Menata Kembali Tujuan dan Proses Hidup
Bagi siapapun yang saat ini belum termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berjuang untuk masuk surga-Nya (hanya dirinya dan Alloh saja-lah yang mengetahui), maka menata kembali tujuan dan proses hidup merupakan prasyarat satu-satunya yang harus dilakukan oleh siapapun yang ingin termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berjuang untuk masuk surga-Nya. Tujuan dan proses hidup yang dimaksud di sini adalah yang bersumber dari Alloh SWT sebagaimana telah difirmankan dalam Al Qur’an.
1.Tujuan Hidup
Inilah tujuan hidup manusia diciptakan. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS : Adz Dzaariyaat (51) : 56). Alloh sangat jelas dan gamblang menerangkan kepada manusia ciptaanNya yaitu dengan maksud apa manusia diciptakan di muka bumi ini. Yaitu tidak lain hanya untuk mengabdi kepada Alloh. Maka pangkat, jabatan, kekuasaan, profesi, kekayaan, nama besar, kehormatan dan seterusnya itu bukanlah tujuan hidup. Tempatkan semua itu sebagai sarana untuk menyempurnakan penghambaan kita kepada-Nya.
Para Nabi merupakan contoh terbaik dalam hal ini. Nabi Sulaiman adalah sosok yang amat kaya raya dan sangat berkuasa. Nabi Yusuf adalah seorang perdana menteri. Nabi Daud seorang pengrajin. Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin negara dan seorang entrepreneur/pedagang sukses antar negara. Namun para Nabi menempatkan semua itu justru sebagai sarana untuk menyempurnakan penghambaan kepadaNya. Kekayaan, kekuasaan dan kehormatan tersebut ternyata tidak mampu membelokkan tujuan para nabi untuk menghamba pada Alloh semata.
2. Memegang komitmen tauhid
Sebelum manusia (termasuk kita) dihadirkan Alloh di muka bumi ini, sejatinya telah berkomitmen di hadapan Alloh untuk memegang teguh tauhid, yaitu hanya akan ber-Tuhan dan menyembah Alloh. Komitmen manusia dihadapan Alloh ini diabadikan dalam al Qur’an: ”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,(QS : Al A’Raaf (7) : 172).
Orang-orang yang senantiasa menyempurnakan ibadah kepada-Nya. Orang-orang yang selalu berusaha hidup di jalan yang diridhoi-Nya. Orang-orang yang yang senantiasa berupaya mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan segenap kemampuan dirinya. Itulah orang-orang yang memegang teguh komitmen ketauhidan.
3. Selalu memperbaharui komitmen
Minimal 5 kali dalam sehari tersedia kesempatan untuk selalu memperbaharui komitmen bertauhid kepada-Nya. Kita membacanya dalam bacaan iftitah di awal sholat,”Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Tuhan semesta alam.” (QS : Al An ‘ Am (6) : 162).
4. Mempersiapkan bekal terbaik
Menempuh perjalanan hidup di muka bumi dan terlebih di akhirat nanti, membutuhkan bekal terbaik. Bekal itu bukanlah berbentuk atribut-atribut duniawi seperti kekayaan, pangkat, jabatan, dan seterusnya. Bekal itu bernama ketaatan untuk melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya atau lebih dikenal dengan sebutan takwa. Takwa adalah satu-satunya bekal terbaik yang bisa menyelamatkan manusia serta mengangkat kepada derajat mulia dunia akhirat. Perhatikan rangkaian firman Alloh tentang perintah bertakwa.
a. “BerbekAlloh, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS : Al Baqoroh (2) : 197).
b. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS : Al Hasyr (59) : 18).
c. “Maka bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS : At Thaghoobun (64) : 16).
d. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS : Al Ahzab (33) : 36).
5. Pembelok komitmen hidup
Ada tiga pembelok komitmen manusia untuk menjadi hamba terbaik. Hamba yang bertakwa kepada-Nya. Pertama iblis dan setan para anak buahnya. Kedua hawa nafsu dalam dirinya. Ketiga berbangga-bangga akan kehidupan dunia. Perhatikan rangkain firman-Nya berikut ini :
a. Sumpah iblis dihadapan Alloh untuk menjadikan mayoritas manusia durhaka kepada Alloh. ”Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (manusia) bersyukur (taat).”,(QS : Al A’Raaf (7) : 16-17).
Iblis benar-benar membuktikan sumpahnya. Dan iblis berhasil mencapai target terbesarnya, yaitu menjadikan mayoritas manusia tidak taat kepada Alloh.
b. Harus diakui bahwa nafsu merupakan musuh terberat bagi manusia. Setiap saat disepanjang kehidupannya, manusia selalu dihadapkan pada pergulatan antara mengikuti kecendrungan nafsu atau nurani. Pengambil keputusan terakhir adalah akal. Jika akal manusia sehat, maka nurani akan dimenangkan. Tetapi jika sabaliknya , yaitu akal manusia tumpul atau bahkan mati, maka nafsu yang akan selalu menang.
Hidup manusia yang demikian pasti selalu terombang-ambing dalam berbagai maksiat dan kemungkaran. Karena itu Alloh memerintahkan manusia agar jangan mengikuti hawa nafsu, ”Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS : Shaad (38): 26).
c. Mohonlah pertolongan-Nya agar kita bisa mengendalikan hawa nafsu dalam diri. Mustahil bisa mengendalikan hawa nafsu tanpa kekuatan dari-Nya. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS : Yusuf (12) : 53).
d. Renungi pemberitahuan-Nya. Bahwa kehidupan dunia adalah permainan yang melalaikan. Suatu saat permainan pasti akan berakhir dan pasti pula semua permainan ditinggalkan. Berhati-hatilah agar jangan sampai dilalaikan oleh permainan dunia yang bernama harta, perhiasan, kemegahan, dan keluarga: ”Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS : Al Hadiid (57) : 20)
e. Alloh memperingatkan manusia agar jangan bermegah-megahan yang melalaikan dari bertakwa kepada-Nya. Inilah rangkaian firman Alloh dalam surat At Takatsur ayat 1 -8. ”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),.Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS : At Takaatsur (102) : 1 –
6. Obsesi terbesar
Inilah obsesi terbesar yang harus terus-menerus terngiang dalam hati dan benak kita. Yaitu kelak kita harus termasuk kedalam golongan hamba-hamba-Nya yang dipanggil oleh-Nya dengan panggilan kasih sayang-Nya. Kelak di akhirat Alloh akan memanggil hamba-hamba yang dikasihi-Nya dengan seruan ini, ”Hai jiwa yang tenang.. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS: Al Fajr (89) : 27–30)



Komentar Saudara !