatinya, ia memberikan empatinya kepada sang pengemis, walaupun tak satu materipun ditransfemya kepada pengemis.
Maka pengemis yang tidak menerima materi apapun telah merasakan pemberian sang pegawai. Sebaliknya berapapun banyak dan berharganya materi yang kita beri, jika tak ada satupun keterikatan hati kita padanya, maka aktivitas itu tak lebih hanya sekedar perpindahan barang, seperti orang-orang yang hanya memberi pengemis itu uang, tetapi tak satupun yang mendasarkan pemberiannya dari sebuah letupan hati yang disebut empati.
Fenomena yang terjadi pada bangsa kita akhir-akhir ini misalnya kasus pemberian parcel kepada atasan, uang hadiah buat memperlancar proyek dan kasus-kasus pemberian dengan pamrih yang lain, yang mendarah daging pada bangsa kita. terkadang hanyalah masalah transef barang, tidak menyertakan hati.
Karenanya mari kita tilik kembali bagaimana saat kita memberi. Sudahkah hati kita ikut serta dalam setiap pemberian kita? Sehingga pemberian kita itu benar-benar sampai kepada hati orang yang kita beri.
Itulah yang saya rasakan ketika kang Mul memberikan keripik jahenya. Bukan masalah kripik yang tak berharga secara materi tadi, melainkan sebuah transfer empati hati yang kita rasakan dari orang yang memberikan perhatiannya pada kita. Walaupun ia bukan siapa-siapa, dan walaupun ia hanya mewakilkan perasannya pada keripik jahe. Maka lantaran kami sedang terburu-buru, saya hanya dapat mengucapkan terimakasih padanya dalam hati “Terima kasih Kang Mul, semoga terimakasihku ini dapat sampai dihatimu”.
Tulisan ini saya persembahkan kepada : Teman-temanku yang telah banyak memberiku segalanya. Hadiah, traktiran, ilmu… bahkan doa yang tak pemah kutahu, atau sekedar senyum yang membahagiakan. Terima kasih karena aku tahu ada ketulusan dihatimu.



Komentar Saudara !