Menanam Keikhlasan Menuai Harapan
Saya bekerja di Bagian Administrasi sebuah perusahaan swasta. Lima tahun lalu Satpam perusahaan kami keluar kerja, dan karena urgentnya posisi itu kami harus segera mencari penggantinya. Untuk mencari pengganti satpam yang keluar tersebut bagi kami bukanlah pekerjaan yang sulit, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa jumlah pengangguran di negeri ini sangat banyak sehingga biasanya kami merekrut dari kerabat karyawan.
Namun kali ini Kepala Bagian Umum dan SDM (atasan saya) Bapak Darusalam namanya, ingin memasukkan anak tukang becak yang mangkal di Stasiun Semut. Dengan rasa ingin tahu saya menanyakan alasan Bapak Darusalam menolong anak itu.
Atasan saya yang biasa kami panggil Pak Darus kemudian bercerita kepada saya alasan ingin menolong orang ini.
Pada hari libur Pak Darus sering mengantar istrinya berbelanja ke Pasar Atom, namun ia selalu memilih untuk menunggu di parkiran Stasiun Semut selagi istrinya berbelanja. Disana banyak hiruk pikuk orang melakukan berbagai aktifitas, dari angkutan-angkutan yang mencari penumpang, penjual makanan dan sebagainya.
Salah satu yang menarik perhatian Pak Darus adalah cara seorang bapak tukang becak yang sedang mencari calon penumpang. Tukang becak itu rajin mondar mandir di dua lajur jalan guna membantu menyeberangkan orang-orang yang menuju lajur tempat becaknya mangkal.Apabila orang yang dibantu menyeberang ini sudah diseberangkan, ia akan mencoba menawarkan jasanya. Namun apabila orang -orang tersebut menolak, di wajahnya tidak terlihat raut wajah kecewa atau menyesal telah menolong orang-orang tersebut.Yang selalu terlihat adalah ia selalu antusias dan giat dalam mencari penumpang dengan selalu membantu orang-orang menyeberang.
Walau wajahnya terlihat banyak termakan guratan-guratan usia dan kulitnyapun terlihat hitam melegam karena terbakar sinar matahari ia terus giat dalam bekerja. Satu hal yang penting yang membuat orang lain (terutama Pak Darus) menjadi memperhatikannya adalah karena keikhlasannya membantu orang lain.
Suatu saat ketika Pak Darus menunggu di Stasiun Semut, bapak tukang becak itu tidak kelihatan. Dicobanya tanya ke Ibu Warung dekat bapak tukang becak itu mangkal, dan mendapat informasi kalau bapak becak itu lagi sakit di kampungnya tepatnya di kota Ponorogo.
Selang beberapa minggu kemudian Pak Darus datang lagi dan ternyata bapak becak itu telah ada dengan aktifitasnya hingga Pak Darus mencoba untuk menyapanya “Bapak di Surabaya tempat tinggalnya dimana?”
Dengan senyuman tukang becak itu menjawab “Di Surabaya saya tidak mempunyai rumah Pak. Saya numpang di Warung sebelah sambil bantu cuci piring.”
“Putranya berapa Pak?” Pak Darus kembali bertanya. “Dua orang, yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. Yang laki-laki usianya 23 tahun, lulusan SLTA.” bapak itu menjawab. “Kalau aktifitasnya?” tanya Pak Darus lagi.
“Yaa.. bantuin tetangga kalau lagi bangun atau memperbaiki rumah Pak”jawab bapak tukang becak.
Sejak saat itu Pak Darus ingin sekali membantu bapak itu mengangkat perekonomian keluarganya, hingga pada saat yang tepat (saat dibutuhkan seorang Satpam), Pak Darus mengundang bapak becak dan anaknya datang ke Kantor.
Besoknya Pak Darus yang saat itu dalam ruang kerjanya di telepon bawahannya bahwa ada tamu yang mencari. Tetapi tamu tersebut tidak memakai sanda, begitu katanya.Pak Darus sudah tahu siapa tamunya kali ini dan menyuruh anak buahnya mempersilahkan tamunya masuk. Setelah beberapa menit bicara, Pak Darus dan kedua tamunya keluar ruangan dengan sebuah berita yang membahagiakan, anak tukang becak tersebut diterima bekerja.
Disini yang membuat saya terkesan adalah apabila kita berbuat baik dengan disertai keikhlasan pasti Alloh akan membalasnya dengan jalan yang tidak kita duga.Bapak becak tadi pasti tidak berfikiran akan ada yang memperhatikan gerak-geriknya yang atas kehendak Alloh lalu menggerakkan hati seseorang untuk menolongnya dengan menjadi jalan rejeki bagi anaknya.
Dan mengenai imbalan ini, janganlah kita berharap kepada sesama makhluk, karena kalau Alloh memberikan balasan ketentuan dari perilaku yang kita kerjakan, dari makhluk apapun (bukan dari orang yang kita tolong) dan dari jalan manapun, Tuhan pasti akan memperlihatkan kebesaran dan kasih sayangNya.



Komentar Saudara !